Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Penelusuran Ditunda


__ADS_3

“RIKA!” Livia pun terbangun dari pingsannya di ranjang UKS.


Rian yang mengetahui Livia berteriak langsung berlari dan memegang kedua bahu Livia. "Livia! Kamu nggak apa - apa!?"


“Rian? Jadi … Aku telah kembali?” Setelah melalui mimpi yang panjang, ia tak dapat membendung perasaannya lagi. Dalam mimpinya, Livia hidup sebagai Rika selama berbulan - bulan. Ia pun merasakan apa yang dirasakan Rika saat itu. Bagaimana rasanya dilecehkan, dirundung, depresi, dan juga kematian. Livia merasakan itu semua.


Tanpa ragu, Livia langsung memeluk Rian dan menangis dengan keras. “HUAAAAA~”


Rian hanya bisa mengusap - usap pundak Livia. “Maafkan aku Livia … Seharusnya aku sadar betapa berbahayanya kamar mandi itu. Seharusnya aku meminta mu untuk pergi ke kamar mandi lainnya yang lebih aman. Maafkan aku!”


Setelah beberapa saat, tangisan Livia mulai mereda. “Ini bukan salahmu kok. Malah aku bersyukur aku menggunakan kamar mandi itu.”


“Bersyukur?” Rian dan teman - teman lainnya pun bingung dengan jawaban Livia.


“Kalau boleh tahu, sudah berapa lama aku pingsan?”


“Dari waktu Rian mendobrak pintu kamar mandi sampai membawamu kesini, kira - kira nggak sampai 10 menit. Kita berencana memanggil Ambulan jika kamu belum sadar juga. Untunglah kamu segera sadar.” jawab Alena yang dari tadi khawatir dengan keadaan Livia.


“Sesingkat itu? Aku nggak nyangka kehidupanku sebagai Rika selama 6 bulan menghabiskan waktu tidak sampai 10 menit.”


“Kehidupan sebagai Rika?” Rian bingung dengan ucapan Livia.


“Siapa Rika?” Guntur pun penasaran dengan nama itu. Karena ia merasa tidak asing dengan nama itu.


Alena juga mengingat teriakan Livia. “Kalau nggak salah tadi Livia juga meneriakkan nama itu!”


“Rika … Rika … Di mana ya aku mendengarnya?” Guntur berusaha mengingatnya. “Ahhh, aku ingat sekarang! Kasus bunuh diri siswi SMA Avernus 5 tahun yang lalu. Kalau nggak salah nama siswi yang bunuh diri adalah Rika! Kasus itu cukup heboh dulu, karena baru pertama kali ada kasus bunuh diri di SMA Avernus yang terkenal Elit.”


“Bagaimana kamu tahu? Seharusnya 5 tahun yang lalu kita masih SD.” Livia penasaran.


“Ayahku dulu yang menangani kasus ini. Makanya aku tahu, hehehe..” jawab Guntur sambil menggaruk - garuk kepalanya.


“Ayahmu polisi?” tanya Tika.


"Iya, sepertinya aku belum cerita padamu dan Alena, hehehehe … Maaf …"


"Kalau begitu, nanti sebelum pulang aku mau membicarakan sesuatu denganmu secara pribadi."


"Hum? Oke…" Guntur tak ambil pusing dengan permintaan Tika. Setelah itu ia mulai bercerita tentang kasus yang di tangani Ayahnya. "Jadi dulu kalau nggak salah ada seorang siswi kelas XII yang bunuh diri. Dugaan awal ia mengalami depresi karena akan menjalani Ujian Nasional. Namun setelah Ayahku selidiki, ada indikasi mengarah ke perundungan dan pelecehan. Namun tidak ada bukti mengenai perundungan. Awalnya ada murid yang memberi keterangan mengenai perundungan terhadap Rika. Tapi kemudian ia mengubah testimoninya secara mendadak. Polisi juga nggak bisa menekan murid SMA yang nggak bersalah. Polisi juga menanyai Orang Tua Rika, tapi tidak ada hasil yang signifikan. Pada akhirnya kasus ini ditutup dengan kesimpulan bahwa Rika gantung diri karena depresi akibat tekanan Ujian Nasional."


Mendengar cerita Guntur, Livia sangat lah marah. "Jadi pihak sekolah memilih untuk menyembunyikan kenyataan …Haah~ aku benar - benar ingin memukul Pak Effendi." Livia mulai menceritakan apa yang telah ia alami. Ketika semua mendengar cerita Livia, mereka benar - benar marah.


"Brengsek, aku nggak nyangka sekolah Elit seperti Avernus memiliki sisi gelap seperti ini!" ucap Adi.


"Apa kita perlu lapor ke polisi?"


