Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Tangga Tak Berujung (I)


__ADS_3

“Hai Guys! Kembali lagi dengan Host kalian tercinta, Rian. Seperti halnya Live Broadcast minggu lalu, malam ini, Host juga ditemani oleh teman-teman Host.” Kemudian Rian kembali memperkenalkan Livia, Guntur, dan Adi yang ikut dalam Live Broadcast malam ini.


#kucingpoi : Alena dan Tika kemana Host?


#thisking : Kau kemanakan Tika, Host!? Aku ingin lihat boing-boingnya lagi!!! {Roket}{Roket}{Roket}{Roket}{Roket}{Roket}


#kerangajaib : Livia itu yang terbaik, dia imut banget! Sayang hatinya hanya untuk Host {TeckTock Universe}{TeckTock Universe}


#waterfox : #thisking dasar otak ngeres!


Melihat isi chat Room, Rian pun memberi penjelasan. “Mohon maaf Guys, Alena sedang tidak enak badan. Jadi Alena akan menonton Live Broadcast dari rumah. Sedangkan Tika, dia menemani Alena. Tuh Alena online, hai Alena …”


#alenasayangayah : Hai Rian … Semangat ya!


#tikafism : #thisking sini gue potong burung loe!


#waterfox : mantap #tikafism


#kerangajaib : Alena, Tika, minggir …  loli is the best! Love u Liviaaa {TeckTock Universe}{TeckTock Universe}{TeckTock Universe}{TeckTock Universe}


Livia langsung memeluk Rian setelah membaca chat #kerangajaib. “Aku sudah resmi jadi pacar Rian, nih lihat!” Ia pun menunjukkan cincin emas yang ada pada jari manisnya.


Seisi Chat Room langsung memberikan selamat pada Rian dan Livia. Banyak dari mereka mengirimkan roket untuk merayakan berita baik ini.  Di sisi lain, Rian hanya bisa berpura-pura tersenyum melihatnya. Namun di dalam hatinya, ia merasa sakit. 'Maafkan aku Livia … Berbohong padamu sungguh sangat menyakitkan bagiku. Namun, aku nggak ingin melihatmu sedih lagi seperti dulu! Aku berjanji pada mu Livia, aku akan selalu ada di sisimu dan membuatmu bahagia!'


“Oh ya, sebelum memulai penelusuran, Host ingin sekali mengucapkan Terima Kasih pada kalian semua. Kalau kalian nggak memviralkan video saya, kemungkinan sampai sekarang Host akan mendekam di penjara. Sekali saya ucapkan, terima kasih!” Rian menundukkan badannya dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar sangat bersyukur para follower Channel miliknya memviralkan kasus Pak Effendi.


"Oke, kembali lagi ke penelusuran. Minggu lalu, kita telah memecahkan misteri di balik mitos suara piano di malam hari dan juga suara tangisan di kamar mandi. Meskipun cerita dibalik suara tangisan sangat lah tragis, setidaknya kita berhasil menghukum pelakunya."


"Untuk penelusuran malam ini, kita akan mulai dengan mengecek kebenaran tentang manekin di lab biologi yang bergerak sendiri di malam hari. Letak lab biologi berada di lantai 5, jadi kita perlu naik tangga untuk sampai ke lantai 5. Yuk, ikuti aku …" Rian dan kawan-kawan pun mulai menaiki tangga utama.


“Omong-omong, kenapa kamu nggak pakai baju ala Ustadz lagi?” tanya Livia pada Adi.

__ADS_1


“Setelah aku menonton video minggu lalu, aku jadi malu pas nonton, hehehe … makanya hari ini aku pakai pakaian kasual aja.”


“Dah gitu salah baca doa pula …”


Wajah Adi memerah mendengar sindiran Guntur. “Ughh … tolong jangan bahas itu lagi, aku benar-benar malu!”


“Hahahahaha” Rian, Livia, dan Guntur pun tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Adi.


Tiba-tiba, muncul 2 wanita berseragam SMA Avernus di depan mereka berempat. Mereka berjalan membelakangi Rian dan kawan-kawan, lalu kemudian menghilang.


"Ka-kalian lihat tadi?" Livia memeluk erat tangan Rian.


"I-iya, aku juga melihatnya." Adi pun gemetaran. Mulutnya pun mulai komat kamit membaca doa.


"Mereka juga tertangkap di kamera ponsel. Bahkan Chat Room sedang ramai ini!" ucap Guntur.


"Guys, seperti yang kalian lihat barusan, kita telah menyaksikan keberadaan makhluk astral secara jelas. Walau kita tidak melihat wajah mereka, namun aku bisa memastikan bahwa mereka bukan manusia. Yang paling jelas adalah, tidak ada suara langkah kaki ketika mereka berdua menaiki tangga …" Setelah sedikit penampakan supranatural, mereka kembali berjalan menuju lantai 5.


