
Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Nio. Dia bangun lebih pagi dari biasanya. Kakek yang mengetahui jika hari ini Nio akan pergi ke kebun binatang dengan Denna tampak membantu cicitnya bersiap-siap.
"Nio, Tante Denna ke sini masih nanti pukul setengah delapan, dan ini masih pukul enam pagi. Apa kamu tidak terlalu cepat bersiap-siap?"
"Tidak apa-apa, Kakek buyut. Aku itu ingin on time." Bocah itu membantu kakek buyutnya mengancingkan kemeja putih yang dia pakai.
"Dia semangat sekali kakek Rayhan, sampai aku beberapa kali melihatnya memandangi kalender yang ada di ruang tengah."
"Iya, aku tidak sabar menunggu hari ini. Aku ingin sekali jalan-jalan melihat banyak sekali binatang yang ada di sana. Kata Tante Denna, nanti aku juga diajak pergi melihat pertunjukan sirkus para hewan di sana."
"Ya sudah, semoga jalan-jalanmu hari ini menyenangkan, Sayang."
Di rumahnya, Denna yang memang sudah bersiap dari tadi, tapi dia menunggu jam untuk menyusul Nio tampak berbicara dengan Diaz di telepon.
"Kamu mau pergi?"
"Iya, aku akan pergi dengan Nio."
"Menyenangkan sekali ya, Denna, jika kita bisa menghabiskan waktu dengan anak-anak. Mereka yang masih polos dan belum ada benan sama sekali."
"Iya, kalau bermain dan berbicara dengan mereka rasanya membuat hati lebih tenang dan nyaman, walaupun tingkah mereka sangat banyak."
"Iya. Sayang sekali Sita baru keluar dari rumau sakit. Kalau tidak aku pasti akan mengajak Sita ikut berjalan-jalan denganmu. Akan aku kenalkan pada Nio."
"Iya, Ya. Mereka pasti bisa menjadi sahabat baik nantinya."
"Eh, coba ada Dane ikut dengan kalian, pasti akan sempurna."
"Kenapa jadi membahas Dane?"
Tidak lama terdengar suara Nio memanggil Denna dari arah luar. "Nio? Kenapa dia ada di sini? Bukannya aku yang nanti akan menjemputnya?" Denna tampak bingung.
"Mungkin dia ingin datang ke rumah kamu. Ya sudah kalau begitu kalian bersenang-senanglah. Have fun ya!"
Denna mengakhiri panggilanya dan dia berjalan keluar menuju Nio.
Netra Denna menangkap sosok seseorang yang beberapa hari ini membuatnya ingin tidur malam.
"Dane?"
Pria itu melepaskan kaca mata hitamnya, dan memberikan ulasan senyum manisnya pada Denna.
__ADS_1
"Tante, hari ini kita akan berjalan-jalan dengan Daddyku. Apa Daddyku boleh ikut?"
"Em ...!" Denna yang dari tadi pandangannya terpaku pada sosok Dane, tersadar dan langsung melihat pada bocah kecil yang ada di bawahnya.
"Boleh ya,Tante?"
"I-iya, tentu saja boleh," jawab Denna lirih.
Dane berjalan mendekat ke arah Denna. "Hore! Kita jalan-jalam bertiga!" seru Nio senang.
"Dane, kenapa kamu sudah ada di sini?"
"Aku sudah bilang jika aku merindukan seseorang, makanya aku menjadwalkan kepulanganku lebih cepet."
"Oh ... begitu. Aku tau siapa yang kamu rindukan? Guru yang baik itu, kan?" Denna melirik pada Dane. Pria itu wajahnya datar saja.
"Daddy, ayo kita berangkat sekarang," rengek Nio.
"Arsen, kita belum menyapa kedua orang tua Tante Denna. Kita harus minta izin dulu pada kakek Jaden jika kita ingin mengajak anaknya pergi."
Kakek Jaden? Kedua mata Denna mendelik kaget mendengar ucapan Dane.
Dane menggandeng putranya masuk ke dalam rumah dan mereka bertemu dengan Nara, Jaden dan nenek Miranti.
"Jaga putriku baik-baik ya, Dane."
