
Kasus bunuh diri ini menyebar begitu cepat di berbagai media sosial. Foto-foto korban pun banyak beredar.
"Apa yang terjadi? Kenapa banyak yang bunuh diri?"
"Mungkin mereka stres kali …"
"Kalau stres, nggak mungkin sebanyak ini kan?"
"Eh, mereka ngapain?"
Saat kedua orang tersebut mengobrol di cafe, di depan cafe ada segerombolan orang berjalan dengan tatapan yang kosong.
"Apa mereka mau bunuh diri bersama?"
"Ikutin yuk!"
Kedua orang itu pun mengikuti segerombolan orang tersebut. Satu persatu, orang dengan tatapan kosong bergabung dengan gerombolan tersebut. Tidak peduli dia anak kecil, wanita, pria, ataupun orang yang sudah tua. Semuanya berkumpul menjadi satu dan berjalan dengan tatapan kosong.
Lambat laun, gerombolan yang tadinya hanya ada sekitar 20 orang, kini jumlahnya meningkat hingga 200 orang.
Banyak orang mengira bahwa orang-orang tersebut akan melakukan demo. Namun jika mau melakukan demo, kenapa orang-orang tersebut hening tak berorasi? Itulah yang menjadi pertanyaan di benak banyak orang.
Petugas kepolisian pun akhirnya bergerak. Dengan menggunakan perisai, mereka memblokade jalan di depan gerombolan orang ini.
"Hentikan kerumunan ini!" perintah seorang Polisi bernama Iqbal. Namun sayang, ucapannya tidak digubris.
Tak ayal, bentrokan pun terjadi. Para polisi menggunakan tongkat mereka untuk memukul kerumunan tersebut. Tapi, kerumunan orang tersebut terus maju tanpa mengenal rasa sakit.
"Gunakan gas air mata!" perintah Iqbal. Mendengar perintah Iqbal, beberapa polisi langsung melemparkan gas air mata.
Asap pedih dengan cepat menyeruak memenuhi jalanan. Angin kencang membawa gas tersebut semakin luas. Akibatnya, para penonton yang hanya ingin melihat juga terkena efeknya. Mata mereka merah dan pedih.
Telolelolet
"Telepon?" gumam Iqbal. Di saat yang sama, semua ponsel polisi yang ada di sana berbunyi.
Telolelolet Telolelolet
"Apa yang terjadi? Kenapa semua ponsel kita berbunyi bersamaan?" Iqbal merasakan firasat yang buruk dari hal ini.
Salah satu polisi yang berdiri di belakang, mengangkat telepon itu. "Halo?"
Tapi dari ujung telepon, hanya ada suara tidak jelas seperti televisi yang tidak mendapat sinyal.
Mendadak, polisi tersebut mengacungkan senjatanya pada Iqbal.
Dor
Tembakan ini membuat Iqbal terkapar tak sadarkan diri. Melihat Komandan mereka tewas, Polisi lainnya langsung berusaha menangkap sang pelaku. Akibatnya, suasana di jalan Nginden itu pun ricuh. Beberapa polisi yang mengangkat telepon tadi, mulai menembakkan pistolnya ke segala arah
Dor Dor Dor
Suasana menjadi sangat mencekam. Bahkan para penonton biasa menjadi korban peluru nyasar.
Para anggota kepolisian saling tembak dengan teman sejawatnya sendiri. Kerumunan massa pada akhirnya tidak dapat dibendung lagi. Mereka menembus blokade dan terus berjalan sampai di Jembatan Nginden.
Tanpa ada keraguan di mata mereka, satu-persatu massa kerumunan melompat ke sungai Jagir. Mereka melakukan bunuh diri masal dengan melompat ke dalam sungai Jagir yang terkenal dengan keangkerannya.
......................
“Guys, nanti mau main ke rumahku nggak? Aku baru saja beli rumah kemarin.” ucap Rian sambil makan di kantin sekolah.
“Lho, kamu baru beli rumah? Di mana?” tanya Adi.
“Di daerah Juanda, baru saja tadi malam aku tempati. Bagaimana?”
Livia dengan semangat langsung menjawabnya. “Ayo, aku mau! Nginep pun aku juga bersedia kok, hehehehe ...”
Mendengar ucapan Livia, Alena langsung memelototi Rian, seakan memberi tanda untuk tidak mengijinkan Livia menginap di rumah barunya. Sebelum Rian mau menolak usulan Livia, tiba-tiba Adi memotongnya. “Ide bagus itu, ayo kita semua menginap di rumah Rian. Sekalian kita kerja tugas, bagaimana?”
__ADS_1
“Oke, aku ikut.” jawab Guntur.
Mendadak, Alicia muncul dari belakang Rian. “Aku juga ikut.”
“Wuanjir!”
“Alicia, bisa minta tolong kesekian kalinya, tolong jangan muncul secara mendadak!” ucap Rian sehalus mungkin.
Setelah itu, diputuskan bahwa Livia, Alena, Tika, Alicia, Guntur dan Adi akan menginap di rumah Rian malam ini.
“Eh, kamu sudah lihat berita belum?” tanya Livia.
