Stay Beside You

Stay Beside You
Makan Malam Romantis part 1


__ADS_3

Dane mengatakan akan menjemput Denna tepat jam tujuh malam.


"Aku akan menunggumu. Dane, aku mau berangkat ke rumah sakit dulu."


"Iya, hati-hati Denna."


Denna tampak tersenyum sembari mendekap ponsel pada dadanya.


Denna turun ke lantai bawah dan makan bersama dengan keluarganya.


Nara dan Jaden saling melihat aneh saat mereka melihat putrinya tampak tersenyum sendiri.


"Aku berangkat ke rumah sakit dulu, ya?" Denna mencium pipi keluarganya satu-persatu.


"Nak, hati-hati di jalan."


"Jangan membayangkan Dane terus. Fokus kalau menyetir," timpal ayahnya.


"Ayah!" Denna cemberut.


"Apa ayah salah bicara?"


"Hem ...!" Denna berjalan menuju mobilnya.


Di rumah besar Dane, dia juga sedang makan bersama dengan kakek dan putranya.


"Daddy, nanti aku mau diajak kakek pergi ke toko buku membeli buku cerita yang banyak. Apa Daddy mau ikut?"


Dane melihat pada kakeknya. "Sayang, Daddy kamu tidak bisa ikut karena ada urusan yang sangat penting. Nio sama kakek dan Paman Sam saja," terang kakek Rayhan.


"Pekerjaan Daddy banyak sekali, ya?"


"Daddy sudah ada janji dengan seseorang dan janji harus ditepati, kan?"


Nio mengangguk dengan cepat. "Kalau begitu Daddy harus menepati janji. Kita kapan-kapan saja jalan-jalannya bersama, dan nanti kita ajak Tante Denna seperti waktu itu."


"Pasti, Nak."


Nio kembali melanjutkan makan paginya. "Dane."


"Auw," rintih Dane pelan karena tangannya yang masih sakit dipegang oleh kakeknya.


Pria tua itu seketika melihat curiga pada cucunya. "Ikut kakek ke ruang kerja sebentar. Paman Sam, tolong temani Nio makan sebentar."


"Baik, Kek."


Dane tampak terdiam sejenak. Dia pasti akan membuat kakeknya khawatir.

__ADS_1


Dane berjalan mengikuti kakeknya. Saat sudah berada di dalam ruang kerja itu, kakek menyuruh Dane membuka bajunya karena kakeknya ingin melihat berapa banyak luka pada tubuh Dane.


"Kek."


"Kalau kamu masih menganggap kakek ini adalah kakekmu, lakukan perintah kakek."


Dane tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dia melepas suitnya dan membuka satu persatu kancing kemejanya.


Kakek bisa melihat ada luka pada perut dan lengan Dane yang tampak masih baru.


"Oh Tuhan! Kenapa tidak memberitahu kakek semua ini?"


"Kek, ini bukan hal pertama bagiku dan kakek."


"Siapa yang berani melukaimu seperti ini?"


"Kek, ini urusanku dan bisnisku. Kakek sudah tau bagaimana aku, kan?"


Pria tua itu duduk bersandar pada kursi kebanggaannya. "Kakek takut, Nak."


"Kakek tenang saja. Aku akan baik-baik saja. Cucu dari Rayhan Danu Atmaja akan baik-baik saja."


"Nak, jangan seperti itu. Kakek benar-benar takut. Jangan turun tangan sendiri. Biar anak buahmu yang melakukannya."


"Apa itu yang kakek ajarkan padaku? Aku harus tetap turun tangan sendiri apa lagi mengurusi orang-orang itu.


Pria tua itu menghela napasnya pelan. Dia memiliki ketakutan yang sangat besar terhadap cucu satu-satunya yang pernah hampir meninggalkannya, dan hal itu seperti mimpi buruk bagi Rayhan.


Rayhan tau jika menjadi seorang mafia seperti dirinya pasti akan selalu terlibat dalam bahaya, tapi saat melihat Dane sekarat karena menunggu donor jantung adalah hal yang sangat menakutkan.


"Kek, sebaiknya kita kembali ke meja makan karena nanti Arsen pasti bertanya kenapa kita lama di dalam sini."


