Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!

Sistem Uji Nyali? Siapa Takut!
Khilaf


__ADS_3

“Silahkan duduk Tika." ucap Rian sambil menunjuk ke sebuah sofa krem di kamarnya.


Saat Tika duduk, Rian bertanya kepada Tika. "Kenapa kamu kemari dini hari begini? Apakah ada hal penting yang ingin kamu bicarakan?"


Tika tampak malu untuk menjawab pertanyaan Rian. "A-aku kemari sesuai dengan taruhan yang kita berdua buat tadi."


Rian tertegun dengan jawaban Tika. 'Anjir, dia menganggap serius lelucon tadi!'


"Tunggu Tika! Taruhan tadi hanyalah bercanda! Jadi kamu nggak perlu melakukannya."


"Kalah tetaplah kalah. Sesuai dengan perjanjian, aku akan menemanimu malam ini." Tika mendadak duduk mendempet Rian.


"Ti-Tika, tunggu!" ucap Rian dengan nada agak tinggi. Ia juga memegang kedua pundak Tika.


"A-apakah aku kurang atraktif? Jika dibanding Alena dan Livia, memang aku sangatlah tidak atraktif." Mata Tika tampak berkaca-kaca.


"Bukan begitu! Dengarkan aku Tika! Kamu sangatlah atraktif. Jujur saja, aku sekarang sangat bernafsu melihatmu seperti ini …"


"Tapi ..."


"Dengarkan dulu aku bicara sampai selesai!" Tika akhirnya diam setelah melihat keseriusan di mata Rian.


"Tika, di mataku, kamu sangatlah atraktif. Jadi jangan pernah bilang seperti itu lagi. Percayalah pada dirimu sendiri! Dan untuk permasalahan taruhan tadi, itu semua hanyalah bercanda. Aku nggak serius. Aku hanya ingin menjahilimu karena kamu nggak pernah terbuka padaku. Kamu nggak pernah bisa berkata jujur saat di depanku. Maka dari itu, aku melakukan lelucon tadi." jelas Rian.


Kemudian Rian memegang tangan Tika. "Kalau bisa, terbukalah padaku. Aku juga ingin bisa dekat denganmu seperti halnya kamu dan Alena. Aku tahu kamu begini sejak Kakakmu difitnah. Tapi aku, Guntur, Adi, dan Livia berbeda. Kami tidak pernah memandang mu dengan negatif hanya karena masalah itu. Percayalah padaku."


Seketika itu juga, Tika langsung memeluk Rian. Ia menempelkan wajahnya pada dada Rian dan menangis. "Hiks hiks hiks" Rian hanya bisa mengusap-usap punggung Tika.


10 menit kemudian, tangisan Tika mulai terhenti. "Terima kasih atas segalanya. Jujur saja, sejak kejadian bom itu, aku sudah bertekad untuk lebih membuka diri pada kalian. Namun, aku bingung harus bagaimana. Aku juga takut kalau hanya aku yang berpikir bahwa aku adalah teman mereka. Aku takut mereka membenciku, apalagi dengan sikapku selama ini …"


"Aku yakin Livia, Guntur, Adi, dan Alicia pasti menganggapmu sebagai teman. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Dan yang pasti, aku nggak membencimu. Aku malah menyukaimu, seba– mmmh!" Belum selesai berbicara, Tika mendadak mencium Rian.


Rian terkejut dengan aksi Tika. Namun karena ia dari tadi sudah sangat bernafsu, ia pun menikmati ciuman Tika. Tanpa perlu dikomando lagi, tangan Rian mulai menyentuh gunung kembar Tika. Rian pun takjub dengan betapa besarnya gunung kembar tersebut. Di tangannya, gunung kembar tersebut sangatlah lembut dan empuk. Mereka pun akhirnya bermain-main beberapa ronde sampai pagi.


Walau Rian sudah sangat bernafsu, namun ia tetap menjaga komitmennya untuk tidak bercocok tanam dahulu sebelum menikah. Jadi, yang mereka berdua lakukan hanyalah sebatas oral dan rabaan.


Di atas kasur, kini Tika tidur bersandar pada dada Rian. Mereka berdua sekarang sama-sama tidak mengenakan busana. Hanya sebuah selimut tebal lah yang menutupi tubuh mereka. Tampak, ekspresi lelah dan bahagia terpancar dari wajah Tika. Ekspresi ini berbanding terbalik dengan Rian yang kini wajahnya terlihat penuh penyesalan. 'Kenapa aku melakukan ini!'


......................


Tok Tok Tok


"Tika~" panggil Alena.


"Kok nggak ada jawaban ya? Biasanya Tika jam segini sudah bangun." Alena mencoba menghubungi ponsel Tika. Namun tidak diangkat juga. Terlihat pada ponsel Alena, bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 07.30.

__ADS_1


"Tika, ayo sarapan …" Alena mengetuk pintu selama satu menit penuh, namun tidak ada jawaban. "Apa dia kelelahan sampai nggak bisa bangun ya?"


"Oke lah, nanti aku coba bangunin lagi. Sekarang aku pergi ke kamar Rian dulu." Di saat yang sama, Livia juga berjalan menuju kamar Rian. "Pagi Livia …"


"Pagi Alena … tumben kok sendiri, di mana Tika?"


"Kayaknya belum bangun. Udah aku ketuk, aku telepon, tapi nggak ada jawaban."


"Hmm, mungkin dia kelelahan."


"Kamu mau pergi ke kamar Rian juga ta?"


"Iya, kamu juga?" Livia langsung bersikap waspada.


"Iya, ke sana bareng yuk!" ajak Alena sambil tersenyum.


