Stay Beside You

Stay Beside You
Perasaan Tidak Nyaman


__ADS_3

Dane menggendong Nio dan membawa putranya itu ke kamar. Denna mengikuti dengan membawa obat-obatan milik Nio.


"Aku letakkan obat Nio di sini agar kamu mudah memberikannya nanti."


"Iya." Danne mengambil sesuatu dari laci dan menghampiri Denna yang menata obat di atas meja dekat meja belajar Nio.


"Denna."


Saat wanita itu menoleh, dia tidak sengaja malah tubuhnya sangat dekat dengan Dane. Netra mereka saling menaut satu sama lain, dan untuk beberapa menit mereka terdiam dan hanya kedua pasang mata itu seolah berbicara


Dane tidak sadar jika tangannya perlahan terangkat dan mengusap lembut pipi Denna. Wanita itu seolah merindukan sentuhan hangat dan lembut seperti yang Dane berikan.


"Denna, aku berterima kasih atas kebaikanmu."


Perlahan tangan wanita di depan Dane itupun memegang tangan Dane yang masih setia pada pipi Denna.


"Aku menyayangi Nio karena dia seolah cahaya kebahagiaan untukku."


Kedua orang itu seperti tiba-tiba terbawa suasana, bahkan sekarang Dane mulai berani mendekat dan hampir saja mencium bibir Denna jika salah satu pelayan di sana tidak tiba-tiba datang ke kamar Nio.


"Dane!" Denna kaget dan menjauhkan tubuhnya beberapa langkah dari tempat Dane berdiri.


Kedua insan itu sepertinya sudah kembali menginjakkan kakinya di bumi. "Tuan Muda, saya minta maaf." Gadis dengan seragam pelayannya itu menunduk takut.


"Katakan, ada apa?"


"Tuan, di dibawah ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan Nio, tadi saya katakan kalau Tuan Kecil sedang sakit dan dia ingin bertemu dengan Tuan Muda."


"Gadis? Siapa?" Dane melihat heran pada Denna.


"Dia bilang jika dia gurunya tuan kecil."


"Mungkin Zia," ucap Denna cepat.


"Aku akan turun dan menemuinya." Dane berjalan pergi dari sana.


Seketika ada yang membuat tidak nyaman dalam hati Denna. Dokter muda itu duduk di samping tempat tidur Nio dan mengusap perlahan pucuk kepala pria kecil yang tengah tertidur nyenyak itu.

__ADS_1


"Aku ini kenapa? Kenapa tadi sangat menyukai sentuhan Dane? Bahkan aku hampir membiarkan dia menciumku." Denna seolah kesal pada dirinya sendiri.


Di lantai bawah. Dane melihat Zia sedang duduk membelakanginya. Dane bingung dengan maksud kedatangan Zia di rumahnya.


"Selamat pagi, Zia," sapa Dane berjalan tepat di depan Zia.


"Mas Dane, apa benar Nio sakit?"


"Iya, semalam badannya panas, tapi sudah ada Denna yang memeriksanya."


"Apa? Mba Denna? Dia ada di sini?"


"Iya, Denna ada di sini karena Arsen yang memintanya untuk datang ke rumah. Arsen tidak mau dibawa ke rumah sakit, dia hanya mau diperiksa oleh Denna."


Zia samar mencengkeram tali goodie bag yang dia bawa. Dia tidak menyangka jika Denna masih saja tidak paham akan kata-kata yang dia ucapkan kemarin.


"Kamu sendiri ada apa ke sini?"


"Aku tadi pergi dengan temanku dan kebetulan melewati alamat rumah Mas Dane. Jadi, aku putuskan mampir ke sini. Ini ada sedikit oleh-oleh dariku untuk Nio." Zia memberikan goodie bag yang dia bawa.


Dane dengan senang hati menerima pemberian Zia. "Terima kasih, nanti akan aku sampaikan pada Arsen.


"Silakan, akan aku antar kamu ke kamarnya."


Dane mempersilakan Zia naik dan dia berjalan di belakang gadis itu. "Mas Dane tinggal dengan siap saja di sini?" tanya Zia sembari mereka berjalan menaiki anak tangga.


