Stay Beside You

Stay Beside You
Pergi Bersama part 1


__ADS_3

Masa kecil Dane dan Dimas hanya sampai di sana karena Dane harus pindah ke luar negeri setelah kematian ayahnya, dan ibunya pergi entah ke mana?


Dane diajak pergi oleh kakeknya dan selama ini kakeknya yang merawat Dane.


"Dane, ada apa kamu ke sini?"


"Tante, apa bisa aku bertemu dengan Denna?"


"Tentu saja, tapi Denna sedang ada di kamarnya. Mari Tante antar kamu ke atas."


"Terima kasih." Dane mengangguk perlahan.


Pintu kamar Denna diketuk oleh mamanya dan wanita yang sedang melihat foto suaminya itu menyuruh mamanya masuk. Denna tidak tau jika di sana juga ada Dane.


"Dane? Ada apa kamu ke sini?"


Dane melihat pada Nara. Nara yang merasa jika Dane ingin bicara empat mata dengan Denna izin turun ke lantai bawah dan meninggalkan mereka berdua di atas.


"Dane, ada apa kamu ke sini?"


Dane melihat pada bingkai foto yang Denna letakkan terbalik di sampingnya.


"Apa itu foto suami kamu?"


"Iya, ini foto suamiku."


"Apa aku boleh melihatnya?"


Denna agak terkejut mendengar hal itu, tapi sebenarnya Denna tidak terlalu takut karena Dane juga pasti tidak tau itu Dimas. Wajah Dimas saat Dewasa juga akan berubah seperti halnya Dane.


"Boleh aku melihatnya?"


"Untuk apa?"


"Aku ingin melihat bagaimana wajah sahabat masa kecilku yang sudah menepati janjinya untuk memberikan jantungnya padaku."


Deg!


Denna tampak terkejut mendengar apa yang baru saja Dane katakan. "Kamu sudah tau tentang Dimas?"


"Sudah. Kenapa kamu harus menyembunyikan hal ini dariku? Aku tiap malam memikirkan ingin tau siapa yang sudah sangat baik memberikan donor jantungnya padaku. Apa salah jika aku mengetahui hal itu?"


Denna memberikan foto Dimas pada Dane. "Aku hanya ingin semua ini tidak perlu dibahas lagi, bahkan mungkin jika Dimas bisa berkata, dia juga tidak akan mau orang itu tau. Dane, sangat berat saat aku mengambil keputusan untuk memberikan jantung milik suamiku, tapi aku harus melakukannya, setidaknya Nio dan kakek tidak akan mengalami kesedihan ditinggal oleh orang yang mereka sangat sayangi."

__ADS_1


"Apa dia Dimas?"


Denna mengangguk. "Aku menyetujui transplantasi itu dan berharap setelah ini aku tidak memiliki urusan lagi dengan keluarga si pemilik jantung Dimas agar aku tidak terlalu sakit karena sudah memberikan jantung suamiku pada orang lain, tapi ternyata Tuhan ingin aku dekat dengan Nio. Namun, aku juga sangat berterima kasih karena bisa kenal dengan Nio. Dia bocah yang bisa membuatku sedikit melupakan kerinduanku pada Dimas karena Dimas sangat menyukai anak-anak."


Dane memandangi foto sahabat kecilnya yang banyak berubah. "Kenapa dia sangat tampan? Tapi sekarang aku membencimu, Dimas. Kenapa kamu harus pergi sebelum kita bertemu?"


"Sayangnya, Dimas belum pernah bercerita tentang kamu. Jika aku masih diberi kesempatan lebih lama dengan Dimas, pasti dia akan bercerita tentang kamu."


"Apa kamu bisa memberitahuku di mana dia di makamkan?"


"Aku nanti ingin ke sana karena aku tiap hari tidak ingin pernah melewatkan hari tanpa bertemu dengannya." Denna meneteskan air mata.


"Kalau begitu aku akan mengantarmu. Setidaknya aku bisa mengucapkan terima kasih padanya walaupun hanya di depan makannya."


"Baiklah."


"Denna, aku permisi dulu dan nanti aku akan menjemputmu." Denna mengangguk dan Dane izin pergi dari sana.


