
“Jadi begitu … kamu adalah pasien yang tinggal di kamar nomor 5. Kamu mengidap Fregoli Delusion Syndrome, yang mempercayai bahwa semua orang di sekitarmu adalah palsu dan hasil penyamaran dari satu orang yang sama.” Setelah Rian mengucapkan semua ini, pria paruh baya itu kembali melontarkan kata-kata yang tidak dapat Rian pahami.
‘Kenapa banyak pasien dari rumah sakit ini yang kembali ke tempat ini? Apakah ada sesuatu yang menarik perhatian mereka di sini? Ataukah ini … karena ada pintu merah di sini?’ Rian kemudian mulai menghiraukan Bintang dan memindahkan konsentrasinya pada wanita botak yang sejak tadi terlihat terus ketakutan.
“Wanita ini berusia sekitar 20 tahunan dan memiliki wajah yang sangat biasa. Jadi tidak sesuai dengan profil kedua pasien wanita di lantai 3 ini. Dan berdasarkan rambutnya, seharusnya kakek itu dan wanita ini adalah korban dari Vincent. Tapi apa motif Vincent untuk memotong rambut korbannya?” Sambil terus berpikir, tangan Rian mulai menjamah kain yang digunakan untuk menyumpal mulut wanita botak itu.
Setelah sumpalan tersebut lepas, wanita itu berteriak. “TANGAN! TANGAN TANGAN!”
“Apa maksudmu dengan tangan?” Rian tidak tahu apa yang telah terjadi pada wanita itu hingga ia bersikap seperti ini.
Mendengar teriakan wanita itu, Kakek yang ada di sebelahnya mendadak berpura-pura pingsan. Sedangkan pria paruh baya yang sejak tadi meracau tidak jelas, mendadak diam dan melihat ke arah pintu dengan ekspresi penuh ketakutan.
“TANGAN! TANGAN!” Karena wanita itu terus berteriak, mau tidak mau Rian kembali menyumpal mulutnya dengan kain.
“Haah~ sepertinya wanita ini juga sudah gila …”
Anehnya, setelah Rian menyumpal kembali wanita botak itu, kakek dan pria paruh baya itu kembali normal. "Kenapa mereka semua bereaksi kuat dengan kata 'tangan'? Apa mereka takut? Tapi apa yang membuat mereka setakut ini?"
Rian kemudian teringat dengan pasien kamar nomor 4 yang menderita Phantom Limb Syndrome. "Satu-satunya pasien yang ada hubungannya dengan tangan adalah pasien kamar nomor 4."
Rian mencoba untuk berkomunikasi kembali dengan wanita botak. "Apa kamu melihat banyak tangan?" Wanita tersebut tidak bereaksi dan hanya diam.
"Apa kamu melihat seorang pria bertangan satu?" Wanita itu langsung panik dan membentur-benturkan kepalnya pada jeruji besi.
"Apakah pria itu membawa senjata?" Wanita itu melotot. Muncul urat-urat pada wajahnya.
__ADS_1
"Senjata apa yang ia gunakan? Pisau? Gergaji? Kapak?"
"Hmmm" Wanita itu seakan mau bicara, tapi mendadak tidak jadi.
"Sepertinya salah satu dari yang aku sebutkan. Tapi apa yang orang itu lakukan padamu? Apa orang itu mau memotongmu? Apa orang itu berkata bahwa kamu adalah makhluk yang nggak sempurna, jadi dia ingin memperbaikimu? Atau orang itu ingin meminjam tanganmu?"
"Atau … kamu telah melihat orang itu mencoba memperbaiki banyak orang?"
Wanita itu meneteskan air mata sambil terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan ia ingin memberitahu bahwa ia tidak melihat apa pun.
Tanpa perlu jawaban dari wanita itu, Ryan sadar bahwa wanita itu telah melihat hal yang menakutkan. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana wanita itu bereaksi terhadap ucapan Rian. "Kemungkinan besar wanita ini telah melihat sang pelaku membunuh korbannya." gumam Rian.
"Jangan takut. Jika memang kamu nggak bersalah, aku akan menyelamatkanmu! Aku datang ke sini malam ini untuk mengungkap misteri rumah sakit ini. Jika ternyata memang ada pasien berbahaya yang berkeliaran di sini dan membahayakan orang lain, aku akan membawa mereka ke polisi!"
Wanita itu tampak sedikit tenang setelah mendengar ucapan Rian. Saat sumpalannya dilepas lagi oleh Rian, wanita tersebut masih saja menyebut kata 'tangan' berkali-kali. Namun tidak sekeras tadi.
