
"Wah, besar sekali!" ucap Adi yang tercengang melihat betapa luasnya rumah Rian. Namun bukan hanya Adi yang tercengang, tapi Guntur, Livia, dan Tika juga ikut tercengang. Berbeda dengan mereka, Alena dan Alicia terlihat biasa dengan semua ini.
"Ayo masuk!" ajak Ryan.
Saat masuk, Rian dikejutkan dengan munculnya 8 wanita yang menggunakan seragam pelayan, berbaris di sebelah kanan dan kiri pintu. "Selamat datang tuan!"
Spontan, mata Adi berbinar-binar melihat deretan wanita cantik memakai baju pelayan ala eropa. "Wow, kamu bahkan memiliki pelayan sendiri, cantik-cantik lagi …"
Livia dan Alena langsung menatap Rian dengan tajam.
Belum sempat Rian menjelaskan, Rio datang dan berbicara terlebih dahulu. "Malam Bos! Sesuai permintaan Bos, aku sudah merekrut pelayan rumah ini. Tenang, aku sengaja memilih yang masih perawan. Jadi Bos bisa nggak perlu khawatir kalau bermain, hehehe"
Mendengar hal ini, tangan Alena mencengkram bahu kanan Rian. Sementara Livia, ia mencengkram bahu kiri Rian.
"Sepertinya kita perlu bicara banyak deh, fufufufu …" ucap Alena sambil melotot.
"Betul Alena, kita memang perlu bicara banyak dengannya, hehehehe …" sahut Livia.
"Ugh …" Rian pun hanya bisa menyerah pada nasib.
Setelah itu, Rian mendapat ceramah dari mereka berdua selama satu jam. Walau Rian sudah mencoba menjelaskannya, namun kedua wanita itu tidak mempedulikannya.
Saat Rian kembali, Rian melihat Guntur dan lainnya menonton berita mengenai bunuh diri masal.
"Rian, bagaimana menurutmu mengenai kasus bunuh diri masal ini? Ini juga berkaitan dengan misi mu kan?" tanya Guntur.
"Kemungkinan besar, orang dengan topeng plague doctor itu menggunakan Memetic Effect untuk membuat mereka bunuh diri."
"Memetic Effect?" Guntur dan lainnya bingung dengan penjelasan Rian.
"Memetic Effect adalah efek dari sebuah simbol, gambar, ataupun suara yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar manusia baik melalui penglihatan maupun pendengaran."
"Efek yang dihasilkan, bergantung dari orang yang membuatnya. Contoh yang paling dekat adalah gambar buatan Rika di balik pintu kamar mandi. Jika kita melihatnya terlalu lama, secara tidak sadar muncul niatan untuk bunuh diri dalam benak kita. Ini adalah Memetic Effect dari gambar Rika." jelas Rian.
Guntur mengangguk-angguk. "Jadi begitu … pantas saja banyak orang mengatakan bahwa teman mereka sebelum melakukan aksi bunuh diri sempat membuka sebuah chat."
"Itu benar, kemungkinan orang bertopeng plague doctor itu menggunakan sebuah gambar yang dikirimkan melalui chat untuk membuat Memetic Effect seperti ini."
__ADS_1
"Wah, kalau dibiarkan begini terus, maka akan ada banyak korban berjatuhan lagi." ucap Livia.
"Rian, aku punya ide. Bagaimana kalau kamu membuat konten TeckTock yang memperingatkan bahaya Memetic Effect. Dengan begitu, orang-orang akan semakin waspada."
Adi terlihat setuju dengan ucapan Alena. "Apa yang dikatakan Alena benar, ayo sekarang kita buat videonya."
"Lah kita nggak jadi kerja tugas Matematika?"
Adi menggelengkan kepalanya. "Itu nanti saja, Rian. Yang terpenting sekarang adalah kita memberitahu masyarakat mengenai Memetic Effect ini. Semakin cepat kita memberitahu mereka, semakin sedikit korban yang berjatuhan!"
Tak lama kemudian, Rian mulai merekam video TeckTocknya.
"Hai Guys … mohon maaf sebelumnya, siaran di Rumah Sakit Umum Surabaya, mendadak dimatikan. Karena pada penelusuran kemarin, ada indikasi tindak kriminal dari beberapa oknum pasien dengan gangguan jiwa. Makanya, pihak berwajib langsung meminta saya menghentikan penelusuran."
