Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Rika


__ADS_3

'Hmmm, ini aneh … tiap kali aku menggunakan kamar mandi ini, aku merasa ada seseorang yang mengawasiku.' gumam seorang wanita berambut panjang sambil mencoba mencari asal perasaan itu.


"Rikaaa … sudah belum? Ayo cepetan ke kantin!"


"Bentar Riyana …" Wanita yang bernama Rika ini langsung menyelesaikan buang air besarnya.


"Lama banget sih …"


"Sorry-sorry, sakit perut tadi …"


"Oh ya, kata Ardi kamu dipanggil Pak Effendi ya?"


"Iya nih, tadi Pak Effendi menemui ku, aku disuruh ke gedung olahraga sepulang sekolah. Kira-kira kenapa ya?"


"Enaknya~ … aku jadi iri …"


"Tenang aja, aku nggak tertarik kok dengan Pak Effendi."


"Beneran nih?"


"Beneran! Lagian apa sih bagusnya Pak Effendi, kok sampai banyak banget yang nge-fans sama dia?"


Dengan semangat, Riyana menjelaskan keunggulan Pak Effendi. "Pak Effendi tuh ganteng banget, padahal udah umur 37 tapi masih kelihatan muda. Terus otot-ototnya itu loh, bikin pengen belai, hehehehe …"


"Ihhh~... aku malah jijik kalau melihat otot-otot gitu. Mending yang biasa aja." Mereka berdua pun mengobrol masalah Pak Effendi sambil makan siang di kantin.


Sepulang sekolah, Rika segera pergi ke gedung olah raga yang terletak di samping gedung sekolah SMA Avernus. Gedung olahraga ini selalu sepi kecuali saat pelajaran olah raga atau latihan klub olahraga seperti basket, voli, dan bulu tangkis. Rika pun masuk gedung olah raga dan melihat Pak Effendi sedang melakukan pencatatan barang-barang yang ada di gudang peralatan olahraga.


"Sore Pak Effendi, tadi katanya memanggil saya Pak?"


"Tunggu sebentar, Bapak selesaikan ini dulu." Pak Effendi terus melakukan pencatatan dan mengecek barang-barang di gudang. Selang beberapa menit, Pak Effendi pun menyelesaikan pekerjaannya.


Kemudian Pak Effendi tersenyum manis seakan mempertunjukkan ketampanannya. "Rika … Kamu tahu? Bapak jatuh cinta denganmu sejak Bapak melihatmu di pelajaran Olah Raga. Maukah kamu jadi pacar Bapak?"


'Huh?? Apa-apaan ini? Bukankah Pak Effendi sudah memiliki anak dan istri? Kenapa malah menembakku?' Rika kebingungan dengan pernyataan cinta Pak Effendi. "Mohon maaf Pak, saya sudah punya pacar. Lagi pula sekarang saya kelas XII dan sudah mendekati waktu Ujian Nasional, jadi tidak ada waktu untuk itu."

__ADS_1


"Bapak sudah memeriksa background mu. Kamu tidak memiliki pacar, dan nilai mu juga sedang-sedang saja. Jadi bisa Bapak pastikan kamu bukan tipe orang yang rajin belajar."


"Apa maksud Bapak mengecek background ku?" teriak Rika. Pak Effendi pun tersenyum lebar atas reaksi Rika. Kemudian Pak Effendi mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Rika.


"I-i-ini …" Rika sangat terkejut melihat kumpulan foto pada layar ponsel Pak Effendi. Foto-foto tersebut adalah foto Rika ketika menggunakan kamar mandi. Dan juga ada foto Rika sedang mengganti baju olahraga.


"Kalau Bapak menyebar foto-foto ini di internet, pasti kamu akan malu, hehehe …" Pak Effendi mengeluarkan senyum mesumnya. Ia memandang Rika dengan tatapan penuh nafsu.


"Jadi bagaimana, maukah kamu jadi pacar Bapak?" Tangan Pak Effendi membelai rambut panjang Rika dan menciumnya. Mendapat perlakuan seperti itu, Rika gemetaran dan ingin menangis.


