Stay Beside You

Stay Beside You
Dilemma Nara


__ADS_3

Denna dan Nara berlari beriringan mengitari taman itu sambil sesekali bercanda. Ibu dan anak itu terlihat malah seperti kakak dan adik saja karena memang Nara masih terlihat cantik dan muda walaupun sudah memiliki putri yang sudah dewasa.


"Ma, apa aku boleh minta tolong sama Mama?"


"Minta tolong apa?"


"Ma, nanti bantu aku pilihan gaun yang bisa aku pakai untuk makan malam," Denna berkata dengan sedikit malu.


Nara berhenti dari larinya. Dia mencoba mengambil napas perlahan-lahan. "Makan malam? Dengan Dane?"


Denna mengangguk beberapa kali dengan cepat. "Dane mengajak kamu makan malam? Cie ... yang sedang pacaran sama Dane." Ini Nara malah menggoda putrinya.


"Mama! Kami ini tidak pacaran!" Denna tampak mengerucutkan bibirnya.


"Sepertinya nanti mau pakai cincin pemberian Dane." Nara menaik turunkan alisnya bergantian.


"Mama! Aku tidak jadi meminta bantuan, biar aku cari saja sendiri yang pas atau kalau tidak ada yang cocok, aku batalkan saja makan malamnya dengan Dane." Denna berjalan pergi dari hadapan mamanya.


"Sayang ...! Jangan marah begitu." Nara mengejar putrinya.

__ADS_1


"Aku ini benaran masih bingung harus menerima Dane menjadi suamiku apa tidak? Waktu yang dia berikan sampai nanti kita bertemu di villa."


"Memangnya hati kamu belum yakin?" Denna menggeleng. "Apa yang kamu rasakan selama ini selama dekat dengan dia?"


"Nyaman, dan aku merasa selalu ingin didekatnya, Ma." Denna tersenyum malu.


"Ya sudah, terima saja pinangannya. Mama juga sangat setuju kamu menikah dengannya." Tangan wanita cantik itu memeluk pundak putrinya.


"Ma, Mama merasa tidak, jika Dane seperti ada sesuatu yang disembunyikan." Denna menatap mamanya serius.


Nara ini tau siapa Dane, tapi Nara yakin jika Dane adalah pria yang pantas untuk menjadi suami Denna karena dia pun pernah ada di posisi Denna memiliki suami seorang mafia. Hasilnya? Pernikahan mereka bahagia sampai sekarang, bahkan Jaden adalah sosok suami dan ayah yang baik bagi keluarganya.


Denna terdiam sejenak. Dia ingat Dane pernah bercerita tentang semuanya, bahkan mengatakan terserah Denna mau memandangnya bagaimana setelah dia menceritakan semua yang sudah Dane alami.


"Aku masih memiliki waktu untuk memikirkannya kembali, Ma. Kita lari lagi."


"Baiklah. Mama hanya berharap kamu mengikuti apa kata hatimu karena kata hatimu tidak akan membohongimu, Nak."


Mereka berdua kembali melanjutkan jogingnya sampai akhirnya mereka pulang ke rumah dan Nara langsung ke dapur untuk memasak.

__ADS_1


"Baunya harum sekali, Sayang." Pria paruh baya yang masih mempesona itu berdiri memeluk istrinya dari belakang. Dia pun tidak sungkan mendaratkan ciuman pada bibir istrinya, walaupun di sana ada pelayan yang melihatnya.


"Kamu sedang menyindirku, Jaden?"


"Menyindir apa?"


"Bauku?"


"Bau masakan kamu yang enak, tapi baumu juga lebih harum bagiku." Jaden kembali mendaratkan ciumannya, tapi sekarang tepat pada pipi Nara.


"Sayang, ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Tentang apa? Dan kenapa kedengarannya serius sekali?" Jaden melepaskan pelukannya. Menatap istrinya penasaran.


"Ini tentang putrimu dan Dane."


Nara menceritakan tentang keraguan Denna pada Dane dan kebingungan Nara, apa dirinya harus bercerita tentang siapa Dane atau biar Denna mengetahui semua ini dari orang yang bersangkutan?


"

__ADS_1


__ADS_2