Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Melacak


__ADS_3

“Satu hama telah mati.” ucap Rian setelah melempar tulang rusuk milik pria berambut pirang yang masih terbaring beralaskan pintu gerbang sekolah.


Mendengar ucapan Rian, para pembunuh bayaran yang ada di area sekolahan mengerti bahwa salah satu teman seprofesi mereka sudah jatuh.


“Aku menyarankan pada kalian yang masih bersembunyi untuk mundur. Kalau tidak, kalian akan bernasib sama seperti pria tua yang ada di atas gedung rumah sakit tadi!” Teriak Rian sambil melirik ke beberapa tempat di mana para pembunuh bayaran tersebut bersembunyi.


Merasa nyawa mereka terancam, para pembunuh bayaran itu pun mundur. Mereka juga langsung menghubungi agensi mereka masing-masing mengenai kekuatan Rian yang sebenarnya. Uang 10 Milyar Rupiah tidak setimpal dengan nyawa mereka jika targetnya sekuat itu.


Setelah semua pergi, Rian menjambak rambut pria berambut pirang itu. “Aku bisa memberikanmu kematian langsung, tanpa perlu melalui semua rasa sakit ini.”


“To-tolong bunuh aku … akan kulakukan apa saja, jadi tolong bunuh aku secepatnya ..” pinta pria berambut pirang tersebut. 


“Katakan padaku, siapa klienmu?”


“Aku tidak tahu! Hanya Handler yang tahu mengenai identitas klien!”


“Handler? Siapa itu?”


“Dia adalah orang yang menerbitkan misi untuk membunuh pada semua agensi. Kebetulan aku tidak mengikuti agensi manapun, jadi Handler sendiri yang memberikan misi ini padaku. Aku tidak tahu siapa Handler itu, bahkan jenis kelaminnya saja misterius. Saat aku menerima telepon darinya, ia bersuara seperti wanita. Namun saat aku menerima misi ini, ia seperti seorang pria. Uhuk …” Pria itu kembali memuntahkan darahnya. “Aku sudah memberitahu semua yang aku tahu. Jadi ku mohon, cepat bunuh aku!”


“Apa nama kontaknya dalam ponselmu?”


“Pak Boss … aku menyimpannya dengan nama itu. Cepat bunuh aku …”


“Biar aku konfirmasi dulu kebenaran ceritamu.” ucap Rian. Kemudian ia menengok ke arah Alicia yang ada di dekat pintu masuk gedung. “Alicia, bisa bantu aku sebentar?”


Alicia kemudian berlari mendekati Rian. “Apa yang bisa aku bantu?”


“Bisa tolong lacak nomor telepon ini?” Rian menunjukkan sebuah nomor ponsel yang tertera pada ponsel nokia 3310 milik pria malang itu.


“Akan ku coba melacaknya. Tapi kamu harus menghubunginya, baru aku bisa melacaknya.” ucap Alicia sambil mengeluarkan laptop dari tas ransel yang ia bawa. Saat ia sedang menyalakan laptop, Rian tidak sengaja melihat luka yang dibalut kain pada lengan Alicia. Luka tersebut sepertinya sangat parah, karena kain yang digunakan untuk menutupinya basah dan berwarna merah.

__ADS_1


"Alicia, kamu terluka?" tanya Rian sambil memegang tangan kiri Alicia.


"Sepertinya aku terluka karena ledakan terakhir." jawab Alicia dengan nada datar. 


Tentu saja semua itu bohong. Alicia menggigit tangannya sendiri untuk mencukil sedikit daging dari lengannya. Daging tersebut kemudian Alicia berikan pada Rian saat tak sadarkan diri. Karena itulah Rian bisa sembuh dengan cepat. Alicia juga meminta Livia dan Tika untuk diam. Mereka pun sepakat untuk tidak memberitahu Rian.


Setelah itu, Alicia sudah siap untuk melacak orang yang akan dihubungi Rian. “Oke, aku akan menghubungi orang ini.” Rian kemudian menekan tombol telepon pada ponsel lawas itu. Rian juga menyalakan mode loudspeaker.


Tuut Tuut Tuut


“Halo, apa kamu sudah membawa buktinya?” tanya suara wanita dari ujung telepon.


Di saat yang sama, Alicia mulai melacak sambungan telepon ini.


Tak Tak Tak Tak


Tangan Alicia mulai menari dan terus mengetik. Melihat Alicia mengoperasikan komputer dengan cepat, hati Rian terasa sakit. Rian dapat melihat betapa sakitnya tangan Alicia. Namun ia terus mengetik dan menahan rasa sakitnya tanpa berkata-kata.


