Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Penjelasan Tono (II)


__ADS_3

Tono menghentikan ceritanya sejenak. Dokter Denis memberikannya minum untuk sedikit menenangkan diri. Setelah minum, Tono kembali melanjutkan ceritanya. "Orang itu berkata bahwa aku tidak akan bisa lolos darinya. Dia berkata, asalkan aku menolongnya, ia akan berhenti menggangguku. Aku pun mempercayai omongannya. Aku mulai mengikuti apa yang ia minta, dimulai dengan menangkap beberapa hewan kecil. Kemudian, ia menyuruhku untuk membunuh hewan-hewan itu dan menghancurkan kepalanya. Semua itu harus dilakukan di kamar 303."


Tono terlihat agak terguncang ketika ia mendeskripsikan bagaimana ia membunuh hewan sebagai persembahan. "Aku sudah melakukan semua seperti apa yang ia minta, tapi orang itu tetap saja muncul dan muncul lagi dalam mimpiku! Bahkan permintaannya semakin hari semakin bertambah. Awalnya yang ia minta hanyalah tikus. Seminggu kemudian, ia mulai meminta anjing liar, burung, dan yang terakhir, ia memintaku untuk membunuh manusia!"


"Ketika aku menolaknya, orang itu mengancam akan membunuhku di dalam mimpi! Aku benar-benar setress dengan semua ini!"


Mata Tono mulai memerah. Ia tampak sangat depresi. "Aku menceritakan semua ini pada teman sekelas. Kami pun sepakat untuk masuk ke kamar 303. Namun saat kami masuk, tidak ada kejadian aneh yang menimpa temanku. Akhirnya mereka mengira aku berbohong dan menganggap aku gila!"


"Aku tidak memiliki orang yang bisa menjadi tempatku bergantung. Semakin hari, orang itu tidak hanya muncul di dalam mimpi. Tapi, orang itu juga mulai menampakkan diri di dunia nyata! Bahkan ketika malam tiba, aku bisa merasakan orang itu berdiri di sampingku dan terus memandangiku!"


"Jujur saja, karena aku sudah sangat putus asa, aku sempat terpikir untuk memancing seseorang untuk masuk ke kamar 303 dan membunuhnya di sana. Namun aku tidak bisa melakukannya! Pada akhirnya, orang itu mengatakan bahwa ia akan benar-benar pergi jika aku bisa menyediakan tubuh manusia hidup."


"Beberapa hari kemudian, secara kebetulan aku melihat sebuah iklan di media sosial Face-gram. Isi iklan itu adalah dicari sewa kos atau kontrakan atau apartemen dengan budget 450.000 rupiah per bulan. Aku pun menawarkan kamar 304 padanya."


Dari sini, Rian mulai paham asal mula mengapa seorang wanita cantik seperti Winny mau tinggal di apartemen seperti ini. "Jadi begitu, kamu lah penyebab Winny tinggal di Apartemen Keluarga Sejahtera. Tapi itu sudah berlalu, jadi kamu sudah nggak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Namun aku ingin kamu meminta maaf secara langsung pada Winny, apakah kamu sanggup?"


"Aku memang ingin sekali meminta maaf pada temanmu bernama Winny itu. Karena aku, ia menderita seperti itu. Maafkan aku!"


"Minta maaflah pada Winny, bukan padaku …" Rian tersenyum melihat kesungguhan Tono.

__ADS_1


"Oh ya, aku ingin bertanya satu hal lagi. Kalau kamu nggak tahu, bilang saja nggak tahu. Jangan dibuat-buat, bagaimana?"


"Baik."


"Apakah kamu pernah melihat wajah orang itu?"


"Wajah orang itu terlihat samar-samar setiap kali ia muncul. Tapi, aku pernah sekali melihat wajahnya dengan jelas." Tono mencoba mengingat kembali seperti apa wajah orang itu. "Orang itu punya dua wajah yang dijahit menjadi satu. Dua wajah itu memiliki sifat yang berbeda. Bahkan mereka sering beradu argumen."


"Selain memintamu untuk melakukan sesuatu, apakah orang itu pernah membicarakan hal lainnya?" Rian sangat penasaran dengan makhluk itu. Makhluk itu terlihat seperti setan, namun berbeda. Garam tidak mempan padanya.


