
Denna cukup tau siapa Zia, dan dia tidak perlu menegurnya karena hal itu tidak penting. Namun, sekarang dia harus bagaimana agar Zia tidak sampai dekat bahkan menikah dengan Dane?
Zia tidak pantas menjadi mommy baru bagi Nio karena rasa sayangnya pada Nio hanya berpura-pura.
Kue pesanan Nara sudah selesai. Denna langsung pulang karena hatinya sekarang tampak kesal. Dia kesal pada apa yang Zia tadi katakan.
Denna tidak menyangka dibalik wajah lugu dan kalemnya Zia, ternyata dia gadis yang memiliki hati yang tidak baik.
Denna di dalam mobil melihat pada layar ponselnya. Dia masih berharap Dane menghubunginya, tapi kemudian dia ingat jika Dane waktu itu mengatakan dia akan pergi ke suatu tempat.
"Kenapa dia meninggalkan Nio lagi? Dasar, ayah yang tidak peduli pada anaknya. Dia mengesalkan sekali."
Denna sekarang mengemudikan mobilnya dengan agak cepat agar segera sampai di rumah.
Saat sampai di rumah, Denna tampak heran melihat ada beberapa mobil di sana.
"Kenapa banyak mobil di sini? Dan ini ada juga motor V. Ada apa ini?" Denna tampak heran melihat ada beberapa mobil di garasi rumahnya.
Dia masuk dengan membawa kue pesanan mamanya dan langsung menuju ke dapur.
Di dalam rumah tampak sepi, dan agak gelap. Denna manggil mamanya, tapi dia tidak mendapatkan respon.
"Ke mana sih mereka?"
"Sayang, kamu baru pulang?" Tiba-tiba suara Nara dari luar berjalan mendekat masuk.
"Mama? Mama dari mana?"
"Kamu sekarang ikut mama sebentar, Ya." Tangan Nara memeluk pundak putrinya dan dia mengajak Denna berjalan menuju taman di belakang rumahnya.
"Kenapa kita ke taman, Ma?"
"Kejutan ....!"
Terdengar suara letusan kembang api dan teriakan dari Diaz. Denna sampai menganga melihat di sana banyak sekali orang yang dia kenal dan sayangi. Taman rumah Denna juga berubah menjadi tempat yang sangat indah dengan banyak hiasan lampu tumbler dan lampion berbentuk hati.
"Mama, ini apa?"
"Selamat ulang tahun, Sayang." Denna memeluk putrinya.
__ADS_1
"Ya ampun, Mama, kenapa membuat pesta kejutan seperti ini?"
"Sebenarnya bukan mama yang merencanakan hal ini, tapi kembaran kamu." Nara melirik pada suaminya yang baru saja berjalan ke sana.
"Ayah? Serius?" Denna melihat pada ayahnya yang wajahnya tampak cool.
"Iya, ini semua rencana ayahmu, Sayang."
"Nenek buyut juga sudah datang!" Denna memeluk nenek buyutnya. Dua wanita beda generasi itu saling memeluk dengan senyum lebar menghiasi wajah mereka.
"Tentu saja nenek datang, tidak mungkin nenek akan melewatkan acara ulang tahun cicit nenek."
Denna sekarang melihat pada ayahnya. "Kenapa ayah membuat kejutan ini, dahal ayah tau sendiri aku tidak suka dengan pesta besar seperti ini."
"Karena ayah ingin memberikan hadiah yang berbeda dari biasanya, dan karena--." Jaden melihat pada istrinya.
"Karena apa?"
"Karena sebentar lagi tugas ayah akan digantikan lagi oleh seseorang, dan sebelum itu terjadi, ayah mau memberikan pesta ini, nanti kalau kamu sudah menikah pasti merayakannya hanya dengan dia dan anak kalian."
"Ayah! Ayah ini bicara apa?" Denna melihat pada mamanya, tapi memeluk ayahnya.
"Denna, Dane tidak bisa datang ke acaramu hari ini." Nara berbicara sembari menyisir rambut putrinya yang sedang duduk di depan meja riasnya.
"Biarkan saja, Ma, aku tidak peduli."
"Jangan bicara seperti itu. Dia sebenarnya ingin hadir, tapi pekerjaannya tidak bisa ditinggalkan."
