Stay Beside You

Stay Beside You
Di Rumah Dane part 1


__ADS_3

Denna dan Dane sudah berada di dalam mobil. Denna tampak kesal pada Dane sampai dia tidak bisa memasang sabuk pengamannya.


"Kamu mau apa?"


Pria itu wajahnya sangat dekat dengan Denna. "Mau membantumu memasang sabuk pengamanmu."


Dane kembali pada posisi duduknya. Denna masih menatap kesal pada Dane. "Kenapa Nio bisa sampai sakit? Dia pasti kecapekan dan makan yang tidak teratur," omel Denna.


"Aku tidak tau, Denna."


"Bagaimana bisa kamu tidak tau? Kamu itu ayahnya, Dane. Seharusnya kamu lebih mengerti putramu."


"Mungkin Arsen memang membutuhkan seorang mommy baru," ucap Dane tanpa melihat pada lawan bicaranya.


"Kenapa kamu tidak menikah saja. Zia pasti cocok menjadi mommy baru untuk Nio. Dia seorang guru yang sangat perhatian."


"Tapi sepertinya seorang dokter lebih pantas menjadi mommy baru Nio. Semua hal tentang kesehatannya akan lebih terjamin." Dane sekali lagi bicara tanpa melihat lawan bicaranya karena dia sibuk untuk menyalakan mesin mobilnya dan mobil pun berjalan pergi dari sana.


Denna menutup mulutnya setelah mendengar apa yang Dane katakan. Dia tidak mau berdebat lagi dengan pria di sampingnya.


Perjalanan ke sana membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Mereka sudah sampai di rumah besar milik keluarga Danu Atmaja.


Dane membawa Denna masuk ke dalam. "Kakek Rayhan dan paman Sam ke mana?"


"Kakekku pergi ke luar kota dan Paman Sam ada bersama Nio di kamar."


"Keluar kota?" Kedua alis Denna mengkerut. Dia curiga jika nenek dan kakeknya Dane pergi bersama.


Bocah kecil itu terbaring di atas tempat tidurnya. Denna menyapa paman Sam dan kemudian dia memeriksa keadaan Nio.


"Apa sudah kamu ukur suhu tubuhnya?"


"Belum, aku cuma mengompresnya dan memberikan obat penurun panas. Dia mau aku bawa ke rumah sakit, tapi tidak mau karena dia mau kamu saja yang memeriksanya."


Denna mengambil termometer yang dia selipkan di bawah ketiak Nio. Pria kecil itu masih memejamkan kedua matanya.


Denna mengambil termometer dan ternyata Nio masih demam. Angka tiga puluh sembilan terlihat pada layar termometer ini.


Denna membuka perut Nio dan mulai memeriksanya dengan stetoskop.


Perlahan, bocah kecil itu terbangun dan tersenyum melihat Denna. "Tante Denna, aku sakit," ucapnya lirih.


"Nio sudah makan? Setelah ini makan dan nanti minum obat yang aku berikan. Mau, kan?"


Bocah itu malah menggeleng pelan. "Kenapa tidak mau?"

__ADS_1


"Tenggorokan aku sakit, dan perutku tidak enak, Tante Denna."


Denna mengambil sudip lidah dan penlight atau senter medis untuk memeriksa tenggorokan Nio.


"Merah. Dane, aku akan memberikan resep dan jika dalam waktu tiga hari Nio masih panas. Dia harus melakukan tes darah di rumah sakit."


Denna menuliskan resep obat dan Paman Sam meminta agar dia saja yang membelikan resep obat itu.


"Apa aku boleh meminjam dapurmu?"


"Tentu saja boleh."


"Tante Denna mau apa?"


"Tante Denna mau membuat bubur keajaiban untuk Nio. Nanti saat obatnya datang, Nio minum obat dulu sebelum makan supaya perutnya nyaman. Kemudian makan dan minum obat."


"Jangan pergi dari sini, Tante. Aku tidak mau makan."


"Aku pulang saja kalau Nio tidak mau makan masakan buatanku." Denna manyun, dan Dane malah tersenyum melihat pada Denna.


