Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Cepat Bangunkan Dia!


__ADS_3

"Siapa!?"


Dari arah jendela beranda, terdapat bayangan manusia yang kemudian hilang setelah Rian berteriak. Rian langsung keluar ke beranda, namun di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Yang ia jumpai hanyalah ember yang terletak di bawah outdoor AC telah terguling. 


Sniff Sniff


“Hmm, baunya berasal dari kamar 302 … apa yang ia lakukan di sini? Tunggu! Kenapa penciumanku mendadak jadi tajam!? Apa ini efek samping dari Setengah Serigala?” 


Ketika Rian menengok ke dalam kamar lagi, Rian sekelebat melihat sosok makhluk dengan 2 wajah yang berbeda pada satu kepala. ‘Makhluk apa itu? Apakah itu makhluk yang William bawa dari rumah sakit?’ Setelah merenung sejenak, Rian pun memutuskan untuk kembali ke kamar 304.


“Rian, kamu sudah kembali!” ucap Dokter Denis.


“Iya Dok. Bagaimana keadaan Winny sekarang?”


“Setelah saya bujuk, akhirnya Winny mau tidur. Keadaan mentalnya sangat buruk, maka dari itu saya ingin Winny tidur terlebih dahulu. Mulai besok, saya rujuk Winny ke rumah sakitku.”


Rian kemudian melihat Winny yang tertidur pulas ditemani Ida dan Livia yang juga ikut tidur. “Guys, bisa berkumpul sebentar? Ada yang mau aku jelaskan.” ucap Rian dengan berbisik. Namun sebelum Rian bercerita, ia mengganti bajunya terlebih dahulu.


Setelah Rian berpakaian normal, ia, Guntur, Adi, Alicia, dan Dokter Denis pun duduk melingkar di samping tempat tidur Winny. “Aku punya dugaan, bahwa penyebab dari semua ini adalah makhluk yang pernah merasuki William. Sepertinya Makhluk itu sedang mencari inang baru, yaitu Winny.” Rian mulai menceritakan perihal William serta temuannya dalam kamar 303.


“Maksudmu, penghuni kamar 302 kerasukan? Tapi, kenapa makhluk yang merasuki kamar 302 sekarang ingin merasuki Winny?” tanya Guntur.


“Itulah yang masih aku cari tahu … motif makhluk itu masih belum jelas. Kalau seandainya ia belum memiliki inang, maka wajar ia mengejar Winny. Namun ia telah memiliki inang, jadi masih belum jelas motifnya. Tapi, mungkin kita bisa mengetahuinya dalam 30 menit lagi.” jelas Rian.


“Apa maksudmu?” Dokter Denis kini mulai sedikit percaya pada penjelasan Rian. Ia tahu tentang adanya manusia dengan Kemampuan Khusus dan makhluk supranatural. Tapi ia masih belum sepenuhnya percaya dengan keberadaan hantu dan sejenisnya.


“Jika melihat pola yang ada, makhluk itu akan mengganggu Winny tepat tengah malam!”


......................

__ADS_1


Teng Teng Teng Teng


Jam dinding pun berbunyi menandakan tengah malam telah tiba. Winny, yang tadinya sedang tidur, mendadak meluruskan kedua tangannya ke bawah tubuhnya, seakan ingin mengangkat tubuhnya untuk duduk. Ia berkali-kali mencoba duduk, namun lengannya seperti masih lemas yang mengakibatkan Winny gagal untuk duduk. 


"Sleepwalking?" tanya Guntur dengan berbisik. Rian juga penasaran dengan kondisi Winny, karena ia belum pernah melihat secara langsung orang yang menderita sleepwalking.


Namun Dokter Denis menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menunjuk ke wajah Winny. Rian, Guntur, Adi, dan Alicia mengikuti arah jari telunjuk Dokter Denis. Mereka akhirnya sadar mengapa Dokter Denis menyanggah pertanyaan Guntur. Mata Winny terbuka, tapi mata terlihat putih sepenuhnya. 