"Kita tidak bisa melaporkannya ke polisi, Alena. Walau kita tahu kejadian aslinya melalui mimpi Livia, tapi itu tidak bisa dijadikan bukti. Bukti yang diterima polisi harus yang nyata, bukan gaib." jawab Guntur.


"Terus gimana ini? Kalau kita nggak bisa menjebloskan Pak Effendi ke penjara, akan muncul lebih banyak korban seperti Rika! Aku juga nggak mau kalau aku, Alena, atau Livia menjadi korban berikutnya!"


"Tika, tenanglah! Ayo kita sama - sama pikirkan cara untuk mengungkap kasus ini!" ucap Rian.


"Hump!" Tika menunjukkan ketidaksukaannya pada Rian.

__ADS_1


Saat semua sedang membicarakan kasus Rika, Adi tiba - tiba menceletuk. "Guys, kayaknya kita lupa deh mematikan Live Broadcastnya …"


Seketika, ruang UKS menjadi hening. Mereka baru ingat kalau mereka masih melakukan Live Broadcast dan belum mematikannya.


Rian kemudian menghadap kamera ponselnya. "Guys, mohon maaf ya untuk penelusuran 7 keajaiban SMA Avernus kami tunda dulu untuk sementara. Malam ini, kita telah berhasil membongkar 2 keajaiban. Keajaiban pertama, suara piano di malam hari ternyata ulah manusia. Lalu untuk keajaiban kedua …"


Rian berhenti sejenak. Ia tampak sangat emosi dengan cerita di balik keajaiban kedua. "Kalian pasti sudah mendengar pembicaraan kita tadi. Semua yang kita lakukan di sini adalah nyata, tanpa ada skenario. Jadi kami tidak berusaha menyudutkan salah satu oknum guru. Kami akan berusaha mencari bukti untuk mengungkap kasus Rika. Inilah saatnya Detektif SMA untuk beraksi! Mohon dukungannya ya Guys. Dan juga, setelah ini kami akan menyensor nama oknum guru tersebut. Karena kita bisa kena UU ITE kalau menyebutkan namanya tanpa bukti. Oke Guys, jadi kita akhiri dulu penelusuran kali ini. Keajaiban selanjutnya akan kita telusuri kembali minggu depan. See You Next Time!"


Setelah mematikan Live Broadcast nya, Rian menyarankan untuk melanjutkan pembicaraan mengenai Rika besok. "Gimana kalau pembicaraan ini kita lanjutkan besok? Karena ini juga sudah larut malam dan Livia juga butuh istirahat."


"Bisakah aku ikut dalam pembicaraan tersebut?" Dari balik pintu UKS, muncul Alicia.


"Alicia? Aku kira kamu sudah pulang karena aku tak mendengar melodi indah darimu …"


Buukk


Livia memukul perut Rian. "Bisa nggak sih kamu bicara normal ke Alicia? Dari tadi cara bicaramu jadi aneh kalau ngomong ke Alicia!"


"Jangan main pukul dong. Aku bicara kayak gitu karena permainan piano Alicia sangat indah. Aku sangat menyukainya …"


"Kau menyukaiku?" tanya Alicia tetap dengan ekspresi datarnya.


"Tentu saja …" jawab Rian tanpa berpikir panjang.


Alicia langsung memeluk Rian. "Terima Kasih …"


"Ehhh!" Livia kemudian berusaha memisahkan Rian dari pelukan Alicia.


......................


“Kenapa Kalian berkumpul di rumah Bapak!?” Teriak Pak Arta. Ia begitu terkejut saat melihat anak didiknya berkumpul di depan rumahnya.


Tanpa menjawab Pak Arta, mereka langsung nyelonong masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan pemilik rumah. “Permisi …” Pak Arta pun speechless melihat kelakuan anak didiknya. Urat - urat mulai bermunculan pada wajah Pak Arta.


BUUKK


“Aduh!”


“Alena! Ini pasti idemu! Jelaskan pada Bapak kenapa kalian berkumpul di rumah Bapak!”


“Maaf Pak Arta, tapi ini ideku …” jawab Rian sambil mengusap - usap kepala Alena yang telah dijitak oleh Pak Arta.


“Idemu?” Pak Arta melunak setalah mendengar perkataan Rian. “Kamu pasti punya alasan yang kuat. Bisa ceritakan pada Bapak?”


“Apa Bapak tidak menonton siaran kami tadi malam?”


“Mohon maaf, Bapak tadi malam ada acara mendadak. Sepupu Bapak yang dari Korea datang.”


“Tante Lisa datang?” Alena terlihat ketakutan.


“Iya. Tahun ini Lisa akan pindah ke Surabaya. Kemungkinan besar dia akan masuk SMA Avernus sebagai siswi pindahan kelas XII.” Pak Arta mengerti alasan kenapa Alena takut pada Lisa. Walau Lisa terlihat seperti wanita yang baik dan selalu ceria, ia memiliki hati yang gelap.


