Stay Beside You

Stay Beside You
Kedekatan yang Unik


__ADS_3

Denna pagi ini berangkat ke rumah sakit diantar oleh V karena tadi V menjemputnya ke rumah.


"Nanti pulangnya aku jemput. Aku ingin mengajakmu makan bersama setelah kamu pulang kerja."


"Iya, aku mau."


Denna berpamitan dan masuk ke dalam ruangannya. Di sana dia tidak melihat ada Diaz seperti biasanya. Denna heran kenapa sahabatnya itu belum datang, dahal biasanya dia sudah datang.


Denna melakukan tugas seperti biasanya, dan hari ini ternyata Diaz juga tidak masuk bekerja.


Denna mencoba menghubungi sahabatnya itu, dia ingin mengetahui kenapa Diaz tidak masuk tanpa memberitahunya, tapi ponsel Diaz tidak bisa dihubungi.


Sore itu, Denna visit ke ruang rawat inap anak-anak di mana seharusnya Diaz yang melakukannya karena mereka adalah pasien yang dirawat oleh Diaz, dan karena Diaz tiba-tiba tidak masuk. Jadi, Denna yang menggantikan.


"Dokter, mana Dokter Diaz?" tanya seorang gadis kecil berusia lima tahun.


"Dia hari ini tidak masuk, Sayang," jawab Denna dengan lembut.


"Aku sangat menyukai Dokter Diaz. Dia baik sekali sering memberiku mainan katanya aku tidak boleh sedih."


Denna mengangguk. "Nama kamu Sita? Sita di sini sama siapa? Kenapa tidak ada yang menjaga?"


"Aku bersama nenekku, tapi nenekku sedang pergi untuk bekerja di rumah orang."


"Nenek?" Gadis itu mengangguk. "Orang tua Sita ke mana?"


"Tidak tau, aku selama ini tinggal dengan nenek."


Jantung Denna rasanya dihantam benda keras. Anak sekecil ini hanya hidup dengan neneknya dan dia bahkan tidak mengetahui tentang kedua orang tuanya. Apa orang tuanya sudah meninggal atau dia ditinggal pergi mereka?


"Jadi, Sita sama sekali tidak pernah melihat kedua orang tua Sita?" Gadis itu sekali lagi mengangguk.


Tidak lama seorang wanita yang usianya sekitar enam puluh tahun berjalan mendekati ranjang milik gadis kecil itu.


"Dokter Diaz." Wanita itu melihat dan ternyata itu bukan dokter Diaz.


"Maaf, Nek, saya Denna. Dokter Diaz hari ini tidak masuk. Saya sudah memeriksa Sita dan keadaannya baik-baik saja."


"Terima kasih Dokter. Maaf saya meninggalkan Sita sendirian karena harus bekerja."


"Tidak apa-apa, Nek. Nek, apa saya boleh bertanya sesuatu?"

__ADS_1


"Tentu saja boleh."


"Kedua orang tua Sita di mana?"


Nenek itu seketika melihat ke arah gadis kecil yang sedang bermain dengan mainan bonekanya.


Terlihat wajah sedih dari nenek tua itu. "Kedua orang tua Sita pergi meninggalkan Sita sejak Sita berusia lima bulan. Mereka bercerai dan sama-sama tidak peduli dengan Sita."


"Oh Tuhan! Mereka jahat sekali."


"Mereka memang jahat, bahkan saya membenci anakku--ibu dari Sita yang juga tidak peduli. Dia menikah dengan orang lain dan tidak mau tau tentang Sita. Rasanya saya menyesal sudah melahirkan dia." Nenek itu menangis dan Denna dengan cepat memeluknya.


"Nenek kenapa menangis?" tanya Sita kecil melihat neneknya menangis.


"Nenek kamu tidak apa-apa, Sayang. Sita main lagi saja." Gadis itu mengangguk mengerti.


