Stay Beside You

Stay Beside You
Menikah Saja Denganku


__ADS_3

Mereka berdua masih berdiri dengan Denna membelakangi Dane. Dane yang sadar, lantas tangannya dia lepaskan.


"Aku minta maaf," ucapnya merasa kaget tiba-tiba tangannya ada di sana.


"Tidak apa-apa. Kalau begitu aku mau menyusul Nio sebentar." Denna berjalan lebih dulu ke arah di mana Nio berada.


"Sepertinya aku memang jatuh cinta dengan wanita itu, dan seperti ini ternyata rasanya mencintai seseorang." Dane berjalan perlahan menuju arah Denna dan Nio.


Saat pria ity berjalan ke arah Denna, dia malah melihat Denna berjalan berbalik arah padanya dengan wajah yang seperti ketakutan.


Dane yang heran karena melihat Denna ketakutan dan cemas. Segera menghampirinya.


Pria itu menarik tangan Denna. "Dane lepaskan," ucap Denna cemas.


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak apa-apa." Denna tampak bingung sembari melihat ke arah belakang. "Dane!" Sedetik kemudian dia malah memeluk pria itu erat menyembunyikan kepalanya pada dada sang duda Pemiliki sejuta pesona itu.


Dane melihat dari arah belakang Denna ada seorang pria memakai kostum badut dengan rambut berwarna warni dan ada bola merah kecil menancap pada hidungnya.


"Denna, kamu kenapa?"


"Ada badut, Dane," ucapnya dengan masih sembunyi pada dada pria itu.


Dane terkejut mendengar jika wanita yang sedang bersembunyi pada dadanya ini takut sama badut?


Bukannya Denna dokter spesialis anak dan kebanyakan anak kecil itu menyukai badut? Tapi kenapa ini malah dokternya yang takut?


"Kamu takut pada badut?" Denna tidak menjawab, dia hanya terus menyembunyikan wajahnya pada dada Dane. "Denna, badut itu mendekat ke sini," ucap Dane lirih dan memang dia melihat pria dengan kostum lucu itu berjalan ke arah Denna dan diikuti oleh beberapa anak kecil di belakangnya.


"Dane, jangan menakutiku! Denna menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali ke tanah.


Pria yang sedang bersama Denna itu tersenyum dan gemas melihat tingkah si dokter yang bagi Danne ini agak galak.


Denna yang biasa bersikap ketus dan seolah tidak peduli ini, ternyata bisa bersikap menggemaskan seperti ini.


Dane memeluk wanita itu dan memberi isyarat pada pria dengan kostum badutnya.


"Maaf, istriku takut dengan badut."


Pria itu meminta maaf, dan pergi dari sana. Denna masih saja pada posisinya.


"Tante Denna kenapa, Daddy? Kalian pacaran, ya?" celetuk bocah laki-laki itu.


Dane memberi isyarat agar Nio terdiam dengan menempelkan telunjuk pada mulutnya.

__ADS_1


"Arsen, itu badutnya lucu sekali, dia ingin memberimu permen."


Tangan Dane menepuk pada pundak Denna. Denna yang mengira jika badut itu yang menepuknya langsung berteriak ketakutan.


Nio malah tersenyum. "Dane, aku mau pulang." Denna terisak.


Dane terkejut saat mendengar Isak tangis wanita yang masih dalam pelukannya itu.


"Daddy sudah membuat Tante Dennaku menangis."


"Denna, aku minta maaf, tidak ada badutnya di sini, tadi aku hanya bercanda.


Denna menarik tubuhnya dan melihat dengan mata terdapat butiran air yang siap keluar.


"Tidak lucu, Dane."


"Tante Denna takut pada badut?"


"Iya, Arsen, Tante Denna takut sama badut. Ya sudah, kalau begitu kita cari tempat buat beristirahat saja."


Denna terdiam dengan wajah cemberut. Pria itu menggendong putranya di pundak, kemudian melihat pada wanita di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Denna kesal. Dia kesal karena berpikir pasti Danne menertawakan dirinya.


