
“Livia, ayo ikut aku ke pohon beringin di halaman belakang sekolah!” ajak Rian.
"Oke!" Livia pun mengikuti Rian ke halaman belakang sekolah.
'Kira-kira kenapa ya Rian mendadak mengajakku bicara berdua? Terlebih lagi di tempat sepi seperti halaman belakang sekolah? Apakah Rian akan menembakku? Lalu kemudian kita berciuman dan melakukan hubungan layaknya suami istri …' Memikirkan hal itu, wajah Livia merona.
"Kyaaa, jangan lakukan hal itu di sini! Nanti aja pas di rumahmu!" Tanpa sadar, Livia menyuarakan isi pikirannya dan mendorong Rian yang ada di depannya.
"Kenapa kamu mendorongku?" Rian bingung dengan aksi Livia.
"Sorry-sorry, hehehe …"
Sementara itu, orang-orang di sekeliling mereka mulai memandang Livia dan Rian dengan tatapan penuh arti.
“Ehem …” Bu Dhiani, guru sejarah kelas X menepuk bahu Rian. “Kalian masih kecil, tolong jangan lakukan hal tidak senonoh sembarangan ya. Apalagi waktu di sekolah.”
Livia sangat malu mendengar ucapan Bu Dhiani. Sementara Rian, ia bingung apa yang sebenarnya terjadi. Rian sama sekali tidak ada pikiran kotor sama sekali.
Kemudian Bu Dhiani sedikit menundukkan kepalanya tepat di samping telinga Rian. “Kalau kamu tertarik, bisa Ibu ajarkan di rumah Ibu. Ibu jauh lebih berpengalaman daripada Livia.” bisiknya dengan centil. Setelah itu, Bu Dhiani berjalan meninggalkan Rian yang kebingungan bersama Livia yang sedang menutup wajahnya karena malu.
“Ayo!” Livia langsung menarik tangan Rian. Ia tak ingin berlama-lama di sini dan sesegera mungkin pergi ke halaman belakang sekolah.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan pohon beringin besar yang ada di halaman belakang sekolah.
“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Livia.
Rian merogoh saku celananya. Tentu saja itu adalah gimmick untuk menyembunyikan Kantong dimensi. Kemudian ia mengeluarkan sebuah cincin emas dari saku celananya. “Livia, aku ingin memberikanmu cincin ini.”
“Ci-ci-cincin!?” Livia panik atas kejutan tak terduga dari Rian. ‘Rian melamarku!? Apakah ini mimpi?’
Livia mencoba mencubit pipi Rian. “Aduh!”
“Oh, ternyata memang bukan mimpi!”
“Anjir! Kenapa hari ini kamu aneh sekali!” protes Rian.
“Sudah-sudah, lupakan saja, hehehe … Jadi, cincin ini buat aku?”
“Kan aku sudah bilang tadi.” Kemudian Rian berlutut di depan Livia.
“A-a-apa yang kamu lakukan, Rian! Kenapa kamu berlutut!?” Jantung Livia berdegup kencang melihat aksi Rian. Ia sudah memimpikan ini jutaan kali.
“Sstt, tolong diam sebentar. Aku sedang berpikir.” Rian memegang tangan kiri Livia dan melihat dengan seksama jari jemari Livia. Tak lama kemudian, Rian memasangkan cincin tersebut pada jari manis Livia.
__ADS_1
“Jadi begini Livia, ini adalah cincin milik Rika. Aku mendapatkan mimpi dari Rika tentang cincin ini. Rika memintaku untuk menemukan cincin ini di area pohon beringin dan memberikannya padamu! Cincin ini memiliki kemampuan tersembunyi, jadi tolong dijaga baik-baik. Demi Rika …” jelas Rian. Ia tidak bisa mengatakan pada Livia bahwa cincin ini merupakan hadiah dari sistem untuknya. Maka dari itu ia mengarang cerita agar Livia tidak curiga.
Namun sayangnya, Livia tidak mendengar sama sekali penjelasan Rian. ‘Kyaaaa! Rian melamarku! Akhirnya, setelah perjuanganku selama 6 tahun, Rian berhasil menerima perasaanku!’ Livia terlihat senyam-senyum sendiri di depan Rian.
“Livia? Kamu dengar penjelasanku kan?” Rian menatap Livia penuh kecurigaan.
“Hah? Apa? Oh ya, dengar kok aku, hehehehe …”
Mendadak, Rian merasakan hawa keberadaan seseorang. Ia pun menoleh ke arah hawa keberadaan itu berasal. Namun ia tidak melihat siapa pun di sana.
......................
“Alena? Kamu kenapa? Kok kelihatan habis nangis gitu?” Di kelas, Tika melihat Alena masuk dengan mata yang sedikit bengkak.
“Nggak kok Tika, tadi cuma kelilipan aja …” senyum Livia. Namun senyuman palsu itu tidak dapat membohongi mata Tika.
“Jangan bohong! Tatap mataku!” tegas Tika. Namun Alena tidak mau menatap mata Tika sama sekali.
“Ini semua pasti ulah Rian! Di mana dia sekarang?”