"Dia egois. Apa pria seperti itu yang akan menjadi suamiku? Dia saja juga tega meninggalkan Nio."
"Kamu tidak boleh berpikir seperti itu, Denna. Bagaimanapun juga dia seorang ayah tunggal, dia bekerja juga untuk mencukupi kebutuhan putranya. Kalau dia egois, tidak mungkin dia menyempatkan tengah malam datang memberikanmu kado itu dan melamarmu." Nara terekek pelan.
"Ih, Mama! Tidak ada yang lucu. Aku mau mengembalikan cincinnya dan aku tidak mau menikah dengan pria seperti dia." Denna teringat dengan Zia. Denna juga akan memberitahu siapa Zia.
Nara membalikkan tubuh putrinya menghadap ke arahnya. "Apa kamu yakin?" Denna terdiam sejenak. "Kalau kamu yakin, mama nanti akan kenalkan saja Dane sama anak temennya mama. Namanya Alyana dan dia lulusan terbaik di kampusnya yang ada di London. Dia juga sangat baik dan lembut." Nara tersenyum.
"Mama ini kenapa malah bingung memikirkan jodohnya Dane. Biar saja dia mencari sendiri."
"Mama cuma kasihan saja kalau Nio sampai mendapatkan mommy yang tidak benar-benar sayang sama dia. Mama sudah menganggap dia seperti cucu mama sendiri."
__ADS_1
Denna tampak berpikir juga mendengar kata-kata mamanya, dan mamanya benar. Zia yang dia anggap baik dan bisa menyayangi Nio, ternyata hanya pura-pura.
"Kamu melamun apa? Nanti mama mau bicarakan hal ini sama kakeknya Dane, dan biar kakek Rayhan yang bicara sama Dane. Semoga saja Dane setuju."
Nara kembali membantu Denna bersiap-siap, kemudian dia turun ke lantai bawah dulu dan membiarkan Denna berganti baju.
Denna yang melihat dirinya di depan cermin tampak kesal sendiri. "Mama itu kenapa, sih, harus mengenalkan Dane pada anak temannya? Kalau Dane menyetujui tanpa mendengar jawaban dariku dulu. Fix, dia playboy. Ih! Kenapa aku jadi mikirin dia?"
Denna segera bersiap-siap dan turun ke bawah. Denna berjalan menuju keluarganya yang sudah menunggu di sana.
"Tante Denna!" seru suara yang Denna sangat kenal.
"Nio!"
Bocah kecil itu berlari dan memeluk pinggang Denna. "Tante, selamat ulang tahun. Nio rindu sekali sama Tante Denna."
Denna duduk berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Nio. "Terima kasih, Nio. Tante juga kangen sama Nio."
"Kata Daddy, kalau Tante beberapa hari ini bekerja di rumah sakit jauh dari sini, ya?"
Denna tampak bingung dengan maksud, Nio, tapi Denna kemudian mengangguk saja.
"Nio, kamu tampan sekali malam ini." Denna mencubit kecil hidung mancung anak itu.
"Aku, kan, anaknya Tuan Danendra Danu Atmaja, tentu saja aku tampan," ucapnya sombong.
"Iya-iya." Denna semakin gemas melihat tingkah bocah itu.
"Denna selamat ulang tahun. Ini ada hadiah kecil dari Nio." Kakek Rayhan memberikan sebuah kotak berukuran sedang pada Denna.
"Ini apa? Apa boleh Tante buka?"
"Tentu saja boleh."
Denna membukanya dan ternyata isinya sebuah lukisan wajah Denna dengan memakai seragam dokternya dan ada stetoskop di lehernya, dan yang membuat senyum Denna mereka lebar adalah posenya yang menunjukan stetoskop dengan salah satu mata dikedipkan, sungguh terasa sangat manis.
"Apa ini benar aku, Nio?"
"Tentu saja. Daddyku yang menggambarnya. Di dalam ruangan lukisnya, ada banyak lukisan Tante Denna yang cantik-cantik. Malah ada lukisan Tante Denna saat berdua bersamaku," terang bocah itu jujur.
__ADS_1
Pipi Denna seketika merona malu mendengar apa yang Nio katakan.