"Aku tinggal dengan kakekku dan paman Sam, serta para pelayan di sini."


"Oh .... Rumah Mas Dane besar sekali dan juga sangat indah. Aku senang bisa mampir ke sini."


Dane hanya menanggapi dengan senyum kecil. Dane membukakan pintu dan Zia langsung bisa melihat Denna sedang membereskan buku dan mainan Nio yang berserahkan di sana.


"Denna, sedang apa?"


"Jangan berisik, Dane. Tadi Nio sempat bangun dan meminta air minum, tapi sekarang sudah tidur lagi. Aku mau membereskan buku-bukunya supaya tidak ada yang terselip nanti." Denna melihat pada Zia dan dia tersenyum.


"Pagi, Mba Denna. Apa Mba Denna sedang libur?"

__ADS_1


"Iya, aku hari ini libur bekerja."


"Bagaimana keadaan Nio, Mba? Apa aku boleh melihatnya?"


"Oh! Tentu saja. Dia sudah lebih baik, dan panasnya juga sudah turun. Silakan kalau mau melihat."


Zia masuk dan duduk di samping ranjang Nio. Tangan gadis itu mengusap perlahan pucuk kepala Nio.


"Dia kenapa, Mba Denna?"


"Bagian tenggorokannya merah, tapi tetap harus dilihat jika besok sudah tidak panas, berarti dia hanya terkena radang tenggorokan. Semoga saja besok keadaanya segera membaik. Kasihan jika anak seceria dia harus diam karena sakit."


"Iya, kasihan sekali kalau dia terlihat seperti ini." Sekali lagi tangan Zia mengusap perlahan dahi Nio. "Mas Dane, kalau Nio masih tidak enak badan, besok tidak perlu masuk sekolah, aku nanti yang akan mengizinkannya, kalau perlu aku akan ke sini untuk menjaganya karena kebetulan besok juga aku tidak ada jadwal untuk mengajar."


"Tidak perlu seperti itu, Zia. Biar aku yang menjaganya, dan di sini juga ada paman Sam."


"Pasti kamu nanti kerepotan. Mas Dane bekerja saja, dan kalau di jaga seorang pria pasti beda rasanya dengan dijaga seorang wanita. Kalau seorang wanita itu, kan, rasanya dia dirawat oleh ibunya."


"Benar apa yang dikatakan oleh Zia. Nio pasti lebih nyaman dan merasa lebih baik jika ada seorang wanita yang merawatnya, apa lagi dalam keadaan sakit seperti ini."


Denna ingin mendekatkan Dane dengan Zia karena Denna juga tau keinginan Zia.


"Aku hari ini juga tidak ada kepentingan lainnya, dan aku bisa membantu kamu menjaga Nio, Mas Dane."


Dane tidak tau harus menjawab apa karena Zia seolah memaksa dan dia tidak mungkin menolak niat baik Zia.


Denna yang merasa tidak dibutuhkan lagi di sana ingin meminta izin pergi dari rumah Dane.


"Kamu mau ke mana?" Tangan pria itu dengan cepat menahan lengan tangan Denna yang hendak berjalan ke arah pintu keluar. Dane rasanya tidak ingin wanita ini pergi dari sana.


Posisi mereka saling berhadapan. Pandangan mata Denna tertuju pada tangan Dane yang memegang lengan tangannya.


"Aku mau pulang karena tugasku di sini sudah selesai. Kamu jaga Nio baik-baik dan jangan lupa untuk memberikan obatnya secara teratur."


"Kamu jangan pergi karena saat Arsen terbangun, dia pasti akan mencarimu."


Denna menoleh pada Zia yang masih duduk di samping tempat tidur Nio. Dia pun melihat Denna dan Dane. Zia berharap Denna segera pergi saja dari rumah Dane.

__ADS_1


"Dia tidak akan mencariku karena sudah ada gurunya yang juga sangat menyayanginya. Nio sangat dekat sekarang dengan Zia." Denna melepaskan tangan Dane dan berjalan pergi dari sana. Dane hanya terdiam membiarkan Denna keluar dari kamar putranya.


__ADS_2