Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Side Story : Yohan (I)


__ADS_3

(Jum’at, 13 Juli 2018)


“Sepertinya Kak Alicia begitu menyukai junior kita …” ucap Yohan dengan senyumannya yang hangat. Kini ia duduk di meja Wakil Ketua OSIS.


”Emm …” Alicia hanya mengangguk. Ia masih tetap berkonsentrasi melihat layar laptopnya.


“Kakak sampai bersusah payah membobol dokumen catatan keuangan milik Philip Sugiharto dan menyebarkannya ke internet hanya untuk membantu Rian. Apakah Kakak jatuh cinta padanya?"


Alicia berhenti sejenak saat mendengar pertanyaan Yohan. "Aku tidak tahu apakah aku jatuh cinta atau tidak. Tapi ketika aku bersamanya, aku merasa hangat."


Yohan tersenyum mendengarnya. Ia pun menghampiri Alicia dan mengusap-usap kepalanya. "Kalau begitu kejarlah. Aku rasa Rian orangnya kurang peka, jadi Kakak harus agresif."


"Oke …" jawab Alicia masih dengan nada yang datar.


"Omong-omong, sepertinya akan sulit untuk memenjarakan seluruh keluarga Sugiharto. Oknum yang terlibat dalam bisnis mereka sangatlah banyak!” Memikirkan banyaknya politisi dan anggota kepolisian yang terlibat, Yohan pesimis mereka semua akan dihukum. Ujung-ujungnya, mereka akan mengkambing hitamkan seseorang yang tak bersalah.


“Aku baru saja membobol ponsel milik IrJen Ferdi Aldo. Dia memerintahkan anak buahnya untuk menemui seseorang malam ini. Sepertinya, mereka akan melakukan sebuah transaksi …”


“Apa Kakak akan melaporkannya?”


“Tidak … bukti hasil pembobolan tidaklah valid secara hukum. Jadi aku membobol sebatas ingin menghilangkan rasa penasaranku saja pada orang-orang yang terkait dengan keluarga Sugiharto.” ucapnya sambil menunjukkan pada Yohan bukti chat janji temu antara IrJen Ferdi Aldo dengan seseorang bernama Sonny. Dalam chat tersebut, IrJen Ferdi mengatakan pada Sonny bahwa anak buahnya bernama Jhonny akan datang di tempat yang telah disepakati.


"Hmmm, ini menarik … Janji temunya juga di hotel Avernus, tidak jauh dari sekolah kita." Gumam Yohan.


Tak beberapa lama, bel jam istirahat berakhir berbunyi. Yohan pun berpamitan pada Alicia dan pergi ke kelasnya.


'Kekuatanku juga sudah mulai stabil. Mungkin pertemuan di hotel Avernus bisa menjadi arena untuk menguji kekuatanku …' Mata Yohan terlihat penuh antisipasi. Ia tak sabar menguji kekuatan barunya.


Malam telah tiba. Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB dimana pada jam ini lah janji temu dilaksanakan.


Tok Tok Tok


"Permisi Tuan Sonny. Perkenalkan, nama saya Jhonny, anak buah Bapak." Di sebuah ruang pribadi restoran hotel Avernus, masuk seorang pria berambut cepak. Ia menundukkan badan di depan seorang pria berkacamata dengan tindik di telinganya. Di samping Sonny, berdiri 2 bodyguard berpakaian serba hitam.


“Oke, silahkan duduk. Apa kau sudah menyiapkan uangnya?”


Kemudian, Jhonny membuka koper yang ia bawa. Di sana, terlihat tumpukan uang pecahan 100.000. “Sesuai perintah Bapak, dalam koper ini ada uang 500 juta. Sisanya ada di dalam mobil. Ini kuncinya …” Jhonny menyerahkan kunci mobil dengan logo BMW pada Sonny.


“Hahahaha … Senang berbisnis dengan kalian. Ini tips mu!”  Salah satu Bodyguard Sonny maju dan memberikan kunci kamar hotel pada Jhonny.


“Silahkan bersenang-senang …” ucap Sonny sambil tersenyum. Ia  mengangkat segelas wine dan mengajaknya bersulang.


Pada saat yang sama, Yohan sedang duduk di lobi hotel sambil membaca buku. Sejak ia berevolusi menjadi Iblis, kemampuan keenam indra Yohan meningkat pesat. Salah satunya ialah indera pendengaran. Dengan telinganya, kini ia dapat mendengar semua suara dalam radius 5 Kilometer. Pada awalnya, Yohan selalu merasa pusing setiap kali menggunakan kemampuan ini. Namun dengan banyaknya latihan, kini ia bisa mengontrol suara mana yang ingin dia dengar.