"Biar Daddy gendong kamu dan kita menemani Tante Denna membuat bubur keajaiban. Apa tidak ada nama lain?" Dane melihat pada Denna.


"Memangnya kenapa nama itu. Nama itu juga bagus." Denna melengos berjalan lebih dulu di depan mereka.


"Iya, dan wajah Tante Denna juga lucu." Mereka berdua malah ghibah tentang Denna.


Denna berada di dapur dan Dane menyuruh salah satu maid membantu Denna.


"Permisi, Ya, aku minta izin meminjam dapurnya."


"Silakan Nona Muda. Apa yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan di sana.


"Aku hanya minta tolong untuk disediakan beberapa bahan."


Dane melihat Denna sedang bicara serius dengan pelayannya dan setelah itu pelayan itu pergi untuk menyiapkan keperluan Denna.


Setelah semua siap. Denna mulai membuat masakan, dan dia tidak mau dibantu oleh pelayan di sana.


Denna tersenyum pada Nio yang duduk tepat di depannya, bocah itu sedang memperhatikan Denna membuat bubur.


Dane?


Tentu saja dia juga tidak melepaskan pandangannya dari sosok wanita yang mukanya ditekuk saat melihatnya.


Dane tau kenapa Denna ketus padanya, dan dia tidak menyalakannya.

__ADS_1


"Aduh! Mataku," erang Denna dengan salah satu matanya ditutup karena perih. Wanita itu bingung karena tangannya kotor dan tidak mungkin mengucek matanya.


Denna berjalan menuju wastafel. "Kamu diam dulu, biar aku yang membantumu."


Denna mematung saat Dane memegang kedua lengan tangannya. Wajah Dane tampak dekat dengan Denna. Bahkan Denna dapat merasakan embusan napas Dane.


Dane meniup perlahan mata Denna dan mengusap dengan kain bersih agar matanya tidak sakit.


"Sudah." Pria itu perlahan menurunkan tangannya dan sedikit mengenai pipi Denna membuat desiran aneh ada hati Denna.


Denna perlahan membuka satu matanya yang sakit dan dia sekarang dapat melihat wajah pria di depannya dengan jelas.


"Terima kasih." Denna segera kembali ke meja dapur untuk menyiapkan buburnya untuk Nio.


Beberapa menit kemudian. Paman Sam datang membawa obat yang diresepkan oleh Denna. Denna meminumkan obat agar perut Nio dapat makan dengan nyaman.


"Anak pintar! Tidak pahit, kan?" Bocah itu mengangguk. "Kita tunggu dulu sekitar lima belas menit. Nio berbaring di atas sofa atau mau mendengarkan cerita?"


"Cerita!" serunya senang.


Denna gantian menggendong Nio dan menyuruh Dane membawa bubur serta minuman Nio ke ruang tengah.


Paman Sam tampak tersenyum melihat Tuan Mudanya sangat menurut pada wanita yang bukan istrinya atau memiliki hubungan dengannya.


Dua orang yang lebih mirip ibu dan anak itu duduk bersama dan Denna membuka buku ceritanya.


"Tante, kenapa tidak dimulai membacanya?"


Denna melirik pada sosok Dane yang duduk di depannya. "Aku tidak bisa cerita jika ada orang lain di sini." Sebenarnya Denna itu menyindir Dane.


Pria itu tidak mengeluarkan sepatah katapun beranjak dari sana dan meminta paman Sam mengikutinya ke ruang kerja.


Wajah Denna bukannya senang melihat Dane pergi dari sana, tapi malah terlihat seperti dia tidak ingin Dane pergi dari sana.


Wanita memang membingungkan. Mungkin itu yang akan dikatakan Dane jika tau perasaan Denna saat ini.


Denna memulai cerita, sampai tiba saatnya Nio makan dan minum obat.


Bocah kecil itu tampak senang saat dekat dengan Denna. Dia seolah merasakan apa itu kasih sayang seorang ibu.


"Dia tertidur?" tanya Dane yang melihat Denna sedang menepuk-tepuk lembut punggung Nio.


Bocah kecil itu ternyata sudah tidur. Denna masih menjaganya di sana.


"Iya, sudah tidur."

__ADS_1


__ADS_2