
Dane mengatakan jika tidak ada apa-apa dengan Arsen, tapi hari ini dia akan menerima hadiah karena dia memenangkan lomba melukis di sekolahnya."
"Melukis?"
"Iya, semalam aku baru membaca informasi di grup sekolahnya." Dane terkekeh."
"Kenapa kamu tertawa?"
"Lucu saja karena di grup itu kebanyakan para mama dan aku lihat hanya aku yang seorang pria."
"Tidak apa-apa, kamu paling tampan sendiri." Denna malah menggoda Dane.
"Ehem ...! Aku ini orang loh, bukan hantu yang sedang menguping pembicaraan manis kalian," celetuk Diaz.
"Diaz! Kamu masih ada di sini?"
"Iya, aku pergi karena aku tidak mau mengganggu kalian. Bye, semua."
Diaz berjalan pergi dari sana. "Dia itu meskipun sedang dalam masalah yang besar, tapi dia bisa menyembunyikan dengan baik kesedihannya."
"Mungkin karena dia sudah pernah mengalami kesedihan lebih daripada ini." Denna mengangguk. "Ya sudah, sekarang kita pergi saja ke sekolah Nio."
Mereka berjalan beriringan. Perlahan tangan Dane menggapai tangan Denna tanpa melihat dan akhirnya mereka bergandengan tangan menuju arah parkiran mobil Dane.
Di dalam mobil Denna bertanya apa benar jika Dane suka melukis? Dan pria itupun mengakuinya.
"Kamu suka melukisku, ya? Kenapa tidak meminta izinku dulu kalau mau melukisku?"
"Aku memang salah karena melukismu tanpa meminta izin terlebih dahulu, tapi aku melukismu berdasarkan imajinasiku saja."
"Aku tidak marah, malahan aku senang karena lukisanmu sangat indah dan detail."
"Terima kasih. Oh ya! Apa kamu suka dengan lukisan yang Arsen berikan?"
"Suka sekali, malahan aku mau yang seluruh badan dan menggunakan kanvas yang ukuran besar. Jadi, nanti mau aku letakkan di rumahku sendiri."
"Kamu serius mau tetep pindah ke rumahmu sendiri. Apa tidak mau berubah pikiran?" Mobil Dane sudah berhenti dan dia memiringkan tubuhnya melihat serius pada Denna.
__ADS_1
"Tidak, Dane. Aku sudah putuskan dan yakin jika akan tinggal di sana sendirian."
Mereka turun dari dalam mobil dan berjalan masih dengan bergandengan tangan menuju kelas Nio.
Di dalam kelas Nio sudah sangat ramai karena ada beberapa wali murid lainnya yang hadir di sana.
Dane tetap menggandeng tangan Denna, dan tangan satunya melambai pada putranya yang ada di depan kelas.
Denna menangkap sosok yang sedang memperhatikannya dari tadi, dan sepertinya kedua mata orang itu melihat pada tangan Denna yang digandeng oleh Dane.
Denna tidak peduli dan dia tidak mau melepaskan tangan Dane. Denna ini sebenarnya kagum pada sosok Dane. Dia selalu menggandeng tangan Denna saat mereka jalan berdua. Kata mamanya, kalau pria yang memiliki perasaan pada seorang gadis dan saat mereka bersama dan selalu menggenggam tangannya, itu berarti pria itu sangat takut akan kehilangan orang yang di sayangi dan akan selalu berusaha menjaganya. Harus dipertahankan.
Bu guru mereka menunjukkan hasil gambar yang dilukis oleh Nio dengan tema keluarga.
Denna terkejut melihat lukisan Nio. Dia ternyata melukis saat mereka bertiga jalan-jalan ke kebun binatang. Saat Nio berada di pundak Dane dan bahkan Nio melukis saat Dane menggandeng tangan Denna, walaupun lukisan itu tidak sempurna, tapi makna tentang keluarga seolah terpancar dari lukisan itu. Setidaknya itu yang guru Nio katakan dan teman-teman lainnya juga menunjukan lukisannya di depan kelas.
