Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Misteri Di Balik Kamar 303


__ADS_3

"Apa maksudmu? Apakah ada kriteria khusus untuk bisa menginap di apartemen ini?"


"Yang menariknya, semua ini berhubungan dengan kamar 303." Pria itu mengambil sebotol minuman keras di mejanya dan meminumnya. Setelah minum, ia melanjutkan perkataannya. "Apakah kamu tahu siapa penghuni kamar 303?"


"Bagaimana aku tahu nama penghuni kamar 303, aku saja baru malam ini berkunjung ke sini!" Rian berusaha bernafas menggunakan mulut akibat bau alkohol yang keluar dari mulut pria tersebut.


"Nama orang itu adalah William Sutanto. Selain statusnya sebagai penghuni kamar 303, dia juga adalah pemilik dari seluruh kamar di gedung A ini."


"Tapi, aku mendengar dari temanku yang coba menghubungi pemilik kamar, suaranya terdengar seperti Ibu-Ibu. Apakah dia istri Pak William?"


"Oh, Ibu Ningsih … dia adalah mantan istri William."


"Mantan istri?"


"Benar, jadi begini ceritanya … dulu, William hanyalah seorang pengusaha mebel kecil. Lambat laun, usaha mebel yang ia jalani berkembang pesat dan menjadi orang kaya baru di Surabaya. Kamu tahu kan, ujian hidup dari seorang pria itu apa?"


Rian berpikir sejenak. "Harga, tahta, wanita?"


"Tepat sekali. Dan itulah yang terjadi pada William. Karena kekayaannya, mulai muncul wanita-wanita yang mendekatinya dengan maksud tidak baik. William saat itu terlena dengan salah satu wanita tersebut dan meninggalkan istrinya. Padahal istrinya sudah bersamanya sejak William memulai usaha dari nol. Sebagai kado perpisahan, William memberikan seluruh kamar apartemen di gedung A ini pada mantan istrinya."


Pria paruh baya itu berhenti sejenak untuk menyalakan rokok dan menghisapnya. "Fuuh~ … beberapa tahun berlalu, wanita pelakor itu meninggalkan William dan merebut semua hartanya. Dan yang lebih gila, wanita pelakor itu memasukkan William ke rumah sakit jiwa! Tahun lalu, rumah sakit jiwa tempatnya di rawat akan di tutup. Pihak rumah sakit menghubungi Ningsih untuk mengambilnya. Ningsih pun terkejut bahwa mantan suaminya ternyata selama 3 tahun ini berada di dalam rumah sakit jiwa! Merasa iba dengan mantan suaminya, Ningsih menjemputnya dan memberikannya kamar 303."


"William pernah masuk rumah sakit jiwa? Apakah rumah sakit itu adalah Rumah Sakit Umum Surabaya yang ditutup tahun lalu?" Rian pun teringat dengan catatan dalam misinya. 'Sekamar Bertiga artinya di kamar yang Winny tempati ada 3 , yaitu Winny sendiri, roh jahat Ibu Winny, dan makhluk dari balik cermin. Tapi, misi yang tertulis dalam sistem menyebut kamar 303. Roh jahat Ibu Winny tidak mungkin ada di kamar 303, karena aku yakin ia lah yang duduk di atas kepala Winny. Kemungkinan hal ini dilakukan untuk melindungi Winny dari makhluk yang muncul dalam mimpinya. Lalu, apa hubungannya dunia di balik cermin dengan William?’

__ADS_1


Pria itu mengangguk atas pertanyaan Rian. Setelah minum seteguk minuman keras, pria itu melanjutkan ceritanya. “Di sinilah awal mula permasalahannya. Setelah William mulai tinggal di kamar 303, ia bertingkah sangat aneh.”


“Aneh? Aneh Seperti apa Bro? Bukannya dia dijebak oleh istrinya? Apakah dia jadi mengalami gangguan jiwa beneran?”


“Akan ku beri contoh ...” Pria itu kemudian menunjuk kepalanya. “William memiliki kebiasaan untuk membenturkan kepalanya ke dinding ketika tengah malam. Dia selalu berteriak bahwa ada sesuatu di kepalanya yang ingin menguasai tubuhnya. Maka dari itu dia berusaha memecahkan kepalanya untuk mengeluarkan sesuatu yang ada di kepalanya.”


“Bahkan, ia pernah terus menerus membenturkan kepalanya sampai mengeluarkan banyak darah dan tidak berhenti. Sampai-sampai mantan istrinya datang dan memanggil polisi untuk menghentikan William. Terkadang, William akan berteriak dan berargumen dengan dirinya sendiri. Kami semua merasa terganggu, sehingga kami mengajukan protes pada pihak manajemen apartemen. Namun hal tersebut tidak dihiraukan.”


‘Ini aneh! Apa William kerasukan setan? Berdasarkan informasi yang aku dapatkan, setan tidak bisa berkeliaran di dunia manusia. Ia membutuhkan tubuh. Setan juga dapat muncul dari cermin, yang artinya jika dia tidak memiliki tubuh di dunia manusia, setan dapat bersembunyi di dalam cermin.’ pikir Rian.


