
“Pagi Rian …”
“Pagi Rian …”
“Pagi semuanya …” Rian menyalami murid-murid yang memberi salam padanya. Berbeda dengan biasanya, di mana murid-murid akan mengerumuninya, kali ini, mereka memberi jalan pada Rian seakan mereka sangat menghormati Rian. Mereka juga menyalami Rian setiap ia berjalan melewati mereka.
‘Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka jadi bersikap hormat padaku? Tapi ini masih lebih baik dari pada mereka mengerumuniku seperti biasa.' Rian tidak terbiasa dengan sikap mereka yang seperti ini. Dengan berjalan cepat, Rian pun sampai di kelas.
"Rian!" Guntur memanggil Rian dan mengajaknya duduk sambil berbisik. "Apakah rumor itu benar?"
"Ha? Rumor apa?"
"Kamu pasti tahu berita tentang anggota keluarga Sugiharto yang mati minggu lalu kan?
"Ya, aku tahu berita itu. Sabtu kemarin aku sempat berbincang dengan Alicia mengenai berita itu. Katanya, anggota keluarga Sugiharto yang terbunuh itu keponakan dari Philip Sugiharto. Lalu, ada rumor baru apa mengenai kasus itu?"
"Katanya nih, pelaku pembunuhan itu menggunakan topeng perak berbentuk kelelawar dan menyebut dirinya Murciélago!"
"Murciélago? Bahasa Spanyol dari Kelelawar? Jadi ingat karakter Ulquiorra dalam anime Bleach, hehehehe …"
"Dan di sinilah masalahnya. Ada rumor yang mengatakan bahwa kamu adalah Murciélago!"
"Apa!?" teriak Rian.
"Dari reaksi mu, sepertinya rumor itu salah. Namun, rumor itu sudah tersebar luas, jadi berhati-hatilah. Keluarga Sugiharto nggak akan tinggal diam!"
"Tapi bukankah keluarga Sugiharto sedang dalam masalah hukum?"
"Tetap saja sulit untuk menjerat mereka. Terlalu banyak oknum dalam pemerintahan yang ikut campur dalam bisnis haram keluarga Sugiharto. Seandainya mereka berhasil dijebloskan ke penjara pun, paling 2-3 tahun kemudian mereka bakal bebas. Plus, dapat ruang penjara yang mewah." ucap Guntur sambil mengusap-usap punggung Rian.
__ADS_1
Kepala Rian sangat pusing memikirkan semua ini. Belum lagi ia juga harus bisa menyelesaikan misi tingkat Nightmare yang mengharuskannya memukul wajah Blorong. Kalau ia tidak segera menyelesaikannya, ia akan mati. Guntur dan lainnya pun sudah mengetahui masalah itu. Maka dari itu, mereka berencana menemui Bu Dhiani untuk mencari informasi mengenai Urban Legend yang ada di kota Surabaya. Mungkin saja dari situ, sebuah misi akan muncul. Misi sekecil apa pun sangat Rian butuhkan untuk mendapat lebih banyak Poin.
Saat Rian sedang berbincang dengan Guntur, mendadak seorang siswi memotong pembicaraan mereka. "Emmm, permisi Rian. Mohon maaf, bisa kami berdua bicara sebentar denganmu?"
Guntur dan Rian pun menengok ke arah Ida dan Winny. Ida terlihat sedang menemani Winny yang agak kurang sehat. Winny tampak seperti orang yang kurang tidur. Kepala Winny terus tertunduk sejak Ida berbicara pada Riani. Padangan matanya juga seperti tidak fokus. Rian jadi sedikit khawatir dengan kondisi Winny. “Oh, Ida, Winny … tentu saja bisa. Ada apa?”
Ida terlihat ragu untuk berbicara. Namun ketika ia melihat kondisi Winny, Ida pun memberanikan diri untuk bercerita. “Begini … Rian, kamu kan detektif SMA dan juga spesialis membongkar kasus berbau supranatural. Aku ingin berkonsultasi padamu tentang hal uang dialami Winny. Tenang saja, aku akan membayarmu!”
“Aku akan mencoba membantumu jika itu masih dalam jangkauan kemampuanku. Dan tentu saja ini gratis, kamu nggak perlu membayarku. Lagi pula kita kan teman sekelas …” ucap Rian sambil tersenyum manis.
Ida pun mengusap-usap punggung Winny sambil bicara dengan pelan. "Winny, sekarang coba ceritakan masalahmu pada Rian. Nggak usah takut, aku di sini bersamamu kok …"
Dengan terus menundukkan kepalanya, Winny mulai bercerita. “Ja-jadi begini. 3 minggu yang lalu, aku baru saja pindah ke sebuah apartemen. Sejak saat itu, aku selalu mendapatkan mimpi yang sama setiap malam.” Ketika ia membicarakannya, terlihat tubuhnya sedikit bergetar.
Melihatnya seperti ini, pikiran Rian mulai membayangkan sesuatu yang menyeramkan. “Apa yang kamu mimpikan?”
“A-a-aku … bermimpi sedang berkeramas!”
“Ta-tapi, mimpi itu terus terjadi berulang kali setiap harinya! Semakin hari, mimpi itu semakin jelas! Dan aku juga melihat seseorang berdiri ketika aku berkeramas …”
“Seseorang? Ada orang lain di dalam mimpimu? Siapa orang itu?”
“Iya, betul … Dia selalu muncul saat aku berkeramas. Dia terlihat menakutkan dan berbahaya! Lalu, ketika aku mencoba menutup mata karena takut akan kehadirannya, dia langsung menyerang dan mencekik ku!”
