Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Kabur


__ADS_3

“Pergi dari tubuh Winny!” teriak Rian sambil berusaha menghalau bagian belakang Winny. Namun semua itu sia-sia, Rian tidak dapat menyentuh sama sekali makhluk tersebut. Semua orang pun menoleh ke arah Rian yang berteriak sambil terus menatap cermin kamar mandi dengan serius. 


Melihat arah padangan Rian, Ida langsung berteriak. “Kyaaaa ... makhluk apa itu!?” 


“Ini!” Dokter Denis dan Livia sangat terkejut melihat makhluk dalam cermin. Dengan wajah yang dijahit dari atas kepala sampai bagian leher, membuat siapa pun yang melihatnya ketakutan.


Makhluk tersebut terlihat terus mencekik Winny dan berusaha masuk ke tubuhnya. Namun, ada aura merah dalam diri Winny yang terus menghalangi pria berwajah dua itu untuk masuk. Dua kekuatan asing tersebut saling berebut untuk menguasai tubuh Winny. Dan hal itulah yang menjadi sumber dari semua masalah yang Winny rasakan.


‘Apa yang harus aku lakukan!? Pikir Rian … pikir! Kalau begini terus, Winny bisa mati!’ Rian terus berpikir sambil memegangi Winny yang mengejang. ‘Ketika di rumah, setan yang keluar dari pintu merah terluka dengan garam! Bodohnya aku, kenapa aku sampai lupa!'


Dengan cepat, Rian mengeluarkan sekantung garam dari Kantong dimensi. “Rasakan ini!” Rian langsung menaburkan garam ke punggung Winny. 


“Kenapa tidak mempan!?” Rian benar-benar panik. Ia tak mau melihat Winny mati ataupun tubuhnya direbut. Saking kesalnya, tanpa sadar Rian memukul cermin di ruang shower


Krak


“Arghhh!” Winny mendadak berteriak ketika cermin di ruang shower retak. Pria yang memiliki dua wajah itu pun memasang ekspresi kesakitan. Makhluk itu tampak marah atas apa yang dilakukan Rian. “Jadi begitu … kalau begitu, akan ku hancurkan cermin ini!”


Rian sekuat tenaga memukul cermin ruang shower.


Kratak


Pyar


“Arghhhh!” Teriakan Winny melengking tajam memecah malam yang sunyi dan menyebar ke seluruh penjuru apartemen. Setelah itu, Winny perlahan sadar dari mimpi buruknya. Ia masih terlihat lemah, namun kondisi mata dan lehernya sudah kembali normal.


Tangan Rian yang digunakan untuk memecahkan kaca, mulai mengeluarkan banyak. Terlihat, beberapa pecahan kaca masih menempel. Melihat tangan Rian seperti itu, Livia berteriak. “Rian! Tanganmu!” 


Livia langsung memegang tangan Rian. Perlahan, muncul asap dari tangan Rian. Pecahan kaca yang menempel pada tangan Rian mulai berjatuhan. Luka-lukanya pun menutup. Livia tercengang dengan kejadian ini. Walau Rian sudah menceritakan tentang kemampuannya ini, tapi tetap saja melihatnya langsung dan hanya mendengar saja memiliki efek yang berbeda.


Dari samping Livia dan Rian, Dokter Denis melihat dengan serius proses penyembuhan luka Rian. “Jadi ini kemampuan khusus Rian …” 


Di saat yang sama, sebuah asap berwarna putih kemerahan bercampur dengan warna hitam keluar dari cermin yang pecah. Asap tersebut mencoba kabur dengan menembus dinding kamar mandi. Melihatnya kabur, Rian berencana mengejarnya. “Guys, aku titip Winny …”


“Kejar makhluk itu Rian, jangan biarkan dia menyakiti orang lain lagi!”


“Emm!” Rian mengangguk atas ucapan Livia dan segera pergi mengejar makhluk itu. Rian keluar dari kamar 304 dan melangkah sampai di depan kamar 302.

