
Jaden juga tampak bingung, tapi menurutnya hal ini pun memang Denna harus mengetahuinya dan setelah dia mengetahuinya, Denna berhak memutuskan semuanya.
"Nara, jujur saja aku khawatir jika Denna bersama Dane mengingat musuh Dane pasti banyak."
"Sayang, bukannya kita pernah membahas hal ini. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Lihatlah kehidupan kita sekarang. Denna aka. baik-baik saja, apa lagi dia juga memiliki kamu yang tidak akan pernah membiarkan putrimu disakiti siapapun."
"Tentu saja! Ada yang berani menyakiti putriku, tidak akan pernah aku lepaskan," ucapnya lantang.
"Aku percaya. Sayang, apa kita perlu mengatakan pada Denna?"
"Dane saja. Jika dia ingin serius menikah dengan Denna, dia sendiri yang harus jujur akan semuanya. Apa perlu aku bicara dengan Dane?"
Nara duduk di sebelah suaminya. "Kamu saja selama ini tidak mengatakan siapa dirimu dulu."
"Aku melakukan itu karena memiliki alasan yang kuat, Nara."
"Dane mungkin juga memiliki alasan yang kuat. Dane tidak ingin kehilangan putrimu."
Kedua orang itu sekarang saling memandang. "Ehem! Kalian sedang apa?"
Denna tiba-tiba ada di sana. Kedua orang tuanya itu beneran tidak sadar jika Denna ada di sana.
"Kami sedang berbicara soal kamu dan Dane."
"Mama! Apa Mama bercerita soal makan malam aku itu?"
Nara langsung menggeleng. "Oh ... Jadi Dane mengajak kamu makan malam?"
"Huft! Ayah jadi tau kalau begini." Denna duduk di depan ayahnya.
"Memangnya kenapa kalau ayah kamu tau? Kamu inikan masih tanggung jawab ayah selama kamu belum menikah, Denna."
"Iya, Yah, tapi aku, kan, malu kalau ayah sampai tau. Nanti ayah tertular Mama yang sukanya menggodaku." Lagi-lagi bibir Denna cemberut.
"Kamu tenang saja, Sayang. Ayah ini, kan adalah ayah kesayanganmu. Jadi, ayah tidak akan menggoda kamu."
Denna tersenyum lebar. Dia memiliki pendukung di rumah itu. "Hem! Kalian ini ayah dan anak memang sangat kompak. Ya sudah, sekarang kalian makan dulu."
Nara beranjak dari tempatnya. "Mama mau ke mana?"
"Mama mau membantu nenek buyut kamu di taman depan sebentar untuk membantu membawakan alat-alat berkebunnya."
Nara yang menuju pintu, terkejut karena wanita tua yang mau di susulnya sudah masuk dan membawa sebuah goodie bag berukuran besar.
"Nenek? Kenapa membawa barang besar seperti ini? Mana pelayan lainnya dan kenapa membiarkan nenek membawanya?" Nara mengedarkan matanya mencari salah satu pelayan di sana karena dia ingin memberitahu agar jangan teledor membiarkan wanita yang sudah sepuh, apa lagi kakinya sakit membawa barang yang banyak.
"Nara, aku tidak apa-apa, dan kamu tidak perlu khawatir akan hal itu." Tangan yang terlihat beberapa keriputan tampak mengusap lembut pundak Nara.
__ADS_1
"Jangan seperti itu, Nek, aku pokoknya tidak mau kejadian ini terulang lagi." Nara terlihat serius.
"Iya-iya. Nenek minta maaf karena tadi nenek yang minta saja untuk mengantarkan paket ini untuk putrimu."
"Paket untuk Denna? Dari siapa, Nek?"
"Dane," ucap nenek cepat.
"Dane?"
Nara mengambil goodie bag yang di letakkan di atas meja dan membaca nota kecil yang ada di tali tas itu.
"Ini memang dari Dane." Nara segera membawa goodie bag itu ke arah dapur.
"Mama, itu apa?"
"Tidak tau, Nak. Kamu buka saja karena ini pemberian Dane untuk sang dokter cantik."
"Dane?" Denna segera beranjak dari tempatnya dan hendak berjalan melihat orang yang mengajak Denna makan malam.
