Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Ekstrim


__ADS_3

Seorang pria muda dengan rambut pirang panjang baru saja turun dari pesawat. Saat ia sedang kencing di kamar mandi bandara, pria di sampingnya secara diam-diam memberikan pria pirang itu secarik kertas kecil. Dalam kertas itu, terdapat rangkaian huruf yang terlihat acak.


...25...


...Atmtg oqhz adqmzlz Qhzm Lnqeqzm. Hmenqlzrh kdmfjzomxz zcz ozcz ahkhj snhkds mnlnq 3...


Namun, bagi pria berambut pirang itu, yang tertulis pada kertas tersebut adalah sebuah surat perintah.


...25...


...Bunuh pria bernama Rian Morfran. Informasi lengkapnya ada pada bilik toilet nomor 3...


Kalimat itu dibuat menggunakan sandi Caesar. Angka 25 adalah angka kunci untuk menerjemahkan sandi Caesar.


Setelah membaca isi kertasnya, pria pirang itu masuk ke toilet nomor 3. Di sana, ia membuka kotak penampung air penyiram kloset dan mengambil sebuah plastik berisi memory card. Ia kemudian memasukkan memory card tersebut pada ponselnya dan membaca semua informasi mengenai Rian.


“Pemilik Kemampuan Khusus ya? Dengan kemampuannya, ia dapat membunuh 30 preman dengan mudah. Menarik sekali … tapi, apakah ia bisa menghindar dari ledakan?“ Pria pirang tersebut tersenyum lebar membayangkan ledakan yang akan dibuatnya untuk membunuh Rian.


Di tempat lain, seorang pria tua berusia 70 tahunan mendapatkan sebuah sms pada ponsel nokia 3310 miliknya. "Haah~ aku tak menyangka di usia seperti ini aku akan mengambil pekerjaan seperti ini lagi."


"Kakek, main yuk~" ajak seorang gadis kecil sambil menarik-narik lengan pria tua itu.


"Maaf ya Nia, Kakek mendadak ada urusan penting. Kamu juga harus banyak istirahat. Nanti Kakek bawakan ayam goreng saat pulang.” ucap Kakek tersebut.


“Enn” Senyuman Nia terlihat sangat hangat dan bercahaya.


‘Tenang saja Nia, Kakek akan segera mendapatkan uang untuk biaya operasimu!’


Tanpa Rian sadari, beberapa pembunuh bayaran telah menerima pekerjaan yang menargetkan Rian dari agensinya masing-masing. Mereka pun mulai menyusun rencana untuk dapat membunuh Rian dengan cepat. Demi mendapatkan uang 10 Milyar.


......................


Saat Rian berjalan menuju kelasnya, banyak murid-murid lain yang menyatakan kekhawatirannya.


"Rian! Syukurlah kamu nggak apa-apa … " ucap salah satu wanita dengan lencana berwarna merah yang menandakan ia adalah murid kelas XII.


"Syukurlah kamu selamat dari konspirasi …"

__ADS_1


"Rian, kamu nggak terluka kan?"


"Keluarga Sugiharto benar-benar keterlaluan! Semangat Rian! Jangan kendor melawan kejahatan!" Banyak murid kelas XI dan XII yang mengikuti sepak terjang Rian, Mereka juga adalah fans berat Rian. Kekhawatiran mereka adalah hal yang wajar.


Mereka semua percaya bahwa ini adalah perbuatan keluarga Sugiharto. Ditambah dengan rumah Rian yang tiba-tiba hancur, orang-orang mulai mempercayai bahwa Rian adalah Murciélago. Dan hancurnya rumah Rian adalah pembalasan dari keluarga Sugiharto.


Tentu saja, karakter utama dari semua ini, Rian, hanya bisa tersenyum sambil menahan rasa malunya. "Terima kasih teman-teman … Alhamdulillah aku baik-baik saja." Rian berulang kali mengucapkan hal yang sama ketika ada murid yang khawatir terhadap dirinya.


'Maafkan aku, keluarga Sugiharto … setidaknya, kalian bisa menjadi kambing hitam yang baik sebagai ganti atas perbuatan kalian padaku!' pikir Rian.


Di kelas, Livia, Alena, Guntur, dan Adi langsung mencegat Rian yang baru saja datang. Mereka pun memberondong Rian dengan berbagai pertanyaan. Tampak sekali bahwa mereka sangat khawatir, terutama Livia dan Alena. Rian pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


“Aku nggak nyangka Pak Effendi bakal kembali sebagai Roh Jahat! Untung kamu bisa melawannya.” ucap Livia. Guntur dan Adi pun mengangguk dengan ucapan Livia.