__ADS_1


BRAAK BRAAK BRAAK


“Keluar!” teriak Rian sambil menggedor pintu kamar 302. Suara ini membuat para penghuni lainnya membuka sedikit pintu kamarnya dan mengintip, termasuk penghuni kamar 301.


“Kamu lagi! Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan!? Jangan buat keributan di apartemen ini!” teriak penghuni kamar 301 dengan botol minuman keras di tangannya. Walau ia berteriak seperti itu, namun ia tidak selangkah pun keluar dari kamarnya.


Ceklek


Pintu kamar 302 perlahan terbuka. Dari balik pintu, muncul seorang pemuda yang seumuran dengan Rian. Pemuda itu membawa pisau dapur di tangan kanannya. Dengan cepat, pemuda itu menyabetkan pisaunya ke tubuh Rian. Seketika itu juga, gerakan pemuda itu melambat, yang menandakan kemampuan khusus Persepsi Super telah aktif. Rian memiringkan badannya 45 derajat ke arah kanan untuk menghindari sabetan pemuda itu.


Slash


“Ahhh!” Pemuda itu tampak benar-benar marah. Matanya juga berubah menjadi merah dan penuh darah. Pemuda itu terus mengayunkan pisaunya sekuat tenaga seakan ingin mencincang tubuh Rian.


Bagaimana tidak marah, pemuda itu telah merencanakan semua ini selama satu bulan. Dan akhirnya, ketika makhluk yang merasukinya akan berpindah inang dan merasuk ke dalam tubuh Winny, Rian dan teman-temannya menghentikan proses tersebut pada detik-detik terakhir. Terlebih lagi, makhluk tersebut terluka karena Rian menghancurkan mediumnya.


Pria paruh baya kamar 301 sangat ketakutan melihat semua ini. Ia sampai duduk terjatuh saking takutnya. 


“Cepat hubungi polisi!” teriak Rian pada pria paruh baya kamar 301.


“Ba-ba-baik, akan segera ku hubungi!” Pria itu bergegas kembali masuk ke kamarnya untuk menghubungi polisi.


Sambil terus merekam, Guntur dan teman-temannya melihat Rian menghindari sabetan pisau secara terus menerus dari pemuda penghuni kamar 302. Saat pemuda itu berkonsentrasi untuk membunuh Rian, dengan sebuah tongkat kayu yang Livia temukan di kamar Winny, ia perlahan mendekat dan memukul kepala pemuda gila itu.


Buuk


Krak


Tongkat kayu yang digunakan Livia seketika itu patah. Pemuda itu kemudian terjatuh dan membentur lantai. Perlahan, darah mulai keluar dari kepala pemuda gila itu.


Menggenggam erat pisau dapurnya, pemuda itu bangkit dan menengok ke arah Livia dengan matanya yang merah. Saat menengok, leher pemuda itu seakan terpelintir dengan tidak alami.


“Kenapa? Kenapa kalian semua datang dan menghancurkan rencanaku! KENAPA!?” teriak pemuda itu. Dengan amarah yang meledak-ledak, pemuda itu berdiri dengan tubuh yang masih sempoyongan. Saat ia sudah berdiri sempurna, pemuda itu langsung menerjang Livia. “Arghhh!”


“Livia!” Rian yang berada di samping pemuda gila itu langsung menendang perutnya hingga terpental sejauh 2 meter. 


Buk

__ADS_1


“Ughh … aku nggak akan memaafkan kalian! Akan kupastikan kalian semua ku bunuh!”


“Betul … betul begitu … luapkan seluruh amarahmu!” Mendadak, nada bicara pria itu berubah. Mata kiri pemuda itu berubah menjadi hitam. Urat-urat di kepalanya mulai bermunculan. Pisau di tangannya melayang dan menggandakan diri. Dari yang awalnya 1, bertambah menjadi 2, 4, 8, dan seterusnya hingga pisau yang melayang berjumlah menjadi 32 buah.


