
Dane bercerita jika asisten pribadinya itu sakit hati dan akhirnya dia ingin membalas dendam dengan membuat perusahaan Dane hancur."
"Lalu, apa yang kamu lakukan kepadanya saat tau dia mengkhianatimu?"
"Aku memaafkannya dan membiarkan dia pergi menjauh selamanya dari hidupku."
"Wow! Baik sekali kamu, aku kira kamu akan mengirimnya jauh dari dunia ini karena bagiku seorang pengkhianat tidak pantas dibiarkan untuk tetap hidup."
"Ayah!" seru Denna lirih, tapi ditekankan. Kedua mata Denna juga mendelik pada ayahnya.
"Sayang, jangan bicara yang menyeramkan seperti itu." Nara mengingatkan jika di sana ada Denna dan Nio.
"Aku minta maaf karena aku sangat membenci seorang pengkhianat."
"Dia berbuat seperti itu hanya karena sakit hati aku tidak membalas cintanya, aku tidak bisa menyalakan dia karena perasaannya itu."
"Tapi kamu cukup memiliki hati sebagai seorang--."
"Sayang, sekarang waktunya kamu minum obat."
"Oh, iya, ma. Nio karena sudah malam, Nio harus pulang karena besok sekolah." Denna mengusap perlahan kepala Nio.
"Tante Denna, jangan lupa datang ke sekolah Nio.
"Tentu saja, aku akan hadir di sekolah Nio." Denna mencoba beranjak dari tempat sofa ke kursi rodanya.
"Sayang, ayah akan membawa kamu ke lantai atas supaya kamu bisa istirahat."
"Apa boleh aku yang membantu Denna?"
Nara seketika memegang pundak Jaden yang hendak menggendong Denna.
"Iya, Dane, kamu tolong bawa Denna naik ke kamarnya karena ayahnya Denna kemarin mengeluh pinggangnya agak sakit."
Jaden terlihat bingung. Sejak kapan dia sakit pinggang?
"Nara, memangnya kapan aku sakit pinggang?" bisik Jaden pada istrinya.
"Bukannya kemarin malam kamu menyuruhku memijit pinggang kamu. Apa kamu lupa?"
"Tapi--?"
"Dane, tolong bawa Denna ke atas agar dia bisa segera beristirahat setelah minum obat."
"Aku mau ikut kalian. Aku mau mengucapakan selamat malam pada Tante Denna."
Dane mengangguk dan dia menggendong Denna apa bridal style. Denna terdiam di dalam gendongan Dane. Dia masih menatap pria yang sedang membopongnya itu.
__ADS_1
Di lantai bawah Jaden melihat neneknya serta istrinya fokus melihat pada Dane yang menggendong putrinya.
"Sebenarnya kalian berdua ini kenapa? Apa yang sedang kalian rencanakan?"
"Rencanakan? Kami tidak merencanakan apa-apa."
"Kamu jangan bohong, Sayang, apa yang sebenarnya kalian rencanakan?"
"Kamu diam saja, dan lihat saja apa yang terjadi nanti," terang nenek di mana nadanya terdengar ambigu bagi Jaden.
"Memangnya apa yang nanti terjadi?" Jaden benar-benar bingung dengan kedua wanita ini.
Dane meletakkan Denna di atas tempat tidurnya. Dane juga membantu Denna mengambilkan obat serta air minumnya.
"Tante Denna, apa obatnya tidak pahit?"
"Tidak, obatnya sama sekali tidak terasa pahit."
Denna kemudian mengecup kening Nio dan mengucapkan selamat malam pada Nio.
"Selamat malam juga Tante Denna. Sweet Dream," ucapnya.
Denna terkekeh mendengar ucapan Nio. "Apa tidak ada yang kamu butuhkan lagi, Denna?"
Wanita itu menggeleng pelan. "Kalau tidak ada, aku dan anakku permisi dulu."
Dane tersenyum kecil dan dia membawa putranya untuk turun ke bawah.
Denna langsung memegang dadanya, di mana jantungnya berdetak sangat keras.
"Aku ini kenapa? Kenapa tiba-tiba detak jantungku berdetak sangat cepat seperti ini?" Denna tampak bingung sendiri.
