
Pagi itu Denna terbangun dengan wajah bahagianya. Dia melihat pada ponselnya dan ternyata ada satu pesan masuk.
Saat dia membukanya, ternyata itu dari Dane.
Denna sengaja tidak membukanya dulu supaya Dane mengira Denna belum bangun. Denna juga berharap agar Dane berpikiran jika Denna tidak terlalu mengharapkannya walaupun di dalam hati Denna isinya lain.
"Pagi, Ma, Ayah dan Nenek." Denna duduk dengan wajah berserinya.
Ketiga orang yang ada di sana saling melihat satu sama lain. Mereka heran melihat pada wanita paling muda yang ada di sana.
"Denna, kamu baik-baik saja, Nak?"
"Iya, Ma, memangnya kenapa?"
"Tumben, ceria sekali. Apa Dane baru saja menghubungimu?"
Denna tiba-tiba terbatuk mamanya bertanya soal Dane. "Nara, kamu itu bagaimana? Putriku sampai terkejut begitu." Si ayah yang sangat menyayangi putrinya itu kesal. Dia
menepuk-tepuk punggung putrinya perlahan-lahan.
"Terima kasih, Yah."
"Salahku di mana? Aku hanya bertanya apa Dane menghubungi Denna karena pagi ini putrimu terlihat sangat bahagia."
"Memangnya, aku bahagia karena dihubungi oleh Dane?" Denna melengos.
"Jadi, bukan karena Dane? Salah kalau begitu mama. Mama kira karena calon menantu mama itu."
"Mama! Denna belum memutuskan menerima ajakan menikah Dane atau tidak."
"Kalau tidak menerima, kamu langsung hubungi saja dia, dan kalau perlu kamu kirimkan cincinnya ke tempat dia berada sekarang."
"Ayah, itu kejam namanya."
"Ayah memang suka yang kejam," jawab Jaden singkat sembari melahap stik daging buatan istrinya.
"Ayah!" Nara menepuk lengan tangan suaminya itu. "Denna, Mama hanya memastikan jika kamu dan Dane memang tidak ada perasaan apapun, dan kamu juga tidak mau menerima ajakan Dane menikah maka, mama akan mengenalkan dia pada anak teman mama."
"Ma, nanti saja atau kapan-kapan saja membahas masalah ini. Dane juga masih minggu depan pulangnya."
"Kok kamu tau kalau Dane pulang Minggu depan?" Tatap Nara curiga.
"Tentu saja aku tau. Semalam dia menghubungiku. Aku berangkat dulu ke rumah sakit, ya." Denna berpamitan dan kemudian dia berjalan menuju pintu keluar dengan tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Dia sepertinya jatuh cinta lagi pada seseorang. Aku harus bersiap melepaskan putri kesayanganku untuk kedua kalinya."
Nara melihat pada Nenek Miranti dan dua wanita itu tersenyum senang.
"Seharusnya kamu senang karena kita akan segera memiliki dua cucu yang lucu." Nara mengelus pipi suaminya. Wajah Jaden tampak datar saja
Denna sampai di rumah sakit. Saat membuka pintu ruangan di mana dia biasa berkumpul dengan para dokter spesialis anak lainnya yang bertugas hari ini. Denna melihat sahabatnya sudah duduk di sana dengan tersenyum, tapi bukan senyum kebahagiaan yang Denna lihat, melainkan senyum yang dipaksakan, dan terlihat mata sembab di wajah Diaz.
Denna berjalan perlahan mendekat pada sahabatnya itu. Ada perasaan tidak enak yang Denna rasakan saat melihat keadaan sahabatnya itu.
"Diaz, kamu--."
"Denna!" Wanita itu seketika memeluk sahabatnya, dan sekarang tangisnya terdengar lebih keras.
"Diaz, ada apa? Jangan menangis seperti ini. Tidak enak nanti kalau di dengar yang lainnya." Denna mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Pintu dibuka oleh seseorang, Denna melihat salah satu teman mereka masuk dan saat melihat Diaz yang sedang menangis, dokter laki-laki itu izin dengan sopan keluar lagi.
"Kamu kenapa?"