“Tadi kamu bilang bahwa orang dengan topeng plague doctor lah yang memberikannya saran Pak Effendi untuk berubah menjadi Roh Jahat. Bukankah orang itu juga yang membunuh orang tuamu?” tanya Alena.


“Itu benar. Berdasarkan informasi dari Rio, kemungkinan besar orang dengan topeng plague doctor tersebut juga memiliki sistem sepertiku. Jika aku terus menjalankan misi yang ada dalam sistem, kelak suatu saat, aku pasti akan bertemu dengannya. Maka dari itu, Sabtu ini aku akan melakukan penelusuran sendiri.”


“Apa!?” Livia dan lainnya berteriak keras mendengar ucapan Rian. Murid-murid lain di kelas pun melihat ke arah Rian dan teman-temannya berkumpul. Rian pun memberikan gesture permintaan maaf pada murid-murid lainnya.


“Apa maksudmu Rian? Bukankah kamu sudah berjanji tidak akan membubarkan tim Pemburu Hantu?” ketus Livia.


Mendengar alasan Rian, Alena jadi sedikit khawatir dengan keselamatan Rian. “Maksudmu, misi yang akan kamu jalani berada dalam tingkat Hard?”


“Iya Alena, misi kali ini memiliki tingkat kesulitan Hard. Maka dari itu, aku mohon pada kalian, tolong jangan ikut dalam penelusuran kali ini. Aku tidak mau melihat kalian terbaring di rumah sakit lagi!”


Livia, Guntur, dan Adi hanya bisa terdiam mendengarnya. Mereka tahu betapa berbahayanya misi dengan tingkat kesulitan Hard. Misi mengenai Winny yang masuk ke dalam kategori Easy saja sudah sangat berbahaya. Bahkan Livia bisa mati jika Rian dan Rika tidak menyelamatkannya.


“Teman-teman, aku punya ide nih. Bagaimana kalau kita menunggu di luar saat Rian melakukan penelusuran? Jadi kalau semisal terjadi sesuatu pada Rian, kita bisa langsung menolongnya. Bagaimana menurut kalian?” usul Alena.


“Hmm, itu ide yang bagus …” ucap Guntur


“Gass lah … kita bisa bakar jagung sambil nunggu Rian selesai ...” ucap Adi dengan semangat.


“Wah ide bagus tuh, aku bisa bantu bawa peralatan barbeque.”


“Aku nggak nyangka kita satu frekuensi Alena, hehehe”

__ADS_1


“Guys, kita di sini nggak sedang kemping guys …” Livia hanya bisa pasrah melihat keantikan Adi dan Alena.


“Hahahahahaha” Mereka pun tertawa mendengar keluhan Livia.


“Rian, misi kali ini berlokasi dimana?” tanya Alicia dengan nada datar


“Ahh …” Rian dan teman-temannya lagi-lagi terkejut dengan kemunculan Alicia yang tiba-tiba.


“Sepertinya aku mengejutkan kalian lagi, maaf.”


“Sejak kapan kamu di sini!?” teriak Livia.


“Sejak kalian mengkhawatirkan keadaan Rian setelah rumahnya dibom.”


“Bukankah itu artinya sejak awal kamu ada di sini!?”


“Sudah-sudah, nggak perlu berteriak lagi, Livia … “ bela Rian sambil mengusap-usap kepala Alicia. “Sabtu besok, misi yang muncul berkaitan dengan Rumah Sakit Umum Surabaya.”


“Bukankah tempat itu sudah terbengkalai sejak 1 tahun yang lalu? Ayahku juga pernah bekerja di sana sebelumnya.”


“Dokter Denis pernah bekerja di sana?”


“Iya. Sebelum ayahku mendirikan Rumah Sakit sendiri, Ayahku adalah Kepala Dokter Jiwa di sana.” Alena kemudian mulai membicarakan panjang lebar mengenai ayahnya saat masih di Rumah Sakit tersebut.


Setelah pembicaraan itu, akhirnya Rian menyetujui usul Alena. Dengan syarat, mereka tidak mengikuti Rian masuk ke dalam dan hanya menunggu di luar. Mereka pun setuju dengan hal ini.


Tak beberapa, suara bel masuk sekolah berbunyi. Tapi di saat yang sama, tiba-tiba saja kaca jendela yang ada di dekat Rian pecah.


Pyar


Kletek Kletek


Melihat sebuah benda hitam yang mirip nanas menggelinding di lantai, Rian langsung berteriak. “Lari!”


“Huh?”


Secepat kilat, Rian langsung menendang granat tersebut. Namun belum sampai keluar ruangan, granat tersebut meledak.

__ADS_1


BOOM


__ADS_2