Stay Beside You

Stay Beside You
Dane Untuk Denna


__ADS_3

Mereka menyaksikan pertunjukan yang bagi Denna luar biasa karena baru pertama kali ini Denna melihat pertunjukan sirkus para hewan yang lucu-lucu, tapi mereka sangat cerdas.


Para hewan itu seolah tau apa yang para pawangnya itu perintahkan.


"Mereka pintar sekali ya, Nio?"


"Iya, Tante." Nio bertepuk tangan karena sang burung bisa menebak jawaban yang dilontarkan untuknya


Dane tampak senang melihat putranya begitu bahagia saat bersama dengan Denna.


"Apa apa melihatku terus?"


Dane yang ketahuan melihati Denna dengan cepat membuang mukanya, dan dia berpura-pura fokus pada pertunjukan di depannya.


"Jangan pura-pura memalingkan wajahmu, Danendra."


Dane kembali memalingkan wajahnya pada wanita yang duduk di sampingnya.


"Aku melihatmu tampak bahagia saat bersama Arsen dan aku menyukainya."


"Aku memang suka sekali sama Nio. Sama Nio," Denna menekankan kata-katanya.


"Aduh!" Dane memegang perutnya tiba-tiba.


"Dane! Apa masih sakit?" seketika wajah Denna tampak cemas.


"Aku tidak apa-apa istriku. Suami kamu baik-baik saja," celetuk Dane yang membuat wajah Denna yang tadinya cemas menjadi kesal.


"Kamu menyebalkan," ucapnya lirih, tapi dia tekankan.


"Augh!" Dane merintih sakit saat Denna menepuk lengan tangan Dane dengan sedikit keras karena kesal.


"Jangan berpura-pura lagi, Dane. Kali ini aku tidak akan cemas padamu."


Dane hanya merintih pelan. Denna yang melihat wajah Dane sekarang malah merasa jika Dane sedang tidak bercanda.


"Tanganmu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa. Denna, tolong jaga Arsen sebentar karena aku mau ke belakang."


Dane beranjak dari tribun dan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Denna yang masih teringat ekspresi wajah Dane jadi kepikiran. Tadi sepertinya Dane memang lagi kesakitan.


Dane di dalam kamar mandi membuka bajunya dan dia melihat pada kaca yang ada di dalam toilet kamar mandi. Di sana ada bekas luka seperti selesai dijahit.


"Denna tidak boleh mengetahui hal ini. Nanti, dia pasti bertanya terus."


Dane segera memakai kembali bajunya dan pergi dari sana.


Dane kembali ke acara pertunjukan dengan wajah seolah dia sudah tidak merasakan sakit.


"Dane, apa kamu baik-baik saja?" tanya Denna khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah peduli padaku." Pria itu menunjukan senyum tipisnya pada Denna.


Denna benar melihat senyum tipis itu, tapi entah kenapa di dalam hatinya dia seolah tidak percaya jika Dane tidak kenapa-napa.


Tak lama terdengar suara ponsel dari dalam tas Denna. Denna segera mengambil ponselnya.


"Dari rumah sakit?" Kedua alis Denna mengkerut. Dia menjawab panggilan itu dan mendengarkan apa yang orang dari seberang katakan.


Raut wajah Denna berubah pucat, dan seketika air mata meluncur dari kelopak cantiknya.


"Denna, ada apa?"


"Dane, aku harus pergi ke rumah sakit khusus kanker sekarang, salah satu pasienku ada yang kondisinya tiba-tiba drop. Kamu di sini saja menemani Nio, biar aku ke sana naik mobil online.


"Aku akan mengantarmu."


"Tapi bagaimana dengan Nio? Dia masih menikmati pertunjukan di sini."


Dane kemudian bicara dengan putranya itu dan pria kecil itu mengerti dan mau mengantar Denna ke rumah sakit.


"Kita pergi sekarang." Dane menggendong Nio pada pundaknya yang tidak sakit. Pria ini benar-benar bisa menyembunyikan rasa sakit yang dia rasakan.