"Bukan Dane yang mengantarnya, Denna. Tadi ada pegawai khusus tempat dimana Dane bekerja yang mengantar."
"Hutf!" Denna berjalan malas menuju tempat duduknya lagi.
"Kamu, kan nanti malam akan bertemu dengan sang pujaan hati"
"Dia sebal sekali saat aku goda Seperi itu."
Mereka bertiga malah terkekeh di sana.
Di dalam kamarnya, Denna yang sudah tidak sabar mengetahui isi dari paket itu segera membukanya. Sebuah kotak berwarna coklat tua mix muda, dan saat dibuka ternyata sebuah gaun berwarna hitam dengan banyak Glitter merata di seluruh bagian baju itu.
"Gaun ini cantik sekali." Kedua mata Denna mengedar melihat gaun yang diberikan oleh Dane.
Denna mengambil ponselnya dan dia menghubungi pria itu. Tiga kali panggilan Denna tidak dijawab oleh Dane.
"Apa dia masih tidur? Mungkin dia masih di kamar mandi."
Denna mengirimi Dane pesan dan kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi karena dia juga harus bersiap-siap pergi ke rumah sakit.
Denna keluar dan melihat pada ponselnya. Danne belum membaca pesannya.
"Aku coba sekarang saja. Aku penasaran apa dia bisa memilihkan baju yang pas buatku?"
Denna mencobanya, dan dia melihat pantulan dirinya di dalam cermin panjang yang ada di dalam kamarnya.
Mulut Denna terbuka sedikit saat melihat dirinya sendiri di dalam cermin. Dia tidak menyangka jika gaun yang diberikan oleh Dane sangat pas melekat pada tubuhnya.
__ADS_1
"Wah... ! Cantik sekali putriku ini," suara Nara mengejutkan Denna yang sedang bercermin sehingga wanita muda itu langsung merona malu.
"Mama! Kenapa selalu mengejutkan aku?"
"Eh! Kamu mau ke mana?"
"Ganti baju, Ma."
"Mama lihat dulu." Nara memutar tubuh putrinya beberapa kali. Memperhatikan dari depan belakang kembali ke depan lagi.
"Mama, aku mau bersiap-siap."
"Dane pandai sekali memilihkan gaun ini dan dia bisa pas sekali memilihkannya. Sepertinya dia sudah mengenal kamu dengan baik."
"Apa sih, Ma? Ma, aku mau berganti baju dulu. Mama bisa keluar sebentar tidak?"
"Ya sudah, mama akan menunggumu di bawah."
Nara berjalan keluar dan Denna sekali lagi melihat dirinya pada cermin.
"Kenapa kamu bisa sekali memilihkan gaun seindah ini."
Saat Denna sedang berganti baju, tiba-tiba ponselnya berdering dan dia melihat ada nama Dane di sana.
"Dane? Aduh! Pria ini kenapa kadang membuat orang bingung saja.
Denna menjawab panggilan video yang Dane minta. " Denna, kenapa kamu menunjukkan pemandangan kamar kamu?"
"Dane, apa kita bisa bicara telepon biasa saja? A-aku sedang berganti baju saat ini."
"Oh, maaf. Kalau begitu aku matikan saja panggilannya." Dane beralih pada panggilan telepon biasa. Denna senang pria ini sopan padanya, walaupun dia kali menciumnya tanpa permisi, tapi kalau permisi kan aneh jadinya.
"Denna, kamu kenapa diam saja?"
Suara Dane membuat Denna yang tadinya melamun jadi tersadar akan lamunannya.
"Tidak apa-apa. Dane, terima kasih gaunnya sangat indah dan aku menyukainya."
"Nanti malam kamu bisa memakainya."
"Tentu saja." Denna terkekeh.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Sebenarnya, tadi waktu aku berlari pagi dengan mamaku, aku meminta tolong untuk mencarikan gaun yang pas untukku, tapi ternyata kamu memberi kejutan yang tidak pernah aku sangka."
"Aku melihat gaun itu dan entah kenapa aku merasa gaun itu pasti akan terlihat cantik jika kamu yang memakainya."
__ADS_1