Jemari pria itu menaut pada jemari Denna. Dia menggenggam erat dan mengajaknya berjalan pergi dari sana mencari tempat makan atau sejenis cafe.


Mereka duduk di sebuah cafe yang ada di sana. Dane memesankan makanan dan minuman untuk mereka bertiga.


"Tante, Nio minta maaf karena sudah membuat Tante menangis. Itu Daddy yang memiliki rencana."


Denna melirik pada Dane yang ada di sampingnya. "Nio tidak salah, Daddy Nio saja yang menyebalkan." Denna melengos kesal.


"Tante Denna ini kenapa? Sudah besar, tapi takut sama badut."


"Apa kamu memiliki trauma pada seorang badut?"


"Waktu aku kecil, ada pria dengan kostum itu ingin menculikku. Aku yang awalnya suka dengan penampilannya mendadak ketakutan karena dia mencengkeram tanganku dengan kasar." Denna meneteskan air matanya.


Bagaimanapun juga, Jaden dulu masih memiliki banyak musuh, dan mereka melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan Jaden.


Dane yang sudah mengetahui siapa ayah Denna tidak terkejut dengan hal itu.


"Kamu tidak perlu meneruskan ceritanya. Arsen, setiap orang itu memiliki ketakutan akan suatu hal, dan Tante Denna salah satunya."


"Okay! Nio juga tidak akan bertanya lagi. Sekarang kita makan saja, aku sudah lapar, dan setelah makan aku mau naik gajah, ya Daddy?"

__ADS_1


"Okay, Jagoan."


Mereka makan siang bersama di sana. Lalu, Nio mengajak mereka pergi ke area gajah.


Nio tampak senang dan tidak sabar ingin naik ke atas gajah.


"Tante Denna dan Daddy juga harus ikut naik."


"Tante Denna menunggu saja di sini. Nio saja yang naik."


"Tidak mau, nanti kita balapan, Tante."


"Daddy saja yang akan menemanimu, Arsen."


"Tidak mau, Daddy sama Tante naik sendiri saja, nanti kita balapan."


"Ya sudah, nanti kita akan ikut naik."


Nio sudah di atas punggung gajah ditemani oleh salah satu penjaga di sana. Denna pun dibantu untuk naik dan salah satu penjaga yang ingin naik ditahan oleh Dane.


"Biar aku yang menemaninya."


"Silakan, Tuan." Danne naik dan dia duduk di belakang Denna. Denna melihat heran pada Dane.


"Kenapa tidak naik gajah lainnya?"


"Aku sudah bilang jika tidak suka melihat kamu dekat dengan pria lain."


Denna tidak dapat berkata apa-apa lagi kalau begini. Mereka akhirnya berkeliling dengan mengendarai gajah. Nio tampak senang sekali. Denna dan Dane juga terlihat menikmati moment hari ini.


"Denna, bagaimana dengan masalah Diaz?"


"Diaz memutuskan untuk berpisah dengan mas Rio, dan sekarang Diaz tinggal di rumahnya sendiri bersama anak angkatnya."


"Anak angkat?"


"Iya. Dia berkenalan dengan seorang anak gadis berumur lima tahun yang ditinggal pergi kedua orang tuanya. Dia tinggal hanya dengan neneknya dan sekarang hidupnya akan lebih baik karena memiliki Diaz sebagai orang tua angkatnya."


"Semoga dengan begitu, Diaz akan lebih baik dan bahagia, walaupun harus berpisah dengan orang yang dia cintai."


"Iya, Dane. Selama menunggu proses perceraiannya selesai, dia akan lebih baik jika ada orang yang menemaninya. Apa lagi anak-anak, pasti akan membuat dia dapat lupa akan masalahnya. Aku saja jika ada Nio di sampingku hari-hariku menjadi lebih indah."


"Menikah denganku, maka hari-harimu akan lebih indah lagi," celetuk Dane tanpa melihat pada lawan bicaranya.


"Kenapa kamu tidak mengajak Zia saja menikah denganmu? Apa kamu tau jika dia menyukaimu?"

__ADS_1


"Aku tau," jawab Dane enteng.


__ADS_2