
Keluarga Denna dan bahkan kakek Rayhan tampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh pria paruh baya yang sudah lama mengabdi padanya itu.
"Sam, maksud kamu apa?"
"Kek, jarak rumah kita dsn rumah sakit ini tidak begitu jauh daripada rumah Tuan Jaden. Kalau mau biar Dokter Denna tinggal di rumah kita saja dan nanti saya atau tuan muda Dane bisa mengantar Dokter Denna ke rumah sakit untuk periksa dan terapi."
"Tidak perlu, Paman, kenapa aku malah merepotkan keluarga kakek?"
"Tidak ada yang direpotkan, Denna. Kakek malah senang kalau kamu tinggal di sana, Nio juga pasti sangat senang."
"Putriku biar tinggal di rumahku saja. Aku yang akan menjaganya, dan Denna pasti lebih nyaman jika bersama dengan mamanya."
"Iya, Kek, biar kami saja yang menjaga Denna."
Kakek Rayhan melihat pada Paman Sam. Dua orang ini sepertinya punya niat yang sama dengan mengajak Denna tinggal di rumah kakek.
"Ya sudah kalau seperti itu, kakek juga tidak dapat memaksa, tapi jika kalian memerlukan bantuan, jangan sungkan untuk memberitahuku."
"Iya, Kek, sekali lagi terima kasih."
Kakek Rayhan izin untuk kembali ke kamar Dane agar Denna bisa istirahat karena jarum jam juga masih menunjukkan pukul empat pagi.
"Ray, apa boleh bicara dengan kamu sebentar?"
"Tentu saja wanita tua yang cantik. Bagaimana kalau kita bicara di cafe bawah yang masih buka?"
Nenek terlihat merona malu karena dipanggil seperti itu oleh kakek Rayhan. "Kamu itu jangan membuat malu orang." Miranti izin pergi dari sana bersama kakek Rayhan.
"Denna, sepertinya kamu akan memiliki kakek buyut yang baru."
"Jangan bicara sembarangan, mereka itu sudah tua dan nenekku itu wanita yang sangat setia pada kakekku," ucap Jaden kesal. Nara dan Denna malah terkekeh.
Di cafe itu, nenek Miranti dan Kakek Rayhan duduk saling berhadapan. Mereka berdua memesan kopi panas kesukaan dua orang itu.
"Miranti, kamu mau bicara apa?"
"Sepertinya kamu yang ingin bicara denganku?"
"Maksud kamu?" Kakek Rayhan melihat bingung pada Miranti.
"Apa yang kamu inginkan dengan menyuruh Denna tinggal di rumah kamu?" Wanita itu menyeruput kopinya dengan sikap elegan.
__ADS_1
Rayhan seketika tersenyum mendengar apa yang ditanyakan oleh nenek cantik itu.
"Kamu memang nenek cantik yang sangat cerdas. Tidak salah jika kakek tua musuhku itu memilihmu."
"Dasar kamu!"
"Miranti, sebenarnya aku ingin Denna menjadi cucu menantuku. Aku ingin Denna dan Dane bisa dekat dan menikah."
"Kenapa kamu menginginkan hal itu?"
"Karena aku lihat Denna wanita yang baik dan dia bisa dengan mudah akrab dengan Nio. Dane juga membutuhkan pendamping, dan setelah kejadian yang menimpa Denna hari ini. Denna juga butuh seseorang yang dapat menjaga dan melindunginya." Sekarang gantian kakek Rayhan meminum kopinya.
Nenek Miranti tampak berpikir sebentar. "Apa yang kamu katakan ada benarnya juga. Cicitku itu memang harus mencari pendamping hidup agar dia tidak terus memikirkan tentang Dimas. Aku juga kadang kasihan jika melihat Denna duduk termenung saat berada di rumah. Nara sudah pernah menyuruh agar Denna memikirkan tentang kehidupan barunya, tapi cicitku itu sangat keras kepala seperti ayahnya."
"Aku juga sudah bicara pada Dane agar dia mencari pendamping hidup, tapi dia juga selalu tidak mau membahas masalah itu."
