Stay Beside You

Stay Beside You
Kekesalan


__ADS_3

Pria itu mencekal pergelangan tangan Denna yang hendak beranjak dari sana.


Denna sontak melihat langsung pada tangannya. "Maaf, lepaskan tanganku."


"Kamu juga sudah punya suami? Tapi kenapa kamu tidak memakai cincin di jari manisnya?"


Denna seketika melihat pada jarinya yang memang dia sudah tidak memakai cincin pernikahannya dengan Dimas. Dia menyimpan cincin itu karena takut hilang seperti saat dia masih memakainya, Denna pernah hampir kehilangan cincin itu, tapi akhirnya bisa ditemukan.


"A-aku--."


"Dia calon istriku. Apa kamu bisa melepaskannya?"


Kedua netra Denna mendelik melihat siapa yang tadi mengakuinya calon istri.


Pria itu seketika melepaskan tangannya pada Denna. Diaz malah tersenyum senang melihat ada sosok Dane di sana.


"Dia calon istrimu?"


"Iya. Jadi, bersikaplah sopan padanya." Tatap Dane tajam.


"Aku minta maaf karena aku tidak tau jika dia sudah memiliki calon suami."


"Memiliki atau tidak memiliki, kamu tetap harus bersikap sopan kepada setiap wanita karena ibumu sendiri seorang wanita. Sekarang pergi dari sini."


Pria itu tampak tidak mau berurusan dengan Dane karena dia merasa akan panjang nanti ceritanya jika memiliki urusan dengan pria dingin seperti Dane.


"Hai, Danendra, kamu di sini juga?" sapa Diaz yang mengenal sosok Dane.


"Aku sedang bersama Nio dan gurunya Nio di sana."


Denna melihat datar pada Dane. "Kami permisi mau pergi dulu. Diaz, kita pulang sekarang."


"Eh, tunggu!" Tangan Diaz dengan cepat menahan tangan Denna. "Kamu ini kenapa sih? Setidaknya ucapkan terima kasih pada Danendra, kalau tidak ada dia pasti pria itu akan menggodamu, lagi pula pria itu tidak sopan sekali. Sok kenal!" raut Diaz sebal.


"Tadi aku tidak sengaja menabraknya di toilet, dan dia mungkin merasa aku sengaja menabraknya. Jadi, ia berani mengajak berkenalan."


"Makannya, kamu hati-hati."


"Iya, bawel! Makanya, ayo sekarang kita pulang."


Sekali lagi Diaz menahan tangan Denna. "Kamu belum mengucapkan terima kasih pada Dane."

__ADS_1


Kedua mata Denna melihat datar pada pria yang dari tadi berdiri di sana dan dia tau jika wanita yang baru saja ditolong itu masih marah dengannya.


"Terima kasih karena sudah menolongku, tapi lain kali tidak perlu mengaku sebagai calon suamiku karena aku tidak enak jika ada calon istrimu yang sebenarnya." Denna melengos malas.


"Apa kamu tidak ingin bertemu Arsen? Dia menanyakanmu beberapa hari ini."


Langkah Denna seketika berhenti saat Dane mengatakan tentang Nio.


Denna tidak mau berbalik badan rasanya ada yang menahannya agar tidak menoleh pada Dane.


"Sampaikan saja salamku padanya dan jika aku ada waktu nanti akan aku hubungi dia." Denna melihat pada meja Nio yang sedang bersama Zia. "Dia tidak lama juga akan melupakan aku." Dane hanya bisa terdiam.


Di mejanya. Nio yang menunggu daddynya kenapa belum kembali dari toilet mengedarkan pandangannya dan dia melihat sosok yang sebenarnya dia rindukan.


"Itu Tante Denna, ya?"


Zia melihat pada arah di mana dia menemukan pemandangan yang membuatnya kesal.


"Nio, kamu mau ke mana? Makanan kamu belum habis!" seru Zia, tapi bocah kecil itu sudah berlari menuju meja di mana ada Denna yang hendak pergi dari sana.


"Wanita itu bisa membuat apa yang aku inginkan tidak akan tercapai." Dia juga dengan muka kesalnya menyusul Nio.