Rian dan Guntur terdiam setelah mendengar cerita Winny. Rian pun mulai menganalisa mimpi Winny. ‘Hmmm, mimpi sedang berkeramas bukanlah hal yang buruk. Malah menurut ilmu primbon jawa yang pernah aku baca, mimpi sedang berkeramas menandakan bahwa dalam waktu dekat akan mendapat keberuntungan dan rezeki. Tapi apa yang dikatakan oleh Winny, tidak ada satu pun yang menandakan nasib baik akan datang! Malahan mimpi Winny terdengar seperti mimpi buruk!’
“Apakah kamu masih mengingat wajah orang yang hadir dalam mimpimu? Lalu, apakah kamu ingat lokasi tempat kamu berkeramas dalam mimpi? Apakah itu kamar mandi apartemen mu, atau lainnya?”
“Tempat dalam mimpiku sepertinya terjadi di dalam kamar mandi apartemen yang aku tempati saat ini.” Dengan terus menunduk, Winny memijit-mijit kepalanya sambil mengingat-ingat mimpinya.
__ADS_1
“Untuk wajah orang yang aku lihat dalam mimpi, aku masih tidak dapat melihatnya dengan jelas. Namun, samar-samar, orang itu terlihat seperti dua orang yang dijahit menjadi satu. Seperti ada jahitan yang memanjang dari atas kepala sampai dagu. Dan juga, ada satu hal yang aku yakini … orang itu muncul semakin dekat dan dekat tiap harinya …” Suara Winny semakin mengecil ketika bercerita, Wajahnya pun semakin pucat. “Dan kemungkinan malam ini, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas …”
‘Aku masih kekurangan informasi untuk membuat deduksi. Aku harus menggali lebih dalam mimpi Winny. Dan jika memang sesuai dugaanku, maka akan muncul misi mengenai kamar apartemen Winny dalam sistem!’ pikir Rian.
“Bisakah kamu menceritakan mimpimu lebih detail lagi? Seperti, apa yang dilakukan orang itu ketika kamu sedang keramas? Apa orang tersebut pernah mengajakmu berkomunikasi? " Rian masih berusaha untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya.
Winny mulai menjelaskan awal mula ia bermimpi. "Saat aku pertama kali bermimpi 3 minggu yang lalu, mimpiku sama sekali tidak menakutkan. Di dalam mimpi, aku terbangun tengah malam dan pergi ke kamar mandi. Anehnya, tubuhku seakan sedang dikendalikan dan bergerak sendiri!"
"Walau terasa samar-samar, aku ingat saat itu aku menyalakan shower untuk berkeramas. Ketika aku menengok ke arah cermin, aku melihat ada bayangan seseorang yang berdiri di depan pintu!"
"Awalnya, ia berada jauh dariku. Namun ketika aku selesai keramas, aku merasa ia bergerak maju mendekat, walau cuma sedikit. Setelah mimpiku selesai, aku pun terbangun. Tapi karena aku tidak merasakan keanehan, aku tidur kembali dan bermimpi hal yang lain."
"Keesokan harinya, aku bermimpi lagi sedang berkeramas. Orang yang ada dalam mimpiku itu juga semakin bergerak mendekat sedikit demi sedikit tiap kali aku bermimpi Setiap kali mimpi itu berulang, semakin jelas sosok orang yang mendekatiku!"
"Dalam mimpi, aku sudah berkali-kali mencoba berteriak. Tapi, aku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Aku juga tidak bisa bangun dari mimpi itu kecuali aku selesai berkeramas."
"2 minggu yang lalu, orang itu berada di depan toilet duduk. 3 hari yang lalu, orang itu sudah berada di sampingku! Bayangkan saja, ketika aku memiringkan badan untuk mengambil shampo, aku melihat orang itu tepat di sampingku!"
Rian merasa merinding sendiri mendengar cerita Winny. 'Bagaimana Winny bisa tidur nyenyak jika tiap hari ia bermimpi seperti itu. Apalagi orang misterius tersebut sekarang berada di sampingnya. Itu akan membuatnya ketakutan dan mengalami trauma yang mendalam!'
"Lalu tadi malam, aku mendapatkan mimpi yang sama lagi. Wajah orang itu sangatlah dekat. Aku pun berpikir bahwa aku akan melihat dengan jelas wajah orang itu." Winny berhenti sejenak untuk menghela nafas. Ia tampak ingin menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ida juga berusaha menenangkan Winny yang mulai menunjukkan ekspresi ketakutan berlebih. Ia lalu memegang-megang lehernya sambil menunjukkan gejala trauma. "Namun, belum juga jelas melihatnya, orang itu mencekik ku hingga aku terbangun di tengah malam. Sejak tengah malam tadi, aku tidak berani untuk tidur lagi. Aku khawatir mimpi itu akan terulang lagi."
'Mimpi yang dialami Winny benar-benar berbahaya. Jika ini berulang terus menerus, aku nggak tahu lagi apa yang bakal terjadi padanya …' pikir Rian.
"Aku telah membuat hipotesis sementara yang bisa aku buat berdasarkan ceritamu. Mau kah kamu mendengarnya?" ucap Rian. Winny dan Ide kemudian mengangguk terhadap pertanyaan Rian.
"Aku mencurigai ada masalah pada kamarmu. Hal ini dikarenakan kamu mulai bermimpi sejak kamu pindah ke apartemen itu 3 minggu yang lalu. Jadi kemungkinan sumber masalahnya ada pada kamarmu. Dan aku punya ide gila mengenai kasus ini."
"Ide gila?"
__ADS_1
"Dugaanku, penghuni kamar yang sebelumnya telah meninggal. Namun entah kenapa, jasadnya belum ditemukan sampai saat ini dan masih tersembunyi di dalam kamar apartemen mu."
Mata Ida terbelak mendengar dugaan Rian. Tubuh Winny juga menunjukkan reaksi ketakutan yang intens.