
"Kamu sudah izin ke Ayah dan supirmu?" tanya Rian yang sekarang sedang mengendarai mobil Ferrarinya.
"Tentu saja ... aku tadi sudah chat Ayah kok pas pelajaran matematika." jawab Alena sambil melihat-lihat ponselnya
"Emang kamu izin apa?"
"Izin belajar di rumahmu …"
"Masuk akal sih, hehehehe …" Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah. Setelah turun dari mobil, Rian langsung memasukkan mobilnya ke dalam Kantong dimensi. Kemudian Rian segera mengajak Alena masuk ke kamarnya.
Sejak siang tadi, Alena sudah curiga bahwa Rian punya kemampuan untuk menyimpan barang tanpa perlu tas. Hal ini dikarenakan siang tadi Rian dapat mengeluarkan pisau dari udara. Maka dari itu Rian beralasan pada Alena bahwa ini adalah salah satu kemampuan khususnya. Untuk mobil, Rian beralasan temannya menitipkan padanya agar tidak hilang.
"Maaf ya Alena, aku nggak punya sofa, makanya aku cuma bisa mengajakmu duduk di kasurku." ucap Rian sambil membawakan Alena segelas air putih.
Alena tampak sedang melihat-lihat isi kamar Rian. "Iya nggak apa-apa kok Rian. Ini juga pengalaman pertama aku masuk kamar cowok selain Ayahku."
"Bagaimana menurutmu?" Rian penasaran dengan benak Alena. ia harus tahu selera Alena untuk persiapan ketika mereka berumah tangga kelak.
"Masih lebih besar kamarku dan Ayahku …"
"Ugh …" hati Rian sakit mendengar pendapat Alena.
"Dan di sini sedikit berantakan. Nggak ada hiasan dinding, guci, dan benda-benda seni lainnya. Rak buku dan meja belajar mu juga sepertinya bukan kayu jati. Terasa kurang elegan jadinya. Mungkin kamu perlu banyak berbenah supaya kamarmu terlihat lebih indah. Itu sih pendapatku …"
"Uhh, oke …" Namun, dalam hati ia merasakan critical damage yang sangat besar.
Rian menatap ke langit-lagit dan melihat bayangan Dokter Denis tersenyum di sana. 'Wahai Ayah mertua … Ternyata perkataanmu tentang pentingnya uang memang benar adanya. Kalau aku menikahi Alena, aku bakal membutuhkan biaya besar!'
Sesaat kemudian, Rian mulai berterima kasih pada Alena. "Alena, terima kasih telah menerima perasaanku …"
"En …" Alena tersenyum dengan ucapan Rian.
Ia pun menatap langsung Alena dengan penuh afeksi. "Saat kamu memanggilku pertama kali di depan gerbang sekolah, aku begitu terpesona olehmu. Semua ini adalah pengalaman pertamaku merasakan hal itu. Saat itu aku pun tersadar, bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Aku sangat mencintaimu Alena. Dan aku berharap, kamu adalah pacar pertama dan terakhirku … dan juga, kelak menjadi ibu dari anak-anakku ..." ucap Rian sambil menyentuh dengan lembut pipi Alena. Perlahan, wajah Rian semakin dekat dengan Alena. Bibir mereka pun saling bersentuhan.
Much
"Mmmm …" Lidah Rian menerobos masuk mulut Alena dan saling beradu. Pada awalnya, Alena merasa canggung dengan apa yang Rian lakukan karena ia tak pernah melakukan hal ini. Namun, lama kelamaan Alena mulai menikmatinya. Alena pun sampai menutup matanya karena menikmati permainan lidah mereka.
"Mmmm … hhhhh …" Lambat laun, nafas Rian dan Alena semakin memburu.