Rian kemudian mendekatkan ponsel tersebut ke mulut pria berambut pirang itu. Ia memberi aba-aba untuk menjawab telepon itu. “A-aku sudah mendapatkannya. Bi-bisakah aku bertemu denganmu?”


“Sepertinya dia tahu bahwa kamu gagal. Makanya ia langsung memutuskan sambungan. Wanita yang sangat cerdik. Baiklah, kamu bisa mati sekarang.” Dalam sekejap, Rian langsung menebas leher pria berambut pirang itu. Darah pun langsung muncrat bagaikan air mancur.


"Bagaimana Alicia? Apakah kamu berhasil menemukannya?"


"Aku sedang mengerjakannya sekarang."


Sambil menunggu Alicia, Rian bertanya pada sistem. "Sistem-chan, bisakah aku menggunakan ramuan penyembuh dari Toko untuk menyembuhkan teman-temanku?"


[Tidak bisa. Karena barang yang ada di toko, hanya Host sendiri yang dapat menggunakannya. Tapi aku punya saran untuk Host]


"Apa itu?"

__ADS_1


[Berikan darah Host pada mereka. Setetes darah Host dapat menyembuhkan luka apapun. Dengan 3 tetes, Host bisa menumbuhkan kembali anggota tubuh yang hilang]


"Bagaimana mungkin darahku bisa memiliki efek ajaib seperti itu?"


[Itu karena darah Werewolf mengandung energi kehidupan yang sangat kuat. Maka dari itu, jaman dahulu, Werewolf banyak diburu demi mendapatkan darahnya]


"Baiklah kalau begitu. Akan ku coba pada Alicia. Jika darah ini berhasil menyembuhkan Alicia, maka aku juga bisa menyelamatkan Adi dan Guntur!" 


Beberapa saat kemudian, Alicia berhasil menemukan lokasi Handler. "Aku menemukannya …"


"Terima kasih Alicia …" senyum Rian sambil mengusap-usap kepala Alicia. "Alicia, aku ingin kamu meminum darahku."


Alicia sedikit tertegun mendengar permintaan absurd Rian. "Haa?"


"Percayalah padaku!" Rian kemudian menyobek ujung jari telunjuknya dan menyodorkannya ke depan mulut Alicia. "Minumlah …"


Alicia kemudian mengemut jari telunjuk Rian. Seketika itu juga, luka pada lengan Alicia mengeluarkan asap. Dengan cepat luka itu menutup. Walau luka tersebut sudah sembuh, namun Alicia masih terus mengemut jari Rian.


"Ummm, Alicia … bisa tolong hentikan? Aku harus memberikan darah ini pada Adi dan Guntur juga."


Setelah mendengar kata-kata itu, barulah Alicia melepaskan emutannya. "Maaf, habisnya darahmu sangat lezat."


"Ughh … oke." Tiba-tiba, Rian merasakan hawa membunuh dari arah pintu masuk gedung. Di sana, terlihat Alena dan Livia menatap Rian dengan penuh amarah. Rian pun hanya bisa tersenyum kecut melihat kedua pacarnya marah.


Rian kemudian menjelaskan pada Livia, Alena, dan juga Tika mengenai apa yang ia laukan tadi. Rian juga mempraktekkannya langsung dengan memberikan Adi tiga tetes darahnya. 


Keajaiban pun terjadi. Tangan Adi yang hilang, mendadak tumbuh kembali. Luka-luka di tubuhnya pun juga hilang. Melihat hasil ini, barulah mereka percaya dengan ucapan Rian. Setelah itu, Rian juga meneteskan setetes darahnya pada mulut Guntur. Tubuh Guntur pun dengan cepat sembuh dari semua luka yang ia alami. 


"Alicia, jadi dimana lokasi Handler sekarang?"


"Aku sudah menguci koordinatnya. Orang tersebut sekarang berada di Hotel Avernus kamar nomor 1007." ucap Alicia sambil menunjukkan layar laptopnya.

__ADS_1


"Terima kasih Alicia, aku akan segera pergi ke sana." Kemudian, Rian menatap ke arah Livia, Alena, dan Tika. "Aku titip Adi dan Guntur."


"Enn … pergilah. Pastikan kamu menangkap orang itu!" Rian mengangguk atas ucapan Alena. Mendadak, Rian menghilang dari tempatnya berdiri. Hanya ada hembusan angin yang terasa saat ia pergi.


__ADS_2