
Dane akhirnya mendapat informasi jika memang pria yang diduga mengkhianatinya itu sudah memiliki keluarga dan anaknya memang sedang sakit keras.
"Tuan Dane, tolong biarkan saya pulang karena putri saya pasti sudah menunggu."
"Lepaskan dia, dan kamu jangan pulang dengan keadaan seperti itu. Obati lukamu agar putri dan istrimu tidak khawatir melihat keadaanmu."
"Tap, Tuan Dane."
"Bimo, lepaskan dia, dan tentang wilayah itu aku tidak mau memikirkannya lagi."
"Kenapa Tuan Dane jadi berubah seperti ini setelah lama terbaring di rumah sakit?"
"Bimo, apa kamu tidak dengar jika dia melakukan hal itu untuk putrinya. Kamu belum menjadi seorang ayah, jadi kamu tidak akan tau apa yang bisa seorang ayah lakukan untuk anaknya."
"Terserah Tuan saja."Wajah pria dengan kulit coklat itu terlihat kesal.
"Oh ya! Kepada siapa wilayah itu kamu jual?" tanya Dane sebelum orang itu pergi.
"Kalau saya tidak salah dengar, dia bernama Jaden Luther."
Dane tampak terdiam mendengar nama yang pria itu sebutkan. "Kalau begitu, kamu boleh pergi."
"Terima kasih, Tuan Dane."
"Tuan Dane, apa kita ambil kembali wilayah yang seharusnya menjadi milik Tuan Dane itu?"
"Apa kamu tau kenapa pria bernama Jaden itu menginginkan wilayah itu?"
"Saya tidak tau, tapi kalau Tuan Dane ingin mengetahui semuanya, akan saya cari tau."
"Coba kamu cari tau saja dan segera kabari aku."
"Baik, Tuan." Bimo pergi dari sana.
Dane tampak berpikir sejenak. Dia tidak mengira jika ayah dari Denna yang akan menjadi salah satu saingannya.
Dane berjalan pergi dari sana. Dia mengendarai mobilnya sendiri, dan tidak lama Dane berhenti di suatu tempat.
Dia membuka jendela kaca mobilnya dan melihat ke suatu arah di mana ada sebuah rumah dan Dane menatap jendela kamar seseorang yang lampunya masih menyala.
"Apa dia belum tidur?" ucapnya sendiri.
Dia melihat ke arah ponsel yang dia bawa. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Kemudian dia memasukkan ponselnya ke dalam celana panjangnya dan pergi dari sana.
__ADS_1
***
Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh si kecil Nio. Dia akan menampilkan sebuah persembahan untuk semua orang yang hadir di sekolahnya.
"Daddy, kenapa kita tidak menjemput Tante Denna saja?"
"Tante Denna bilang jika dia mungkin aka datang sedikit terlambat karena dia akan pergi ke rumah sakit sebentar."
"Tapi Tante Denna bukannya masih memakai kursi roda?"
"Iya, dia memang masih memakai kursi roda, tapi dia pergi ke rumah sakit untuk kontrol."
"Oh ... aku kira di rumah sakit yang banyak anak kecil pasiennya itu."
Dane tersenyum kecil dan mengusap pelan kepala Nio. Nio hari ini hanya diantar oleh Dane karena kakek buyutnya sedang pergi ke luar negeri dengan paman Sam, mereka ada urusan yang tidak bisa ditunda.
Dane ini sebenarnya khawatir takut Denna tidak akan datang karena perdebatan mereka waktu itu dan Denna tampak marah pada Dane.
Sampai pada saat Nio tampil, Denna pun belum menampakkan batang hidungnya.
"Daddy, aku mau tampil, tapi kenapa Tante Denna belum datang? Teman-temanku kedua orang tuanya sudah datang semua dan mereka tampak memberi semangat di kursi penonton." Raut wajah Nio sudah berubah sedih dari yang tadi tampak bersemangat
Dane duduk berjongkok mensejajarkan dirinya dengan putranya. Dia tampak mengusap lembut pucuk kepala Nio.
