
Suasana Kota Surabaya benar-benar mencengkam. Banyak sekali Mayat Hidup berkeliaran dengan wujud yang sudah rusak.
Teriakan-teriakan para korban pun terdengar dari seluruh penjuru kota. Banyak warga yang akhirnya mengungsi ke Mall-Mall terdekat. Mereka berpikir, saat ada bencana seperti ini, mall adalah tempat yang strategis. Banyak makanan dan kebutuhan lainnya di dalam Mall.
Salah satu mall yang menjadi tujuan untuk mengungsi adalah Grand City Mall. Kini, pagar dan pintu akses masuk telah ditutup. Ada ribuan warga Surabaya yang berlindung di sana.
"Letnan Fyren, kenapa kita malah berlindung di sini? Bukankah seharusnya kita keluar dan menyelamatkan para warga?" tanya Jaka dengan polosnya. Kini, Regu 4 sedang bersembunyi di Grand City Mall bersama ribuan pengungsi lainnya.
"Ini juga termasuk dalam perintah Kapten Leo, yaitu menyelamatkan para warga."
"Oh, jadi begitu."
Buk
"Aduh!"
Sigil memukul kepala Jaka dengan keras. "Kamu mau-maunya dibodohi Letnan! Letnan Fyren di sini karena ia takut!"
Fyren pun langsung berpura-pura tidak mendengar sambil bersiul.
Tiba-tiba, terasa sebuah goncangan menyerupai gempa. Suara keras pun mulai terdengar.
Bum Bum Bum
Semakin keras suara tersebut, goncangan pun terasa lebih kuat.
"Gempa?"
"Suara apa ini?"
"Apakah itu suara pasukan mayat hidup?"
"Aku nggak mau mati, aku ngggak mau mati …"
"Mama … aku takut!"
Ucapan serupa menggema memenuhi seluruh mall. Para pengungsi tersebut sangat panik.
"Yuda, Jaka, cepat periksa apa yang terjadi di luar!" perintah Fyren.
"Siap!" Mereka berdua pun bergegas keluar dari gedung Mall dan melihat keadaan di luar.
__ADS_1
Mereka berdua pun terkejut melihat apa yang ada di luar. Di sana, berdiri sesosok makhluk besar setinggi gedung Mall dengan 6 lantai. Makhluk tersebut tampak terbuat dari ribuan Mayat Hidup yang bergabung menjadi satu.
Tapi, jarak Makhluk tersebut dengan Grand City Mall masih berjarak 100 meter. Hanya saja, makhluk tersebut berjalan dengan perlahan ke arah tempat mereka.
"Sepertinya ini sangat gawat." gumam Yuda
...****************...
Brak Brak Brak
Di jalanan yang penuh Mayat Hidup, melaju sebuah mobil Ferrari merah yang telah dipenuhi bercak darah. Mobil tersebut terus menerjang ratusan mayat hidup hingga bemper dan kap mobilnya penyok.
"Kenapa aku merasa seperti bermain GTA?" gumam Ryan.
Rio tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Ryan. "Hahahaha … sayang sekali kalau kita menabrak Mayat Hidup ini, tidak ada uang yang jatuh seperti di game-nya."
Namun sayang, perjalanan mereka harus terhenti saat jarak Rumah Sakit dengan posisi mereka tinggal 3 Kilometer.
Semakin dekat mereka dengan Rumah Sakit Universitas Avernus, semakin banyak Mayat Hidup yang berkeliaran. Bahkan kali ini, di depan mereka, seluruh jalanan tertutup oleh ribuan Mayat Hidup.
"Bos, sepertinya kita tidak bisa melewati jalan ini."
"Aku belum pernah menggunakannya untuk membunuh lawan sebanyak ini bos. Tapi akan aku coba." Rio kemudian memejamkan matanya dan mulai membaca mantranya.
“Ingsun amatak ajiku, Jayabarut ingsun jumeneng datullah, umadeg tengahing jagad, sakabehing mungsuh sakubeng ing cakrawala kang padha durhaka, krungu petak gelap sakethi, padha bedhah kupinge, pecah endhase!”
Begitu Rio menyelesaikan mantranya, tiba-tiba Rio memuntahkan banyak darah. “Uhuk ..”
“Rio, apa yang terjadi!?” Rian tampak sangat khawatir dengan kondisi Rio,
“Uhuk uhuk … aku tidak apa-apa, tapi …” Rio menatap dengan serius ke arah depan. Melihat ekspresi serius Rio, Rian pun melihat ke arah depan. Di sana, berdiri sesosok Mayat Hidup Wanita dengan pakaian serba hitam. Di sekeliling tubuhnya, terpancar aura energi berwarna merah gelap. Bahkan Rian yang sudah tidak memiliki mata batin, dapat melihatnya dengan jelas.