"Oke, lanjut ke topik selanjutnya. Aku mau membahas mengenai fenomena bunuh diri masal yang kini sedang terjadi. Menurut deduksiku, fenomena ini terjadi karena ulah seseorang."
"Ada beberapa kesaksian, sebelum korban bunuh diri, mereka membuka sebuah pesan chat terlebih dahulu. Nah, dari sini mulai muncul keanehan pada diri korban. Para korban mendadak memiliki tatapan kosong. Lalu, mereka akan melakukan aksi bunuh diri."
"Dari kesaksian ini, aku simpulkan, bahwa penyebab dari aksi bunuh diri tadi adalah pesan chat yang berisi gambar atau simbol tertentu. Dalam bidang keilmuannya, ini disebut Memetic Effect."
Rian kemudian mulai menjelaskan secara terperinci mengenai Memetic Effect.
Stasiun televisi juga mulai menayangkan video Rian di channel mereka. Para pakar psikologi pun mulai bermunculan. Termasuk Dokter Denis, ayah Alena. Ia mendapat undangan dari salah satu stasiun televisi sebagai narasumber secara telekonferensi.
"Dokter Denis, menurut Dokter, apakah apa yang dikatakan Rian dalam videonya itu benar, bahwa semua ini akibat Memetic Effect?" tanya seorang wanita pembawa acara berita.
"Saya tidak bisa memastikan deduksi Rian. Tapi, yang bisa saya pastikan adalah Memetic effect itu memang ada. Jika memang benar ada seseorang yang membuat Memetic Agent untuk mempengaruhi orang bunuh diri, ini benar-benar sangat berbahaya!"
Mendengar pernyataan Dokter Denis, masyarakat mulai waspada dengan adanya chat masuk yang berasal dari nomor tidak dikenal.
Seakan pelakunya takut tertangkap, pengiriman chat Memetic itu berhenti. Tidak ada lagi laporan orang yang menerima chat tersebut.
......................
Dua hari berlalu begitu cepat, hari Kamis pun tiba. Ini adalah hari di mana Komunitas Pecinta hantu berkumpul.
"Rian, jangan lupa nanti malam ya." bisik Yohan yang berpapasan dengan Rian di depan gerbang sekolah.
__ADS_1
"En …" angguk Rian.
"Oh ya, satu lagi … kamu harus membawa topeng."
"Topeng?"
"Iya … terserah kamu mau menggunakan topeng apa, karena salah satu peraturan Komunitas adalah kerahasiaan identitas. Jadi, antar anggota komunitas, kita tidak tahu identitas aslinya siapa. Kita biasanya saling panggil sesuai dengan topeng yang kita kenakan. Yah, walaupun ada seorang wanita yang tidak mengenakan topeng sih."
"Emangnya boleh?"
"Dia salah satu pendiri komunitas, jadi mau bagaimana lagi, haah~" Yohan menghela nafas panjang mengingat tingkah wanita itu.
"Sepertinya dia wanita yang sangat merepotkan."
"Memang … kamu tahu apa alasan dia tidak mau mengenakan topeng?"
Rian berpikir sebentar. "Mmm, mungkin kepanasan?"
"Bukan. Tapi karena menurut dia, wajah yang ia miliki sudah sangat sempurna!"
"Ugh, sepertinya dia orang yang sangat narsis."
"Bukan narsis sih, tapi perfeksionis. Ada sedikit saja yang tidak sempurna di tubuhnya, seperti rambutnya panjang 1 cm, maka dia memotongnya dan mengukurnya ulang."
Mendengar cerita Yohan, Rian teringat dengan salah satu mantan pasien bangsal Jiwa Rumah Sakit Umum Surabaya. 'Bukankah ini salah satu ciri Body Dysmorphic Disorder? Kalau nggak salah, pengidapnya bernama Hani, mantan penghuni kamar nomor 6.'
Setelah mengobrol sebentar, Rian dan Yohan berpisah.
Malamnya, Rian menunggu Yohan di depan Rumah Sakit Universitas Avernus.
Tiiin
Sebuah mobil Kijang Innova membunyikan klaksonnya. "Ayo naik!" ajak Yohan.
Mereka kemudian meluncur menuju arah Surabaya Barat.
'Hmm? Sepertinya aku familiar dengan jalan ini. Bukankah ini jalan menuju Apartemen Keluarga Sejahtera?' pikir Rian.
__ADS_1
Dan ternyata, firasat Rian menjadi kenyataan. Mobil Yohan berhenti di parkiran mobil Apartemen Keluarga Sejahtera.