
Denna yang sudah bangun, dan dia melihat Diaz yang masih tidur membiarkan sahabatnya itu.
Denna turun ke lantai bawah dan bertemu dengan mamanya yang sudah ada di dapur.
"Pagi, Ma."
"Pagi, ceria sekali. Sepertinya tadi malam sang pangeran malam menghubungi kamu lagi, ya?" Goda mamanya.
"Siapa? Dane? Biasa saja. Aku hanya mengatakan jika Nio merindukannya dan berharap dia jangan lama-lama di sana."
"Nio yang rindu atau calon mommy barunya Nio yang rindu." Nara masih saja menggoda putrinya.
"Mama ini apa sih? Aku belum mengambil keputusan dan mama sudah tau keputusanku."
Tangan Nara mencubit pipi Denna gemas. "Kamu itu membingungkan. Sebenarnya kamu itu mau menerima Dane atau tidak? Kalau kamu menerimanya, mama tidak jadi memperkenalkan pada anak temannya mama."
"Ma, aku sudah bilang jika tidak perlu membahas masalah itu dulu. Lagi pula Dane masih lama di sana, dan aku masih ada waktu memikirkannya." Denna sedang membantu mamanya menggoreng ikan.
"Ya sudah kalau begitu. Oh ya! Semalam mama mendengar Diaz menangis, ya? Dia kenapa?"
Denna melihat mamanya serius, kemudian dia beralih melihat pada anak tangga di mana dia takut Diaz sudah bangun dan turun.
"Ma, suami Diaz menikah lagi."
"Apa? Kamu serius, Nak?" Nara sangat terkejut.
Denna menceritakan apa yang terjadi pada sahabat baiknya. Nara yang memang sudah menganggap Diaz seperti putrinya sendiri tampak bersedih mendengarkan cerita Denna.
"Mama jadi kesal sama mertuanya Diaz. Bisa-bisanya mereka berpikiran picik seperti itu. Diaz dan putranya baru menikah sekitar dua tiga tahunan. Kenapa bisa langsung mengatakan Diaz tidak bisa punya anak?" Nara sampai menggelengkan kepala sembari tangannya mengaduk sup yang dia buat.
"Aku juga kesal bahkan marah sama mereka. Mas Rio juga tidak bisa menjaga dan melindungi Diaz."
"Lalu, apa yang akan dilakukan Diaz sekarang?"
"Tidak tau, Ma. Kalau aku memintanya untuk berpisah saja walaupun itu terdengar jahat, tapi akan lebih menyakitkan tinggal satu atap dengan wanita lain yang menjadi istri suami kita padahal kita tidak mengizinkan hal itu."
"Mama juga setuju. Kasihan Diaz jika masih bertahan dengan keadaan seperti saat ini."
"Mas Rio dan keluarganya benar-benar keterlaluan. Diaz ingin berpisah, tapi dia masih sangat mencintai suaminya, Ma."
__ADS_1
"Memang akan menyakitkan juga harus berpisah dengan orang yang sangat kita cintai. Apa lagi dengan cara seperti ini."
"Iya, Ma. Kita lihat saja apa yang nanti menjadi keputusan Diaz."
"Kamu bilang pada Diaz, jika kita semua di sini akan mendukung semua keputusan yang dia ambil."
Denna mematikan kompor dan membantu menyajikan semua makanan di meja makan. Denna lalu izin naik ke kamar untuk membangunkan Diaz.
Saat membuka pintu. Denna melihat ada Diaz yang sepertinya baru saja menghapus air matanya sambil memegang ponsel.
"Kamu sudah bangun?"
"Iya, tadi mas Rio menghubungiku, tapi aku mematikannya dan aku juga tidak mau mengaktifkan ponselku, Denna."
"Kenapa tidak kamu jawab saja, dan kalau perlu bicara tegas sama dia. Ambil keputusan. Aku jadi emosi kalau begini." Denna bersidekap kesal.
"Aku mau menenangkan diri dulu dalam beberapa hari. Mungkin aku akan mengambil cuti. Aku akan coba bicara dengan kepala rumah sakit."
