Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Kencan Dengan Alicia


__ADS_3

Broom


Sebuah mobil Ferrari merah melaju di sebuah perumahan elit Surabaya Timur. Mobil tersebut kemudian berhenti di depan sebuah rumah putih yang sangat besar.


"Benarkah ini alamatnya?" Rian terkejut dengan rumah besar yang ada di depannya. Ia berkali-kali melihat ponselnya dan mencocokkan nomor rumah tersebut dengan alamat yang diberikan Alicia. "Bukankah rumah ini setara dengan rumah keluarga Sugiharto? Aku memang nggak bisa meremehkan keluarga pemilik Avernus Group."


Saat Rian sedang berdiri di depan rumah Alicia, seorang satpam datang menghampirinya. "Selamat pagi, ada perlu apa tuan?"


"Selamat pagi Pak. Saya mencari Alicia, apakah benari ini rumahnya?"


"Benar tuan. Atas nama siapa tuan? Akan saya hubungi Nona Alicia."


"Dari Rian Pak."


"Ditunggu sebentar ya tuan." Setelah itu, Satpam tersebut menghubungi penghuni rumah menggunakan telepon yang ada di pos Satpam. Tak beberapa lama, Satpam tersebut membukakan pintu pagar dan mempersilahkan mobil Ferrari Rian untuk masuk.


"Selamat datang Rian, ayo masuk!" ajak Alicia.


Rian begitu terpana melihat penampilan Alicia yang begitu imut.


"Kok diem aja? Ayo masuk …"


Rian pun terbangun dari lamunannya. "Maaf-maaf, habisnya kamu imut banget. Makanya aku jadi terpana" senyum Rian.


Walau ekspresi Alicia selalu terlihat datar, namun Rian dapat merasakan bahwa Alicia sekarang sedang malu.


"Silahkan duduk dulu, aku mau memanggil Mama. Sekalian ambil tas juga …" Alicia kemudian naik ke lantai 2, meninggalkan Rian duduk sendirian di sofa.


Saat Rian sedang melihat-lihat ruang tamu yang megah ini, tiba-tiba Rian melihat seorang pria botak yang berjalan mondar-mandir tanpa tujuan di sudut rumah. 'Bukankah pria itu OB di sekolah? Apakah dia juga merangkap kerja di rumah ini juga?'


"Pagi Rian …"


Melihat Bu Liliana, Kepala Sekolah Avernus turun dari tangga, Rian langsung berdiri dan membalas salamnya. "Pagi Bu Kepala Sekolah …"


"Kita lagi tidak di area sekolah, jadi panggil aja Tante." senyum Bu Liliana sambil duduk di sofa.


"Siap Tante!" Rian kemudian duduk kembali. Setelah mereka mengobrol sebentar, Alicia turun dengan tas jinjingnya.


"Ayo."


"Oke." Rian kemudian melihat Bu Liliana. "Saya pergi dulu tante."


"Ya, hati-hati …" ucap Bu Liliana.

__ADS_1


Di dalam mobil, Rian bertanya pada Alicia. "Kita mau kemana?"


"Ke Tunjungan Plaza saja. Aku mau ke toko buku dan toko alat musik."


"Siap!" Mobil Rian pun melaju dengan cepat menuju Tunjungan Plaza.


"Oh ya, tadi aku lihat ada seorang pria botak di rumahmu, bukankah itu OB sekolah ya?"


"Iya, dia adalah Arslan, kakak sepupuku dan juga OB sekolah kita."


Mendengar ucapan Alicia, Rian sontak menginjak rem secara mendadak. "Apa!? Dia kakak sepupumu?"


Tiiin Tiiin


"Woi, jangan berhenti mendadak di tengah jalan!" Dari belakang Rian, sebuah mobil protes karena Rian mengerem secara mendadak.


"Maaf-maaf." teriak Rian. Kemudian ia menjalankan lagi mobilnya.


"Maaf Alicia, aku hanya kaget. Aku juga tidak bermaksud menyinggung pekerjaan kakakmu."


"Tidak apa-apa kok Rian. Aku tahu kamu nggak bermaksud jelek." Alicia kemudian mulai bercerita tentang kakak sepupunya.


Kakak sepupu Alicia adalah murid pintar di SMA Avernus dan selalu mendapat juara 1. Dia juga pernah mendapat medali emas dalam olimpiade Matematika dan Fisika tingkat Internasional di Swiss. Namun, semua itu berubah 2 tahun yang lalu.


Arslan beruntung, ia selamat dalam peristiwa tersebut. Tapi, setelah sadar Arslan seakan menjadi orang yang linglung. Ia berubah dari orang paling jenius menjadi orang paling bodoh di sekolah. Arslan juga lebih banyak melamun daripada bersosialisasi. Diajak berbicara pun sering tidak nyambung.


Maka dari itulah, selepas lulus sekolah, Bu Liliani menjadikannya OB. Tujuannya bukan untuk merendahkan martabat keponakannya tersebut. Namun ia ingin membuat Arslan mandiri.