"Bapak anggap diam mu berarti iya …" Senyum Pak Effendi makin lebar. Tangannya kini mulai menggerayangi tubuh Rika. Dada Rika yang berukuran lumayan besar tak luput dari tangannya. Ia pun mulai m3r3m4s-r3m4s buah dadanya. Puncak gunung kembar milik Rika pun di pelintir-pelintir.


"Bagaimana, enak kan?" Tak berhenti pada dada Rika, Pak Effendi mulai menggesek-gesek area liang kenikmatan Rika.


Rika mulai mengeluarkan tetesan air mata. Melihat hal ini, Pak Effendi semakin semangat. Pak Effendi mulai menjilat pipi Rika yang dipenuhi air matanya. Ia juga menciumi pipinya.


Tak tahan dengan perlakuan Pak Effendi, Rika langsung menamparnya.


PLAAK


Pak Effendi yang kesal tidak mengejarnya. "Awas kau nanti, akan aku buat kau membayar semua ini, RIKA!"


Beberapa hari kemudian, mulai terdengar rumor bahwa Rika telah merayu Pak Effendi dan mengajaknya berhubungan badan. Pak Effendi menolak mentah-mentah rayuan Rika dan mendapat tamparan keras dari Rika. Akibatnya, sampai sekarang Pak Effendi masih memakai perban di pipinya. Begitu mendengar rumor tersebut, Riyana, yang merupakan fans berat Pak Effendi dan juga teman baik Rika langsung melabrak teman baiknya itu. “Rika! Dasar pelacur! Apanya yang nggak ada perasaan sama Pak Effendi,  Munafik!”


Rika yang bingung dengan maksud Riyana, bertanya padanya. “Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba kamu mengata-ngataiku seperti itu?”


PLAAK


Rika memegang pipi merahnya akibat tamparan Riyana. Ia tampak terkejut dengan apa yang dilakukan Riyana padanya. “Kenapa? Kenapa! Apa salahku padamu?” teriak Rika.


Riyana memperlihatkan ponselnya pada Rika. Pada tampilan layar ponselnya, terdapat kiriman pesan broadcast BB Messenger, di mana dalam pesan tersebut ada kronologi bagaimana Rika merayu Pak Effendi dan juga Video bukti percakapan mereka. Rika mengerti bahwa video melalui kamera tersembunyi itu asli karena merekam kejadian saat Rika di gedung olahraga. Namun banyak sekali bagian yang dipotong, terutama bagian di mana Pak Effendi melecehkan Rika. Dan juga suara percakapan mereka berdua diedit, sehingga percakapan di mana Pak Effendi yang menembak Rika, berubah menjadi Rika yang menembak Pak Effendi serta merayunya.


“Ini semua palsu!”


“Palsu katamu? Lalu bagaimana dengan video ini? Video ini adalah bukti nyata kelakuan mu! Aku nggak nyangka teman baikku ternyata orang seperti ini! Mulai sekarang, menjauh lah dariku. Aku nggak sudi berteman dengan pelacur munafik sepertimu!”

__ADS_1


“Tapi Riyana–”


Tangan Rika berusaha menyentuhnya, namun Riyana langsung menepisnya. “Jangan sentuh aku! Najis!”


Melihat temannya pergi, Rika hanya bisa terduduk lemas di lantai. Matanya mulai berkaca-kaca. “Hiks hiks …” Tidak ada satu pun teman sekelas Rika yang menenangkannya. Semua melihat Rika seolah-olah melihat serangga menjijikkan.


Sejak hari itu, Rika di jauhi oleh teman-temannya. Para siswa pria banyak yang menggodanya, mulai dari bersiul ketika ia lewat sampai menawarkan uang untuk menyewa jasanya. Namun itu masih ringan dibanding apa yang dilakukan oleh siswi wanita. Beberapa siswi wanita yang dipimpin oleh Riyana, melakukan perundungan yang benar-benar menjatuhkan mental Rika. Mulai dari yang paling ringan, mencoret-coret buku tulisnya, memasukkan sampah ke dalam tasnya, memfitnahnya dengan memasukkan barang curian ke dalam tas, membuat poster ‘OPEN BO’ dengan fotonya sebagai model, sampai memukul dan menjambak rambutnya.