Rian sangat familiar dengan aura tersebut. “Energi kutukan?”
Rio mengangguk atas ucapan Rian. “Sepertinya, makhluk itu dulunya adalah seorang praktisi Teknik Kutukan semasa hidupnya. Dan tingkat ilmunya tidak main-main. Maka dari itu, dia bisa dengan mudah menghalangi ilmu Kejawen milikku.”
Rio kemudian keluar dari mobil dan melihat ke arah Rian. “Bos, serahkan Mayat Hidup ini padaku. Aku berharap, Bos bisa mengalahkan Nightmare dan menghentikan semua kegilaan ini!”
“Tapi …”
“Aku mohon Bos!” teriak Rio sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
“Baiklah, aku serahkan makhluk itu padamu.” Setelah mengucapkannya, Rian keluar dari mobilnya. Ia kemudian berubah bentuk menjadi Alpha Werewolf. Karena ia telah memakan jantung Yohan, kini transformasi Alpha Werewolf telah menjadi permanen.
“Jangan mati, Rio …” Bagaikan angin, Rian mendadak hilang dan hanya menyisakan hembusan angin sepoi-sepoi.
Saat Rian mulai berlari dengan kecepatan tinggi, Mayat Hidup wanita itu melirik sedikit ke arah Rian. ‘Dia bisa melihatku!’
Walau Mayat Hidup wanita itu dapat melihat Rian, namun ia tampak tidak ingin menghalangi laju Rian. Tanpa ada halangan, Rian dapat melewati Mayat Hidup itu.
Kini, di hadapan Mayat Hidup wanita itu hanya ada Rio seorang. “Guru, kenapa kamu meninggalkanku 10 tahun yang lalu? Guru mendadak hilang, dan setelah sekian lama kita tidak bertemu, kita bertemu lagi dalam keadaan seperti ini. Sungguh sangat ironis …” ucap Rio sambil tersenyum kecut.
“GRAAA”
“Tenang saja Guru, aku akan menghabisimu menggunakan tanganku sendiri!” Pertarungan di antara mereka berdua pun tak terelakkan lagi.
...****************...
Sementara itu, Rian berlari bagaikan angin topan. Dengan gesekan angin dan juga kuku tajamnya, ia menyapu dan memotong tubuh para Mayat Hidup yang ia lalui. Hanya dalam 2 beberapa detik, ia membunuh ribuan Mayat Hidup di sepanjang jalannya. Hingga 3 detik kemudian, Rian akhirnya tiba di depan gedung Rumah Sakit Universitas Avernus.
Mayat Hidup terlihat terus mengalir keluar dari dalam Rumah Sakit. “Sudah ku duga, di sinilah sumber munculnya Mayat Hidup!”
“Graaa”
“Graaa”
Rian kemudian mengepalkan tangannya hingga mengeluarkan darah. Perlahan Rian membuka kepalannya. Darah yang ada pada tangan Rian mulai bercahaya jingga dan mengeluarkan percikan api. Darah-darah tersebut berkumpul pada kuku-kuku Rian.
Rian mengangkat kedua tangannya. Dengan lantang, Rian berkata, “[Firefly]”
Slash
Sepuluh kilatan merah terlukis di udara. Bagaikan gelombang angin merah, kilatan tersebut langsung menghantam banyak Mayat Hidup di depannya, termasuk gedung Rumah Sakit Universitas Avernus.
BOOM
Seketika itu juga, gedung rumah sakit itu rata dengan tanah berserta para Mayat Hidup yang mengalir keluar.
“Ini …” Rian terkejut melihat bagian bawah Rumah Sakit Universitas Avernus masih utuh.
“Sewaktu aku menggunakan [Firefly] pada kediaman keluarga Sugiharto, aku bisa membuat lubang besar di tanah. Namun kali ini, aku bahkan tidak dapat menggores lantai keramik ini sama sekali. Ini pasti ulah Nightmare! Kemungkinan besar, ia menggunakan simbol-simbol sihir seperti yang digunakan Nightmare palsu itu.” gumam Ryan sambil terus berjalan di antara reruntuhan.
Saat Rian sedang berjalan, Rian melihat sebuah tangga menurun ke bawah. “Hmm, apakah itu adalah tangga menuju ruang bawah tanah yang dikatakan Nightmare?” Tanpa pikir panjang, Rian menuruni tangga tersebut.
__ADS_1