
Dua minggu kemudian, kakek Rayhan dikabari dari pihak rumah sakit jika keadaan Dane berangsur membaik, alat-alat medis yang menancap pada tubuh Dane beberapa sudah dilepaskan, pria tua itu sangat senang dan dia ke rumah sakit, duduk tepat di samping ranjang cucunya. Cucu yang sangat dia rindukan.
"Apa kabar, Kakek," sapa Dane lirih pada Kakeknya.
"Aku baik cucuku, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu sudah lebih baik?"
"Aku merasa seolah hidup kembali. Kek, terima kasih Kekek sudah berusaha untuk tidak membiarkan aku pergi."
Kakek tua itu pun menangis dan menggenggam erat tangan cucunya. "Kamu memang tidak boleh pergi, Nak karena tugasmu sebagai daddy belum selesai. Arsenio masih membutuhkan kamu, bahkan Kakek pun juga masih membutuhkanmu."
"Bagaimana kabar Arsen? Apa dia baik-baik saja?"
"Putramu baik-baik saja, walaupun dia sempat sakit dan dirawat beberapa hari di rumah sakit lain, tapi sekarang dia sudah kembali ceria seperti dulu karena kakek mengatakan dia akan segera bertemu dengan daddynya."
"Kasihan dia, aku sangat merindukannya, walaupun aku terbaring di sini tapi aku selalu teringat dengan wajahnya."
"Dia juga sangat merindukan kamu, Dane. Segeralah pulih dan kita kembali ke rumah bersama-sama seperti dulu."
"Kek, aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tanya apa, Nak?"
"Kek, jantung siapa yang ada dalam tubuhku?"
Kakek Rayhan sudah menduga jika Dane akan bertanya tentang hal itu. "Pertanyaan itu nanti saja aku jawab setelah kamu pulang ke rumah, sekarang kamu harus sembuh dulu."
"Kek, apa Kakek sedang merahasiakan sesuatu dariku?"
"Dane, tidak ada rahasia yang kakek sembunyikan darimu. Sekarang kamu beristirahatlah dulu."
Dane memejamkan kedua matanya kembali dan Dane tahu jika kakeknya tidak suka dipaksa, jad, sebaiknya dia menunggu saja.
Di tempatnya, Denna hidup dan bekerja seperti biasanya. Dia banyak menghabiskan waktu di rumah sakit daripada di rumah yang sekarang terasa sepi. Denna juga selalu datang ke makam Dimas setiap hari untuk bercerita kegiatan apa saja yang hari ini dia lakukan. Denna benar-benar menghabiskan waktunya, dia tidak ingin memiliki waktu untuk memikirkan kepergian Dimas karena hal itu sangat menyakitkan.
"Denna, apa kamu nanti malam mau ikut aku dan mas Rio nonton? Kita mau nonton film kesukaanmu. Film horor."
__ADS_1
"Enak saja! Siapa yang suka film horor? Lagian aku tidak mau menjadi orang ketiga di antara kalian, apa lagi orang ketiga, kan, katanya setan."
Diaz langsung tertawa ngakak. "Tentu saja kita tidak bertiga. Aku akan mengajak saudara sepupunya mas Rio, namanya Fabio. Dia baru saja datang dari luar negeri tepatnya dari Inggris, dia seorang guru dan aku pernah bertemu dengannya, dia baik sekali dan sangat kalem." Denna hanya terdiam, dia tidak tahu harus mengatakan apa?
"Diaz, kamu dan mas Rio pergi nonton berdua saja, aku mau istirahat saja di rumah karena besok aku ada pertemuan dengan para dokter muda. Jadi, aku mau istirahat saja malam ini."
Diaz memegang tangan Denna. "Kamu jangan begitu, kamu juga butuh hiburan jangan hanya memikirkan kerja, kerja dan kerja. Ya, walaupun kita tiap hari senang bisa melihat anak-anak kecil tertawa, nangis, dan. merengek."
"Aku benar-benar ingin istirahat saja, Diaz. Kapan-kapan saja kita jalan-jalannya, aku juga sedang menunggu V datang ke sini, dia bilang ingin mengajakku jalan-jalan kalau dia cuti beberapa hari Indonesia."
