
"Rian, apa kamu serius!?" tanya Guntur dan Adi.
“Tunggu! Apakah kalian menguping pembicaraan kami sejak tadi?” Wajah Livia merona begitu mengingat ucapannya pada Rian.
“Sstt, kami nggak peduli! Yang kami pedulikan adalah apakah Rian serius atau tidak untuk membubarkan tim Pemburu Hantu!”
Mendengar keseriusan Guntur, Rian pun menjawabnya dengan tegas. “Aku serius!”
“Tapi kenapa? Berikan kami alasan yang dapat kami terima! Kamu nggak bisa seenaknya membubarkan tim yang kita bangun bersama!”
“Karena AKU TIDAK MENGINGINKAN KALIAN MATI!” teriak Rian. Seisi kamar pun mendadak hening. Luapan emosi Rian membuat mereka terdiam. Beberapa saat kemudian, Rian melanjutkan penjelasannya. “Aku nggak mau kalian celaka karena mengikutiku! Kalian beruntung, kali ini kalian hanya pingsan. Namun, apakah kalian akan seberuntung ini pada penelusuran selanjutnya?”
Livia, Guntur, dan Adi tertunduk diam. Mereka pun menyadari betapa berbahayanya apa yang dilakukan Rian selama ini. Mulai dari tantangan cermin, kamar kos no.4, dan sekarang 7 keajaiban SMA Avernus, semuanya sangat berbahaya.
"Setelah kamu membubarkan tim ini, apakah kamu tetap melanjutkan Live Broadcast sendirian lagi?" tanya Livia dengan serius.
"Itu benar. Aku akan melakukannya lagi sendirian. Baik secara Live Broadcast atau nggak."
"Kenapa kamu melakukan semua ini? Padahal hutangmu sudah dapat kamu lunasi hanya dengan pendapatan dari TeckTock sekarang. Jadi seharusnya kamu nggak punya alasan lagi untuk melakukan semua ini!"
"Karena aku menikmatinya, Livia. Aku menikmati semua ini, ketegangan ini, adrenalin ini! Awalnya memang aku terpaksa melakukan semua ini demi uang. Aku pun sangat ketakutan ketika melakukan tantangan cermin. Namun lambat laun, aku semakin menikmatinya! Ketegangan ini, rasa ingin memecahkan semua misteri yang ada dalam misi, ini benar-benar menarik dan mengasyikkan!" Rian mengatakan semua ini dengan ekspresi fanatik bak seorang psikopat. Livia, Guntur, dan Adi pun sangat terkejut melihatnya.
“Dan juga aku masih belum membalas wanita itu!” gumam Rian sambil mengingat apa yang dilakukan Blorong padanya.
Guntur merasa ada sesuatu yang ganjil dari ucapan Rian. "Misi? Misi apa yang kamu maksud?"
Plak
Sebelum Rian menjawab, Livia menampar Rian lebih dulu. "Rian yang aku kenal bukan orang seperti ini! Hiks hiks hiks …"
"Rian yang aku kenal adalah orang orang yang lembut. Kamu nggak pernah memasang ekspresi seperti ini! Lihat lah baik-baik ekspresi mu di cermin, kamu sudah seperti psikopat yang lolos dari rumah sakit jiwa!" teriak Livia sambil meneteskan air matanya.
Rian tanpa sadar melirik ke arah cermin yang ada di kamar. "Kenapa aku bisa jadi seperti ini? Apakah ini ulah sistem?" gumam Rian sambil menyentuh-nyentuh wajahnya.
"Sistem? Apa maksudmu, Rian? Tadi kamu bicara tentang misi, lalu sekarang kamu bicara sistem. Apa yang kamu sembunyikan dari kami?"
"Maaf tur, aku nggak bisa menjawabnya."
"Bagaimana kami bisa menolongmu dari kondisi ini kalau kamu tidak mau bicara!? Katakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kami juga ingin membantu!" desak Guntur.
"Itu … Arghhh!" Kepala Rian mendadak sakit sekali.
Ding
[Error]
__ADS_1
Ding
[Sistem mendeteksi kerusakan]
Ding
[Error]
"Rian!" Livia langsung memeluk tubuh Rian yang mengejang. "Cepat panggil dokter!"
Guntur dan Adi langsung berlari keluar untuk melapor pada suster.
Ding
[Sistem tidak dapat mengatasi kerusakan. Inisiasi modul memulai ulang sistem]
[Memulai ulang sistem dimulai]
Seketika itu, pandangan Rian menjadi gelap. Ia pun pingsan dalam pelukan Livia.
......................
"Ini …"
"Jadi begitu ya, aku sedang tidak sadarkan diri dan kembali ke tempat gelap ini." Rian terbaring pasrah di tengah kehampaan yang gelap.
Merasa tidak asing dengan suaranya, Rian bertanya. "Nya-Nyai Roro Kidul?"
Nyai Roro Kidul tersenyum manis melihat Rian masih mengingatnya. Ia menyentuh pipi Rian dengan lembut dan berbisik padanya. "Akan ku jelaskan secara singkat mengenai dirimu. Karena aku akan ketahuan jika berlama-lama di sini. Jadi, diam dan dengarkan!"
Rian mengangguk atas permintaan Nyai Roro Kidul.
