
Rian melihat dengan seksama tangan dan bajunya. Terdapat banyak sekali noda merah yang masih agak basah. “Apa yang terjadi sebenarnya? Dan juga, di mana ini?” Sejauh mata memandang, hanya terlihat ilalang yang tumbuh tinggi. Namun dari tempatnya, ia masih dapat melihat gedung kompleks Apartemen Keluarga Sejahtera yang diperkirakan berjarak 500 meter dari tempatnya berdiri..
"Mengapa mulutku terasa manis sekali?" Rian kemudian menggunakan kamera depan pada ponselnya untuk bercermin.
“Ini …” Alangkah terkejutnya Rian melihat wajahnya yang penuh noda darah, terutama pada area yang dekat dengan mulut. Rian membuka mulutnya untuk melihat giginya. Semua gigi Rian masih berwarna merah seakan baru saja meminum darah. ‘Apa gusiku berdarah saat aku pingsan? Mungkin saja ketika aku pingsan setelah melindungi Livia dari pisau itu, aku roboh dan mulutku terbentur lantai yang akhirnya mulutku mengeluarkan banyak darah. Hmmm, itu kemungkinan yang masuk akal. Hanya saja, di mana aku sekarang? Di mana teman-temanku? Apa aku sedang kena prank?’
Bingung atas apa yang terjadi padanya, Rian memutuskan untuk menghubungi Livia yang telah tercatat telah menelponnya 63 kali.
Tuuuut Tuuuut Tuuuut Tuuuut
“Rian! Kamu di mana!?” teriak Livia dari ujung telepon.
“Aku juga nggak tahu … di sekelilingku ada banyak ilalang. Tapi, dari sini aku masih bisa melihat gedung Apartemen Keluarga Sejahtera.”
“Alicia, bagaimana, bisakah kamu melacak panggilan ini?” LIvia terdengar sedang berbicara dengan Alicia. Beberapa detik kemudian, Livia mengatakan bahwa ia telah mendapat titik lokasinya berada sekarang.
“Baiklah akan ku tunggu …” Rian menutup panggilannya. Saat sedang melihat sekelilingnya, ia melihat ada potongan kepala dan tulang belulang manusia. Melihat hal ini, Rian pun mulai teringat dengan penjelasan sistem mengenai kemampuan khusus Setengah Serigala.
“Nggak mungkin … ini nggak mungkin! Bagaimana mungkin aku memakan daging manusia!? Ini pasti kebetulan … benar, ini pasti kebetulan aku pingsan di tempat ini bersama mayat ini!” Dengan sedikit panik, Rian langsung menyimpan potongan kepala dan tulang belulang yang berserakan ke dalam Kantong dimensi.
15 menit kemudian, terdengar suara Livia, Guntur, Adi, dan Alica yang terus menerus memanggil-manggil nama Rian.
"Rian …"
"Rian …"
"Guys~ aku di sini!" respon Rian dengan berteriak.
Begitu Livia dan lainnya berhasil menemukan Rian, mereka terkejut dengan keadaan Rian. Baju yang Rian gunakan penuh darah. Wajah dan rambut juga acak-acakan serta kotor dengan noda darah.
Livia yang melihat ini langsung berlari mendekati Rian. Livia tampak sangat khawatir hingga menangis. "Hiks hiks hiks …" Livia langsung memeluk Rian dan terus menangis dengan keras.
"Li-Livia, jangan memelukku … nanti pakaianmu kotor!"
"Aku nggak peduli! Hiks hiks … yang aku pedulikan hanyalah kamu, Rian! Kamu! Hiks hiks … aku takut kamu kenapa-kenapa, Rian. Aku takut! Apalagi setelah Rika menjatuhkanmu dari lantai 3. Pikiranku benar-benar kacau saat itu! Hiks hiks …"
__ADS_1
"Menjatuhkanku?" Rian tidak mengingat apa-apa setelah dirinya pingsan.
Menyadari kondisi Rian, Alicia pun membantu Livia untuk memberi penjelasan atas apa yang terjadi padanya. Rian begitu terkejut dengan apa yang dilakukannya ketika tidak sadarkan diri.
"Livia, maafkan aku … lagi-lagi aku hampir membuatmu celaka … padahal aku sudah berjanji untuk melindungimu! Aku–"
Much
"Livia …" Rian kaget mendapat ciuman di bibirnya dari Livia ketika ia sedang berbicara.
"Sudah, cukup Rian. Nggak perlu dibahas lagi. Apa pun kondisimu, aku akan selalu ada di sisimu." ucap Livia dengan lembut.
Dari samping, Alicia melihat kemesraan antara Rian dan Livia dengan serius. 'Mereka berdua berciuman? Apakah artinya mereka berpacaran sekarang? Kenapa dadaku rasanya sesak sekali sekarang? Apakah ini yang dinamakan cinta, seperti yang Yohan bilang?' Alicia kembali mengingat-ingat ajaran Yohan Jum'at minggu lalu sambil mengepalkan tangannya. 'Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan …'
"Oh ya, bagaimana dengan pria penghuni kamar 302? Apakah dia baik-baik saja?"
Guntur menjelaskan apa yang terjadi pada pemuda itu. "Karena luka di perutnya, sementara ini ia dirawat di rumah sakit. Namun karena intervensi Bu Ningsih, pemuda itu tidak akan dipenjara dengan alasan masih di bawah umur dan kondisi kesehatan mental yang nggak stabil."
'Sepertinya aku harus mengunjunginya. Aku perlu tahu bagaimana bisa ia dirasuki makhluk kurus itu!' pikir Rian.