***
Keesokan harinya, Dane yang sedang berada di dalam kantornya mendapat telepon dari seseorang. Dane sangat terkejut mendengar apa yang orang itu katakan.
"Apa kamu yakin dengan informasi yang kamu berikan ini?"
"Tentu saja saya sangat yakin, Tuan Danendra."
"Baiklah, kalau begitu terima kasih atas informasinya.
Dane segera mengambil kunci mobilnya dan dia turun ke lantai basement untuk mengambil mobilnya.
Dane memacu mobilnya dengan cepat menuju ke arah rumahnya.
Sesampai di sana, Dane segera melangkah dengan langkah besarnya menuju ruangan yang dia tau pasti jika orang yang ingin ditemui berada di sana.
__ADS_1
"Tuan Muda Dane, kenapa sudah pulang? Bukannya ini masih jam sebelas siang?"
"Kek, apa benar yang mendonorkan jantungnya untukku adalah Dimas? Dan dia adalah suami Denna?"
Kakek Rayhan yang sedang duduk di kursi utamanya di ruang kerja tampak tenang meletakkan penanya. Dia melihat dengan tatapan yang juga tenang pada Dane yang menunggu jawabannya.
"Itu memang benar, Dane. Aku tau jika informan kamu sudah mendapatkan info yang kamu inginkan."
Dane duduk perlahan pada kursi di depan kakeknya. Paman Sam yang melihat tampak khawatir pada Dane.
"Nak, tenangkan dirimu. Apa mau paman ambilkan minum untuk kamu?"
"Tidak perlu, Paman. Kek, kenapa tidak mengatakan dari awal jika jantung ini milik Dimas? Aku memang sedang mencarinya, tapi dia yang datang padaku dengan caranya dan aku tidak suka dengan caranya ini."
"Dane, kakek juga tidak mengharapkan hal ini, tapi mungkin takdir yang memang menginginkan hal seperti ini."
"Kalian benar-benar keterlaluan."
"Kami ingin memberitahumu, tapi Nak Denna yang tidak mengizinkan hal itu," terang Paman Sam yang tidak mau Dane menyalahkan kakeknya.
"Kenapa Denna tidak mengizinkan? Apa salahnya jika aku mengetahui siapa yang sudah memberikan jantungnya agar aku bisa hidup?"
"Denna tidak mau membebani kamu dengan rasa bersalah nantinya, dan dia juga tidak mau merasa kamu berhutang budi padanya. Nak Denna benar-benar baik. Dia bahkan tidak mau menerima tawaran kami memberikan apa pun yang dia minta."
"Aku permisi dulu." Dane seketika beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari sana.
"Dane, kamu mau ke mana?" Dane tetap berjalan pergi dari sana tanpa menghiraukan panggilan kakeknya.
Dane teringat saat dia kecil bersama dengan Dimas. Dimas kecil sangat pemberani. Dia bahkan membela Dane yang sedang di jahili oleh anak-anak yang umurnya lebih tua dari mereka.
"Pergi kalian! Kalau tidak aku akan memukul kalian dengan tongkat yang aku bawa." Bocah yang masih sangat kecil itu mengayunkan tongkatnya sembarangan guna mengusir anak-anak nakal yang sedang menggoda Dane.
Anak-anak nakal itu akhirnya pergi dari sana.
"Terima kasih, Dimas, tadi aku akan melawannya, tapi anak besar itu memukul dadaku dan tiba-tiba rasanya sakit sekali."
"Apa kamu baik-baik saja? Dane, pokoknya kamu harus kuat dan jangan takut melawan mereka."
"Aku tidak takut, tapi benar-benar terasa tidak enak saat tadi dadaku dipukul mereka. Kata kakek ada masalah pada jantungku saat aku dilahirkan."
"Jantung kamu?"
"Iya, yang ada di dalam sini." Dane menunjukkan dengan telunjuknya tepat di dadanya.
Telapak tangan Dimas perlahan menyentuh pada dada Dane. "Apa di sini yang sakit?"
Dane mengangguk perlahan. "Kata kakek, nanti saat usiaku bertambah, rasa sakit itu bisa semakin terasa jika aku tidak mendapatkan jantung baru."
__ADS_1
"Kalau kamu mau, aku akan memberikan separuh jantungku sama kamu agar kamu tidak merasakan sakit," ucapan anak-anak itu begitu polos.