Selama beberapa menit, Winny mencoba duduk namun gagal, hingga akhirnya setelah 10 menit, Winny berhasil duduk. Kepalanya masih tetap menunduk ketika ia duduk. Ditambah dengan matanya yang benar-benar putih, menambah aura seram yang terpancar dari diri Winny. Ida dan Livia tidur sangat nyenyak hingga tidak menyadari pergerakan Winny.


"Apa Winny sudah bangun?" Alicia bertanya pada Rian.


Rian berjalan ke depan tempat tidur Winny sambil melambaikan tangannya. Namun, Winny tidak ada respon sama sekali, seakan tidak melihat Rian sama sekali. "Sepertinya belum … Dokter, apakah Dokter yakin ini benar-benar bukan sleepwalking?"


"Jujur, saya kurang yakin. Sleepwalking merupakan salah satu gangguan tidur yang cukup umum. Tapi, orang yang menderita sleepwalking tidak akan membuat bola matanya berputar ke atas hingga mata nya menjadi putih! Ini pertama kalinya saya melihat pasien seperi ini …" jelas Dokter Denis dengan berbisik.


Sesaat kemudian, Winny turun dari tempat tidur. Hal ini membuat Ida dan Livia terbangun.


"Emmm, jam berapa ini?" Keluh Ida yang masih mengantuk.


"Ssttt" Dokter Denis langsung meminta mereka berdua diam. "Jangan keras-keras, nanti Winny terbangun. Saya hanya takut mental Winny akan semakin hancur jika kita membangunkannya secara prematur. Jika kita ingin membangunkannya, kita butuh waktu yang tepat untuk membangunkannya. Tidak boleh asal!"


Livia dan Ida akhirnya tersadar sepenuhnya setelah mendapat penjelasan Dokter Denis. Mereka berenam sekarang sedang melihat gerak gerik Winny yang selangkah demi selangkah bergerak menuju pintu keluar.


"Saya pernah merawat seorang anak penderita sleepwalking dan OCD sebelumnya. Anak itu sebelum tidur akan selalu merapikan sprei tempat tidurnya agar keempat ujung spreinya benar-benar lurus sempurna. Setelah ia tidur, pada tengah malam ia akan sleepwalking dan merapikan kembali spreinya, sebelum akhirnya ia kembali berbaring ke tempat tidurnya." Dokter Denis terus memandang Winny dengan ekspresi penuh kekhawatiran. "Sleepwalking yang seperti itu, tidaklah menjadi masalah karena ia kembali ke tempat tidurnya lagi. Yang saya khawatirkan adalah, penderita sleepwalking yang akan melakukan sesuatu berbahaya dalam keadaan tidak sadar!"


Saat Winny berjarak 1,5 meter dari pintu keluar, mendadak Winny berbelok dan membuka pintu kamar mandi yang ada di sebelahnya. Tanpa menutup pintunya, Winny langsung membuka bajunya.


"Stop stop stop stop! Jangan lihat!" Livia panik dan menutup mata Rian. Sementara Ida langsung menghalangi pandangan Guntur dan Adi.

__ADS_1


"Hei, nggak kelihatan, minggir!" protes Adi. Guntur hanya bisa melihat langit-langit setelah mendapat tatapan sinis Alicia. Guntur juga tidak merekam apa yang dilakukan Winny di kamar mandi.


Tak beberapa lama, mulai terdengar suara shower menyala. Rian langsung menyibakkan tangan Livia dan segera masuk ke kamar mandi. Dokter Denis sudah semenjak tadi berada di kamar mandi. Mereka berdua pun menyaksikan Winny di bawah shower, masih dengan matanya yang putih, sedang memiringkan tubuhnya untuk mengambil shampo. “Jadi ini penyebab ia menghabiskan 4 botol shampo dalam waktu 3 minggu …”


Namun, mendadak ekspresi Winny berubah, seakan ia sedang ketakutan. Rian mencoba melihat sekeliling kamar mandi, namun tidak ada apa-apa di sana kecuali mereka bertiga. “Apakah Winny sedang melihat orang misterius itu di dalam mimpinya? Kenyataan dan mimpi saling terkoneksi?”