"Kamu mau pergi ke mana? Jangan ke mana-mana dan melakukan hal yang buruk Diaz."
"Kamu tenang saja, aku tidak akan bunuh diri. Kalaupun mau kenapa tidak dari dulu saja sebelum aku bertemu dengan mas Rio."
Di sana sudah ada kedua orang tua Denna dan nenek Miranti.
"Diaz, ayo makan. Makan yang banyak dan ini ada sup kesukaanmu."
"Terima kasih, Tante."
Nara menatap wajah Diaz dengan sayu. Nara seolah membayangkan jika putrinya yang berada di posisi Diaz. Dia bisa-bisa berubah jadi singa betina. Dia akan marah pada seluruh keluarga Rio.
"Diaz." Nara memeluk Diaz erat. Wanita dengan tubuh agak tambun itupun menangis dengan keras dalam dekapan Nara.
Denna yang tidak dapat membendung air mata ikut menangis mengusap-usap pelan punggung Diaz.
"Ada apa ini?" Jaden bingung dan melihat pada Nenek Miranti. Wanita tua itupun juga bingung ada apa dengan mereka bertiga.
Nara melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Diaz. "Kamu adalah wanita yang kuat, dan aku tau itu karena aku mengenalmu, Diaz."
"Iya, Tante."
__ADS_1
"Hal seperti ini tidak akan bisa membuatmu jatuh dan berantakan. Malah hal seperti ini akan membuat Diaz semakin kuat menghadapi kenyataan hidup. Masih banyak yang sayang kamu walaupun mereka sudah menyakitimu. Tante dan semua keluarga di sini adalah keluargamu juga."
"Nara, memangnya ada apa dengan Diaz?"
Nara menceritakan apa yang terjadi pada sahabat putrinya itu. Jaden tentu saja ikut geram mendengar hal itu.
"Ya Tuhan! Kenapa mereka mereka sampai tega melakukan hal itu. Bagaimana jika malay putranya yang tidak bisa memberi keturunan? Apa mereka tidak memikirkan hal itu?"
"Aku juga berpikir seperti itu nenek buyut."
"Diaz kalau membutuhkan sesuatu, kamu bisa katakan padaku dan jangan sungkan meminta apapun pada keluarga Denna karena kamu juga sudah kami anggap sebagai bagian dari keluarga ini."
"Terima kasih banyak, Om. Aku di sini seperti memiliki keluarga yang hangat."
Mereka makan bersama dan Denna mengajak Diaz berangkat ke rumah sakit.
"Diaz, kamu mau ke mana?"
"Aku mau ke kamar Sita dulu."
"Oh gadis kecil yang adalah pasienmu itu?"
"Iya. Denna, aku berencana untuk mengangkat Sita menjadi anakku."
"Kamu serius?"
Diaz mengangguk. "Kamu tau jika Sita itu ditinggal kedua orang tuanya?"
"Iya, aku tau. Kasihan sekali nasib gadis kecil itu, dia harus merasakan hidup sendiri karena kedua orang tuanya yang tidak bertanggung jawab."
"Denna, aku mau menjadi orang tua angkat untuknya. Aku akan mengajak dia tinggal di rumah yang aku sudah beli sendiri. Sita dan neneknya akan ikut denganku, aku juga akan menjamin masa depannya."
"Lalu, bagaimana dengan mas Rio dan pernikahanmu?"
Diaz terdiam sejenak. "Mungkin aku akan memilih berpisah dengannya. Aku akan mencoba menguatkan diri menerima semua ini. Mungkin dengan hidup bersama Sita dan neneknya, aku akan jauh merasa lebih baik."
Denna memeluk sahabatnya itu. "Kamu orang yang baik, dan suatu hari nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan kamu duga. Kita percaya saja akan hal seperti itu."
"Iya, jika kita memberi kebahagiaan untuk orang lain, suatu hari nanti pasti kita juga akan mendapat kebahagiaan itu."
__ADS_1
Diaz izin pergi ke lantai atas untuk menemui Sita. Dia ingin sekali memeluk gadis kecil itu.