"Iya, Om. Kami permisi dulu kalau begitu."
Mereka bertiga menuju mobil. Nio menyuruh Denna duduk di depan bersama daddynya dan dia ingin duduk di belakang supaya dapat bermain dengan mainan barunya yang Dane bawakan.
Denna terdiam duduk di samping Dane. Pria itu menyetir dengan fokus ke depan.
"Cincin pemberianku belum kamu buang, kan?"
"Ah!" Denna kaget dengan pertanyaan Dane. "Soal cincin? Cincin itu masih ada. Aku lupa tadi memberikan kepadamu," suara Denna memelankan pada kalimat terakhir.
"Berikan saja pada saat kita di Villa nantinya karena di sana nanti aku akan katakan jika kamu menerimaku aku tidak pada keluarga kita. Jujur saja kakekku pernah menyuruhku menikah denganmu, tapi waktu itu aku masih belum yakin pada diriku sendiri."
"Kalau sekarang, kenapa kamu ingin menikahiku? Jujur saja hal ini benar-benar membuatku tidak percaya, apa lagi kita dari awal tidak memiliki hubungan."
"Aku tidak tau, tapi entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang membuatku marah jika melihat kamu bersama pria lain. Aku tidak mau kamu menjadi milik orang lain, Denna, dan hal itu yang membuatku berani ingin menikahimu."
__ADS_1
Jika bisa digambarkan, saat ini hati Denna banyak sekali bunga bermekaran. Sangat bahagia, dan itu karena mendengar apa yang Dane katakan.
"Itu kebun binatangnya!" Nio berseru senang.
Dane memarkirkan mobilnya dan mereka berjalan menuju pintu masuk. Setelah memberikan tiketnya mereka bertiga berjalan masuk. Nio langsung berlari ke arah kandang rusa karena dia ingin memberi makan rusa-rusa yang sangat cantik itu.
"Daddy, rusanya makan dengan lahap."
Dane tampak senang melihat putranya dan Denna yang sama-sama sedang memberi makan rusa-rusa itu.
Setelah puas memberi makan mereka berkeliling menelusuri kebun binatang yang sangat luas itu.
"Nio, jangan berlari, nanti jatuh. Lihat saja di sana banyak lubang selokan."
"Iya, Tante Denna."
Mereka masuk ke ruangan khusus hewan laut. Nio tampak senang bisa melihat secara langsung hewan yang dikatakan ikan duyung.
"Oh ... jadi ini yang katanya Bu guru namanya Dugong. Besar sekali ya, Tante."
"Iya, besar sekali dan dia lucu mukanya." Mereka sedang berada di akuarium kaca yang sangat besar.
"Daddy, aku mau berfoto sama ikan ini dan juga Tante Denna."
"Kenapa harus dengan Tante Denna?"
"Tidak apa-apa, Tante. Ayo ke sini! Biar Daddy yang memotret kita." Tangan Nio menarik tangan Denna.
Denna pun akhirnya ikut berfoto. Dane yang menjadi sang fotografer terlihat bersemangat menjepret dua orang yang bagi Dane sangat berharga.
"Daddy, aku mau melihat yang di sana." Bocah itu seolah tidak ada capeknya.
Di sana banyak sekali anak berlarian karena bingung melihat banyak sekali akuarium dan ikan yang sangat indah di dalamnya.
Segerombolan anak yang datang dan langsung berlarian dengan sesukanya.
"Denna, awas!" Tangan Dane menarik pinggang Denna, menariknya lebih dekat, karena takut Denna nanti ditabrak oleh anak-anak itu.
"Mereka memang sangat aktif. Denna, kenapa kamu diam saja?" Dane ini bicara tepat di belakang telinga Denna. Dane pun posisinya membuat jantung Denna berdegup kencang dan tidak karuan saja.
Bagaimana hal itu bisa membuat jantung berdetak keras? Ini semua karena Dane berada tepat di belakang Denna dan salah satu tangannya melingkar pada pinggang Denna.
__ADS_1
"Dane?" Denna memiringkan sedikit kepalanya melihat ke samping-- wajah Dane.