Para guru hanya diam dan menutup mata. Hal ini dikarenakan Pak Effendi memiliki pengaruh yang cukup besar. Sebagai pelatih tim basket SMA Avernus, ia telah membawa timnya menjuarai Kejuaraan Basket Nasional Antar SMA sebanyak 4 kali berturut-turut mulai dari tahun 2010 sampai kejuaraan tahun 2013 yang baru saja ia menangkan. Selain itu, kelakuan Pak Effendi selalu sopan dan baik. Ditambah dengan wajahnya yang tampan, maka wajar jika para Guru, terutama Guru Wanita, banyak membela Pak Effendi.


Karena perundungan yang semakin menjadi-jadi, setiap jam istirahat Rika selalu makan sendirian di kamar mandi wanita lantai 4 bilik no.5. Ketika ia memikirkan perundungan yang terjadi padanya, timbul niatan untuk bunuh diri. Namun setiap ia berpikir untuk bunuh diri, ia selalu teringat kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya. Ibu dan Ayah Rika tidak mengetahui mengenai perundungan yang dialaminya. Maka dari itu Rika tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih dengan aksi bunuh dirinya. Untuk melampiaskan rasa ingin bunuh dirinya,  Ia pun mulai mengkhayal bagaimana jika ia bunuh diri dengan berbagai cara. Ia selalu menggambarkan khayalannya tersebut dalam coretan-coretannya pada pintu kamar mandi yang biasa ia tempati.


Sampai suatu hari, Pak Effendi kembali menemui Rika di depan kamar mandi wanita lantai 4. “Bagaimana, apakah kamu menyukai hadiah dariku?” Pak Effendi tersenyum bak seorang psikopat. Ia begitu bahagia melihat kondisi Rika.


“Kalau kau memohon pada Bapak untuk memaafkanmu dan bersedia menjadi budak penghangat tempat tidurku, Bapak berjanji akan membuat pernyataan bahwa semua yang dituduhkan padamu adalah hoax belaka. Bagaimana?”


Rika hanya bisa menangis mendengarnya. “Hiks hiks …”


“Jangan menangis dong sayang … Bapak kan nggak ngapa-ngapa’in kamu! Tapi mungkin kamu senang dengan hadiah Bapak yang baru.” Pak Effendi memperlihatkan tampilan layar ponselnya. Di sana ada video Pak Effendi berhubungan badan dengan seorang wanita.


“Mama!?” Rika begitu terkejut melihat Ibunya ada dalam video tersebut. Dalam video tersebut tampak Ibu Rika sangat menikmati permainan. Bahkan Ibu Rika sampai memohon-mohon untuk ronde selanjutnya.


“Hahahaha … Lihat baik-baik! Bahkan Mama tercintamu saja bersedia jadi budakku! HAHAHAHA …”


Lalu Pak Effendi menunjukan video kedua. Dalam video itu, kali ini terlihat Ayah Rika sedang berhubungan badan dengan seorang siswi wanita yang memakai seragam SMA Avernus. Namun Rika tidak mengenal wanita tersebut.


“Bahkan Ayahmu sendiri selingkuh dengan seorang siswi SMA, Hahahaha …”


Mental Rika benar-benar runtuh seutuhnya. Kedua orang tua Rika yang terus menjadi penopang mental Rika, sekarang salah satunya telah menjadi budak Pak Effendi. Dan satunya lagi selingkuh dengan wanita yang seumuran dengannya. Keruntuhan ini membuat Rika memantapkan diri untuk bunuh diri. Ia pun lari meninggalkan Pak Effendi


Pak Effendi lagi-lagi tidak mengejarnya. “Hahahahaha …” Ia tertawa begitu puas. Pembalasan atas apa yang dilakukan Rika padanya sudah lunas terbayar. Sekarang tinggal bagaimana ia bisa memanipulasi Rika untuk bersedia menjadi budaknya.


Sepulang sekolah, Rika pergi untuk membeli seutas tali tambang. Kemudian ia pergi ke pohon beringin tua di halaman belakang sekolahnya. Rika memanjat ke atas pohon dan mengikatkan talinya pada lehernya dan ujung tali lainnya pada dahan pohon. Seketika itu, ia melompat dari dahan pohon dan mati tergantung.


Saat Rika mati, dunia menjadi gelap, seakan film yang diputar telah mencapai ending. Livia pun terbangun dari pingsannya. “RIKA!”

__ADS_1



__ADS_2