Mereka berdua pun kemudian bermain cukup lama di kamar Rian. Namun, mereka tidak melakukan hubungan s3x sama sekali. Yang mereka lakukan hanya sebatas rabaan dan ciuman saja. Hal ini terjadi karena Rian sudah berkomitmen untuk melakukan hubungan s3x ketika sudah menikah kelak. Maka dari itu, Rian kini menahan dirinya untuk melakukan hal yang lebih. Alena pun senang dengan komitmen Rian. Hal ini membuat Alena benar-benar semakin jatuh cinta pada Rian
"Jangan tinggalin aku ya sayang …" ucap Alena dengan manja.
"Iya sayang … aku nggak akan ninggalin kamu, kecuali maut memisahkan kita!" Suasana romantis menyeruak. Mereka pun melakukan beberapa ronde sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 8 malam, dimana Rian harus mengantarkan Alena pulang. Ayah Alena tidak memperbolehkan Alena pulang terlalu malam jika besok adalah hari sekolah.
Sebelum pulang, Rian mengajak Alena mandi bersama. Mereka pun melakukan itu lagi di sana. Alena sangat kelelahan karena beberapa kali mencapai telah puncak kenikmatan. Berbeda dengan Rian yang walau sudah beberapa kali keluar, ia tetap bugar dan sanggup melakukan ronde selanjutnya.
Karena lelah, Rian pun menggendong Alena dengan gaya princess carry ke dalam mobilnya. Dalam perjalanan, Alena tertidur karena kelelahan setelah bermain sekian ronde. Saat mobil Rian sudah sampai di depan rumah Alena, Rian membangunkan Alena dengan lembut. Tak mau segara berpisah, mereka berdua berciuman dengan sangat panas. Setelah puas berciuman selama beberapa menit, barulah Alena keluar mobil dan masuk ke rumah meninggalkan Rian.
~Wahai calon menantuku, kau sudah berani sekali berbuat mesum di depan Ibu!~
Deg
'I-I-Ibu mertua!?' Di kursi penumpang, tiba-tiba muncul wanita berambut dan berbaju merah yang tak lain adalah Roh Jahat dari Ibu kandung Alena.
Suasana di dalam mobil Rian mendadak menjadi sangat dingin. Bahkan lubang saluran AC sampai membeku.
__ADS_1
~Kau tahu, Ibu sejak tadi ada di rumahmu! Ibu khawatir Alena tak kunjung pulang. Maka dari itu Ibu mencarinya dan berkunjung ke rumahmu. Ibu terkejut atas apa yang Ibu lihat di sana! Untung saja kau tidak menodainya. Jika sampai kau melakukan hal itu, Ibu akan meruntuhkan rumahmu dan memakan jiwamu!~
'Sabar Ibu mertua, sabar … Aku sudah berkomitmen untuk tidak melakukan lebih dari yang Ibu lihat tadi sebelum kita menikah! Jadi Ibu nggak perlu khawatir lagi!' jawab Rian sambil menyetir.
~Ibu akan memegang kata-katamu!~
'Terima kasih Ibu mertua, aku selalu memegang janjiku!'' Rian pun dapat bernafas lega dengan ucapan Ibu
~Lalu satu hal lagi, bagaimana mungkin kamu bisa memiliki pintu merah?~
Rian terkejut Bu Dian mengetahui tentang pintu merah. 'Bagaimana Ibu tahu?'
~Ibu dapat merasakannya ketika Ibu mengintip kalian mandi.~
'Ibu juga mengintip apa yang aku dan Alena lakukan di kamar mandi?' Rian merasa malu mendengar pengakuan Bu Dian.
~Tidak usah malu begitu di depan Ibu. Ukuran milik suami Ibu lebih panjang dari milikmu …~
'Ughh … mengapa Ibu dan anak kalau ngomong selalu bikin hatiku sakit!'
~Hihihihihihi … sudah cukup, mari kita kembali ke pembicaraan awal. Bagaimana caramu mendapatkan pintu merah itu?~
'Aku mendapatkannya ketika aku melakukan tantangan cermin, di mana aku harus mengucapkan namaku di depan cermin pukul 03.04 hanya dengan menggunakan lilin sebagai sumber cahayanya. Setelah melakukan permainan itu, muncul pintu merah itu. Apa sebenarnya pintu merah itu?' Rian pun penasaran dengan itu. Apalagi ia sangat ingin menutupnya.
