
"Akhirnya sampai juga … " ucap Rian sambil meregangkan tubuhnya ketika turun dari pesawat.
"Aku nggak nyangka cuma duduk aja bisa secapek ini. Mana 8 jam lagi, ughh …" keluh Livia. "Dan juga… kenapa Pak Arta juga ikut!?" teriak Livia.
"Kan sudah Bapak bilang, Ibu Kepala Sekolah lah yang meminta Bapak mengawasi kalian." Percakapan ini telah terjadi puluhan kali, hingga Pak Arta sendiri bosan menjawabnya.
"Kalau ada Bapak kan aku jadi nggak bisa berduaan sama ayang aku!"
"Walau Bapak nggak ada kan masih ada Guntur dan lainnya."
"Tapi kan kalau nggak ada Bapak, Rian bakal tidur di kamar sendirian. Jadi aku bisa menyelinap masuk waktu malam!"
Buuk
"Aduh!" Livia meringis kesakitan setelah kepalanya dijitak.
"Kamu masih muda, jangan berbuat hal seperti itu! Masa depanmu masih panjang." Pak Arta pun menasehati Livia selama beberapa menit sembari berjalan menyusuri Bandara Internasional Macau.
Mendengar nasehat Pak Arta, Rian dan Alena merasa canggung. Walau mereka tidak sampai bercocok tanam, namun apa yang mereka berdua lakukan sudah tergolong hal mesum.
"Maaf Livia. Karena Mamaku begitu khawatir padaku, jadinya Mama minta Pak Arta ikut."
Sambil mengusap-usap punggung Alicia, Livia menghiburnya. "Nggak apa-apa kok Alicia. Kamu nggak salah apa-apa. Yang salah itu eksistensi Pak Arta sendiri! Dari tampangnya aja udah kelihatan kalau Pak Arta mengincar keperjakaan Rian!"
"Hei bocah, kamu ngajak berantem?"
Sepanjang perjalanan, Pak Arta dan Livia terus bertengkar. Mereka baru berhenti setelah sampai di hotel. Magnifico Macao, itulah nama hotel tempat mereka menginap. Hotel yang dikelola oleh mafia Italia ini memiliki 39 lantai dan 3000 kamar mewah. Bahkan, luas kasino dalam hotel ini mencapai 50.700 meter persegi.
"Uaa … aku baru pertama kali menginap di hotel semegah ini." Tika yang berasal dari keluarga sederhana begitu takjub melihat Hotel semegah ini.
"Ayo masuk!" ajak Rian. Saat mereka masuk, seorang pria dengan kantung mata tebal mencegat mereka. Pria itu terlihat seperti seorang mafia dengan jas hitam, kemeja hitam, dan dasi merah.
Melihat penampilan orang itu, Alena langsung bersembunyi di belakang Rian sambil memeluk tangan kirinya. Ia terlihat takut dengan kemunculan orang itu. "Siapa orang itu? Apa dia ingin mengganggu kita?"
"Hei, apa maumu dengan kami? Kenapa tiba-tiba kamu menghadang kami?" tanya Pak Arta.
Namun orang itu tidak menghiraukan omongan Pak Arta dan langsung maju menghadap Rian. Mendadak, pria tersebut membungkukkan badan. "Selamat datang Bos!"
__ADS_1
"Bos?" Semua teman-teman Rian bertanya-tanya tentang hubungan Rian dengan orang ini.
"Rio, tolong jangan seperti ini. Aku jadi sedikit malu." ucap Rian sambil menggaruk-garuk pipinya.
“Rian, kamu mengenal pria menyeramkan ini?” tanya Alicia sambil menarik-narik kaos Rian.
“Teman-teman, perkenalkan … dia adalah Rio, temanku saat berada dalam penjara.”
Pada hari Jum’at sore, sebelum penelusuran 7 Keajaiban SMA Avernus, Rian telah menembus pembebasan Rio dari penjara. Rian bersedia mempekerjakan Rio sebagai Manajer Investasi. Tentu saja, pekerjaan utama Manajer Investasi adalah mengelola uang pemilik modal dan menggandakannya. Dengan bakat Rio yang dapat melihat apa pun di dunia ini, Rian memanfaatkan hal untuk berjudi di Macau.
“Salam kenal Lady Bos pertama!” Rio menundukkan badan pada Alena yang bersembunyi di belakang Rian. Kemudian, secara bergiliran, ia menundukkan badan kepada Livia, Alicia, dan yang terakhir Tika
“Salam kenal Lady Bos kedua!”
“Salam kenal Lady Bos ketiga!”
“Salam kenal Lady Bos keempat!”
“Kenapa aku jadi yang kedua!?” protes Livia.
“Rio pasti sedang bercanda kok, iya kan Rio?” Rian mencoba mengkode Rio. Melihat hal ini, Rio pun akhirnya paham atas blunder yang ia perbuat.
Alena pun gugup dan ikut membantu Rian untuk merahasiakan hubungan mereka. “Iya bener itu, pasti Rio hanya bercanda.”
“Hmmm, ini aneh …” Livia menyipitkan matanya. Ia melihat Rian dan Alena bertingkah agak aneh. Namun, jawaban Rio berikutnya membuat kecurigaan Livia menghilang.