Mereka menuju rumah sakit setelah Denna memberikan alamatnya pada Dane.


Hampir setengah jam perjalanan mereka baru sampai di sana. Denna dengan cepat turun dan berlari kecil menuju ke dalam ruangan di mana pasien yang Denna sedang tangani berada.


Langkah Denna terhenti saat dia melihat beberapa anak-anak di luar ruangan itu menangis, bahkan sampai ada yang sesenggukan.


Kaki Denna rasanya lemas dan bahkan dia hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada dinding rumah sakit.

__ADS_1


"Denna, apa yang terjadi?" Dane mencoba memegang pundak wanita itu. Denna melihat pada Dane berjalan perlahan-lahan karena sepertinya Denna tau apa yang terjadi.


Saat melihat ke dalam ruangan. Denna melihat wanita yang kemarin di hari ulang tahun memberinya kado sebuah baju yang katanya untuk anaknya itu menangis sangat keras di depan putrinya yang sudah tertutup selimut rumah sakit.


Tangis Denna pecah dan pria yang ada di sebelahnya itu memeluknya erat.


"Aku tidak bisa membuatnya sembuh, Dane," ucap Denna seolah menyalahkan dirinya sendiri.


"Kamu bukan Tuhan Denna. Semua memang harus seperti ini."


Tangis Denna semakin pecah dengan kedua tangannya menggenggam erat punggung Dane. Nio yang berada di depan pintu juga menangis seolah dia tau apa yang orang-orang di sana sedang rasakan.


Beberapa jam kemudian. Keadaan Denna sudah lebih tenang, dia juga sudah bertemu dan berbicara dengan sang ibu. Denna meminta maaf jika masih belum maksimal dalam merawat putri kecilnya.


Sang ibu itu mengatakan jika Denna sudah sangat baik selama ini dan putrinya bangga bisa mengenal dokter sebaik Denna, dan berterima kasih atas semua kebaikan Denna selama menjadi dokter untuk anaknya.


Denna memeluk ibu yang sangat tegar itu.


Denna terduduk sendirian dan masih di rumah sakit setelah ibu itu membawa pulang putrinya untuk diadakan acara pemakaman.


"Tante," panggil Nio lirih.


Mata sembab dan nanar Denna menatap pada bocah kecil yang berdiri di depannya. Denna seketika memeluk Nio dengan erat dan kembali menangis.


Bocah kecil itu melihat pada Daddynya yang berdiri tidak jauh dari sana.


"Tante Denna jangan menangis lagi. Gadis manis itu sudah tenang dan tidak merasakan sakit lagi di sana. Dia pergi ke surga seperti mommy Nio. Tersenyum dari atas melihat Tante Denna."


Denna menarik tubuhnya dan tersenyum pada bocah kecil di depannya.


"Nio benar, gadis manis dan cantik itu sudah tidak merasakan sakit dan bahkan dia bermain dengan para bidadari di atas langit. Maaf karena Tante Denna sangat sedih saat teringat wajah kecilnya yang selalu menunjukan keceriaannya, dahal dia sedang berjuang untuk sembuh dari sakitnya.


"Tante Denna memang sangat sayang pada anak-anak itu. Aku nanti kalau sudah besar seperti Daddyku. Nio mau menjadi seorang dokter anak seperti Tante Denna."


"Oh ... jadi cita-citanya sudah berubah? Arsen tidak mau menjadi seorang pembalap mobil seperti yang ada di televisi itu?" Dane menunduk mensejajarkan dirinya dengan putranya.


"Tidak jadi, Daddy. Aku mau menjadi dokter anak saja seperti Tante Denna, agar aku bisa membuat anak-anak kecil seusiaku yang sedang sakit bisa sembuh dan bermain lagi," terang bocah itu semangat.


"Apa pun cita-citamu, kamu harus menjalani dengan penuh tanggung jawab dan jadilah pria yang tangguh, Jagoan."


"Iya, Pria yang kuat dan tampan seperti Daddy.

__ADS_1


__ADS_2