“Gawat! Semuanya, cepat masuk ke dalam kamar!” teriak Rian.


Pisau-pisau itu mulai meluncur dengan cepat mengarah kepada Rian dan teman-temannya. Dokter Denis dan lainnya beruntung karena mereka masih di depan pintu kamar 304. Mereka pun dapat bereaksi dengan cepat dan segera berlindung.


Namun sayang, Livia berada agak jauh dari kamar 304. “LIVIA!” Rian berteriak sekencang mungkin. Pemuda gila itu pun tersenyum bak seorang maniak melihat ekspresi Rian. Rian bisa saja menghindari semua pisau tersebut, tapi sekarang yang ada dipikiran Rian adalah bagaimana caranya ia harus bisa melindunginya. 


Jleb Jleb Jleb Jleb


Pisau demi pisau menghujani punggung Rian. Demi melindungi Livia, Rian membuat dirinya sendiri sebagai tameng.


“Rian! Hiks hiks hiks.” Livia mulai menangis melihat kondisi Rian. 


Tiba-tiba saja, ada sebuah pisau yang lolos dari punggung Rian dan melesat mengincar Livia.


Swoosh


Melihat laju pisau yang semakin mendekat, Livia reflek menutup matanya. Livia pun kembali mengingat-ingat momen-momen saat ia bersama Rian dari mulai TK hingga sekarang. ‘Ini kah yang namanya flashback sebelum kematian?’ pikir Livia yang sudah pasrah.


Dua detik berlalu, namun pisau yang terbang ke arah Livia tak kunjung sampai. 'Kenapa aku belum mati?' Perlahan, Livia mulai membuka matanya. Di depannya kini, berdiri seorang wanita berambut panjang mengenakan seragam SMA Avernus berwarna merah darah. 


Livia merasa tidak asing dengan sosok di depannya. "Rika?"


Rika pun menoleh atas ucapan Livia. Ia tersenyum pada Livia dengan wajah pucatnya itu. Di depan Rika, sebuah pisau yang tadinya mengarah ke Livia terhenti. Dengan kekuatan Rika, pisau tersebut berbalik dan meluncur dengan kecepatan yang lebih cepat dari serangan pemuda gila tadi.


Swoosh


Mata pemuda gila itu terbelak. "Tidak mungkin!" Hanya dalam satu kedipan, pisau yang ditembakkan Rika tadi telah menusuk perut pemuda gila itu. 


Melihat perutnya terluka, pemuda tersebut terduduk roboh. Ia menatap tajam wajah Rian, Livia, dan juga Rika, seakan ia membakar wajah dua manusia dan satu roh jahat itu dalam ingatannya sehingga ia tidak lupa. Setelah itu, keluar asap berwarna putih kemerahan bercampur dengan asap hitam dari mulut pemuda itu. Asap tersebut membentuk tubuh seorang pria dengan dua wajah yang dijahit menjadi satu. Makhluk tersebut kemudian berusaha lari menuju tembok yang ada di sebelahnya.


Belum sempat lari, tangan kanan makhluk bertubuh kurus itu telah terlilit oleh rambut hitam yang amat tebal dan panjang. Tanpa pikir panjang, makhluk tersebut memutuskan tangan kanannya dan kabur dengan secepat kilat.


Rika hanya terdiam melihat makhluk itu kabur. Ia kemudian memakan tangan yang ditinggalkan oleh makhluk kurus tadi. Seketika itu juga, tubuh Rika memancarkan aura merah gelap yang sangat pekat. Udara pada lorong apartemen pun jadi sangat dingin. Terlihat pada beberapa tempat, ada yang membeku.

__ADS_1


'Sepertinya Rika telah bertambah kuat setelah memakan tangan makhluk tadi … ughh, sakit sekali punggungku …' gumam Rian. Tak lama kemudian, Rian jatuh tersungkur.


"RIAN!"


__ADS_2