~Ini sungguh Aneh. Tidak mungkin kau bisa membuka pintu merah semudah itu!~
'Apakah Ibu mertua tahu cara menutup pintu merah itu?'
~Hanya orang yang pernah membukanya yang mengetahui cara menutupnya.~
Setelah beberapa saat berbincang mengenai pintu merah, Rian pun akhirnya sampai di depan rumahnya. Roh Jahat Bu Dian juga kembali ke rumah Alena.
"Ibu mertua bisa teleport? Sepertinya ada banyak peningkatan dari Hantu ke Roh Jahat. Kemampuan membaca pikiran dan teleport ini sangat berbahaya! Aku harus cepat menjadi kuat. Aku butuh lebih banyak poin!" gumam Rian saat melihat Roh Jahat Bu Dian menghilang dalam sekejap.
Keesokan harinya, Rian menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan penelusurannya pada hari Sabtu. Mereka pun setuju dan meminta Alena untuk mengurus surat izin kegiatan klub.
"Hmmm, ini aneh … Kenapa aku merasa kalian berdua jadi lebih dekat?" Livia curiga dengan interaksi antara Rian dan Alena. Nada bicara mereka terdengar sangat akrab dan penuh afeksi, seperti pasangan suami-istri yang baru menikah.
Melihat hal ini, Livia langsung memeluk lengan kiri Rian. "Rian sayang, terima kasih ya cincinnya, ehehehe …" ucap Livia sambil memamerkan cincin emas di jari manisnya.
"Huh?" Rian bingung dengan sikap Livia.
Mendengar ucapan Livia, Alena menyipitkan matanya penuh curiga ke arah Rian. Ia juga mencubit perut Rian secara sembunyi-sembunyi.
“Lho, kalian jadian?” Guntur terkejut
“Wah selamat ya!” ucap Adi.
Tika hanya diam dan terus memandangi Alena yang sedikit bertingkah aneh pagi ini.
Tiiiiiingg
Bel tanda masuk kelas berbunyi. Pak Arta, Wali Kelas X-6 segera masuk dan mengabsen muridnya satu-persatu. Di saat yang sama, Alena mengirimkan chat pada Rian.
Alena : Sayang, kamu beneran nggak duain aku kan? (emot pisau)
Rian : Beneran kok yang, sumpah! Sepertinya Livia salah paham. Padahal aku sudah jelasin lho …
Alena : Kalau gitu biarin aja yang. Biarkan kesalahpahaman ini berlanjut. Aku yakin dengan sikapmu selama ini ke Livia, kamu pasti nggak tega membuat Livia sedih. Kalau kamu berkata jujur padanya, aku yakin dia akan menangis. Aku juga nggak mau lihat Livia sedih. Dia adalah salah satu teman baikku …
__ADS_1
Rian : Ughhh … Sayang memang benar. Aku nggak bakal tega ngomongnya. Apalagi Livia sudah terlanjur pamerin cincin Rika ke semua orang. Livia bisa malu kalau aku menyanggahnya …
Alena : Oke, aku percaya sama kamu yang😘❤️
Alena : Tapi kalau sayang ketahuan duain aku 🔪🔪, aku potong burungmu! 👹
Membaca chat Alena, Rian langsung merinding. ‘Apakah aku secara nggak sengaja membangkitkan jiwa yandere Alena?’ Rian pun mulai membayangkan anime School Days. Anime tersebut menceritakan sang tokoh utama, berselingkuh dari pacarnya yang mengakibatkan ia berakhir tragis. Rian membayangkan dirinya menjadi tokoh utama dalam serial tersebut. Kemudian ia mengganti 2 heroine utamanya menjadi Alena dan Livia. Bayangan episode terakhir pun muncul, dimana kepala Rian dipotong oleh Alena. Seketika itu juga, ia merasakan lehernya terasa sangat dingin. ‘Aku nggak akan selingkuh … aku nggak akan selingkuh … aku nggak akan selingkuh …’
Rian : Tenang saja sayangku, cuma kamu di hatiku😘❤️
Rian : Oh ya, Sabtu minggu ngedate yuk …
Alena : Kenapa nggak minggu ini aja?