Rian penasaran. “Berita apa?”
“Ada bunuh diri massal hari ini! Bahkan hingga detik ini, katanya sudah hampir 500 orang yang bunuh diri di kota Surabaya.”
“Oh ya? Kok bisa gitu?”
“Aku juga nggak tahu. Media juga banyak yang belum paham tentang fenomena ini. Nih ada videonya …” Livia kemudian menunjukkan video pada akun LambeMacan di sosial media Inta-Book. Dalam video tersebut, terlihat ratusan orang menceburkan diri ke sungai Jagir.
“Ini!” Rian sangat terkejut dengan melihat video itu. Mendadak, muncul notif dari sistem.
Ding
[Kondisi spesial telah terdeteksi]
[Misi baru telah terbuka, -Jalan Menuju Orang Paling Greget Di Dunia 4-]
[Misi ini bersifat WAJIB, Host tidak bisa menolak dan secara otomatis menerima misi ini]
______________________________________________________________________
Halaman Misi
…
- Komunitas Pecinta Hantu (Berantai)
- Misi : Jalan Menuju Orang Paling Greget Di Dunia 4 (Spesial)
*Tingkat Kesulitan : Nightmare
*Hadiah : 20.000 poin, Uang Tunai Rp 16.000.000.000, Kemampuan Mata Mistis Acak
*Batas Waktu : Akhir Juli
*Status Penyelesaian : 0%
*Hukuman : Mati
*Deskripsi :
Ada yang mengancam posisi Host untuk menjadi orang paling Greget di dunia. Orang itu berusaha mengumpulkan mayat sebanyak mungkin untuk menjalankan rencana besarnya. Segera singkirkan orang itu.
*Keterangan :
Dia selalu menggunakan topeng Plague Doctor.
- Terkunci
______________________________________________________________________
“Kenapa Rian? Kenapa kamu mendadak terpaku begitu?”
“Livia, aku baru mendapat misi yang wajib aku ambil. Misi baru ini berkaitan dengan kasus bunuh diri massal!”
“Apa!?” Livia dan lainnya pun terkejut dengan hal ini.
“Dan juga, kali ini ada hukuman yang menantiku kalau aku nggak bisa menyelesaikan misi wajib ini.”
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Alena.
“Kematian. Aku akan mati jika tidak menyelesaikan misi ini …” ucap Rian dengan wajah serius.
Seketika itu juga, meja tempat mereka makan menjadi hening. Mereka tak menyangka bahwa kali ini, sistem akan memberi hukuman jika misi gagal diselesaikan.
Rian kemudian mencoba bertanya pada sistemnya. “Sistem-chan, bisa jelaskan padaku mengapa kali ini ada hukuman kalau aku gagal menyelesaikan misi?” bisik Rian
[Maaf Host, misi kali ini sangat spesial. Sistem-chan sama sekali tidak memiliki hak untuk menjelaskannya lebih detail]
“Sepertinya misi kali ini benar-benar sangat serius dan berbahaya …” gumam Rian.
\~***\~
Ding
[Kondisi spesial telah terdeteksi]
[Misi baru telah terbuka, -Jalan Menuju Menjadi Penebar Teror Paling Ditakuti Di Dunia 66-]
[Misi ini bersifat WAJIB, Host tidak bisa menolak dan secara otomatis menerima misi ini]
“Sebuah misi wajib?” gumam seorang pria yang sedang melayani konsultasi kesehatan di ruang prakteknya.
“Kenapa Dok? Apa saya benar-benar sakit?” tanya seorang wanita di depannya.
“Maaf, saya tadi sedang teringat sesuatu saat mendengarkan masalah anda.”
“Ih, Dokter pasti lagi mikirin pacarnya ya? Hehehe … “
“Ah, bisa aja Ibu ini.” senyum Dokter tersebut.
“Nggak masalah kok Dok. Dokter kan ganteng, masih mudah lagi. Jadi wajar-wajar aja Dok. Saya pernah muda juga kok, hehehehe …”
Walau pria itu tersenyum dan membalas percakapan pasiennya itu, namun ia sebenarnya sedang memandang panel menu tentang misi barunya.
‘He~ menarik sekali, hahahahaha …’
______________________________________________________________________
Halaman Misi
…
- Bencana Mayat Hidup (Nightmare) (On Progress)
- Misi : Jalan Menuju Menjadi Penebar Teror Paling Ditakuti Di Dunia 66 (Spesial)
*Tingkat Kesulitan : Nightmare
*Hadiah : Satu Keinginan Akan Dikabulkan (Apapun Itu)
*Batas Waktu : Akhir Juli
*Status Penyelesaian : 0%
*Hukuman : Mati
*Deskripsi :
Ada yang mengancam posisi Host untuk menjadi menjadi Penebar Teror Paling Ditakuti di dunia. Orang itu berusaha menggagalkan Host untuk mengumpulkan mayat sebanyak mungkin. Segera singkirkan orang itu.
*Keterangan :
Dia adalah seorang Detektif SMA terkenal dan pernah viral.
- Terkunci
______________________________________________________________________
__ADS_1