Alena hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Tika. Melihat hal ini, Tika semakin yakin bahwa pelaku yang membuat Alena menangis tidak lain adalah Rian.
Mendengar suara keras Tika, Adi dan Guntur yang sedang makan siang di kelas pun langsung menghampiri Tika dan Alena.
“Lihat perbuatan teman baikmu itu!” Tika menunjuk ke arah Alena. Guntur dan Adi pun paham ketika melihat wajah Alena.
“Dosa apalagi yang kau perbuat, Rian …” gumam Adi. Ia iri sekaligus merasa beruntung melihat apa yang terjadi pada Rian.
Tak lama kemudian, Rian dan Livia masuk ke dalam kelas. Rian merasakan suasana yang aneh ketika memasuki kelas. Seakan semua murid di kelas sedang marah padanya.
Plak
Tika mendadak menampar Rian. Jantung Rian pun langsung berdetak dengan kencang akibat tamparan Tika. Kemampuan Khusus misterius dalam tubuh Rian bereaksi terhadap amarah Rian. Amarah yang cukup kuat mulai menyelimuti pikirannya. ‘Tenang Rian, tenang … Tahan Amarahmu!’ Dengan susah payah, ia menahan semua emosinya pada Tika.
Perlahan, keadaan Rian kembali normal. ‘Hampir saja. Jika aku tidak belajar mengendalikan kekuatan misterius ini, aku bisa menyakiti teman - temanku!’
Buk
Dari belakang Rian, Livia secara spontan maju dan memukul wajah Tika.
“Ugh.” Tika memegangi hidungnya. Darah tampak bercucuran dari hidungnya. “Brengsek!” Tika langsung balas memukul Livia. Dengan tubuh pendeknya, Livia dengan mudah menghindarinya.
Livia pun kembali memukul wajah Tika hingga kacamatanya pecah, “Jangan pernah menyakiti Rian!” teriak Livia.
__ADS_1
“AHHH!” Emosi Tika memuncak dan menerjang Livia. Agar Livia tidak dapat menghindar, ia memeluk Liva dengan erat dan membenturkan kepalanya pada kepala Livia.
Duk
“Ugh!” Livia dan Tika sama-sama merasakan sakit dari benturan itu. Terlihat darah mulai mengalir dari dahi Livia dan Tika.
Melihat semua ini, murid-murid kelas X-6 lainnya langsung berkumpul untuk melerai Tika dan Livia.
““Lepaskan aku!”” Teriak Livia dan Tika. Mereka berdua masih berusaha untuk adu jotos. Namun murid-murid lainnya memegangi mereka.
“HENTIKAN SEMUA INI!” teriak Alena.
“Aku mohon, hentikan … hiks hiks”
“Alena?” Rian langsung memegang kedua bahu Alena. “Kamu kenapa?”
“Jangan sentuh aku!” Alena menampik tangan Rian. Kemudian ia lari keluar kelas sambil menangis.
“Rian! Jika kamu memang seorang pria, kejarlah Alena! Biar kami urus Tika dan Livia” ucap Guntur.
Rian sedikit ragu untuk mengejar Alena. Karena ia khawatir dengan dengan Livia yang terluka. Ia melihat ke arah Livia yang sedang ditahan oleh murid-murid lainnya agar tidak menyerang Tika. Livia juga melihat wajah Rian yang penuh dengan ekspresi ragu. Menyadari pergolakan dalam pikiran Rian, Livia memberi anggukan pada Rian, seakan menyuruhnya untuk mengejar Alena. ‘Hanya kali ini saja aku memberikan Rian padamu, Alena.’
Tanpa ragu lagi, Rian pun lari keluar kelas mengejar Alena. “Alena, tunggu …”
Alena terus berlari menaiki tangga, Rian pun mengikutinya hingga akhirnya mereka berhenti di lantai 6 sekolah. Lantai 6 adalah lantai atap SMA Avernus. Di sana tidak ada apa-apa kecuali gudang.
“Haah Haah Haah, kenapa kamu mengejarku?” tanya Alena dengan nafas tersengal-sengal. “Bukankah kamu sekarang berpacaran dengan Livia? Tidak sepantasnya kamu mengejarku yang bukan siapa-siapa!”
“Apa maksudmu? sejak kapan aku berpacaran dengan Livia?” Rian tampak masih bugar walau ia lari mengejar Alena dari lantai 3 sampai lantai 6.
“Bukankah tadi kamu melamar Livia di belakang sekolah? Aku melihatmu memasangkan cincin di jari manisnya!”
“Kamu salah paham! Yang aku berikan pada Livia adalah cincin milik Rika!”
“Apa maksudmu? Bukankah Rika sudah meninggal 5 tahun yang lalu, jadi bagaimana mungkin kamu memilikinya? Sudah lah, jangan bohongi aku lagi!”
“Tunggu Alena, aku serius! Aku tidak pernah berbohong padamu!” tegas Rian sambil membengkokkan jarinya secara sembunyi-sembunyi.
“Mana buktinya kalau kamu nggak bohong?”
Croot
Rian langsung menyabet tangan kirinya dengan pisau yang selalu ia bawa dalam Kantong dimensi.
__ADS_1