
Tepat jam dua belas malam Denna terbangun dari tidurnya. Dia baru sadar jika tidur masih menggunakan baju yang tadi dia pakai makan malam dengan V. Dia juga bahkan belum mematikan lampu kamarnya.
"Aku ketiduran, dan aku bermimpi tentang Dane." Dia menutup kepalanya dengan selimut kemudian membukanya lagi. "Lebih baik aku mandi air hangat saja dan berganti baju."
Denna beranjak masuk ke dalam kamar mandinya. Setelah selesai dia sudah keluar dengan piyama tidurnya dan rambut yang ditutup dengan handuk.
Denna berjalan menuju jendela kamarnya dan dia duduk di bangku panjang dengan alas karpet bulu lembut. Denna sekali teringat dengan kejadian saat Dane menciumnya.
"Dia itu maksud sebenarnya apa? Kenapa dia seenaknya menciumku, tapi dia berkencan dengan wanita lain. Aku kira dibalik wajah dinginnya, dia pria setia, ternyata dia playboy." Denna melepas handuk pada kepalanya untuk dia gunakan mengeringkan rambutnya.
"Dane?" Denna kaget tiba-tiba melihat di sosok pria yang tadi hadir di dalam mimpinya dan dia ada di luar rumahnya berdiri bersandar pada mobil hitam. Tidak hanya itu, pria itu sedang menatap Denna yang duduk di depan jendela kamarnya.
Denna dengan cepat masuk ke dalam kamarnya dan dia tampak mondar mandir di depan tempat tidurnya.
"Aku tidak bermimpi, kan?" Denna mencubit lengannya dan terasa sakit, itu berarti dia tidak bermimpi. "Untuk apa dia ke sini tengah malam begini?" Denna tampak bingung. Dia harus turun atau dia tidak peduli saja?
Dane masih berdiri di depan mobilnya dengan wajah tenang dan datarnya.
Denna memutuskan untuk tidak menemuinya dan dia malah mematikan lampu kamarnya. Denna berpura-pura tidur saja dan tidak mau mempedulikan Dane.
"Nanti dia juga akan pergi dari sana. Sebaiknya aku tidur saja, biar saja dia di sana." Denna menarik selimutnya dan mencoba memejamkan kedua matanya.
Dane masih berada di sana. Berdiri dengan santai dan tidak melepaskan pandangannya pada jendela kamar Denna.
"Ih ...! Dane itu kenapa sih?" Denna tampak gusar, dia tidak dapat tidur. Denna perlahan-lahan turun dari tempat tidurnya dan mengintip dari balik tirainya, memastikan pria itu masih ada di sana atau tidak.
"Dia masih ada di sana. Apa maksud dia sebenarnya?" Denna tampak bingung sekarang.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel yang membuat Denna tersentak kaget.
Belum hilang kagetnya, sekarang Denna dibuat mendelik melihat nama yang ada pada layar ponselnya. Dane ternyata menghubungi Denna, dan membuat Denna semakin gusar.
"Aku tidak peduli, lebih baik aku tidur saja.
Lain di mulut lain di hati. Denna malah mengambil ponsel dan menjawab panggilan Dane.
__ADS_1
"Halo, ada apa, Dane? Kamu tidak lihat ini jam berapa?" suara Denna dibuat seolah-olah dia bangun tidur.
"Aku ingin bicara denganmu sebentar. Apa kamu bisa menemuiku?"
"Menemuimu? Tapi ini jam berapa? Aku juga sudah tidur ini."
"Kalau kamu sudah tidur, Lantas, siapa yang berdiri di dekat jendela?"
"Apa?" Denna kaget mendengar apa yang Dane katakan. Dia ketahuan mengintip Dane dari balik jendela.
Pria yang berdiri di samping mobilnya itu tampak tersenyum tipis melihat wanita yang dia tunggu berjalan perlahan ke arahnya dengan mengeratkan jaket sweater yang dia pakai.
Sekarang Denna sudah berdiri di depan Dane yang melihatnya datar.
"Apa sopan mengajak seorang wanita bertemu di jam seperti ini?"
"Aku minta maaf karena mengajak kamu bertemu seperti ini, tapi aku harus memberikannya sekarang karena setelah ini aku harus pergi ke suatu tempat."