“Hahahaha … aku menyalami kalian berempat berdasarkan letak posisi kalian kok. Jadi tolong jangan tersinggung, Lady Bos kedua.”
“Hmm, itu masuk akal. Tapi jangan panggil aku Lady Bos kedua. Panggil saja Livia.”
“Baik Nona Livia …”
Setelah itu, Alena, Alicia, dan Tika juga menginginkan Rio untuk memanggil dengan nama mereka ketimbang dengan Lady Bos. Rio pun menyetujuinya.
“Rio, apa kamu sudah mempersiapkan kamar kami?” Pada hari sebelumnya, Rian telah menghubungi Rio yang sudah lebih dulu berada di Macau untuk membooking kamar di hotel yang sama dengan RIo.
“Tenang saja Bos, aku sudah mempersiapkan kamarnya!”
__ADS_1
“Oke. Berarti sekarang pembagian kamarnya sesuai dengan yang tadi pagi kita setujui. Adi satu kamar dengan Guntur, aku dengan Pak Arta, Livia dengan Alicia, dan Alena dengan Tika. Sudah jelas?” Semua mengangguk dengan ucapan Rian.
“Mmm, tapi bos …”
“Kenapa Rio?”
“Aku sudah membooking 8 President Suite. Jadi Bos tidak perlu membagi kamar lagi. Masing-masing dapat menempati 1 kamar.”
“Berapa harga President Suite per malamnya?”
“Sekitar 10 jutaan per malam. Jadi, 8 kamar untuk 2 malam, totalnya sekitar 160 jutaan.”
Livia, Tiki, Adi, dan Guntur langsung menahan nafasnya ketika mendengar jumlah fantastis tersebut.
“Apa uang yang aku berikan cukup? Akan aku tambahkan kalau tidak cukup. Maka dari itu aku awalnya ingin menyewa 4 kamar saja, takut uang yang kamu pegang tidak cukup untuk membayarnya.” Ia ingat 3 hari yang lalu telah memberikan Rio sejumlah uang yang ia dapat dari misi 7 Keajaiban Avernus. Namun uang itu tidaklah banyak. Jika digunakan untuk menyewa 8 kamar, maka uang yang tersisa hanya tinggal sedikit.
“Tentu saja cukup Bos. Apalagi, aku tidak pernah kalah dalam berjudi. Uang 240 juta yang bos berikan sebagai modal, telah aku konversi menjadi 15.622 USD. Dari uang tersebut, aku telah berhasil menggandakannya hingga 105.341 USD. Dikurangi dengan biaya sewa kamar sebesar 10.415 USD, masih ada uang 103.926 USD”
Rian cukup terkejut dengan jumlah yang berhasil Rio dapatkan dalam 3 hari. “Apa petugas kasino tidak mencurigaimu telah bermain curang?” Rian penasaran akan hal itu. Tidak mungkin pihak kasino akan membiarkan orang seperti Rio terus mengambil uang mereka.
“Tentu saja mereka curiga. Setiap aku bermain, petugas dari kasino selalu mengikuti dan mengawasi ku. Bahkan sekarang pun, mereka masih mengikutiku.” ucap Rio sambil melirik ke beberapa sudut hotel. Di sana, Rian dapat melihat beberapa orang berjas yang membawa Walky Talky. Mereka terus mengawasi Rio dan juga dirinya.
“Untuk sementara ini, abaikan saja. Sekarang, tolong tunjukkan kamar kami.”
“Siap Bos!”
Setelah itu, Rio mengantarkan mereka berdelapan ke lantai 38 di mana kamar mereka berada. Kamar President Suite terletak pada lantai 37 sampai 39, dengan luas 120 meter persegi per kamar. Kamar tersebut memiliki 1 kamar tidur dan 1 ruang keluarga. Dengan luasnya yang sangat besar, jumlah President Suite sangatlah sedikit. Dalam 1 lantai, hanya ada 10 kamar President Suite.
“Nanti kita berkumpul untuk makan malam di restaurant jam 6 ya. Sekarang kita istirahat dulu.”
Semua orang pun mengangguk atas saran Rian. Tubuh mereka sudah sangat lelah setelah menempuh perjalanan selama 8 jam. Jadi mereka sangat ingin untuk segera beristirahat. Untuk pembagian kamar, Adi mendapat kamar 3801. Lalu secara berurutan, Guntur, Rian, Pak Arta, Alena, Tika, Livia, dan Alicia mendapat kamar 3802 sampai 3808.
Saat Rio akan kembali ke kamarnya yang ada di lantai 20, Rian memanggilnya. “Rio, bisa bantu aku sebentar?”
Rio kemudian masuk ke dalam kamar Rian. “Ada yang bisa aku bantu?”
“Tolong tukarkan semua uang ini menjadi chip. Mari kita rampok kasino hotel ini! Malam ini akan jadi malam yang panjang bagi pengelola kasino, hehehehehe …” senyum Rian sambil memberikan Rio 2 koper berisi uang tunai dengan total 10 Milyar.
__ADS_1