
Selama hampir dua Minggu Denna mengantar Nio pergi ke sekolah dan dia pun menyempatkan diri menjemput Nio. Nio serasa dia memiliki mommy seperti teman-temannya yang selalu mengantar jemput sekolah. Bahkan Nio menceritakan jika mommy pura-puranya itu adalah seorang dokter yang sangat baik dan hebat.
"Kita mau ke mana Tante Dokter?"
"Nio lihat saja nanti."
Denna membawa Nio ke sebuah cafe di mana dia akan mengajak bocah kecil itu makan ice cream.
Nio diajak Denna masuk dan dia memesankan dia ice cream yang sama karena Denna tau rasa ice cream kesukaannya sama dengan Nio.
"Wah ...! Ice cream vanilla! Ini pasti enak sekali."
"Tentu saja enak. Ice cream di sini sangat enak dan Nio pasti suka. Kita makan bersama."
"Okay! Nio menyendokkan ice creamnya."
"Nio, berdoa dulu."
"Iya, aku lupa." Mereka berdoa kemudian langsung makan ice creamnya dengan senangnya.
Mereka berdua tampak sangat menikmati ice creamnya.
"Hai, Denna," sapa seseorang, Denna melihat pada pria yang ada di depannya.
"Fabio? Kamu di sini? Sama siapa?"
"With my Friend. Maksudku dengan temanku yang juga seorang guru di sini."
"Oh begitu. Lalu, di mana dia?"
"Book store. Dia masih membeli buku di sebelah toko ini. Kamu ke sini sama siapa?"
"Wah! Bahasa Indonesia kamu sudah agak lancar ya?"
"Ya, aku belajar dengan temanku itu."
"Aku di sini dengan Nio. Dia sahabat kecilku." Denna memperkenalkan Nio dengan Fabio. Fabio tampak sangat ramah menyapa Nio. Pun dengan Nio tampak senang berkenalan dengan Fabio.
"Denna, apa besok kamu bekerja?"
"Aku besok tidak ada jadwal ke rumah sakit. Memangnya kenapa?"
"Besok aku ingin mengajak kamu jalan-jalan melihat acara di gedung kesenian. Apa kamu mau?"
"Aku mau, tapi jam satu siang, aku harus menjemput Nio sekolah. Tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa, mungkin jam dua belas acaranya sudah selesai. Aku ingin mengajak kamu berjalan-jalan karena tiga hari lagi aku akan kembali ke negaraku."
"Okay, kita akan ke sana. Kamu ke rumahku saja naik mobil online, dan nanti kita pakai mobilku menuju ke gedung kesenian.
"Okay!"
__ADS_1
Tidak lama teman Fabio yang seorang wanita dengan rambut keriting panjang dan memakai kacamata itu datang ke sana.
Denna berkenalan dengan wanita bernama Nora itu. Nora terlihat agak kaget saat Fabio mengatakan dia akan pergi dengan Denna ke acara kesenian yang diadakan oleh sekolah di mana Nora mengajar.
Mereka berdua kemudian izin pergi dari sana. Denna kembali menghabiskan ice creamnya.
"Tante Dokter, besok mau pergi dengan paman itu? Apa Paman itu kekasih Tante Dokter?"
"Bukan Nio. Memangnya kalau diajak pergi oleh seorang lelaki itu namanya kekasih? Aku dan Fabio adalah teman."
"Tapi kata temanku kalau seorang pria dan wanita pergi bersama, mereka itu disebut sepasang kekasih."
"Tidak semua, Sayang. Misalnya kita, Nio seorang laki-laki dan aku wanita, kita sedang jalan-jalan berdua. Apa kita sepasang kekasih?"
Nio menggeleng. "Kita mommy dan anaknya!" serunya cepat.
Denna tampak tersenyum kecil. Senyum yang dipaksakan.
"Tante Dokter, di sekolahku akan ada acara pentas seni, dan aku ikut ke dalam acara itu."
"Oh ya? Nio ikut acara apa?"
"Aku akan menyanyi bersama dengan teman-temanku sebagai persembahan dari kami untuk para guru di sana."
