Stay Beside You

Stay Beside You
Berita Bahagia


__ADS_3

Mereka saling membalas ciuman sampai pada akhirnya Dane melepaskan ciumannya dan melihat pada wajah Denna yang masih berada tepat di bawahnya.


"Apa kamu sungguh mencintaiku, Denna?" Denna mengangguk perlahan. "Bukan karena aku pemilik jantung dari Dimas, kan?"


"Bukan, Dane. Bagiku kamu adalah Dane. Dimas adalah bagian kenangan yang indah dalam hidupku, tapi sekarang kamu adalah masa depan yang indah untuk hidupku, dan aku sudah jatuh cinta padamu." Tangan Denna mengusap perlahan dada Dane.


"Sekali lagi terima kasih sudah mencintaiku." Dane bangkit dari posisinya dan mereka sekarang saling berpelukan.


Dane dan Nio berada di sana hingga malam tiba, bahkan mereka juga makan malam bersama di sana.


"Daddy, kapan kita bisa tinggal bersama dengan Tante Denna? Aku ingin secepatnya Tante Denna menjadi mama Nio."


Dane yang duduk di sebelah Denna melirik pada wanita yang sedang menyuapi Nio.


"Kamu sabar saja dulu karena pernikahan itu tidak semudah kita membalikkan telapak tangan, Arsen. Banyak hal yang harus dipersiapkan dulu. Apa kamu tidak ingin berdiri di samping bidadari nanti saat di hari pernikahan?"


"Bidadari?" Nio tampak bingung.


"Tante Denna pasti akan terlihat sangat cantik saat di hari pernikahannya nanti."


Nio paham maksud dari Daddynya. "Bukan bidadari, Daddy, tapi putri raja dan nanti aku pangerannya. Daddy jadi panglima perangnya saja." Nio malah terkekeh.


Dane juga tersenyum mendengar ucapan putranya. Mereka kembali melanjutkan makan malamnya.


"Tante, Nio mau mewarnai buku yang waktu itu masih belum selesai Nio warnai."


"Memangnya kamu bawa bukunya?"


"Nio bawa dan ada di dalam tas sekolah Nio."


Denna dan Dane menemani Nio mewarnai, bahkan Dane pun meminjam pensil warna Nio untuk menggambar Denna saat sedang bersama putranya.


"Kamu sedang apa sih, Tuan Dane?"


"Tunggu sebentar."


Denna terlihat penasaran dengan apa yang sedang Dane gambar kali ini. Dane yang selesai dengan pensil dan kertas gambarnya, langsung memberikan hasil gambarnya pada Denna.


Kedua mata Denna tampak berkaca-kaca melihat apa yang Dane gambar. Sebuah foto yang seolah menunjukkan rasa sayang yang tulus dari dua manusia yang beda usia.


"Ini bagus sekali, Dane. Apa aku boleh menyimpannya?"


"Tentu saja boleh dan nanti akan aku buat gambar itu di atas kanvas yang besar."


"Apa boleh aku taruh di ruang tamu rumah kita kelak?"

__ADS_1


"Rumah yang nanti akan kita tempati boleh kamu atur sesukamu."


"Terima kasih." Denna memeluk Dane dengan senang.


"Aku tidak lihat karena aku masih kecil," celetuk Nio yang langsung memejamkan kedua matanya.


"Nio, kami ini tidak berbuat apa-apa, hanya pelukan saja."


Denna kemudian juga memeluk bocah kecil yang pintar itu. "Kita akan mewarnai lagi dan setelah selesai kamu tidur karena besok pagi harus masuk sekolah."


"Okay!" serunya senang.


Tidak lama ponsel Denna berbunyi, ada nama Diaz di sana. "Dane, aku mau menjawab panggilan dari Diaz dulu."


"Iya, biar aku yang menemani Arsen."


Denna berjalan menuju ruang tamu. Dia tampak senang melihat sekilas pada Dane dan Arsen.


"Halo, Diaz, tumben sekali kamu menghubungiku, ada apa?"


"Denna, aku bingung harus memulai bicara sama kamu dari mana?"


Denna seketika mukanya tampak serius mendengar apa yang sahabatnya itu katakan. "Diaz, ada apa?"


"Denna, aku hamil."


"Iya, aku ternyata hamil anak mas Rio dan bodohnya aku baru mengetahuinya."