"Aku mau menangis dulu, Denna."
"Ya sudah, kamu menangis saja dulu." Denna memeluk erat sahabatnya itu.
Denna berjalan keluar dari ruangan itu. Dia naik ke lantai atas dan menemui para pasien kecilnya yang lucu-lucu.
Denna hari ini sangat senang karena banyak sekali anak-anak yang keadaannya sudah membaik dan dia izinkan pulang.
Sekitar satu jam Denna kembali ke ruangan, tapi dia tidak melihat Diaz, hanya ada tas miliknya saja yang ada di sana.
Denna kembali keluar karena dia harus ke ruang prakteknya. Di sana sudah ada beberapa pasien Denna yang sudah datang menunggu untuk berobat.
"Sus, apa tau di mana Dokter Diaz?"
"Dokter Diaz tadi saya lihat ada di lantai atas, tepatnya di kamar B203."
"B203? Di sana bukannya hanya tinggal satu pasien, yaitu Sita?"
"Iya, Dokter Diaz menemuinya."
Suster itu pergi keluar memanggil pasien Denna selanjutnya.
Pukul menunjukkan angka dua belas siang. Denna kembali ke ruangan khusus para dokter. Denna tidak melihat Diaz dan dokter lainnya ada yang sudah pulang, dan ada yang masih di ruang praktek mereka.
__ADS_1
"Diaz ini kenapa? Kenapa dia terlihat sangat bersedih seperti itu. Aku tidak pernah melihat dia seperti itu sebelumnya."
"Denna, kamu belum pulang?" Diaz berjalan perlahan ke arah meja Denna.
"Aku menunggu kamu, kamu sudah visit ke kamar rawat, kan?" Wanita itu mengangguk, dia duduk di samping Denna.
"Denna, aku boleh menginap di rumah kamu malam ini?"
"Menginap di rumahku? Apa kamu sudah bilang sama Mas Rio?"
Sahabat Diaz itu menggeleng pelan. "Tidak perlu meminta izin. Dia juga tidak akan mencariku."
Jantung Denna berdetak keras saat mendengar ucapan sahabatnya. "Ke-kenapa mas Rio tidak akan mencarimu?"
"Denna, kita pulang sekarang saja, aku tidak mau menangis lagi di sini."
"Ya sudah kita pulang saja, tapi mampir sebentar ke toko ice cream. Aku belikan ice cream coklat buat kamu." Diaz mengangguk perlahan.
Denna mengemudi mobilnya. Pandangannya sesekali melirik pada sahabatnya yang tengah termenung melihat ke arah luar.
Mereka berhenti di restoran yang menjual ice cream yang enak. Denna mengajak Diaz turun dan memesan dua cup ice cream berukuran sedang.
"Enak, kan?"
"Iya, perasaanku juga mendingan. Terima kasih, Denna. Kamu memang selalu tau apa yang aku butuhkan."
Di rumahnya Denna, Diaz disambut hangat oleh keluarga Denna. Denna memberitahu jika sahabatnya itu akan menginap di sana malam ini. Tentu saja Nara dan nenek mengizinkan dengan senang hati.
"Kamu pakai baju piyama tidur mamaku saja karena kalau milikku pasti kekecilan."
"Iya, terserah kamu."
Denna membawakan susu coklat hangat untuk sahabatnya itu agar malam ini dapat tidur nyenyak.
"Denna, apa aku boleh tidur lebih dulu? Aku lelah sekali."
"Tidur saja, tapi habiskan dulu susu coklat hangatmu agar kamu bisa nyenyak tidurnya."
"Terima kasih, Denna." Diaz menghabiskan susu coklatnya kemudian dia menutup tubuhnya dengan selimut. Diaz tidur membelakangi Denna.
Denna tampak cemas dan khawatir melihat keadaan Diaz sekarang ini. Denna juga tidak mau bertanya kenapa dia seperti ini. Denna akan menunggu sampai Diaz mengatakannya sendiri.
Denna memilih duduk di dekat jendela kamarnya dan melihat ke bawah. Dia lagi-lagi berharap ada mobil Dane di sana.
__ADS_1