Nara yang baru saja naik untuk membawakan Dane minuman malah berpapasan dengan Dane di anak tangga.


"Dane, kenapa sudah pulang, ini Tante bawakan minuman untuk kamu?"


"Terima kasih,Tante, tapi aku harus menjemput Arsen pulang sekolah."


"Iya, Tante." Dane kembali menuruni anak tangga.


Nara yang penasaran sebenarnya ada perlu apa Dane datang ke sana? Saat Nara masuk ke dalam kamar Denna, dia terkejut melihat putrinya menangis memeluk foto Dimas.


"Ada apa Dane ke sini, Denna?"


"Dane sudah tau jantung siapa yang ada pada tubuhnya." Denna mengusap air matanya.


"Jadi, dia sudah tau jika jantung itu milik Dimas sahabat kecilnya waktu dulu?"


"Iya, dia agak marah karena aku tidak memberitahunya selama ini."


"Memang selama ini kamu seharusnya memberitahu Dane tentang ini."


"Ma, aku nanti mau ke makam Dimas."


"Tapi dengan siapa? Ayah kamu nanti ada rapat di luar sampai malam, sebaiknya kamu tunda lagi saja ke sana."


"Aku dengan Dane, Ma."

__ADS_1


"Oh, ya sudah kalau begitu, kamu boleh pergi dengannya," ucap Nara cepat.


"Kenapa cepat sekali berubah pikirannya?"


"Kalau sama Dane, mama tidak perlu khawatir." Nara tersenyum kecil.


Dane menjemput putranya sekolah dan membawanya pulang. Dane lalu memberitahu pada putranya jika dia harus kembali ke kantor karena ada urusan penting.


"Daddy akan segera pulang dan nanti Daddy yang akan menemani kamu belajar. Tunggu Daddy."


"Okay, Dad. Hati-hati di jalan."


Dane segera mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju rumah Denna. Dane sengaja tidak mengatakan sejujurnya pada putranya karena dia tidak mungkin membawa putranya ke makam Dimas dan tau tentang semua ini.


Dane sudah sampai di rumah Denna dan Dane menggendong Denna dari lantai atas turun ke bawa.


Dia mendudukan Denna di sampingnya. Dane izin kepada Nara untuk membawa Denna pergi sebentar.


"Aku akan membantu kamu memakaikan sabuk pengamannya." Jarak mereka seketika sangat dekat, bahkan Denna bisa mencium aroma napas Dane."


"Dane, kita berangkat sekarang," ucap Denna dengan menjeda setiap kata yang dia ucapkan.


"Oh, iya." Dane ini merasa aneh setiap kali memandang mata Denna, tapi sekarang dia mengerti jika mungkin hal itu terjadi karena jantung Dimas ada padanya."


Di sepanjang perjalanan, dua orang itu saling diam tidak mengucapakan satu katapun.


"Dane, apa kamu tidak merasa terbebani olehku?"


"Tentu saja tidak. Bagaimanapun kamu dan Dimas yang sudah sangat aku bebani dengan semua ini."


Dane mendudukkan Denna pada kursi rodanya dan dia mendorong Denna menuju batu nisan milik Dimas.


Di sana tertulis nama panjang Dimas dan tanggal di mana Dimas meninggal.


"Seharusnya di tanggal itu juga, Dane berupa hanya batu nisan sama seperti Dimas, tapi karena jantung yang sekarang berdetak sangat baik pada dada Dane, membuat Dane bisa berdiri di samping Denna.


"Dimas, terima kasih sudah mengizinkan jantungmu berada padaku, walaupun sebenarnya kalau aku boleh memilih, aku memilih jantung ini berdetak baik padamu dan kita bisa bertemu."


"Dane, tidak perlu dibahas lagi masalah jantung itu. Dimas pasti juga senang, melihat kamu lebih baik dari sebelumnya."


Beberapa menit mereka di sana, dan selama itu Dane mencuri pandangan melihat ke arah Denna yang beberapa kali juga menyeka air matanya.


Dane melihat begitu besar cinta Denna pada Dimas. Dane memegang dadanya yang terasa aneh.

__ADS_1


__ADS_2