"Cih, padahal aku ingin berduaan saja di kamarnya Rian."


Urat-urat seperti tanda hashtag (#) muncul pada wajah Alena. Senyuman tulusnya pun berubah menjadi senyuman palsu. 'Sabar Alena, sabar … aku sendiri lah yang meminta Rian untuk merahasiakan hubungan kami. Aku juga lah yang meminta Rian untuk berpura-pura menjadi pacar Livia. Jadi hal seperti ini sudah pasti terjadi. Sabar … sabar …'


'Lagi pula, aku yakin Rian nggak bakal tergoda dengan Livia. Dadanya saja lebih kecil dariku. Nggak bakal Rian nafsu denganmu! Jadi percuma saja mereka berduaan. Nggak akan terjadi apa-apa di antara mereka. Benar, itu benar! Aku juga harus percaya pada orang yang aku cintai!' Alena akhirnya bisa menyakinkan dirinya sendiri untuk tenang dan tidak terprovokasi ucapan Livia.


Saat mereka berdua telah sampai di depan kamar nomor 3803, Livia memanggil Rian. "Rian … apa kamu sudah bangun?"


Tok Tok Tok


"Rian~"


"Mmm? Selamat pagi sayang …"


Mmmuchh


Tika mencium bibir Rian dengan lembut. Tampak wajah kantuknya sangatlah seksi dan imut. Namun, suara ketukan di luar pintu membangunkan Rian dan Tika dari suasana romantis ini.


Tok Tok Tok


"Rian …" Kali ini, suara Alena yang terdengar dari luar.


"Alena?" Tika juga ikut panik setelah sadar bahwa Alena datang ke kamar Rian.


"Bagaimana ini, bagaimana ini!? Aku nggak mau hubungan kita diketahui Alena! Aku nggak mau membuat teman dekatku sedih!" ucap Tika yang panik.


'Kenapa aku merasa djavu dengan ucapan Tika ya?' Rian kemudian memeluk Tika untuk menenangkannya. "Tika, tenanglah. Kalau kamu panik begini, maka Alena akan mendengar suaramu …"


Akhirnya, Tika menjadi sedikit tenang. "Sekarang, kita berpakaian terlebih dahulu. Lalu, kamu bersembunyi di balik pintu masuk. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Saat itulah, kamu segera keluar dan kembali ke kamar. Mandilah dan kembali kemari setelah itu. Bagaimana?"

__ADS_1


Tika mengangguk atas instruksi Rian. Dengan tergesa-gesa, Tika segera bangun dan mulai memakai pakaiannya.


Tok Tok Tok


"Rian~"


'Anjir, mereka berdua nggak sabaran banget!' gumam Rian sambil memakai pakaiannya.


Setelah Rian dan Tika berpakaian lengkap, Tika mencium pipi Rian. "Tolong jangan tinggalkan aku ya sayang …" Kemudian Tika langsung berdiri di belakang pintu sesuai instruksi Rian.


'Ingin ku menolakmu, tapi itu hanya akan membuatmu kembali tertutup …' Rian dilema dalam menangani masalah ini. 'Masa bodoh lah. Akan ku pikirkan nanti. Sekarang yang terpenting adalah aku bisa mengeluarkan Tika dari kamarku tanpa sepengetahuan Livia dan Alena!'


"Iya-iya, sebentar …" teriak Rian menjawab panggilan Livia dan Alena.


Rian kemudian membuka pintunya sambil berpura-pura mengantuk. "Pagi Livia, Alena … ada apa pagi-pagi datang kemari?"


"Ini sudah setengah delapan, ayo ke kita sarapan." ajak Livia.


"Hooaam … oke, aku mandi dulu."


Saat Rian akan menutup pintunya, Livia langsug menghentikannya. "Bolehkah aku menunggu di dalam?"


Pertanyaan ini sudah Rian prediksi sebelumnya. "Tentu saja, ayo masuk!"


Livia dan Alena kemudian masuk ke kamar Rian. Kemudian, Rian langsung membuka bajunya di depan Livia dan Alena.


"Kyaaa~" Mereka berdua pun berteriak dan menutup mata mereka dengan telapak tangannya. Di saat yang sama, Tika menyelinap keluar dari balik pintu. Rencana ini sukses. Livia dan Alena sama sekali tidak menyadari kalau Tika menyelinap keluar.


"Ah, maaf-maaf, kebiasaan. Heheheheh …" pinta maaf Rian. Kemudian Rian segera menuju kamar mandi.


Setelah 10 menit mandi, Rian kini tampak lebih bersih dan tampan. Ia kini hanya menggunakan kaos casual. Livia dan Alena pun terpana melihatnya.


"Rian, aku merasa kok di sini ada bau agak aneh ya?" tanya Livia.


"Bau aneh?" Rian langsung sadar bau apa yang dimaksud Livia. Ini adalah bau dari cairan yang Rian keluarkan saat bermain dengan Tika.


"Iya nih, kayak ada amis-amisnya gitu. Aku kayaknya pernah mencium bau ini, tapi bau apa ya?" pikir Alena sambil memiringkan kepalanya.


Rian semakin keringat dingin mendengar ucapan Alena. Rian yang agak gugup kemudian duduk di tempat tidurnya. "Mungkin petugas kebersihannya kurang bersih dalam membersihkan kamar ini."


"Ummm, bisa jadi sih …"


Pada saat yang sama, saat tangan Rian kebetulan menelusup ke balik bantal di sofa, ia merasa ada suatu benda di balik bantal. 'Bukankah tekstur ini, Bra?'


Tangan Rian semakin gemetaran. 'Anjir, kenapa Bra milik Tika ketinggalan!'

__ADS_1


__ADS_2