Pak Arta dan Alena dapat merasakan kegelapan hati Lisa. Mereka berdua memiliki kemampuan untuk menilai seseorang. Inilah alasan Alena juga tertarik dengan Rian, karena Alena memiliki kemampuan tersebut. Sebaik apa pun orang itu, ia dapat merasakan kegelapan dalam hatinya.

__ADS_1


“Jadi begini Pak …” Rian mulai menjelaskan kejadian tadi malam. Livia juga membantu Rian dalam menjelaskan mimpinya.


“Hmmm … Bapak sudah merasa kalau Pak Effendi bukan orang baik - baik. Tapi Bapak tidak mengira sampai sejauh itu. Tapi yang menarik perhatian Bapak adalah, cara Rika menyampaikan pesannya melalui mimpi dan juga coretan - coretan yang dibuat Rika. Ini hal yang layak untuk diteliti …” Pak Arta lagi  - lagi menunjukkan senyum mesumnya ketika menemukan sesuatu yang menarik.


“Pak Arta mesum …” ucap Alicia dengan nada datarnya. Ia semenjak tadi telah berdiri di belakang Rian.


Pak Arta langsung terbangun dari lamunannya. “Alicia? Sejak kapan kamu di sini?”


“Dari tadi Pak mesum …”


“Bisa tolong hentikan panggilan itu? Bisa gawat jika Ibumu mendengarnya …”


“Baik Pak Hentai …”


“Ughh …” Pak Arta tidak bisa berkata apa - apa di hadapan Alicia. Ibu Alicia adalah Kepala SMA Avernus sekaligus pemiliknya. Jadi Pak Arta tidak ingin dirinya dipecat. Walau Pak Arta bisa saja dengan mudah mencari pekerjaan lain dengan kualifikasinya yang merupakan lulusan Havard, namun ia tidak ingin dipecat setelah melihat banyak hal menarik di sekitarnya. ‘Dari mana para berandal ini bisa akrab dengan Alicia? Setahuku Alicia selalu menyendiri. Apalagi Alicia memiliki Heterochromia, di mana ia memiliki 2 warna mata yang berbeda. Aku dengar ia selalu dirundung ketika SMP karena matanya itu.’


“Oke, jadi apa rencana kalian sekarang? Polisi tidak akan bertindak jika tidak ada bukti yang kuat.”


“Nah …ini yang sedang ingin kami bicarakan di sini. Kami juga butuh pendapat Bapak sebagai guru di SMA Avernus.” Kemudian mereka saling berbincang membahas rencana untuk menjatuhkan Pak Effendi. Namun setelah beberapa jam, mereka menemui jalan buntu. Pak Effendi memilik banyak pendukung dan fans di sekolah. Sangat sulit untuk menjatuhkan Pak Effendi dengan rumor saja. Sedangkan bukti - bukti foto dan video semua tersimpan pada ponsel Pak Effendi. Selain di ponsel, pasti sebagian besar juga disimpan di komputernya.


“Bagaimana kalau kita mencuri ponselnya?” Usul Adi.


“Itu tidak mungkin. Bapak selalu melihatnya membawa ponselnya ke mana - mana. Jadi sangat sulit untuk mencurinya.”


“Bagaimana kalau kita bobol file di komputernya? Kita pake jasa Hacker seperti yang di film - film, hehehe …” Usul Alena.


“Kamu terlalu nonton banyak film. Tidak semudah itu membobol komputer. Dan juga sangat sulit mencari Hacker yang benar- benar terampil. Saat ini banyak bocah - bocah seumuran kalian yang mengaku Hacker tapi kemampuan nol. Cuma bisa dengan menggunakan script tools yang tersebar di internet.” sanggah Pak Arta.


“Aku bisa membantu kalian membobol ponsel dan komputernya.” Semua orang menoleh ke arah suara tersebut.


“Kamu bisa?” tanya Rian.


“Tentu saja …Itu hal yang mudah. Tapi kalian harus membantuku.” Setelah itu, Alicia menjelaskan cara membobol ponsel dan komputer milik Pak Effendi. Ia juga menjelaskan apa yang perlu Rian dan teman - temannya bantu agar pembobolannya berjalan dengan lancar.


“Oke, semua sudah jelas? Ada pertanyaan?” tanya Rian sebelum mengakhiri pertemuan ini.


Alena mengacungkan jarinya. “Aku - Aku!”


“Bagian apa yang masih belum kamu mengerti, Alena ?”


“Emmm …Sebenarnya aku kepikiran hal ini dari tadi …Hentai itu apa?”


“...”


“...”


“...”


“...”


“...”


“...”

__ADS_1



__ADS_2