"Kamu serius?"


"Aku serius Denna. Kenapa aku bisa sebodoh ini tidak tau keadaanku?" Terdengar Isak tangis dari Diaz.


"Diaz, kenapa kamu malah menangis? Seharusnya kamu bahagia karena kamu ternyata bukan perempuan mandul seperti apa yang ibu mertuamu katakan."


"Tapi anak ini tidak akan memiliki ayah, Denna."


"Tentu saja dia memiliki. Mas Rio mantan suami kamu itu harus diberitahu kalau kamu mengandung anaknya."


"Tapi dia sudah memiliki keluarga baru, dan aku tidak mau merusak kebahagiaannya."


"Jangan terlalu baik seperti itu. Kamu sudah cukup diperlakukan tidak adil oleh mereka. Diaz, pokoknya kamu harus mengatakan pada Mas Rio tentang anaknya yang sedang kamu kandung itu. Bukan untuk kamu, tapi untuk calon anak kalian," ucap Denna tegas.


"Aku akan memikirkan lagi masalah ini, Denna."


"Diaz, aku sahabat kamu, dan aku tidak mau kamu menderita, meskipun aku tau jika kamu adalah wanita yang kuat."

__ADS_1


"Aku benar-benar bingung, Denna."


"Besok tidak perlu masuk dulu, biar aku yang menggantikan tugas kamu. Kamu ada praktek sore' kan, biar aku nanti yang mengurusnya."


"Denna, sekali lagi terima kasih. Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan tanpa kamu."


"Aku sangat senang bisa membantu kamu, dan ingat, kita ini tidak hanya sahabat, tapi kita sudah seperti saudara. Aku sangat menyayangimu, Diaz."


"Aku juga sangat menyayangimu, Denna."


Mereka mematikan panggilan teleponnya. "Dane." Denna terkejut saat melihat ada calon suaminya di sana.


"Ada apa? Apa ada masalah?"


Denna memeluk erat pada pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. "Diaz hamil dan itu anak dari mantan suaminya."


"Lalu, apa mantan suaminya sudah mengetahuinya?"


"Belum, Diaz tidak ingin memberitahu mantan suaminya karena dia tidak mau merusak kebahagiaan mas Rio yang sekarang sudah memiliki keluarga baru."


"Diaz tidak boleh menyembunyikan hal itu dari keluarga Rio. Bagaimanapun Rio adalah ayah dari bayi yang Diaz kandung."


"Iya, meskipun mereka sudah berpisah, tapi anak itu harus mengetahui siapa ayahnya dan mas Rio juga harus bertanggung jawab untuk menafkahi anaknya."


Denna mengajak Arsen tidur di kamarnya dan Dane izin pulang ke rumahnya, walaupun jarak rumah mereka berdekatan, Nio tidak mau pulang, dia ingin tidur dengan calon ibunya dan Dane yang menghormati Denna dia memilih tidur di rumahnya sendiri.


Keesokan harinya, Denna sudah bangun dan menyiapkan sarapan pagi untuk dua pria yang sekarang sudah duduk di depan meja makan.


"Dane, nanti aku ada jadwal praktek sampai sore karena aku menggantikan Diaz. Kamu tidak perlu menjemputku karena aku akan membawa mobil sendiri, aku mau ke rumah Diaz. Tidak apa-apa, kan?"


"Iya, kamu harus berhati-hati kalau membawa mobil sendiri."


"Iya, Dane."


Selesai makan pagi Dane berangkat ke sekolah Nio sebelum dia pergi ke kantornya dan Denna membawa mobil sendiri pergi ke rumah sakit.


Selesai praktek, Denna pergi ke rumah Diaz karena dia ingin melihat keadaan Diaz sahabatnya itu.


"Halo anak cantik, Mama Diaz kamu ada?"


"Ada, Tante. Mama Diaz sedang sakit, katanya di dalam perut mama Diaz ada calon adikku yang lucu."


"Iya, kamu senang tidak mau punya adik.".


"Senang sekali, apa lagi kalau dia nanti perempuan, bisa aku ajak main boneka."

__ADS_1


"Gadis pintar. Kalau begitu Tante permisi dulu mau menemui Mama Diaz kamu." Denna mencubit pipi gadis kecil itu.


__ADS_2