Dengan tatapan manja, Nyai Roro Kidul sedikit menjauh dari wajah Rian. “Sesuatu yang ada dalam otakmu, atau biasa kau sebut dengan sistem, telah merusak otakmu. Sebagai kompensasi perbuatan bawahanku, aku meletakkan kunci pengaman yang akan aktif ketika emosimu tidak stabil dan akan termakan sepenuhnya oleh sistem. Jadi bersiaplah menerima perubahan itu. Dan yang pasti, seluruh kekuatan yang kau terima dari sistem akan hilang!"
"A-apa!?" Rian terkejut dengan informasi ini.
“Baiklah, waktu ku sudah habis. Sampai jumpa lain waktu, anjing kecilku …”
Cup
Nyai Roro Kidul mendadak mencium bibir Rian dengan lembut dan menghilang begitu saja. Rian begitu terkejut dengan semua ini, sampai akhirnya, cahaya putih menyilaukan menyinari seluruh dunia yang hampa itu. Rian kemudian terbangun di ranjang yang sama ketika ia terbangun sebelumnya. Di depannya, terdapat seorang dokter wanita dan suster yang sedang serius mengawasi monitor di samping kepala Rian.
Melihat Rian sadar, dokter tersebut bernafas lega. “Syukurlah kamu tidak apa-apa.”
“Dokter, apa yang terjadi padaku?”
__ADS_1
“Kami juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Awalnya, kami mendeteksi adanya kerusakan otak pada bagian Lobus Frontal yang dapat mempengaruhi gerakan, perilaku, memori, emosi dan kepribadian. Tapi, berdasarkan hasil pembacaan Electroencephalography, kerusakan tersebut perlahan sembuh sendiri. Bahkan sekarang tidak ada lagi kerusakan pada otakmu! Ini sungguh keajaiban!” jelas dokter tersebut. Ia melihat Rian seakan melihat sebuah objek eksperimen. “Bagaimana kalau aku membedah isi kepalamu? Apakah boleh? Aku ingin mengecek bagaimana bisa kerusakan otakmu bisa sembuh dengan sendirinya!”
Buk
“Aduh!”
“Kakak, tolong hentikan semua ini! Rian adalah temanku, tolong jangan anggap dia objek eksperimenmu!” teriak Adi setelah memukul kepala dokter wanita itu.
“Cih!” Dokter itu sedikit kesal pada dan akhirnya keluar bersama seorang suster.
“Maafkan kakak ku ya Rian …”
“Sejak kapan kamu punya kakak?” Rian curiga dengan status orang yang Adi panggil Kakak. Ia pernah ke rumahnya dan tahu kalau Adi adalah anak pertama. Jadi tidak mungkin ia memiliki Kakak kandung.
“Dia kakak sepupuku …”
“Hmm, jadi begitu .. Omong-omong ke mana yang lainnya?”
“Livia dan Guntur pulang untuk mandi. Aku juga baru saja pulang untuk mandi dan langsung kembali ke sini. Alena dan Tika kemungkinan akan ke sini jam 8 nanti.” ucap Adi sambil melihat jam pada dinding yang menunjukkan waktu pukul 05.30 WIB.
Rian kembali berbaring dan memikirkan perkataan Nyai Roro Kidul. ‘Aku akan kehilangan seluruh kekuatanku yang aku dapatkan melalui sistem. Namun Persepsi Super adalah kemampuan khusus yang aku bangkitkan sendiri tanpa bantuan sistem. Seharusnya kemampuan itu akan tetap ada. Namun sayang, Mata Penta Stigma pasti menghilang. Padahal kemampuan khusus itu sangat kuat! Setimpal dengan cost yang harus aku bayar sih …”
Setelah merenung sejenak, Rian ingin melihat bagaimana perubahan sistem yang diberikan Nyai Roro Kidul. “Sistem” ucapnya sambil berbisik.
[Hai hai hai~ Sistem Uji Nyali 2.0 di sini …]
“Eehhhh!” teriak Rian setelah melihat perubahan drastis dari sistem.
......................
“Hahahahaha … ekspresi Rian setelah melihat hadiahku benar-benar komikal, hahahahha …” tawa seorang wanita berpakaian serba hijau dan kuning. Ia melihat sebuah layar yang melayang di udara, Dalam layar itu, ada wajah Rian yang sedang terkejut ketika melihat wujud baru sistemnya.
“Yang Mulia, tolong jaga penampilan anda. Jika sampai bawahan yang lain tahu, bisa-bisa mereka akan mengajukan protes!”
“Blorong, jangan terlalu kaku begitu. Aku sudah hidup jutaan tahun dan butuh hiburan!”
“Maafkan saya, Yang Mulia.”
“Oh ya, Blorong!”
“Siap Yang Mulia!”
“Aku memerintahkanmu untuk mencari informasi mengenai serial yang bernama School Days!”
“Serial? Apakah ini semacam film yang biasa ditonton manusia?”
__ADS_1
“Sepertinya begitu. Aku hanya penasaran saja seperti apa serial tersebut, sampai Rian ingin sekali menghindari ending tersebut, hmmm …”
“Siap Yang Mulia!” Blorong pun segera pergi ke dunia manusia untuk melaksanakan perintah sang Ratu.