Mendadak, suara kunci dibuka terdengar dari pintu masuk ruang laundry. Walau orang tersebut sangat perlahan dalam membuka kunci, tapi dengan pendengaran Rian yang tajam, ia tetap mendengar suara tersebut.
Rian kemudian meletakkan ponselnya pada salah satu mesin cuci agar terus bisa merekam. Selanjutnya, Rian berdiri tegap di samping pintu sambil memegang palu yang ia simpan pada Kantong dimensi
Perlahan, pintu tersebut terbuka. Dari balik pintu, muncul seorang pria bertangan satu yang membawa sebuah sekop. Dengan cepat, Rian langsung memukul kepala pria itu.
Buk
Seketika itu juga, darah mulai mengalir dari kepalanya. Orang itu kemudian ambruk tak sadarkan diri.
__ADS_1
Mendadak, sebuah kapak berlumuran darah tiba-tiba muncul dari luar pintu dan menyerang Rian. Dengan kemampuan Persepsi Super, laju kapak itu melambat. Dengan mudah, Rian menghindarinya.
Seorang pria dengan wajah yang tak rata masuk ke dalam ruang laundry. Ia memakai jas putih dokter dengan wajah penuh jahitan. Jahitan-jahitan inilah yang menyebabkan wajahnya terlihat tidak rata.
Dengan cepat, pria itu mengayunkan kapaknya secara vertikal. Rian pun bergerak ke kanan untuk menghindari. Di saat yang sama, Rian memukul bahu pria berwajah tidak rata itu.
Krak
"Argghhh" Pria itu mengerang kesakitan.
Dengan sigap Rian, berkali-kali memukuli tubuh pria berwajah tidak rata itu. Pria itu terus mengerang kesakitan. Apalagi Rian sengaja mengarahkan palunya untuk menghancurkan tulang rusuk dan tulang punggungnya.
Melihat pria itu terus mengerang kesakitan di lantai, Rian menghentikan siksaannya. "Hei …"
Belum sempat Rian berbicara, pria berwajah tidak rata itu melempar kapaknya pada Rian dan lari keluar ruang laundry. Rian menghindari lemparan itu , kemudian ia langsung mengejar pria itu. Namun, ternyata pria itu sudah berada di depan sebuah pintu baja yang ada di ujung lorong. Sambil tersenyum, pria itu masuk ke dalam. Saat Rian mencoba membuka pintu baja tersebut, ternyata pintu tersebut terkunci.
"Tempat apa ini?" Ria pun mengintip ke dalam melalui jendela kaca yang ada pada pintu. Di dalam sana, terdapat lorong gelap yang terlihat menakutkan. Rian merasa tidak nyaman melihatnya. 'Apakah ini artinya, di suatu tempat di balik pintu ini, ada pintu merah?'
Saat Rian melihat tulisan di atas pintu, Rian akhirnya sadar tempat apa yang ada di balik pintu. 'Jadi di sana, letak kamar khusus orang-orang dengan gangguan mental dengan tingkat bahaya tertentu?'
"Lebih baik aku menggali informasi lebih dalam terlebih dahulu dari orang-orang yang ada di ruang laundry. Barulah setelah itu, aku akan menelusuri tempat ini." Sebelum kembali ke ruang laundry, tak lupa Rian menaburi garam di depan pintu baja ini.
Saat Rian kembali ke ruang laundry, ia melihat wanita botak itu sangat ketakutan dengan keberadaan pria satu tangan tersebut. Rian kemudian mengikat pria itu dengan seprei kotor yang ada di sana. Walau Rian sudah mengikat pria dengan satu tangan itu, tetap saja wanita itu takut. Ia terus saja membenturkan kepalanya ke jeruji besi. 'Apa yang pria ini lakukan pada wanita itu? Sampai-sampai ia sangat takut dengan pria ini.'
Saat Rian melihat kondisi Kakek, ia melihat kakek tersebut tidur melingkar sambil terus menutupi kepalanya. Tampak kakek itu gemetaran dengan keberadaan pria dengan satu tangan tersebut.
__ADS_1
Sedangkan kondisi pria paruh baya, ia juga terlihat ketakutan. Badannya juga gemetaran. Namun, Rian merasa janggal dengan semua ini. Selain penampilan pria paruh baya itu terlihat rapi dan bersih. Ia juga tampak biasa saat pria bertangan satu masuk ke dalam ruang laundry. Sangat berbeda dengan kondisi dua orang lainnya. 'Ini artinya, dia hanya berpura-pura!'