"Nak, apa kamu tidak mau meninggalkan dunia hitam ini? Menikahlah dan hidup bahagia jauh dari kehidupanmu yang sekarang."


Dane menatap kakek ya datar. "Kek, aku suatu hari akan meninggalkan semua ini, tapi tidak untuk sekarang karena masih ada urusan yang belum terselesaikan. Aku akan mencari siapa yang sudah membuat Tiara kecelakaan."


"Apa? Apa maksudmu, Dane?" Kakek terkejut.


Dane menceritakan informasi yang dia dapatkan dari pria yang sudah dia ajak berduel kemarin.


"Jadi, Tiara meninggal karena ada yang sengaja menabrak mobilnya?"


Dane mengangguk. "Aku akan mencari orang itu sampai ketemu."


***


Malam ini Dane sudah tampak rapi dengan setelah kemeja hitam dan celana senada. Dia tidak menggunakan dasi, tapi mengancingkan kancingnya penuh ke atas.

__ADS_1


Putranya dan kakeknya sudah pergi dari rumah. Kakek tau jika Dane akan makan malam dengan Denna. Jadi, dia membawa Nio jalan-jalan membeli buku cerita kesukaannya.


"Zia? Ada apa kamu ke sini?"


Dane sedikit terkejut melihat Zia yang tiba-tiba ada di sana. "Mas Dane!" Gadis itu tiba-tiba memeluk Dane.


Dane tampak terdiam tidak merespon, tapi dia menahan rasa sakit pada tangannya. "Zia, jaga sikapmu." Dane menarik tangan gadis itu agar menjauh dari dirinya.


Gadis di depannya itu sedang menghapus air matanya. Dane menatapnya datar.


"Mas Dane, aku mau meminta maaf padamu, Mas."


"Maaf untuk apa?"


"Mba Denna pasti sudah mengatakan sesuatu tentang apa yang dia dengar."


"Soal itu. Apa benar kamu mencintaiku?" Gadis itu mengangguk. "Kamu ingin menjadi istriku, tapi tidak mau menjadi ibu bagi putraku?"


"Mas Dane, aku bisa menjelaskan semua itu sama kamu."


"Tidak perlu, Zia karena aku juga tidak membutuhkan penjelasan apapun."


"Mas Dane, aku jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama dan aku benar-benar menyukaimu."


"Aku hargai apa yang kamu rasakan padaku, tapi maaf, aku mencintai wanita lain, dan wanita itulah yang akan menjadi ibu dari putraku."


"Mba Denna. Mas Dane akan menikah dengannya, kan?" Dane terdiam sejenak. "Aku dari awal sudah meminta tolong padanya agar aku bisa dekat dengan Mas Dane, tapi ternyata dia juga menaruh hati pada Mas Dane." Zia tersenyum seolah dia sudah dikhianati oleh Denna.


"Kamu salah, bukan dia yang mencintaiku, tapi aku yang mencintainya lebih dulu karena aku tau dia wanita yang pantas aku cintai."


"Mas, aku akan berusaha menjadi ibu dan istri yang baik untukmu. Aku benar-benar mencintaimu, Mas.


"Zia, sebaiknya kamu pulang karena aku harus pergi ke rumah Denna. Aku akan makan malam dengannya."


Dane berjalan pergi dari sana meninggalkan gadis itu berdiri sendirian di tempatnya.


"Aku benar-benar sudah kehilangan pria yang aku cintai dan pria yang dapat membuat hidupku bahagia dan itu semua karena wanita itu." Air mata Zia menetes perlahan pada pipinya.


Dane di dalam mobil melihat Zia yang masih berdiri di sana. "Aku tidak mau menyakiti hatimu atau wanita lain, tapi maaf." Dane berdialog sendiri.


Denna berdiri di depannya rumahnya mondar mandir menunggu Dane datang. Beberapa kali dia melihat pada jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Katanya akan datang jam tujuh tepat, tapi kenapa ini sudah jam tujuh lebih lima belas menit dia belum datang?"


Nara dan Jaden ada di balik jendela melihat putrinya itu.


"Apa Dane tidak jadi mengajak putriku makan malam?"

__ADS_1


"Aku tidak tau, Sayang, tapi aku yakin dia pasti datang."


__ADS_2