Rian : Kondisimu masih nggak fit, aku takut kamu malah sakit …
Rian : Apalagi, Sabtu kita ada Live Broadcast. Jadi lebih baik istirahat dulu.
Alena : Iya sih, badanku sampai sekarang masih capek banget🤭🤭
Rian : Nanti pulang ngedate, kita lakukan lagi yang kayak semalam, gimana?
Alena : 🤭🤭
Rian : Oke sayangku, akan kubuat sayang ketagihan!
Alena : 🤭🤭
......................
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Rian dan kawan-kawan menjalani hidup dengan damai, seakan pertanda badai besar akan menghampiri mereka.
Sabtu malam pun tiba. Rian sedang menunggu anggota Kelompok Riset Mitos dan Legenda Perkotaan lainnya untuk berkumpul di ruang musik tempat Alicia bermain piano. Namun, saat ini di ruang musik hanya ada Rian dan Alicia.
Dalam Live Broadcast malam ini, hanya Livia, Guntur, dan Adi yang akan hadir. Alena tidak bisa ikut dalam penelusuran malam ini. Ia mendadak terkena flu. Sepertinya kondisinya masih belum fit pasca permainan malam itu. Untuk Tika, dia menemani Alena menonton Live Broadcast di rumah Alena.
“Seperti biasa, melodi piano yang kamu begitu indah, Alicia …” Rian sangat menikmati alunan melodi Symphony No.9 milik Gustav Mahler yang baru saja dimainkan Alicia, .
“Terima kasih …” ucap Alicia dengan nada datar.
“Dan juga, terima kasih telah membantuku selama aku di penjara. Aku tahu kamu lah yang menyebarkan dokumen rahasia milik keluarga Sugiharto. Aku ucapkan sekali lagi, terima kasih Alicia!” Rian menundukkan badan di depan Alicia.
“Tidak usah dipikirkan lagi Rian. Aku membantumu karena memang aku ingin. Lagipula sangat sulit untuk menjerat mereka. Namun kabar baiknya, salah satu anggota keluarga Sugiharto terbunuh beserta 30 orang pekerjanya. Walau polisi berusaha menutupi kasus ini, tapi netizen sudah terlanjur menyebarkan video kondisi lokasi pembunuhan.”
“Kalau nggak salah namanya Sonny kan? Namanya juga ada di dokumen yang kamu sebarkan. Sepertinya ia terlibat dalam bisnis haram. Tapi apa yang sebenarnya membunuh mereka semua?” Rian penasaran dengan penyebab kematian masal yang terkait anggota keluarga Sugiharto. Ia berasumsi bahwa pelaku pembunuhan masal itu kemungkinan orang yang sama dengan pelaku pembunuhan masal di lantai 10 Rumah Sakit Universitas Avernus.
“Oh ya, sebelum aku lupa, apa ada sesuatu yang ingin kau minta padaku? Sesuai janji, aku akan mengabulkan satu permintaanmu.”
Alicia pun berpikir sejenak. “Hmmm … Bisakah kamu menemaniku jalan-jalan? Aku ingin membeli sesuatu.”
“Oke, nggak masalah. Kapan?”
“Minggu depan saja, kalau nggak hari Jum’at sepulang sekolah, bisa hari Sabtu atau Minggu.” jawab Alicia setelah berpikir beberapa saat.
“Oke, hari minggu aja. Gimana?”
“Oke ..”
Alicia dan Rian mulai mengobrol panjang lebar. Dari situ, Rian menjadi lebih mengenal Alicia. Sampai pada akhirnya, satu persatu anggota Kelompok Riset Mitos dan Legenda Perkotaan tiba. Karena waktu telah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Mereka pun segera memulai Live Broadcast.
__ADS_1
“Satu … dua … tiga … mulai!”
“Hai Guys …”