Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Siaran Dimatikan Paksa


__ADS_3

“Jadi begitu. Semua catatan ini, adalah kisah hidup Winny dan Ibunya!” gumam Rian.


Srek Srek Srek


Tiba-tiba saja, terdengar suara orang yang menyeret kakinya mendekat. “Suara ini, suster itu lagi?” Rian kemudian mengantongi amplop surat tersebut dan mengeluarkan palu dari Kantong dimensi.


Rian berdiri tegak menempel dinding di samping pintu masuk. Perlahan, pintu tersebut terbuka. Dengan cepat, Rian langsung memukul kepala suster tersebut.


Buk


Suster tersebut pun jatuh ke belakang. Wajahnya yang sudah rusak kini menjadi semakin rusak dengan pukulan tadi.


Klak Klak Klak


Bak boneka marionette, suster tersebut kembali berdiri. Dengan ekspresi penuh amarah, suster tersebut langsung melompat ke tubuh Rian dan mencekiknya hingga jatuh. Ponsel Rian pun terlempar akibat aksi suster ini.


“Ughh … lepaskan aku!” Dengan sekuat tenaga, Rian memukul kepala suster itu dengan palunya. Seakan tidak merasakan sakit, suster tersebut terus mencekik Rian.


“ARRGH” Rian berteriak sambil terus memukul kepala suster itu. Darah kental berwarna hitam mulai keluar dari kepala suster tersebut. Lama kelamaan, kepala suster tersebut tidak berbentuk lagi. Wajahnya telah remuk. Tapi suster ini sama sekali tidak berhenti mencekik Rian.


“Meong!” Noir yang ada di kantong saku Rian pun keluar dan mencakar wajah suster tersebut. Tapi serangan Noir tidak berefek apa-apa.


Rian mulai lemas kehabisan nafas. Dengan kekuatan terakhirnya, Rian kembali memukul tempurung kepala suster itu yang mulai remuk. Seketika itu juga, palu Rian menembus tempurung kepalanya dan menghancurkan isi otaknya.


Krak


Cekikan suster itu pun mulai mengendur. Beberapa saat kemudian, tubuhnya terbujur lemas di atas tubuh Rian. “Haah haah haah … akhirnya aku bisa membunuhnya. Tapi makhluk apa sebenarnya suster ini? Apakah suster ini benar-benar mayat hidup?”


Dari samping, Noir menjilati wajah Rian. “Terima kasih Noir. Walau seranganmu tadi tidak berefek apa-apa, tapi aku cukup mengapresiasinya.”


“Meong~”

__ADS_1


Rian kemudian berdiri setelah menyingkirkan tubuh suster tersebut. Melihat ponselnya tergeletak dengan rak buku, Rian berjalan menghampiri ponsel tersebut. Saat mengecek Live Broadcastnya, ia melihat bahwa sinyal pada ponselnya menghilang. “Kenapa mendadak nggak ada sinyal?”


......................


Di saat yang sama, Letnan I Fyren sedang berdiskusi dengan anggota timnya di dalam sebuah mobil box. “Mira, apa kamu sudah menyalakan pengacak sinyalnya?”


“Sudah Pak!” jawab Mira


“Baik, mari kita mulai briefing-nya. Yuda, silahkan mulai penjelasannya.”


“Tck!” Seorang pria berkacamata dengan wajah mirip artis korea maju dengan terpaksa. Kemudian ia menampilkan gambar dimana Rian sedang menyergap suster menyeramkan. “Pada gambar ini, kita dapat melihat bahwa suster ini adalah mayit. Berbeda dengan mayit lainnya, suster ini seperti memiliki akal. Kalian pasti tahu maksudku …”


“Jadi mayit ini adalah buatan Nightmare? Karena selama ini, mayit ciptaannya sedikit berbeda dengan mayit biasa yang tidak memiliki akal.” ucap Sigil, seorang pria kurus dengan kantung mata yang tebal.


“Hahahaha … akhirnya aku bisa meregangkan otot-ototku ini. Sudah lama kita tidak mendapat tugas semudah ini. Mayit adalah lawan yang paling mudah, sekali pukul langsung mati!” ucap seorang pria besar dengan otot yang kekar bagaikan seorang binaraga.


“Biasanya yang ngomong kayak gini bakal mati duluan deh.”


“Jaka sih ngomongnya sombong kayak gitu. Kan aku jadi inget sama film-film horor yang pernah aku tonton. Oh ya Roni, nanti setelah misi ini selesai, ngopi-ngopi yuk sambil mabar, hehehehe …”


“Damn, death flag mu kali ini lebih parah!” Roni hanya bisa pasrah mendengar ucapan Anwar.


“Fuuuh~ tolong semuanya tenang … nggak ada yang namanya death flag. Semua itu hanya sugesti kalian saja.” ucap Letnan I Fyren sambil merokok.