Mendengar cerita Alicia, Rian merasa familiar dengan plot cerita seperti ini. 'Plot cerita ini, bukankah ini plot yang biasa terjadi pada protagonis novel kultivasi urban fantasi? Biasanya, setelah tertabrak mobil, jiwanya pergi ke dunia kultivasi. Makanya dia linglung karena jiwanya nggak sempurna. Suatu saat, jiwanya pasti kembali dan menjadi orang paling kuat di dunia ini. Tapi, itu nggak mungkin, hahaha … aku terlalu banyak berkhayal …'


20 menit kemudian, mereka tiba di Tunjungan Plaza. Tujuan pertama mereka adalah sebuah toko buku yang terletak di lantai 5.


Bagaikan ikan di air jernih, Alicia terlihat bersemangat. Ia berkeliling dari satu rak ke rak buku lainnya. Dan tentu saja, rak yang ia kunjungi adalah rak buku Novel. Rian tersenyum melihat Alicia seperti ini.


Setelah 1 jam berkeliling toko buku, Alicia baru sadar bahwa ia telah mengabaikan Rian. "Maafkan aku." ucap dengan nada datarnya


"Nggak apa-apa kok. Lagi pula aku senang melihatmu bersemangat begini. Aku jadi bisa melihat sisi lainmu. Dan lagi, kamu kelihatan imut banget." senyum Rian.


Walau wajah Alicia masih tanpa ekspresi, namun pipinya merah merona mendengar pujian dari Rian. Melihat ini, Rian langsung mengusap-usap rambutnya.


Dari toko buku ini, Alicia membeli 5 novel romansa remaja. "Kamu suka novel romansa?" tanya Rian.


"Aku baru mencoba membacanya, untuk bahan referensi. Biasanya novel yang aku baca bergenre horor."

__ADS_1


"Referensi apa? Ada tugas mengulas novel?"


Alicia menggelengkan kepalanya. "Referensi untuk menangkap hatimu."


"Kamu sudah menangkap hatiku kok, nggak perlu pakai referensi segala." jawab Rian dengan nada bercanda.


Namun Alicia menganggap bahwa Rian serius. "Terima kasih … aku akan mencoba menjadi calon istri yang baik …" bisik Alicia. Setelah mengucapkan itu, Alica langsung memeluk lengan kiri Rian. "Ayo ke toko alat musik …"


Di toko alat musik, Alicia membeli sebuah biola berwarna coklat. Setelah membelinya, tiba-tiba saja Alicia memberikan biola tersebut pada Rian. "Ini buat kamu …"


"Huh? Apa maksudmu?"


"Aku memberikan biola ini padamu. Aku dapat melihat dari bekas tanganmu, bahwa kamu sebelumnya pernah bermain biola."


"Ta-tapi …"


'Anjir, ini biola harganya 20 juta dan kamu ngasih ini kepadaku?' pikir Rian. Rian sejak SD memang sudah mengikuti kursus Biola. Namun ia berhenti setelah kedua orang tuanya menghilang. Bahkan biola yang Rian miliki terpaksa ia jual demi kebutuhan hidup.


"Ambil aja. Lagi pula aku ingin sekali bermain musik berdua denganmu. Aku bermain piano, sedangkan kamu bermain biola."


Melihat mata Alicia yang serius, akhirnya Rian mau menerimanya. "Baiklah, aku terima. Tapi kalau kamu berubah pikiran, aku akan mengembalikannya."


Alicia menggelengkan kepalanya. "Aku nggak akan berubah pikiran."


"Oke lah … oh ya, aku tadi di ruang tamu melihat ada piano di sana. Bagaimana kalau nanti kita main bersama?"


"En." angguk Alicia.


......................


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu menggema di sebuah kamar berukuran 8x8 meter ini. Tengah kamar, terdapat sebuah tempat tidur super besar dengan kanopi di atasnya. Seorang pria muda terlihat duduk bersandar di atas tempat tidur dengan pandangan kosong.


"Risky, ada yang mencarimu …" ucap Elly. Namun Risky hanya diam tak menjawab. Elly kemudian masuk ke dalam kamar.


Dari belakang Elly, seorang wanita dengan blazer hitam ikut masuk ke dalam kamar sambil membawa sebuah koper besi. Wanita tersebut menghampiri Risky yang masih melamun.


"Tuan Risky, selamat! Tuan terpilih sebagai App Holder." ucap wanita itu sambil membuka koper besinya. Dalam koper itu, terlihat sebuah ponsel hitam yang mirip dengan Ponsel milik Rian.


"Dengan Aplikasi kami, Tuan bisa mendapat kekuatan yang tak terbatas. Bahkan, balas dendam pun bukanlah sebatas mimpi."


"Kekuatan …" Pandangan Risky perlahan mulai hidup.

__ADS_1


__ADS_2