Lukisan Nio banyak sekali yang memuji sangat bagus. Denna mengucapkan selamat pada bocah laki-laki itu.
"Tante, Ini buat Tante Denna." Nio memberikan piala dsn ada piagam penghargaan yang dia dapatkan dari sekolah.
"Kenapa diberikan pada Tante?"
Denna memeluk Nio haru dengan kata-kata yang Nio katakan. "Terima kasih, Sayang."
Dane berbincang dengan guru Nio dan Denna izin ke kamar mandi sebentar.
"Kamu pasti tidak lama akan menikah dengan mas Dane. Aku kira kamu dulu seorang dokter yang baik, tapi ternyata seperti ular berkepala dua.
Zia ternyata menunggu Denna keluar dari dalam kamar mandi.
"Zia, kalau kamu benar-benar tulus ingin menikah dengan Dane dan akan tulus menyayangi Nio. Aku juga tidak akan menghalangi hal itu."
"Aku memang mencintai Dane, tapi kalau menjadi ibu sambung itu hal yang masih sulit aku terima, Mba Denna karena aku juga masih sangat muda."
"Aku bisa paham akan hal itu, tapi kata-katamu terlalu buruk dan kamu sangat tidak pantas menjadi ibu bagi Nio. Seharusnya kamu mengatakan akan belajar untuk menjadi ibu bagi Nio, tidak malah sebaliknya."
Denna berjalan dari sana, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena tangannya ditahan oleh Zia.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Mba, aku menyesal dengan apa yang aku katakan. Aku akan berusaha untuk menjadi ibu yang baik bagi Nio. Mba, bantu aku agar mas Dane bisa memaafkan aku," ucapnya memohon.
"Zia, aku tidak akan menghalangimu jika kamu ingin dekat dengan Dane dan bersungguh-sungguh ingin berubah. Semua keputusan ada di tangan Dane."
Denna yang ingin pergi, sekali lagi tangannya dihalangi oleh Zia. "Aku pasti akan bisa dekat dengan Mas Dane jika kamu mengatakan tentang aku yang ingin berubah lebih baik karena aku yakin Mba Denna pasti sudah mengatakan tentang apa yang aku katakan dengan tanteku."
Denna tersenyum seolah tidak percaya dengan kata-kata Zia. "Asal kamu tau jika Dane sudah tau tentang rasa tulusmu itu hanya pura-pura terhadap putranya sebelum aku mengatakan apa yang aku dengar."
"Oh ya? Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
"Nio yang mengatakan pada ayahnya. Aku sudah bilang jika anak kecil itu lebih peka dengan perasaan seseorang yang tulus dengannya atau tidak."
"Memangnya apa yang Nio katakan?"
"Bukan hanya Nio, tapi Dane sendiri sudah tau." Denna melepaskan tangan Zia yang masih menggenggamnya. "Berusahalah dengan caramu untuk meyakinkan Dane."
Denna berjalan pergi dari sana. Zia yang melihat tampak kesal sampai mengepalkan genggaman tangan erat.
Denna kembali pada Nio dan mengajak mereka pulang karena acara di sana juga sudah selesai.
Dane mengantarkan Denna ke rumah. Mereka sekali lagi bertemu dengan Nara. Nara menyuruh masuk sebentar, tapi Danne meminta maaf karena dia tidak bisa mampir, sebab harus segera kembali ke kantor setelah mengantar Nio pulang.
"Nenek Nara, tadi aku mendapat juara satu lomba melukis."
"Oh ya? Wah ...! Hebat sekali kamu, Nio! Selamat ya, Sayang." Nara memeluk hangat tubuh kecil Nio.
"Tante, aku dan Arsen permisi dulu."
"Ya, Dane, hati-hati di jalan."
Dane membawa Nio pergi dari sana. Denna tampak tersenyum bahagia melihat kedua pria beda usia itu masuk ke dalam mobil.
"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta ini," sindir Nara.
Denna merona malu mendengar apa yang mamanya katakan. "Siapa yang jatuh cinta?" Denna melengos pergi dari sana.
__ADS_1
Nara senang karena putrinya akhirnya mau membuka lagi hatinya untuk orang lain.