“Tetapi terakhir kali Bapak bicara begitu, kita kehilangan satu anggota Pak …” ucap Jaka dengan polosnya.


Suasana pun menjadi hening. Ucapan Jaka tadi  telah mengingatkan mereka pada misi yang mereka lakukan 6 bulan lalu. Di mana saat itu, mereka mendapat misi untuk membunuh andong pocong. Namun sayangnya, misi tersebut gagal total dan menewaskan salah satu anggota mereka, yang kini telah digantikan oleh Anwar.


“Bisakah kita batalkan operasi ini?” celetuk Letnan I Fyren.


Klik

__ADS_1


Sebuah pistol menempel pada pelipis kepala Letnan I Fryen, “Mi-Mira!?”


“Sekali lagi Letnan bicara seperti ini lagi, akan kupastikan kepala Letnan berlubang.” ucap Mira dengan ekspresi yang datar. “Saya juga sudah mendapat izin dari Kapten Leo untuk melakukan ini.”


“Oke semuanya, sekarang kembali lagi ke misi kita kali ini. Sesuai arahan Kapten Leo, kita diberi tugas untuk membuntuti Ryan dan bergerak ketika ada tanda-tanda kemunculan Nightmare. ”


“Dengan munculnya Mayit ciptaan Nightmare, sudah dapat dipastikan Nightmare pernah ada dirumah sakit ini. Jadi, kita akan memiliki 3 objektif pada misi kali ini. Pertama, temukan jejak Nightmare sekaligus bunuh semua makhluk ciptaannya dan juga makhluk supranatural lainnya yang memiliki indikasi berbahaya. Kedua, menyelamatkan korban korban penyekapan di lantai 3. Dan yang terakhir, menyelamatkan Ryan Morfran.”


“Aku akan membagi regu ini menjadi tiga tim. Satu tim beranggotakan dua orang. Tim pertama, aku dan Mira. Tim kedua, Jaka dan Sigil. Dan Tim ketiga, Anwar dan Roni.. Apa kalian apa pertanyaan?” tanya Yuda.


“Tidak!”


“Baik, segera bersiap! Kita akan mulai operasinya dalam 15 menit.” perintah Yuda.


“Siap laksanakan!” Mereka berenam langsung bergegas menuju loker masing-masing yang berisi peralatan mereka. Loker tersebut berisi helm, pakaian anti peluru, senapan serbu, pisau perak, dan berbagai jenis peluru, mulai dari peluru garam, peluru perak, dna juga peluru biasa.


Melihat anak buahnya sedang bersiap-siap, Letnan I Fyren hanya duduk sambil merokok tanpa melakukan apapun. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia berharap semua anggota regunya dapat kembali dengan selamat. Ia tak ingin kejadian tahun lalu terulang lagi. ‘Imam, maafkan aku …  sampai saat ini pun, aku masih takut untuk melangkah maju. Bahkan kini, aku dengan teganya membiarkan anakmu dalam bahaya.’


......................


Karena tidak adanya sinyal, Rian terpaksa melanjutkan penelusuran tanpa melakukan Live Broadcast. Saat ia berjalan menyusuri lorong, ia melihat sebuah kamar dengan pintu besi bertuliskan nomor 10. “Hmm, sepertinya kamar inilah yang menjadi tempat dikurungnya pasien paling berbahaya di rumah sakit ini.” Rian kemudian melihat kamar nomor 9 dan 8 juga dilengkapi dengan pintu besi yang sangat tebal.


Rian terus berjalan sampai ia melihat sebuah situasi aneh. Rian melihat sebuah kamar yang memancarkan aura berwarna merah  Pintu kamar itu juga terus mengeluarkan cairan merah mirip darah. Bahkan, garis-garis urat merah terlihat menempel di sekitar dinding kamar tersebut. “Apakah itu kamar nomor 3?”


Rian kemudian menghampiri kamar tersebut dengan perlahan. Tampak angka 3 tertulis pada pintu besi yang sekarang penuh dengan garis-garis merah. “Aura dari dalam kamar ini mirip sekali dengan yang aku rasakan di rumah dan di gudang sekolah. Apakah jika aku membiarkan pintu merah di rumahku lama tanpa penjagaan, maka rumahku akan bernasib sama seperti rumah sakit ini?” Rian pun merinding memikirkan hal itu.


“Untung saja aku berhasil menghancurkan pintu di rumahku. Sekarang, saatnya mengecek, apakah pintu ini sudah memiliki penjaga atau belum …”


Rian merogoh kantongnya dan mengambil kunci berkarat yang diambil dari jaket William. Kunci tersebut sangat pas sekali dengan lubang kunci kamar nomor 3. Rian pun memutar kunci tersebut.


Ceklek

__ADS_1


“Sudah aku duga, kunci ini memang kunci kamar nomor 3 …” Secara perlahan, Rian membuka pintu kamar nomor 3.


__ADS_2