Rian kembali bertanya untuk menggali informasi lebih dalam. “Bro, selain kegilaan yang dilakukan William tengah malam, apa ada perilaku aneh lainnya yang dilakukan William?”


“Ketika William pertama kali datang kemari, dia terlihat normal-normal saja. Mungkin hanya sedikit pendiam saja. Tetapi, setelah beberapa hari kami berinteraksi, kami sadar betapa anehnya William. Dia terlihat normal saat siang, namun semua itu berubah ketika malam hari. William yang ada pada siang hari, sangat berbeda dengan William di malam hari.


“William di malam hari sering membenturkan kepalanya ke dinding. Selain itu, dia juga suka berbicara sendiri di depan cermin, kadang hal itu dilakukan di depan dinding. Dia juga sering mencekik dirinya sendiri hingga raut wajahnya membiru.”


Dari cerita pria penghuni kamar 301 ini, Rian dapat menyimpulkan bahwa William ditipu oleh wanita pelakor. Lalu kemudian wanita itu memasukkan William ke rumah sakit jiwa. Sebelum masuk rumah sakit jiwa, kemungkinan William masih lah normal. Namun begitu ia keluar, ia berubah menjadi tidak normal. ‘Kemungkinan besar ia dirasuki setan saat ia dirawat di rumah sakit jiwa!’


“Bro, bisa ceritakan detail kematian dari William nggak? Seperti bagaimana ia mati …”


“Aku tidak tahu mengapa kamu tertarik dengan orang yang sudah mati. Tetapi, dengarkan nasehatku baik-baik nak, segera pergi dari tempat ini selagi bisa. Tempat ini dikutuk!”


“Terima kasih, tapi aku butuh informasi ini untuk menolong temanku!” tegas Rian.

__ADS_1


“Aku tidak tahu apa hubungan antara temanmu dengan cerita ini. Karena kamu sudah membayarku, tentu aku akan menjawabnya.” Pria itu berhenti sejenak menghabiskan sebotol bir dengan sekali tegukan. “Ahh~ … jadi begini. Sebelumnya, ketika William kumat, kami selalu mendengar suara teriakan William. Dan kami selalu memanggil polisi ataupun Ibu Ningsih untuk menghentikan William. Namun, suatu hari, kami tidak mendengar suara teriakan lagi dari kamar 303. Keesokan paginya, Ibu Ningsih yang datang berkunjung untuk membawakannya makanan, menemukan tubuh William yang sudah tergeletak tak bernafas.”


“Bro, bisakah aku meminta tolong untuk dideskripsikan kondisi William saat ia mati?” Rian ingin merekonstruksi bagaimana William mati. Maka dari itu, ia butuh informasi lebih mengenai kematiannya.


Pria paruh baya itu melihat Rian dengan pandangan yang aneh. Dia tidak paham, mengapa anak semuda ini tertarik dengan hal seperti ini. “Saat itu, aku juga kebetulan ada di sana. Pada dahi William, terdapat lubang yang cukup besar. Darah pun berceceran memenuhi dinding pembatas antara kamar 303 dan 304. Wajahnya pun membiru seperti ia mati karena kehabisan napas. Terdapat bekas cekikan pada lehernya. Polisi awalnya mengira ini pembunuhan. Tapi setelah pemeriksaan sidik jari, ditemukan bawah bekas cekikan itu adalah ulah William sendiri.”


“Jadi dia mencekik dirinya sendiri sampai mati?”


“Pintu dan jendela terkunci malam itu, dan hanya Ibu Ningsih saja yang memiliki kunci cadangannya. Maka dari itu, bunuh diri adalah kesimpulan yang paling masuk akal. Apakah pertanyaanmu sudah selesai? Aku mau membeli Bir lagi.” ucapnya sambil mengangkat botol hijau yang kosong.


“Tunggu, satu pertanyaan terakhir! Apakah ada kejadian aneh yang terjadi setelah William meninggal?”


Mendengar pertanyaan Rian, pria itu melihat uang 100.000 rupiah yang ada di tangannya. Ia pun mendekati Rian dan berbisik. “Banyak penghuni apartemen ini yang melihat William kembali!” Setelah itu, pria itu mengusir Rian dari kamarnya.


“Tunggu! Bisa tolong berikan penjelasan mengenai hal itu?”


BRAK


Pria itu membanting pintunya dan tidak memberi Rian kesempatan untuk bertanya. Rian kemudian menemui Guntur yang baru saja naik dari lantai dasar. “Tur, bagaimana? Apakah kamu berhasil mendapat kunci kamar 303?”


“Maaf Rian, aku sudah memohon pada Ibu pemilik kamar 303, namun ia menolaknya. Aku juga sudah memohon pada satpam yang berjaga di bawah tadi, bahkan aku mengiming-imingi uang 500.000 rupiah. Tapi satpam tersebut tetap tidak mau meminjamkan kunci duplikatnya.”


“Hmm, sepertinya ada rahasia yang mereka sembunyikan dalam kamar 303 …”

__ADS_1


__ADS_2