Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Terkunci Di Dalam


__ADS_3

Broom


Rian mengemudikan mobil mobil Ferrari-nya menuju Taman Safari Prigen. Ia melaju pada jalan yang menanjak dan berkelok-kelok dengan lihainya. Bahkan Alena yang duduk di kursi penumpang tidak merasa pusing dengan aksi mengemudi ala anime Initial D ini. Jarak Surabaya dan Prigen tidaklah jauh. Jika berkendara dengan kecepatan biasa, maka waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tujuan adalah dua jam. Tapi dengan gaya menyetir Rian dan juga mobil sportnya, Rian dapat mencapai Taman Safari hanya dalam 1 jam.


Setelah membeli tiket masuk, mereka pun berkeliling melihat hewan-hewan seperti harimau, beruang, rusa, dan lain sebagainya menggunakan mobil. Alena sangat senang bisa melihat hewan-hewan tersebut dari dekat. Waktu berlalu dengan cepat, sore hari pun tiba. Sebelum kembali ke Surabaya, Rian dan Alena menyempatkan diri bermain-main di hotel selama beberapa ronde. Tentu mereka hanya saling raba, jilat, dan kulum sampai beberapa kali keluar. Tidak ada adegan celap-celup di sini.


Alena benar-benar kelelahan akibat ulah Rian yang tidak ada puas-puasnya. Jika bukan karena waktu yang terbatas, mungkin Rian akan tetap meminta ronde tambahan. Setelah selesai mandi, mereka segera kembali ke Surabaya untuk mempersiapkan penelusuran malam ini.


......................


Malam pun tiba. Kini Rian dan teman-temannya telah berada di depan Rumah Sakit Umum Surabaya.


"Rian, apa kamu yakin akan masuk sendirian?" tanya Livia.


"Aku nggak sendirian kok, ada Noir di sini." tunjuk Rian pada anak kucing hitam yang kini ada di saku kemejanya.


"Meong~"


"Iihh~ lucu baget sih." Alena sangat menyukai hal-hal yang imut, termasuk anak kucing.


"Oke, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, segera hubungi polisi!" Livia, Alena, Tika, Alicia, Guntur, dan Adi pun menatap Rian dengan serius. Kemudian mereka mengangguk.


Mereka akan menonton Live Broadcast dari luar rumah sakit. Jika ada kejadian yang membahayakan Rian, mereka akan dengan sigap menghubungi polisi.

__ADS_1


Rian kemudian berjalan sampai pintu masuk rumah sakit. Di sana, ia berhenti sejenak dan memulai Live Broadcast-nya. "Halo Guys, kembali pada Host kalian tercinta, Rian … malam ini, Host akan melakukan penelusuran di Rumah Sakit Umum Surabaya. Tepatnya Host akan melakukan penelusuran di gedung J yang merupakan gedung khusus untuk pasien dengan gangguan jiwa. Kali ini, Host hanya ditemani oleh teman kecil kita ini, Noir!"


"Meong~" telapak kaki depan Noir melambai-lambai di depan kamera ponsel.


#waterfox : iihh, kok lucu banget!


#lialio : Noir! Sini ikut kakak …


#veracayangayang : si meong kok pinter banget sih, gemes jadinya


#thisking ; Pus, pus {Roket🚀*}{Roket🚀}{Roket🚀}*


“Host akan memberikan sedikit penjelasan mengenai gedung J yang merupakan milik departemen kesehatan jiwa. Gedung J memiliki 3 lantai. Lantai 1 dan 2 untuk pasien dengan gejala ringan, sedangkan gedung J3 diperuntukkan pasien dengan gangguan jiwa berat.”


Rian kemudian berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit. Karena letak gedung J berada paling belakang, Rian harus menyusuri lorong utama dulu untuk bisa sampai di sana.


Saat Rian berada di depan pintu masuk bangsal jiwa pertama, ia melihat gembok dan rantai yang mengunci pintu masuk ke gedung J sudah tergeletak di lantai. Rian kemudian menyenteri gembok tersebut. "Gembok ini sepertinya dibuka dengan paksa. Ada bekas hantaman benda tumpul di sekitar badan gembok. Kira-kira siapa yang membobol gembok ini?"


Tanpa ragu, Rian membuka pintu besi yang menjadi pintu masuk ke gedung J. Begitu Rian masuk, tercium bau tidak sedap yang sama seperti di Apartemen Keluarga Sejahtera. “Di sini bau sekali!”