"Tante Denna!" Tangan pria kecil itu langsung memeluk pinggang Denna dari depan. Denna yang mendapat pelukan itu merasakan hal yang hebat dalam hatinya.


Dane melihat jika Denna sangat tulus pada putranya.


"Aku kangen sama Tante Denna. Kata Daddy Tante Denna sibuk sekali beberapa hari ini, jadi tidak bisa menghubungiku."


Denna melihat pada Dane. "Iya, Tante Denna memang sedang sibuk dan banyak pasien."


"Tapi aku kangen sama Tante Denna, Nio ingin menginap lagi di rumah Tante Denna, atau gantian Tante Denna yang menginap di rumahku. Bagaimana?" tanya pria kecil itu dengan polosnya.


Denna tampak bingung. Dia pun melihat ke arah Zia yang berdiri di depannya.


"Nio, Tante Denna tidak bisa karena Tante Denna masih sangat sibuk."


Tangan Zia menarik pelan pundak Nio dan melingkarkan pada leher anak itu. "Nio, Tante Denna sedang sibuk, kasihan kalau harus meninggalkan pasiennya. Nanti aku akan menemani Nio jika Nio ingin main." Gadis itu memberikan senyum manisnya.


"Kalau sama Bu Guru, Nio sering bertemu tiap hari. Tante Denna, besok Nio libur, apa Tante Denna tidak libur?"


"Tante Denna besok libur karena besok Tante Diaz yang akan menggantikan jadwal Tante Denna, seperti kesepakatan kita."

__ADS_1


"Diaz!" Mata besar dan belok itu mendelik pada sahabatnya yang malah bicara seenaknya.


"Kebetulan sekali. Daddy, besok kita jemput Tante Denna dan aku mau mengajaknya ke rumah kita. Aku mau membuat kue dengannya."


Dane tidak dapat berkata iya karena dia juga belum mendengar Dena setuju.


"Tapi Nio --."


"Kamu bukannya juga kangen sama Nio? Kalau begitu ini kesempatan kamu."


Diaz ini tidak tau jika ada sepasang mata yang tengah menyorot tidak suka pada Denna.


"Nio, sebaiknya kita pulang sekarang saja karena aku juga mau mengajar les tambahan di rumah."


"Iya, kita pulang sekarang saja. Tante Denna mau daddyku antar pulang sekalian?"


"Aku pulang dengan Diaz saja, Nio."


"Kalau mau pulang dengan mereka juga tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri."


Diaz ini lagi-lagi tidak paham akan kode dari Denna. "Daddy, boleh, kan Tante Denna pulang dengan kita?"


Netra Dane tertuju pada wanita yang berdiri dengan wajah datar padanya. "Tentu saja boleh. Mau pulang denganku?"


"Terima kasih, Nio. Tante Denna pulang dengan Tante Diaz saja karena tadi kami juga berangkat bersama dan pulang pun harus bersama."


"Ya sudah kalau begitu. Tante Denna hati-hati, ya?"


Denna memeluk Nio dan dia permisi pergi dari sana.


Dane pandangannya tidak lepas sampai Denna menghilang dari pandangannya.


Ada yang kesal di sana karena dia merasa kalah saing dengan Denna, dahal Denna tidak pernah merasa bersaing dengannya.


Di dalam mobil, Denna meminta untuk mengemudikan mobilnya kali ini.


"Tunggu! Kamu ini kenapa?"


"Aku tidak kenapa-napa. Memangnya ada apa denganku?"


Diaz menepuk jidatnya. "Kamu malah yang bingung dengan dirimu sendiri. Apa lagi aku, Denna?"

__ADS_1


Denna akhirnya mengatakan sejujurnya di mana dia bertemu dengan Zia di dalam kamar mandi dan Zia menyuruh agar Denna memberinya kesempatan bersama putranya Dane karena dia juga suka pada Dane. Jelas Denna gamblang.


"Oh... jadi seperti itu? Pantas saja tadi aku lihat dia seperti orang yang kecewa. Denna, kamu sebaiknya jangan kalah saing sama siapa tadi namanya? Zia? Kamu jangan mau kalah saing dengannya."


__ADS_2