"Memberikan apa? Dan kamu mau ke mana?" tanya Denna dengan sedikit ragu-ragu.
Dane mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak berwarna hitam dengan pita biru mengikatnya, membuat kotak itu tampak terlihat manis.
Denna hanya melihati kado di tangan Dane. "Kamu tidak perlu memberiku apa-apa, Dane. Sebaiknya tidak perlu memberiku sesuatu karena aku tidak mau terjadi salah paham antara aku dan kekasihmu."
"Aku tidak memiliki kekasih, Denna. Wanita yang kamu lihat tadi bukan kekasihku, dia itu sahabat baikku sekaligus rekan di dunia bisnisku."
"Kamu tidak perlu menjelaskannya juga, aku juga tidak peduli kalaupun dia kekasihmu atau bukan. Dane, terima kasih hadiahnya, tapi aku tidak bisa menerimanya, sebaiknya kamu pulang dan bukannya kamu bilang mau pergi setelah ini."
Dane hanya terdiam mendengarkan wanita di depannya berbicara. "Apa salahku sehingga kamu seolah menghindariku, Denna?"
"A-aku tidak menghindarimu, dan memang lebih baik kita tidak perlu terlalu dekat karena seperti yang aku katakan, aku tidak bisa menjalin pertemanan dengan seseorang yang tidak mau jujur sepertimu. Selamat malam, Dane."
Denna ini harus mencari alasan agar Dane tidak dekat dengannya karena dia tidak ingin dianggap pengganggu oleh Zia.
Denna berjalan membelakangi Dane dengan perasaan yang tidak karuan. Hatinya tidak ingin bersikap seperti ini pada Dane, tapi dia harus melakukannya untuk kebahagiaan Zia yang benar-benar mencintai Dane.
__ADS_1
"Aku ingin menikah denganmu, Denna," ucap Dane lantang.
Langkah Denna seketika berhenti saat indra pendengarannya mendengar sesuatu yang sama sekali tidak dia sangka keluar dari bibir seorang Danendra.
Wajah Denna saat itu terlihat gusar dan seperti ada gemuruh ombak besar menerpa jantungnya.
Apa yang dikatakan oleh Dane barusan? Apa pendengaran Denna juga tidak salah dengar?
Denna perlahan membalikkan badannya, dan sekarang dia dapat melihat pria yang baru saja mengatakan ingin menikah dengannya berjalan dengan tegap menghampirinya.
Jantung Denna berdetak dengan cepat, tatkala pria itu menatapnya dengan tatapan yang jujur saja Denna menyukai mata indah Dane itu.
"Dane, kamu--."
Tangan Dane sudah menarik pinggang Denna dan dia kembali mencium wanita itu dengan lembut.
Lagi-lagi Denna tidak bisa menolak ciuman yang Dane berikan, dia ingin, tapi tubuhnya dan pikirannya tidak mau melepaskan ciuman itu.
"Menikahlah denganku karena naku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku dan Arsen, Denna."
Kedua mata Denna membulat mendengar apa yang baru saja Dane katakan.
"Dane, kamu lelucon kamu tidak lucu."
"Apa aku terlihat sedang melucu?" Pandangan tajam dan serius itu membuat Denna tau jika Dane memang tidak sedang melucu.
"A-aku tidak bisa menikah denganmu. Pernikahan itu bukan suatu permainan yang bisa dilakukan seenaknya."
"Aku tau, Denna, dan aku tidak mau mempermainkan pernikahan."
Denna membalikkan badannya membelakangi Dane. Dia benar-benar tidak menyangka jika Dane yang ingin dia hindari malah mengajaknya menikah. Menikah?
"Kamu masih bisa memikirkan hal ini, aku tidak memintamu menjawabnya dengan cepat."
"Bukannya aku sudah menjawabnya tadi, Dane?" Denna berkata tanpa melihat pada lawan bicaranya.
__ADS_1
Dane meletakkan kotak berwarna hitam tadi di bawah kaki Denna. "Hadiah ini sekaligus jawaban atas pertanyaan yang tadi aku berikan. Buang saja atau kamu simpan selama jika kamu tidak bisa menerimaku. Selamat malam, Dokter Denna."
Dane berjalan pergi dari sana. Denna masih tidak mau menoleh sampai dia mendengar suara mobil Dane pergi dari sana.