"Lho, Winny ke mana?" Tanya Rian.
"Dia baru saja dibawa oleh Dokter Denis ke Rumah Sakit Jiwa Hati Sehat untuk menjalani perawatan. Tadi kondisinya juga sudah membaik. Terima kasih Rian, telah mau membantu Winny dalam menyelesaikan masalahnya. Kamu benar-benar seorang Detektif SMA!"
Much~
Tiba-tiba, Ida mendekat dan mencium pipi Rian yang masih agak kotor. Dengan ekspresi malu, ia berkata, "ini hadiah dariku, hehehe …" Kemudian ia mengedipkan matanya dengan centil pada Rian dan kembali menyiapkan omelet yang telah ia buat.
"Grrr, lepaskan aku! Grrr" Guntur dan Adi terus menahan Livia yang emosi setelah melihat Ida mencium pipi Rian.
Guntur mencoba menenangkan Livia. "Sabar Livia, sabar … itu hanya ucapan terima kasih!"
"Iya Livia, tenang … ambil nafas dalam-dalam … lalu hembuskan …" tambah Adi.
Setelah itu, Rian mandi untuk membersihkan badannya yang penuh dengan noda darah. Karena baju yang ia gunakan sebelumnya kotor, Rian terpaksa menggunakan Setelan Goemon (Fake) tanpa menggunakan topeng. Alicia, Ida, dan Livia begitu terpesona melihat Rian menggunakannya tanpa topeng. Dengan lekuk tubuh dan otot yang tercetak jelas, Rian terlihat sangat jantan sekali dengan pakaian seperti ini.
__ADS_1
“Karena Rian sudah selesai mandi, ayo kita segera makan dan pulang. Dua jam lagi sekolah akan dimulai!” ucap Ida sambil melihat jam dinding. Merek semua pun setuju dan mulai makan omelet yang dibuat oleh Ida.
Setelah makan satu suapan, mata Adi berbinar-binar. “Mmm, enak sekali!” Adi langsung melahap omelet yang ada piringnya dengan cepat.
“Nyam nyam nyam … Ida, masakan buatanmu sangat enak. Kamu benar-benar calon istri idaman!” ucap Adi sambil terus mengunyah makanannya. Ida pun tersipu malu mendengar pujian Adi. Guntur dan lainnya pun juga mengatakan hal sama. Hal tersebut semakin membuat wajah Ida memerah.
“Bagaimana kalau kamu jadi pacarku?”
“Tentu saja, aku … nggak mau! Hehehehe … maaf ya, tapi kamu bukan tipeku” jawab Ida sambil secara sembunyi-sembunyi melirik ke arah Rian yang sedang makan dengan tenang.
“Hahahahaha …” Semua orang pun tertawa terkecuali Alicia yang masih saja tanpa ekspresi.
Walau Rian juga ikut tertawa dengan nasib Adi yang ditolak mentah-mentah, namun pikiran Rian terus bergejolak. ‘Kenapa!? Kenapa aku merasa ingin muntah memakan makanan ini!? Padahal teman-teman lainnya sangat menikmati makanan ini, tapi kenapa aku nggak? Rasa makanan ini seperti karet, sungguh sangat menjijikkan!’
‘Tahan Rian, tahan … jangan sampai aku muntah … atau aku akan menyakiti hati Ida yang telah susah payah membuatkannya untuk kami!’ Rian terus tersenyum sambil mendengarkan pembahasan mengenai calon pacar untuk Adi. Suapan demi suapan omelet yang Ida buat terus Rian makan. Rian terus memaksa mulutnya untuk menelan makanan tersebut. Bagi Rian, makan makanan ini seperti siksa neraka.
“Rian, kamu nggak apa-apa?" tanya Livia yang melihat ekspresi wajah Rian seperti sedang kesakitan.
"Nggak apa-apa kok Livia …" jawab Rian sambil tersenyum manis.
Namun ketika Rian melihat tengkuk leher Livia yang seksi, jiwa hewan buas Rian mulai bangkit. 'Haah~ kenapa Livia terlihat lezat sekali … aku jadi ingin menggigit lehernya yang mulus itu …'
'Astaga, apa yang aku pikirkan tadi! Tahan Rian, tahan! Jangan biarkan insting hewan buas menguasai diriku!' Tubuh Rian sedikit bergetar. Namun Ia tetap memasang ekspresi tersenyum agar Livia tidak khawatir.
‘Aku harus mencari cara untuk mengendalikan kekuatan ini! Oh benar juga, kalau nggak salah wanita dari Departemen Penanggulangan Bencana Supranatural pernah bicara mengenai keluarga Greywolf. Mereka pasti punya cara untuk mengendalikan kekuatan mereka jika memang mereka juga Werewolf.’
Guntur dan lainnya langsung diam setelah mendengar pertanyaan Livia. Mereka semua, kecuali Ida, telah melihat bagaimana Rian berubah menjadi seperti monster. Mereka khawatir kalau Rian akan kembali seperti itu lagi. Jauh di dalam hati Guntur dan Adi, mereka takut pada Rian akan berubah dan berusaha memakan mereka. Tapi, mereka percaya bahwa Rian pasti bisa mengatasi semua ini.
“Bolehkah aku permisi sebentar?” Tanpa menunggu yang lainnya menjawab, Rian langsung keluar kamar. Ia kemudian menghubungi Pak Arta.
Tuut Tuut Tuut
“Halo, ada apa Rian?”
“Pak Arta, bisakah Bapak membantuku?”
__ADS_1