"Tapi Tante Denna sudah berjanji ingin melihat aku tampil di acara ini, Daddy."
"Apa aku terlambat ya?"
Tiba-tiba suara seseorang yang Nio tunggu ada di sana. Seketika bocah laki-laki itu menoleh dan wajahnya terlihat berubah bahagia sekarang karena orang yang dia tunggu sudah datang di sana.
"Tante Denna!" Nio langsung memeluk pada Denna yang duduk di kursi roda.
"Apa aku terlambat ya?"
"Belum, acaranya masih belum dimulai. Aku kira Tante Denna tidak datang."
"Aku sudah berjanji padamu dan bagaimanapun orang yang sudah berjanji harus menepatinya."
Denna datang bersama dengan supir pribadi ayahnya dan Dane menyuruh agar supir itu pulang karena dia nanti yang akan mengantarkan Denna.
"Dane, aku nanti pulang dengan supir saja."
Dane menunduk dan menatap pada Denna. "Dari sini biar aku yang bertanggung jawab kepadamu."
__ADS_1
Denna langsung terdiam terkena tatapan dari Dane. "Nanti Tante Denna pulang dengan kita saja."
Supir itu izin pulang dan Denna dibawa oleh Dane ke bangku penonton setelah mengantar Nio pada gurunya untuk berganti kostum.
"Dane, apa tidak bisa kursinya diambil saja."
"Aku akan menggendong kamu."
"Jangan! Aku malu kalau kamu menggendongku terus."
"Kenapa malu? Mereka pasti menyadari kalau kakimu sedang sakit." Dane menggendong Denna dan mereka langsung menjadi pusat perhatian di sana.
Salah satu wali murid di sana memuji keromantisan daddy Nio kepada istrinya yang sedang sakit.
Denna hanya bisa nyengir kuda mendapat pujian itu. Dane meletakkan Denna duduk di bangku paling depan.
"Suka sekali kamu menggendongku sepertinya."
"Kalau iya, kenapa?" Dane duduk tepat di sebelah Denna dengan santai.
Denna hanya memandang malas pada Dane yang sekarang fokus melihat ke atas panggung.
Acara di mulai dan pertunjukan drama tentang gadis berkerudung merah dengan sang serigala berjalan dengan apik. Nio dapat memainkan perannya sebagai serigala dengan sangat baik.
"Apa kamu yang mengajarkan Arsen peran menjadi serigala itu?" tanya Dane yang mendekat pada Denna.
"Bukan aku, aku hanya membacakan cerita itu dengan menirukan karakter yang ada di dalam cerita. Itu saja."
"Kamu berhasil menirukan karakter itu, tapi seharusnya menjadi serigala itu harus lebih kejam dan jahat."
"Aku tidak pernah menjadi orang jahat. Jadi, aku tidak bisa menirukan menjadi serigala yang sangat jahat."
Dane tau jika Denna adalah sosok wanita yang lembut dan sangat perhatian. Dia juga sangat sabar walaupun dia gampang ngambek.
Mereka kembali menyaksikan persembahan tambahan yang Nio akan tunjukkan, dan guru Nio sebagai pembawa acara mengatakan jika ini adalah persembahan dari keinginan Nio sendiri.
"Terima kasih, Bu guru dan teman-teman. Aku Arsenio Danu Atmaja ingin menceritakan tentang seseorang yang sangat berarti bagiku selama beberapa hari ini. Sebenarnya ini juga aku diajari oleh paman Sam yang adalah asisten pribadi kakek buyutku. Terima kasih."
Dane dan Denna yang kaget sama-sama melihat satu sama lain.
"Apa yang paman Sam ajarkan pada Arsen?"
Nio mulai bercerita jika dia berkenalan dengan seorang bidadari memakai seragam dokternya. Bidadari itu bernama Tante Denna.
__ADS_1
Nio menceritakan jika dia sangat senang bisa berkenalan dengan Dokter cantik yang memiliki hati seperti bidadari. Denna tampak tertegun mendengar apa yang Nio katakan.