"Wah ... hebat sekali!"
"Tidak hanya itu, aku juga akan ikut dalam pentas drama, tapi aku sebagai serigala yang memburu si kerudung merah."
"Tapi aku bingung, Tante Dokter."
"Bingung kenapa?"
"Kata Bu guru, dalam acara itu semua murid boleh mengajak kedua orang tua dan keluarganya, tapi aku mengajak siapa? Mommy sudah tidak ada, daddyku aku tidak tau kapan pulang. Kakek buyut sudah aku minta tolong mengatakan pada daddyku agar dia bisa cepat pulang, biar nanti tidak hanya kakek buyut dan paman Sam yang ke sana," Nio mengerucutkan bibirnya sedih.
Denna memegang tangan bocah kecil itu. "Apa boleh aku hadir dalam acara itu?"
Nio seketika mendelik mendengar apa yang dikatakan oleh Denna. "Tante Dokter serius mau datang ke acara itu?"
"Iya, bukannya aku mommy pura-pura Nio?"
"Yeah ...! Jadi nanti aku akan dilihat oleh mommy baruku."
"Jadi, Nio tidak perlu memikirkan masalah ini lagi. Nio fokus saja berlatihnya."
"Okay! Tante Dokter.
***
Denna dan Fabio sedang duduk di bangku barisan tengah. Mereka sedang menyaksikan pertunjukan kesenian di gedung kesenian griya karya.
"Mereka anak-anak yang hebat."
__ADS_1
"Iya, Denna."
Acara itu berlangsung selama beberapa jam. Selesai acara Denna dan Fabio menemui Nora untuk mengucapkan selamat karena berhasil membawa anak didiknya bisa sukses membawakan acara itu.
Denna kemudian izin pulang karena dia harus menjemput Nio ke sekolah. "Setelah menjemput Nio, aku akan mengantar kamu pulang ya, Fabio."
"Iya, Denna tidak apa-apa. Aku juga ingin melihat sekolah Nio."
Mereka menuju sekolah Nio, tapi sebelum ke sekolah, Denna ingin membelikan kue kesukaan Nio karena besok Nio libur sekolah, jadi bisa Nio nikmati dengan bersantai di rumah.
Denna masuk ke dalam toko kue itu, sedangkan Fabio ke toko sebelah ingin membeli sesuatu.
"Aku mau kue cup cake red velvet."
"Kebetulan tinggal lima, Kak. Fresh from the oven."
"Ya sudah, aku mau semuanya." Denna membayar kue yang dia beli.
"Okay! Terima kasih, Kak, tapi Kakak tunggu sebentar, saya mau ke belakang dulu."
"Iya, aku tunggu di sana."
Saat Denna berbalik badan, dia tidak sengaja malah menabrak dada seseorang.
"Aduh!" Denna memegang hidungnya yang menabrak benda keras.
"Apa kamu tidak bisa jalan dengan hati-hati?"
Denna mendongak melihat siapa yang dia tabrak.
Seseorang dengan wajah terkesan dingin, sorot matanya yang tajam dan tampak kedua rahang tegasnya.
"Aku--."
Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan. Kedua orang itu seolah terpatri satu sama lain.
'Apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat keras?'
Pria yang ditabrak Denna itu berjalan melewati Denna menuju ke arah pelayan toko roti itu.
Denna melihat sekilas dan dia menuju ke tengah untuk mencari tempat duduk.
Denna melihat pria dengan jaket babyterry hitamnya dipadu dengan jeans, berdiri di tempat yang tadi baru saja dia berdiri. Denna merasakan ada hal yang dia sendiri tidak ketahui apa itu?
"Tapi kue itu sudah dibeli oleh kakak tadi."
"Oh ya? Aku tidak tau. Tuan, saya minta maaf, ternyata kuenya sudah dibeli."
"Aku akan membayarnya dua kali lipat untuk kue itu."
"Tapi, Tuan, kue ini sudah dibeli oleh kakak itu." Tangan pelayan itu melambai ke arah Denna."
__ADS_1
Denna yang merasa terpanggil berdiri dan menghampiri meja kasir.