Winny mengambil sebotol shampo yang ada di sampingnya. Ia kemudian menyemprotkan isi botol secara langsung ke rambutnya dalam jumlah yang banyak. Ia pun mulai berkeramas, tapi pandangannya masih tetap melihat ke arah cermin yang ada di atas rak botol shampo. Saat air shampo mulai mengalir dari rambut ke wajahnya, Winny reflek memejamkan matanya. Seketika itu, semua emosi Winny seperti ketakutan dan kepanikan muncul semua secara bersamaan.


“Cepat bangunkan dia!” teriak Dokter Denis.


Di saat yang sama dengan teriakan Dokter Denis, kedua tangan Winny mulai menyentuh leher sendiri. Ia kemudian mencekik dirinya. Garis Urat-urat di tangannya muncul, seakan ia berusaha keras untuk mematahkan lehernya sendiri. Tubuh Winny pun mulai kehilangan keseimbangan dan terjatuh.


“Winny! Bangun!” Dokter Denis dan Rian berusaha melepaskan tangan Winny dari lehernya. Ida, Adi, Guntur, Alicia, dan Livia pun bergegas masuk ke kamar mandi. Namun karena lokasinya yang sempit, akhirnya hanya Ida dan Livia saja yang masuk.


“Winny!” Ida terus berteriak untuk membangunkan Winny. Namun, sekeras apapun suara mereka, Winny tetap saja masih mencekik dirinya sendiri. Bahkan, Winny mulai membenturkan kepalanya ke dinding kamar mandi. 


“Tahan Winny!” Dokter Denis tampak sudah terbiasa menghadapi pasien serupa. Dia dengan lihainya menunjukkan posisi mana saja pada Rian, Livia, dan Ida yang dapat mempermudah dalam menahan Winny.


“Winny, ini Dokter Denis.” Setelah Rian dan lainnya dapat menahan Winny, Dokter Denis menyentuh dahi Winny untuk menghentikan kepalan Winny yang berusaha membenturkan diri ke dinding. 


“Kamu sudah aman sekarang. Ada kami yang terus bersamamu …” Suara Dokter Denis sangat lembut dan dapat membuat seseorang mudah percaya padanya. Tapi, itu semua tidak mempan terhadap Winny. Tidak bisa membenturkan kepalanya ke dinding, Winny membuka mulutnya dan berusaha menggigit orang di sekitarnya layaknya binatang buas. Ketika semua itu gagal, Winny menggigit lidahnya sendiri. Darah pun mengalir dari mulutnya,


“Ambilkan handuk! Sekarang!” Sambil terus merekam, Guntur bergegas mencari handuk di dalam lemari. Setelah mendapatkannya, Guntur memberikan handuk tersebut kepada Dokter Denis, yang kemudian digunakannya untuk menyumpal mulut Winny.


‘Normalnya, jika penderita sleepwalking mengalami hal seperti ini, pasti akan ;langsung terbangun. Tapi berbeda dengan apa yang dialami Winny sekarang! Tunggu, bola matanya seperti bergerak-gerak ke atas … seakan, ia melihat sesuatu di atas kepalanya!’ Rian pun mencoba meraih sesuai yang ada di atas kepala Winny, tapi tidak ada apa-apa di sana.


“Mari kita bawa Winny ke tempat tidurnya dulu.” Dokter Denis juga tidak tahu apa yang terjadi di dalam mimpi Winny. Ida kemudian mengambil selimut untuk menutupi tubuh Winny yang sekarang tanpa busana. Setelah tubuh Winny ditutupi, Dokter Denis, Rian, Ida, dan Livia mengangkat Winny untuk dibawa tempat tidurnya. 


Walau begitu, Winny masih terus meronta-ronta. Khawatir kepala Winny mengenai cermin, Rian berusaha menutupi cermin dengan tangannya. Namun, saat Rian melihat ke arah cermin, Rian melihat sesosok pria bertubuh kurus bak ranting berada di belakang bayangan Winny dalam cermin. Pria tersebut memiliki wajah yang terlihat seperti dijahit paksa antara dua wajah yang berbeda.

__ADS_1


“Ini …”


__ADS_2