"Aku juga merasa begitu. Padahal minggu lalu kita naik ke lantai 4 juga nggak secapek ini. Apakah ini kutukan dari dua hantu siswi tadi?" sahut Adi.


Guntur yang dari tadi terus merekam tidak merasakan keanehan apapun. “Hush, pamali ngomong gitu! Perasaanmu aja mungkin.”


“Coba aku cek dulu.” Rian pun meminta ponselnya dari Guntur dan berjalan menuruni tangga untuk melihat posisi mereka ada dilantai berapa. Sambil terus merekam, ia melihat angka 4 yang menunjukkan lantai yang ia injak sekarang adalah lantai 4. “Seharusnya tinggal satu lantai saja ini untuk mencapai lab. Tapi kenapa rasanya jauh sekali, hmmm …"


Rian mencoba untuk turun ke lantai 3. Namun, ketika Rian menuruni tangga, Rian bertemu dengan Livia, Adi, dan Guntur.


"Lho Rian, bukannya kamu tadi turun ke bawah? Kenapa sekarang kamu muncul dari atas? Apa kamu naik menggunakan tangga belakang?"


Rian tidak menjawab pertanyaan Guntur. Ia terlihat sedang berpikir. "Kemungkinan besar, ini adalah keajaiban keempat. Yaitu Tangga ke lantai 6 yang jumlah anak tangganya bertambah saat malam hari. Tapi sepertinya rumor yang beredar salah.  Bukan tangga ke lantai 6 yang bertembah, melainkan tangga ke lantai 5."


"Konon orang yang menaiki tangga ini akan terjebak dan tidak bisa naik maupun turun dari tangga. Dan ini yang terjadi padaku. Aku tadi mencoba turun ke lantai 3, namun aku malah kembali pada kalian." jelas Rian.

__ADS_1


"Kalian tunggu dulu di sini, aku akan melakukan eksperimen dulu."


"Hati-hati ya sayang …" Liva mendadak menjijitkan kakinya dan mencium bibir Rian.


"Anggap aja ini jimat keberuntungan dariku, hehehe" ucap Livia dengan wajah merona.


Rian membeku sesaat untuk memproses kejadian ini. 'Livia, menciumku?'


Deg Deg Deg


Mendadak, dalam diri Rian muncul keinginan untuk berciuman lagi dengan Livia. 'Sial! Kekuatan misterius ini bukan hanya membuatku mudah marah, namun juga membuatku jadi lebih mudah bernafsu!'


"Sayang, kamu nggak apa-apa? Nafasmu jadi tersengal-sengal begitu? Apakah kamu lelah? Kalau begitu sayang istirahat aja dulu!" ucap Liva sambil memegang pipi Rian dengan lembut. Tampak ia sangat khawatir dengan kondisi Rian.


"I-iya, aku nggak apa-apa kok … cuma sedikit lelah aja. Terima kasih sayang …" Rian pun langsung pergi menuruni tangga. 'Fokus Rian, fokus! Hanya ada Alena di hatiku! Aku tidak boleh mengkhianati cinta ini!'


Sesampainya di lantai 4, Rian mencoba untuk berjalan menuju tangga belakang. Letak tangga belakang berada di depan kamar mandi wanita.


"Ini tidak mungkin!" Rian terkejut karena ketika ia berjalan ke arah kamar mandi wanita lantai 4, ia malah kembali berjalan ke arah tangga utama.


"Apa konsep dasar dari fenomena ini? Apakah ini ilusi?" Rian mencoba melihat-lihat sekeliling, namun ia tidak menemukan tanda-tanda bahwa ini ilusi. "Tapi ini aneh … biasanya aku melihat beberapa makhluk astral berkeliaran di sini. Tapi kali ini, aku tidak menemukan mereka sama sekali! Apakah ini berhubungan dengan 2 siswi berseragam tadi?"


Tidak menemukan petunjuk, Rian kembali ke tempat Livia dan kawan-kawannya menunggu. "Teman-teman, sepertinya kita ter–" Rian menghentikan langkahnya. Matanya terbelak melihat tidak ada siapa pun di sana.


"Livia? Guntur? Adi? Kalian di mana?" Rian berteriak mencari teman-temannya. Namun tidak ada jawaban.


"LIVIAAA …" Rian berteriak lebih keras lagi, namun tetap tidak ada jawaban.


'Bagaimana ini, bagaimana ini, bagaimana ini!?' Rian tidak bisa menjaga ketenangannya ketika hal buruk terjadi pada Livia. 'Livia …'


Tanpa Rian sadari, 2 siswa berseragam SMA Avernus mengawasi tingkah laku Rian dari atas tangga.

__ADS_1


__ADS_2