"Oleh karena itu kamu berusaha mendekatkan Denna dengan Dane tadi, tapi gagal." Mereka berdua tertawa bersama.
***
Denna sudah boleh pulang dan selama hampir setengah bulan dia tinggal di rumah keluarganya.
"Denna, apa kamu memerlukan sesuatu?"
"Ma, aku bosan, apa aku besok tidak boleh pergi ke rumah sakit untuk bekerja?"
"Sayang, kamu itu masih harus beristirahat agar kaki kamu cepat pulih."
"Nanti kalau kaki kamu sudah pulih. Nenek berjanji akan mengajak kamu ke villa kakek buyut kamu di sebuah tempat yang sangat indah pemandangannya dan kamu pasti akan sangat suka di sana."
"Villa? Kenapa aku baru tau kalau kakek buyut punya sebuah villa?"
"Villa itu sudah lama, sebenarnya ingin nenek jual, tapi ada keluarga yang mau menjaga dan merawatnya, mereka juga butuh tempat untuk berteduh. Jadi, nenek menyuruhnya tinggal di sana."
Tidak lama seorang pelayan masuk dan memberitahu jika ada tamu untuk nona Denna.
"Siapa?"
"Apa Diaz?" tanya Nara.
"Tidak mungkin, Ma, karena Diaz pergi ke luar kota setelah dia selesai praktek."
__ADS_1
"Tante Dokter ...!" teriak bocah kecil yang Denna sudah sangat mengenalnya.
"Nio!" Denna tampak berseru senang.
"Arsenio, kenapa berlari masuk? Kita harus menunggu dulu sampai diperbolehkan menemui Tante dokter kamu," suara seorang pria yang juga langsung membuat hati Denna reflek menyukai kedatangannya.
"Nio, dan kamu Dane?" tanya Nara.
Dane mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya. Dane menyuruh Nio mencium tangan Nara dan Nenek Miranti sebagai salam hormat pada orang yang lebih tua.
Bocah kecil itu menurut dan melakukan perintah daddynya.
"Dane, ternyata kamu tampan sekali, dan kenapa aku merasa kamu auranya seperti suamiku saja," celetuk Nara.
"Maksud Tante Nara?"
"Iya, maksud Mama apa? Kenapa menyebut Auranya seperti ayah?" Denna tampak bingung.
Nara yang hampir saja mengatakan tentang siapa Jaden yang dulu langsung meralat kata-katanya. Dia mengatakan jika maksudnya sama-sama seorang CEO dan terlihat dingin. Nara tersenyum aneh.
"Dane memang seorang pengusaha dan dia meneruskan bisnis kakeknya." Nenek Miranti menepuk pundak Nara.
Denna sendiri memang tidak tau siapa ayahnya dulu, dan dia juga taunya Dane adalah seorang pemilik salah satu perusahaan terbesar di kota itu.
"Tante Dokter, aku kangen, apa Tante Dokter sudah sehat? Kata Daddy kalau Tante Dokter sedang sakit."
"Iya, kaki aku sakit dan tidak diperbolehkan berjalan dulu selama waktu yang aku sendiri tidak tau, Nio."
"Oh ... jadi, Tante Dokter memakai kursi ada rodanya itu ya?" Nio menunjuk pada kursi roda yang ada di samping Denna.
"Kalau begitu besok lusa Tante Dokter tidak bisa datang ke acara sekolahku?" Wajah Nio tampak sedih.
"Oh Tuhan! Tante Dokter sampai lupa jika besok lusa ada acara di sekolah kamu." Denna melihat pada Dane yang berdiri di depannya.
"Jagoan, bukannya besok lusa ada Daddy dan kakek. Tante Dokter kamu tidak bisa datang ke sana karena masih sakit."
Bocah itu masih terdiam menunduk. "Semua datang dengan mama dan ayahnya, Daddy," ucapnya pelan.
Dane agak terkejut mendengar ucapan putranya. Dia mendekati putranya dan memegang pundak pria kecil itu.
"Mommy kamu juga datang, tapi dia melihat dari surga." Kepala bocah kecil itu akhirnya terangkat dan melihat pada daddynya.
__ADS_1