Setelah menyesuaikan diri dengan bau tidak enak ini, Rian mulai menyusuri lorong gedung J. Ia kemudian melihat beberapa ruang kamar yang pintunya terbuka. Semua isi kamar tersebut memiliki desain interior yang sama. Di dalam sana, terdapat 4 ranjang yang mengisi kamar seluas 3x3 meter tersebut. Melihat semua ini, Rian merasa iba dengan pasien yang tinggal di kamar tersebut. "Mereka pasti sangat tersiksa tinggal di tempat seperti ini. Ruangan yang sempit, ventilasi juga nggak ada, serta posisi pencahayaan yang kurang. Kalau orang biasa tinggal di tempat seperti ini, aku pastikan orang tersebut akan jadi gila!"


Rian keluar dari kamar yang suram itu dan kembali berjalan menyusuri lorong. Sampai akhirnya, Rian tiba di percabangan jalan. Di percabangan jalan itu, terdapat meja konter kayu yang biasa digunakan sebagai tempat administrasi, kasir, dan penukaran obat. Di atas meja tersebut terdapat beberapa botol kosong yang biasa digunakan untuk mengemas obat.

__ADS_1


Saat Rian melihat ke dalam konter, Rian menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ada di sini. "Kenapa ada dua kandang besi di sini?" Kandang tersebut tidak terlalu besar. Namun cukup untuk mengurung anjing berukuran besar.


Rian kemudian melompat ke dalam konter untuk memeriksa kandang tersebut. "Bebek bakar?" Rian menemukan bebek bakar yang telah dibakar bersama bulunya.


"Bebek ini masih hangat dan empuk. Berarti bebek ini baru dibakar kurang dari satu jam yang lalu." Rian kemudian mengambil pisau dari kantong dimensinya. "Ini artinya, ada orang lain di rumah sakit terbengkalai ini selain aku!"


Rian kemudian memeriksa lebih detail lagi bebek tersebut. “Isi perutnya tidak dibersihkan. Leher bebek ini dipatahkan dengan paksa, bukan menggunakan pisau. Kepalanya juga hilang. Selain itu, ada bekas gigitan yang menyobek perut bebek ini. Artinya, siapa pun yang memakan bebek ini, ia juga memakan bulu-bulu yang menempel pada perut bebek!”


Setelah Rian mengembalikan bebek bakar tersebut ke dalam kandang besi pertama, Rian kini beralih memeriksa kandang besi kedua. Di dalam kandang besi ini, terdapat 2 mangkuk plastik yang berisi air. “Apakah ini kandang anjing? Dan ada dua anjing dalam kandang ini?”


Rian kemudian mengambil salah satu mangkuk plastik dari kandang kedua. “Bau ini! Racun tikus!" Rian mengingat bau ini karena ia pernah membeli racun tikus untuk membunuh tikus di rumahnya.


Rian mencoba mengecek mangkuk yang satunya. Namun cairan yang ada dalam mangkuk itu hanya lah air biasa. "Dua mangkuk yang serupa, namun satu diisi racun, dan satunya lagi diisi air biasa. Jadi, buat apa mangkuk ini? Permainan meracuni anjing?"


Saat Rian sedang berpikir, secara tidak sengaja ia melihat bekas darah pada jeruji besi yang ada pada pintu kandang. Bekas darah tersebut seakan menggambarkan tangan seseorang yang menggenggam erat jeruji besi tersebut.


"Apakah kandang ini bukan kandang anjing, melainkan kandang untuk mengurung manusia?" Bulu kuduk Rian pun bergidik begitu membayangkan hal itu.


"Sepertinya aku harus segera keluar dari sini untuk mempersiapkan beberapa hal. Padahal dalam bayanganku, lawanku kali ini adalah makhluk astral. Tapi aku tidak menyangka bahwa lawanku kali ini kemungkinan adalah mantan pasien rumah sakit ini …"


Rian kemudian bergegas pergi menuju pintu masuk gedung J. Tetapi saat Rian membuka pintu besi itu, pintu tersebut dalam keadaan terkunci. Rian mencoba mengintip dari jendela kaca yang ada pada pintu besi. Ia melihat sebuah rantai dan gembok yang terlihat baru telah melilit pintu tersebut dari luar.


"Anjir! Siapa yang mengunci kembali pintunya?" Rian kembali mencoba mendobrak pintu besi itu. Namun rantai yang mengunci pintu dari luar sangatlah kuat.

__ADS_1


Rian bisa saja mendobraknya menggunakan kekuatan setengah Werewolf. Namun ia tidak ingin wujudnya terlihat pada Live Broadcast. Jika tidak benar-benar terpaksa, ia tidak akan menggunakannya.


"Ini pasti perbuatan orang yang menaruh kandang pada konter administrasi. Jika dilihat dari cepat dan senyapnya orang itu dalam mengunci pintu ini, orang itu pasti sudah berkali-kali melakukan hal ini!"


__ADS_2