Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Cincin


__ADS_3

“Seharusnya ada di sekitar sini …” Rian menyisir area di bawah pohon beringin untuk mencari cincin Rika. Ia bahkan membeli metal detector untuk mencarinya. Walau sudah hampir 30 menit mencari, ia masih belum menemukannya. Sekarang waktu telah menunjukkan pukul 05.30 WIB, jadi Rian harus segera menemukannya sebelum jam 6 agar apa yang dilakukannya tidak terlihat oleh murid - murid lain.


“Kalau di tanah nggak ada, apakah itu berarti di atas pohon? Tapi 5 tahun telah berlalu, apakah mungkin?” Rian pun mulai memanjat pohon beringin berusia ratusan tahun itu. Saat ia memanjat, ia melihat seperti ada benda yang bercahaya akibat pantulan matahari terbit di antara dahan pohon  Ketika Rian mendekati benda tersebut, ternyata benar benda itu adalah cincin. Cincin tersebut berwarna keemasan.


Untuk mengecek fungsi dari cincin itu, Rian memasukkannya dalam Kantong dimensi.


______________________________________________________________________


Cincin Harapan Rika


Level : 5


Jenis : Aksesoris Terkutuk


Sisa Penggunaan : 3


Deskripsi :


Rika sangat senang ada yang mau mendengarkan ceritanya dan mau menghukum Pak Effendi. Sebagai balasannya, Rika bersedia dipanggil dan menolong pengguna cincin ini sebanyak 3 kali.


______________________________________________________________________


“Ini!” Rian begitu terkejut melihat deskripsi Cincin Harapan Rika. Ia tak menyangka bisa mendapatkan bantuan dari Roh Jahat sebanyak 3 kali.


Saat Rian akan turun dari pohon, Rian melihat Livia berjalan menuju pohon beringin. Ia tampak membawa seikat bunga dan juga kendi. ‘Tumben sekali Livia datang pagi. Melihatnya membawa bunga, mungkin Livia ingin berziarah.’


Livia terlihat meletakkan bunga dan kendi di bawah pohon beringin. Ia terlihat berdoa sejenak, lalu kemudian pergi. Setelah Livia tidak terlihat lagi, barulah Rian turun. 'Aku akan memberikannya nanti saat jam istirahat.'


Saat Rian berjalan dari halaman belakang menuju kelas, banyak murid yang memberi menyorakinya. Bahkan banyak uang juga ingin sekedar selfie dan bersalaman dengannya. Satpam yang bertugas langsung berusaha membubarkan kerumunan. 'Tumben sekali?'


"Rian Morfran, kamu dipanggil Ibu Kepala Sekolah. Segera datang ke ruangannya!" ucap satpam tersebut.


"Baik, terima kasih pak!" Rian segera bergegas menuju ruang Kepala Sekolah yang ada di lantai 5.


Tok Tok Tok


"Masuk."


"Permisi …" Rian masuk ke dalam ruangan seluas 6x6 meter tersebut. Di tengah ruangan, terdapat 4 sofa mewah yang diatur mengelilingi meja kecil. Tampak Ibu Kepala Sekolah sudah menunggu kedatangan Rian di meja kerjanya yang ada di ujung ruangan.


Bu Liliana meminta Rian untuk berdiri di depan mejanya. "Rian, apa kau tahu kenapa Ibu memanggilmu ke sini?"


"Mungkin karena perbuatanku yang mencoreng nama sekolah. Namun saya tidak menyesalinya! Saya siap jika Ibu ingin mengeluarkan saya!" jawab Rian tanpa ada keraguan. Ia sadar apa yang dilakukannya pasti akan merusak reputasi sekolah ini.


"Jadi kamu sadar atas apa yang kau perbuat. Lalu kenapa kau tetap melakukannya? Apakah tidak ada cara lain?"


“Sebenarnya ini bukan ide saya. Namun dibandingkan rencana saya yang asli, cara ini lebih membuat impact dibanding cara saya. Terkadang, kita membutuhkan sedikit pengorbanan untuk mencapai tujuan. Bagiku, selama itu tidak menyakiti keluarga dan teman-temanku, aku dapat mengorbankannya!”


“Pemikiran yang sangat radikal. Kau orang yang sangat berbahaya!”

__ADS_1


“Tapi Ibu tidak keberatan bukan?”


“Haah~ bisa dibilang ini adalah penebusan Ibu karena membiarkan guru seperti itu berkeliaran di sekolahku. Jadi tenang saja, Ibu akan berusaha semaksimal mungkin membantumu dalam kasus ini!”


“Terima kasih Bu!” tunduk Rian.


“Dan juga, tolong jaga baik-baik anak Ibu, Alicia. Kamu dan teman-temanmu adalah teman pertama baginya. Aku percaya kamu bisa melakukannya.”


Rian tersenyum dengan permintaan Bi Liliana. “Tentu saja Bu. Aku akan menjaga orang - orang yang aku sayangi, dan itu termasuk Alicia!”


Setelah itu, Rian dan Bu Liliana membahas langkah hukum yang akan mereka lakukan untuk menuntut Pak Effendi dan orang-orang yang terlibat dalam kriminalisasi Rian. Sampai beberapa menit kemudian, Sekretaris Bu Liliana, Melisa, mendadak masuk dengan tergesa-gesa. Melisa kemudian berbisik pada Bu Liliana. Melihat ekspresi serius Bu Liliana, Rian curiga adanya kabar buruk.