"Sebenarnya saya minta pulang paksa dari sini karena jujur saja saya tidak sanggup jika harus berlama-lama membayar biaya rumah sakit ini, tapi keadaan Sita masih harus dirawat. Saya pergi ke rumah sakit ini karena di sini dekat dengan rumah, Dok, saya kira Sita hanya akan diberi obat sembuh, tapi ternyata harus di rawat. Tabungan saya juga sudah habis untuk biaya berobat Sita yang katanya terkena radang paru-paru. Dokter Diaz yang mengetahui keadaan Sita menyuruh agar Sita tetap dirawat dan dia yang akan menanggungnya. Dokter Diaz sangat baik."


Denna tampak terseyum. Dia memang tidak salah menjadikan Diaz sahabatnya.


"Dokter, apa Dokter Diaz besok ke sini?"


***


Terlihat seorang pria sedang duduk dengan tatapan dinginnya melihat pada pria lain di depannya. Sebuah kertas putih dengan map berada di atas meja kedua orang itu.


"Aku sudah membayar semua senjata itu sesuai perjanjian yang kita sepakati, tapi kenapa kamu malah memberikan pada orang lain?" Dane melihat pada pria yang sekarang duduk di sampingnya.


"Ayolah, Danendra! Kita ini teman sejak lama, dan aku membutuhkan senjata itu."


"Teman? Sejak kapan aku berteman dengan orang yang tidak bisa dipercaya. Aku akan mengambil apa yang menjadi milikku dan jangan mencari masalah denganku."


Tidak lama di sana terdengar suara tembakan dan saling bersautan.


"Aduh!"


"Denna, kamu tidak apa-apa?"


Denna tercengang melihat kopi panas yang dia pegang jatuh dan hampir mengenai kakinya.


"Aku tidak apa-apa, V." Denna tampak bingung. Dia tidak tau ada apa dengan dirinya?

__ADS_1


"Denna sebaiknya kamu duduk dulu dan biar aku yang meminta tolong untuk dibersihkan tumpahan kopi ini.


Denna dan V sedang berada di sebuah cafe. Di mana tadi Denna sedang menyeduh kopinya sendiri.


Denna duduk dan V meminta tolong pada salah satu pelayan di sana.


"Kenapa aku ini? Rasanya ada hal yang membuatku takut."


Entah kenapa Denna malah teringat pada Dane. Dia merasa ada hal buruk pada pria yang dari kemarin membuatnya gelisah.


"Ini kopi panasmu. Denna apa kamu baik-baik saja?" V duduk di depan Denna.


"Aku baik, mungkin hanya kelelahan."


V melihat heran pada Denna. "Apa yang sedang kamu pikirkan? Katakan padaku, Denna?"


"Aku tidak apa-apa, V."


"Denna, kamu jangan berbohong karena aku tau siapa kamu." V menggenggam tangan Denna.


Denna menatap V dengan serius. Dia bingung harus bercerita pada V atau tidak?


"Denna, kamu percaya padaku, kan? Kita sudah sangat dekat sejak Dimas pergi meninggalkan kita. Kalau ada yang mengganggumu, kamu jangan sungkan bercerita padaku."


"V, Dane pernah mengajakku menikah."


"Apa? Dane? Dane yang mendapat donor jantung dari Dimas?" V terkejut tidak percaya. Denna mengangguk. "Tapi bagaimana bisa? Bukannya kamu bilang jika kalian tidak ada hubungan?"


"Memang, aku dan Dane selama ini tidak ada hubungan spesial, tapi--." Denna bingung harus menceritakan yang bagaimana karena memang apa yang terjadi dengannya dan Dane sangat membingungkan.


Denna berbicara banyak pada V, sampai akhirnya V mengantar Denna pulang dan dia juga mengatakan bahwa besok dia akan pergi dengan pesawat paling pagi sesuai jadwal keberangkatannya.


"Kamu tidak perlu mengantarku, Denna. Aku juga kemarin sudah berpamitan pada Paman dan Bibi serta pada nenek buyut."


"V, hati-hati dan jangan lupa menghubungiku setelah sampai di sana."


"Pasti, Denna." V mendekat dan mengecup kening Denna dengan lembut.


Saat hal itu dilakukan oleh V, mobil kakek Rayhan ada di sana dan kakek Rayhan serta Nio dapat melihat hal itu.


Denna dan V melihat ke arah mereka.

__ADS_1


__ADS_2