"Orang itu selalu beradu argumen dengan dirinya sendiri. Tapi suatu saat, sepertinya salah satu sisi wajah orang itu pernah berkata bahwa jika bukan karena takut dengan Roh Jahat Tingkat Tinggi, ia lebih baik mati daripada hidup bersama dengan sampah."


"Selain mengenai Roh Jahat, aku juga menyadari beberapa kelemahan orang itu. Aku berencana menggunakan kelemahan itu untuk melawan orang itu jika nyawaku terancam." Tono kemudian duduk dari posisi tidurnya. "Makhluk itu tidak pernah keluar ketika hari terang. Kemungkinan besar ia takut dengan cahaya. Lalu makhluk itu juga tidak suka dengan lingkungan yang ramai. Dan yang paling penting, makhluk itu takut dengan kucing."


"Takut dengan kucing?" Rian tidak menyangka makhluk seseram dan sekuat itu takut dengan kucing.


"Iya … orang itu pernah meminta berbagai jenis hewan kecuali kucing. Jadi, aku percaya bahwa orang itu takut dengan kucing."


'Hmmm, jadi itu semua baru sebatas spekulasi. Memang jika dideduksi dengan berdasarkan permintaan makhluk tersebut pada Tono, kemungkinan besar ia takut kucing sangat besar. Baiklah, mungkin aku bisa mencobanya di rumah. Aku akan mencari kucing dan memeliharanya di kamar mandi.' pikir Rian.

__ADS_1


Karena Rian hanya diam setelahnya, Tono pun berhenti bercerita. Dokter Denis yang hanya diam di samping Tono hanya bisa mengernyitkan dahinya. Pembicaraan Rian dan Tono benar-benar seperti pasien di rumah sakitnya. Jika saja Dokter Denis tidak menyaksikan kejadian semalam, mungkin saja Dokter Denis sudah menjebloskan mereka berdua ke rumah sakit jiwa miliknya.


Setelah beberapa saat hening, Rian mengeluarkan sebuah kunci dari kantongnya. "Apakah kamu pernah melihat kunci ini?"


"Aku pernah melihatnya. Setiap dua-tiga hari sekali, aku masuk ke kamar 303 untuk membuang bangkai yang aku bunuh. Saat sedang membereskan bangkai, aku menemukan kunci ini pada salah satu pakaian. Aku lupa pakaian apa itu, sepertinya jaket."


"Apakah orang itu pernah membicarakan kunci ini? Seperti kunci ruang apa gitu?" Meski dari nama kunci pada sistem sudah sangat jelas, Rian mencoba memastikan kembali mengenai kunci berkarat yang ia temukan.


Tono berpikir sebentar untuk mengingat-ingatnya. "Ketika orang itu bicara sendiri, aku sepertinya pernah mendengar salah satu wajah membicarakan sesuatu terkait kunci itu."


"Apa yang orang itu bicarakan?"


"Salah satu wajahnya mengatakan bahwa ia meninggalkan sesuatu yang penting di dalam kamar nomor 3 dan jalan yang tersembunyi di balik kardus tidak terkunci. Sepertinya mereka keluar dari sana tidak melalui pintu depan." 


'Sesuai dengan penjelasan sistem, kunci ini adalah kunci kamar nomor 3. Dan makhluk itu menyembunyikan sesuatu di dalam kamar tersebut. Lalu keberadaan jalan yang sengaja ditutupi kardus juga merupakan informasi berharga. Jika aku melakukan penelusuran di sana, jalan tersebut bisa menjadi salah satu opsi rute untuk kabur.' Rian termenung dan terus menyusun informasi yang ia dapat dalam otaknya.


'Dari sini sudah dipastikan mengenai pintu merah di rumah sakit. Dan kemungkinan pintu tersebut ada di bangsal jiwa!'


Tanpa Rian sadari, sesosok Roh Jahat tanpa kepala terus mengawasi Rian dari sudut ruangan. Kepala yang ada di tangan kanannya itu pun tersenyum menakutkan. 'Hihihihihi … sesuai dengan informasi dari tuan Nightmare, bocah brengsek ini benar-benar mengunjungi rumah sakit minggu ini, hihihihihi … saat malam tiba, akan ku pastikan kau membayar semua perbuatanmu padaku!'

__ADS_1


__ADS_2