‘Saatnya aku menggunakan Life Simulation.’ Saat mengaktifkan kemampuannya, Yohan dapat melihat berbagai cabang kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan.


‘Aku melihatnya!’ Hanya dalam 5 detik, Yohan telah berhasil mendapatkan jalan yang paling optimal di antara jutaan kemungkinan.


......................


“Hehehe … Tuan Sonny benar-benar baik. Ia bahkan memberikanku salah satu merchandise yang ia jual pada Bapak. Membayangkan aku bisa menikmati gadis yang masih perawan, benar-benar membuatku terangsang!” gumam Jhonny sambil berjalan menuju kamar nomor 606.

__ADS_1


“Honey, aku datang …” Jhonny membuka pintu kamar dengan penuh nafsu. Namun ketika ia masuk, bukannya gadis muda cantik yang menunggu, melainkan sosok pria yang mengenakan topeng kelelawar perak duduk di kasur sambil membaca buku. Topeng tersebut hanya menutupi area sekitar mata dan hidung.


“Oh, kamu sudah datang …” ucap pria bertopeng kelelawar dengan santainya. Kemudian pria dengan setelan kemeja hitam dibalut dengan jas blazer panjang abu-abu tua itu menutup buku yang ia baca dan berjalan mendekati Jhonny.


“Jangan bergerak!” Jhonny menodongkan pistolnya.


Sang pria bertopeng, Yohan, dengan santainya berjalan dan tak mengindahkan todongan pistol Jhonny.


“Sudah ku bilang jangan bergerak!”


Dor Dor


Namun, dua peluru yang dimuntahkan pistol Jhonny dapat ditangkap oleh Yohan dengan mudah.


“Ingat baik-baik nama orang yang membunuhmu, Murciélago!” Seketika itu juga, Yohan melontarkan peluru yang ada ditangannya dan meluncur mengenai kedua mata Jhonny.


Croot Croot


Peluru tersebut menembus kepala Jhonny hingga meninggalkan lubang di kedua matanya. Darah mulai membasahi karpet kamar dengan robohnya Jhonny. “Satu jatuh, saatnya berburu target selanjutnya.”


......................


“Cepat angkut semua merchandise-nya! Ingat, jangan sampai lecet!” Sonny memerintahkan anak buahnya untuk menggiring puluhan gadis cantik ke dalam 8 mobil box. Gadis-gadis tersebut tampak berumur antara 14-17 tahun. Walau mereka semua didandani dengan cantik, tapi mata mereka terlihat kosong. Mereka semua adalah korban penculikan dan juga penipuan. Dengan iming-iming pekerjaan dengan gaji yang besar, mereka dijebak dan disekap di sebuah gudang besar kawasan pergudangan Kalianak milik keluarga Sugiharto.


‘Aku tidak menyangka merchandise kali ini akan laku keras. Sepertinya selera para pria hidung belang di Surabaya mulai berubah. Banyak dari mereka yang mencari anak dibawah umur dan berstatus perawan. Bahkan merchandise yang berumur 14 tahun laku dengan harga 100 juta!’ Sonny benar-benar tidak habis pikir dengan bergesernya selera pria hidung belang di Surabaya. Ia sendiri lebih menyukai gadis berusia 18 tahun ke atas dibanding para gadis bau kencur ini.


Saat Sonny sedang memikirkan bisnis selanjutnya, tiba-tiba dari arah pintu masuk, terdengar suara ribut-ribut. “Siapa di sana!? Cepat pergi dari sini! Ini adalah area pribadi!”


Buk Buk


"Arghh …"


Braak


Sonny terkejut melihat dua orang penjaga pintu gerbang terlempar sejauh 10 meter dan mendarat tepat di depannya. Seisi gudang pun menjadi hening. Di tengah keheningan itu, terdengar suara langkah kaki berjalan mendekat.


Tap Tap Tap


Perlahan, dari arah pintu gerbang, muncul seseorang berjas gelap berjalan mendekat dengan santai. "Hai semuanya … bisakah kalian menyerah dan membebaskan para gadis tersebut?"


"Dasar gila! Bunuh dia!" perintah Sonny. Seketika itu, semua anak buah Sonny yang berjumlah sekitar 30 orang langsung mengeluarkan pistol mereka dan mengarahkannya ke Yohan.


Dor Dor Dor Dor


Dengan gaya akrobat, Yohan menghindari semua peluru yang ditembakkan. Yohan telah mensimulasikan ini jutaan kali, sehingga ia sudah hafal semua lajur peluru.


Mata Sonny terbelak melihat hal ini. "Ti-tidak mungkin!"