“Rian, Pak Effendi ditemukan tewas pagi ini.”


“Apa!? Bagaimana mungkin? Apakah Pak Effendi bunuh diri?”


“Informasi yang Ibu dapatkan masih simpang siur. Namun yang dapat Ibu pastikan, semua orang yang ada di lantai 10 Rumah Sakit Universitas Avernus, ditemukan  tewas. Dan itu termasuk Pak Effendi dan polisi yang berjaga!”


Ding


[Misi baru telah terbuka, -Misteri Kematian Masal-]


______________________________________________________________________


Halaman Misi


- Tantangan Cermin (Pemula) (Selesai)


- 7 Keajaiban SMA Avernus


- Kamar Kos No.4 (Normal) (Selesai)


- Rumah Sakit Jiwa Terbengkalai


- Kamar Mayat Fakultas Kedokteran Universitas Avernus


- Pintu Air Jagir


- Radio Kematian


- Telepon Hantu


- Jalan Menuju Orang Paling Greget Di Dunia 2


- Misi : Misteri Kematian Masal


*Tingkat Kesulitan :Nightmare


*Hadiah : 4000 poin, Uang Tunai Rp 600.000.000, Teknik Kutukan : Pengendali Darah

__ADS_1


*Batas Waktu : -


*Status Penyelesaian : 0%


*Deskripsi :


Kematian misterius masal di lantai 10 Rumah Sakit SMA Avernus adalah awal dari rentetan kematian masal berikutnya. Temukan penyebab kematian masal dan selesaikan masalah tersebut.


- Terkunci


______________________________________________________________________


‘Aku nggak menyangka akan mendapatkan misi baru. Dan ini termasuk misi yang sangat berbahaya. Akan aku coba periksa setelah aku menyelesaikan misi 7 Keajaiban SMA Avernus!’ pikir Rian.


Karena Pak Effendi telah tewas, maka konsentrasi langkah hukum akan ditujukan pada Philip dan Evi, orang tua Pak Effendi. Setelah beberapa menit berbincang, Rian pun dipersilahkan untuk keluar.


Sesampainya di kelas, Rian langsung disambut Livia, Alena, Guntur, dan Adi. Melihat Livia, Rian langsung memeluknya dengan erat. “Terima Kasih Livia. Kalau bukan karena videomu, mungkin aku akan mendekam di penjara lebih lama!”


“Ehehehe …” Livia sangat senang mendapat ucapan terima kasih Rian. “Tapi aku nggak sendirian lho, ada Adi dan juga Guntur. Alena juga meminta bantuan Ayahnya untuk menghubungi KPAI. Kamu harus berterima kasih pada mereka juga!”


Mendengarnya, Rian langsung memeluk Adi dan Guntur secara bergantian. “Terima Kasih …”


Setelah itu, Rian berjalan mendekati Alena. Ia pun memeluk Alena dengan lembut. “Alena, terima kasih ya …”


Deg Deg Deg Deg


“I-i-iya, sama-sama Rian.” Alena sedikit terbata-bata membalas ucapan Rian. Walau jantung Alena berdegup kencang, Alena sangat menikmati pelukan Rian. Dunia bagaikan hanya milik mereka berdua. 'Sudah aku duga, aku benar-benar jatuh cinta padanya.'


"Ehem ehem. Mau sampai kapan kalian berdua berpelukan?" Livia cemburu melihat hal ini. Memang ia dan Rian tadi berpelukan, namun itu hanya sebentar, tidak sampai 1 menit. Berbeda dengan pelukan Rian pada Alena. Mereka berdua berpelukan selama hampir 5 menit!


Sadar akan hal ini, mereka berdua pun langsung melepaskan diri. Wajah Alena terlihat merona. Ia juga tampak bahagia setelah menetapkan perasaannya.


"Oh ya Livia, nanti jam istirahat bisa kita bicara berdua? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." bisik Rian.


Livia bingung dengan ajakan Rian, iya pun mengiyakan ajakan Rian. 'Apa yang ingin dibicarakannya ya? Nggak seperti biasanya …'


Tanpa Rian dan Livia sadari, Alena menyaksikan semua kejadian ini. Ia pun penasaran atas apa yang Rian bisikkan pada Livia.


Waktu berlalu dengan cepat, jam istirahat pun tiba. Dengan segera, Rian mengajak Livia keluar berdua saja. Alena yang sedari tadi memperhatikan Rian, berencana mengikuti mereka.


"Tika, maaf ya, aku kebelet nih! Jadi kamu makan duluan aja …" ucap Alena sambil memegang perutnya.


"Perutmu nggak apa-apa kan?" Tika tampak khawatir.


"Mungkin karena tadi malam makan pedas, ughh … Sakit banget, aku pergi dulu!" Alena langsung lari keluar kelas. Tapi ia tidak lari menuju kamar mandi, melainkan mengejar Rian dan Livia. Namun naas, ia kehilangan mereka berdua.


Alena pun mulai berkeliling sekolah. Sampai pada akhirnya, Alena berhasil menemukan Rian dan Livia di halaman belakang sekolah. Saat Alena akan mengendap-endap mendekati mereka, Alena melihat adegan yang membuatnya terkejut. Ia melihat Rian memasangkan sebuah cincin ke jari manis Livia.


Deg

__ADS_1


Perlahan, air mata mulai mengalir dari ujung mata Alena.


__ADS_2