"V? Kamu ada hubungan spesial ya sama V?"
"Hubungan spesial apa? Aku tidak ada hubungan spesial dengan V, dia adik iparku dan dia sangat baik serta menghormati."
"Denna, kalaupun kamu punya hubungan dengannya juga tidak ada masalah, bukannya dulu dia juga sangat menyukaimu sebelum dia tahu kakaknya menyukaimu."
"Aku tidak mau memikirkan hal itu, Diaz, aku masih sangat mencintai Dimas dan belum bisa melupakannya. Mungkin Dimas tidak akan tergantikan
"Memang Dimas tidak akan pernah tergantikan di hati kamu, tapi apa kamu juga akan terus hidup menyendiri seperti ini? Kamu juga suatu saat butuh seorang pendamping. Dirimu masih muda, Dena, Dimas pun tidak akan marah jika kamu memiliki seseorang lagi."
"Denna, aku ingin melihatmu bahagia karena kamu sahabat terbaikku dan aku sedih jika melihatmu sedih."
"Kamu tenang saja, aku tidak akan sedih karena ada anak-anak pasienku yang sangat lucu-lucu. Sekarang aku mau pulang karena pekerjaanku sudah selesai.
"Oh ya aku juga mau pulang. Apa kamu mau ikut pulang bersamaku dan mas Rio?"
"Tidak usah, aku akan pulang sendiri, aku juga mau pergi ke toko kue di dekat rumah sakit ini."
"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati, Denna."
"Iya, Diaz."
Denna sengaja hari ini tidak ingin dijemput oleh supir ayahnya. Dena ingin berjalan sebentar menikmati udara sore yang sangat cera, dan Denna juga ingin mampir sebentar ke toko kue untuk membeli kue kesukaan Dimas dan sekarang menjadi Kesukaan Denna.
Denna sebenarnya bisa membawa mobil, tapi ayahnya melarang karena Jaden takut putrinya itu kenapa-napa di jalan dengan kondisi baru saja kehilangan suaminya.
__ADS_1
Denna melihat cupcake yang bentuknya sangat lucu dan Dimas sangat suka sekali dengan semua rasa cupcake.
"Dokter cantik ada di sini?" sapa seorang bocah yang Denna kenali sangat baik.
"Nio, kamu ada di sini?" Denna melihat bocah itu memakai seragam lengkapnya.
"Iya, aku tadi baru pulang sekolah dan meminta untuk membeli kue di sini karena kue di sini sangat enak."
"Aku juga sangat menyukai kue di sini. Nio, kamu mau kue apa? Biar aku belikan."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Sekarang kamu pilih yang mana?"
Bocah kecil itu ternyata bersama paman Sam yang baru saja masuk ke toko kue setelah dia pergi sebentar ke toko sebelah membeli salad buah kesukaan Dane.
"Nona Dena apa kabar?"
"Paman Sam, aku baik dan senang sekali bisa bertemu di sini."
"Iya, Paman juga tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini."
"Dokter cantik, aku mau kue ini, ini dan ini." Bocah kecil itu menunjuk beberapa kue yang ada di sana.
"Nona Denna juga ingin membeli kue? Silakan pilih, biar nanti aku membayarnya."
"Paman Sam, dokter cantik yang akan mentraktirku."
"Tapi Nio, kenapa harus dokter cantik yang belikan? Kita saja yang belikan,dokter cantik karena sudah baik merawat Nio waktu itu."
"Oh begitu ya?"
"Jangan begitu, Paman Sam, biar aku yang belikan. Aku mohon." Raut wajah Denna tanpa memelas.
Akhirnya paman Sam membiarkan Denna yang membayarnya. "Terima kasih atas kue cup cakenya. Oh ya, Nona Denna, Tuan muda Dane keadaanya sudah berangsur membaik, dia juga sudah bisa bicara dengan kakek."
__ADS_1
Saat mendengar itu ada sesuatu dalam hati Denna yang dia rasakan, tapi Denna sendiri tidak dapat mengartikannya.