"Oke, sekarang giliranku …" senyum Yohan. "Ingatlah baik-baik namaku, Murciélago!"


Kuku-kuku Yohan mulai memanjang dan meruncing. Dalam sekejap, ia sudah berada di belakang salah satu anak buah Sonny sambil memegang sebuah jantung yang masih berdetak. Tak disangka, dada anak buah Sonny yang ada di belakang Yohan telah berlubang. Anak buah Sonny itu pun roboh setelah sempat melihat dadanya yang berlubang. Pria itu mati dengan ekspresi seakan tidak percaya atas apa yang dialaminya.

__ADS_1


"Kyaaa~" beberapa gadis mulai berteriak melihat kejadian ini


Dari tubuh pria tak berjantung itu muncul asap hitam. Yohan pun menghisap semua asap hitam dengan mulutnya. "Ahhh~ cukup lezat rasa jiwa ini …"


Yohan kemudian melihat sekeliling gudang. Dengan secepat kilat, Yohan merebut 29 jantung bawahan Sonny. Dan semua ini dilakukan kurang dari 10 detik. Kini, hanya Sonny seorang yang masih hidup dari komplotannya.


"Sonny kiwo Sugiharto, salah satu keluarga cabang dari Sugiharto. Ayahmu adalah sepupu dari Philip Sugiharto, kepala keluarga keluarga Sugiharto saat ini. Kau ditugaskan oleh Philip untuk menjalankan bisnis kotornya, yaitu perdagangan manusia." ucap Yohan sambil berjalan mendekati Sonny.


"Da-dari mana kau tahu semua itu?"


"Kau memiliki seorang istri dan dua wanita simpanan. Dan apakah kau tahu, bahwa wanita simpananmu yang bernama Nike, berselingkuh dengan anak kandungmu sendiri!" ucap Yohan yang kini berada tepat di depan Sonny.


"Apa!?" Sonny terkejut mendengarnya. "Ini tidak mungkin! Kau pasti bohong!" teriak Sonny sambil menarik kerah Yohan.


"Lepaskan tangan kotormu!"


Slash … Croot …


Kedua tangan Sonny langsung tergeletak di tanah. "Arghhhh"


"Saatnya mengakhiri ini!" Dengan kukunya yang panjang dan runcing, ia menyabet leher Sonny.


Croot


Darah menyemprot bak air mancur dari leher Sonny. Setelah itu, tubuhnya terkapar di tanah tak bergerak. Asap dari 30 mayat yang baru ia bunuh mulai keluar dan langsung masuk kedalam mulut Yohan.


"Segini saja nggak akan bisa meningkatkan kekuatanku! Aku butuh lebih banyak lagi jiwa orang jahat!"


Melihat Yohan mulai berjalan mendekat, para gadis yang ditahan Sonny sangat ketakutan. Namun di antara meraka, ada seorang gadis yang sangat senang dengan semua ini. Bahkan timbul ekspresi bak seorang fans bertemu dengan artis idolanya.


Dengan kukunya, Yohan memutus borgol yang membelenggu para gadis malang tersebut. "Kalian sudah aman. Segera pergi dari tempat ini!"


"Ka-kamu tidak membunuh kami juga?" tanya seorang gadis yang masih gemetaran.


"Aku hanya membereskan sampah! Dan kalian tidak termasuk golongan tersebut. Cepat pergi dari sini!"


Mendengar ucapan Yohan, para gadis tersebut menunduk mengucapkan terima kasih dan pergi dari tempat itu.


"Kenapa kau tidak pergi?" Di depan Yohan, berdiri seorang gadis berusia 17 tahun dengan rambut panjang. Ia terlihat gembira sekali ketika Yohan bertanya.


"Aku ingin mengikutimu!"


"Apa!?" Yohan terkejut dengan kemunculan gadis itu. 'Ini aneh. Dalam jutaan simulasi, aku tidak bertemu dengan gadis ini! Gadis ini adalah variabel yang tidak ada dalam simulasi, seperti halnya adik kelasku, Rian. Ia juga variabel yang tidak bisa disimulasikan!'


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Orang tuaku menjualku untuk melunasi hutang mereka. Jadi tidak mungkin aku kembali ke sana!" Gadis itu tertunduk ketika menceritakan kisahnya.


"Siapa namamu?"


"Adelia Sinansari. Panggil saja Adel …"


'Sekarang muncul orang ketiga yang tidak bisa aku simulasikan. Sepertinya dia orang yang cocok untuk mencari tahu alasan kenapa ia tidak muncul dalam simulasi.' Yohan pun tersenyum memikirkan hal itu. Namun di mata Adel, senyuman Yohan sangatlah imut.

__ADS_1


__ADS_2