
Denna akhirnya ketiduran menunggu balasan pesan dari Dane. Keesokan harinya, Denna terbangun. dengan kaget dan mencari di mana ponselnya.
"Dia tidak menghubungiku." Denna tampak cemberut melihat tidak ada panggilan atau bahkan pesan dari Dane. Pun pesannya yang kemarin belum di baca oleh Dane.
"Fix, aku akan benar-benar mengembalikan cincin darimu dan aku tidak mau menikah denganmu, Danendra." Denna beranjak dari tempatnya dan dia segera mandi karena akan pergi ke rumah sakit.
Di rumah sakit. Denna yang baru datang, masih tidak melihat sahabatnya itu. Denna tampak bingung dengan Diaz. Dia tumben sekali tidak izin masuk lagi sampai dua hari. Kalaupun dia tidak berkerja sampai beberapa hari dia pasti memberitahu pihak rumah sakit, bahkan suster di sana yang biasa bekerja dengan Diaz juga tidak tau.
"Aku akan mencoba menghubungi Diaz. Dia itu kenapa? Harusnya dia tidak boleh mengambil cuti lagi."
Ponsel Diaz bahkan tidak bisa dihubungi. Denna kemudian mencoba menghubungi suami Diaz. Rio pun ternyata juga tidak bisa dihubungi.
"Diaz ini ada apa? Apa ada masalah dengannya? Nanti pulang aku akan mampir ke rumahnya."
Denna kembali melakukan pekerjaannya. Hari ini dia ada visit pagi dan tugas Visit Diaz digantikan dokter lain.
Kegiatan Denna sudah selesai. Walaupun agak terlambat dari jam dia selesai bekerja, Denna sama sekali tidak mengeluh.
Di dalam mobil Denna membaca pesan masuk dari V. V sudah berada di bandara dan menunggu keberangkatannya.
Denna membalas dengan mengatakan agar menghubunginya jika sudah sampai.
Sekarang mata Denna tertuju pada nama Dane, dan tanda centang dua itu belum berubah biru.
Denna memasukkan ponselnya dan dia menuju rumah Diaz. Tepatnya rumah keluarga Diaz.
Sesampai di sana Diaz ternyata sedang tidak ada di rumah. Dari kemarin keluarga Mas Rio dan Diaz juga tidak ada di sana. Mereka semua pergi ke luar kota untuk menghadiri acara keluarga.
"Acara keluarga? Tapi kenapa Diaz susah untuk dihubungi?"
"Mungkin sinyalnya tidak ada, Mba Denna. Nanti kalau Nyonya Diaz pulang, akan saya beritahu kalau Mba Denna mencarinya."
"Ya sudah kalau begitu." Denna izin pergi dari sana. Dia akan menuju sekolahnya Nio seperti apa yang kemarin dia janjikan pada Nio.
__ADS_1
Denna masih memikirkan tentang Diaz. Kalau memang ada acara keluarga, kenapa Diaz tidak menginformasikan hal ini?"
Denna sampai di sekolah Nio, Nio masih belum selesai kegiatan belajar mengajarnya. Denna menunggu di ruang tunggu untuk para penjemput.
"Mba Denna, kenapa ada di sini?" sapa Zia yang saat itu lewat di depan Denna.
"Aku mau menjemput Nio pulang sekolah karena kemarin aku sudah berjanji pada Nio." Denna memberikan senyum kecilnya.
"Menjemput Nio? Mba Denna kenapa masih mencoba mengambil perhatian anaknya Mas Dane? Aku nanti yang akan mengantarkan Nio pulang jika dia tidak ada yang mengantarkan. Lagi pula Mas Dane sedang tidak ada di rumahnya."
"Aku tau. Dane sudah memberitahuku malam sebelum dia akan pergi untuk urusan pekerjaannya," ucap Denna santai sembari mengotak atik ponselnya.
"Apa? Mas Dane memberitahu Mba Denna sendiri? Apa Mba Denna yang mengajak Mas Dane ketemuan?"
Kedua alis Denna mengkerut. "Dane yang mengajakku bertemu. Aku sendiri tidak tau kenapa dia tengah malam ada di luar rumahku?"
Wajah Zia agak kesal mendengar hal itu. " Mba Denna, aku sayang sama Mas Dane dan aku harap Mba Denna mengerti akan hal itu."
"Aku mengerti. Zia, kalau boleh jujur, aku sebenarnya tidak suka kamu menikah dengan Dane, atau bahkan menjadi ibu tiri bagi Nio."
"Dane malam itu selain berpamitan, dia juga melamarku dan mengajakku menikah."
Kedua mata gadis di depan Denna itu seketika mendelik kaget. Zia tampak shock mendengar apa yang Denna katakan.
"Aku tidak pernah mendekati atau mencari perhatian pada Dane, bahkan aku dekat dengan Nio tulus bukan karena ingin dekat dengan Daddy, dan Dane mungkin tau siapa yang benar-benar tulus dan tidak."
"Ini tidak mungkin. Aku juga tulus menyayangi Nio walaupun memang aku juga ingin mendekati Mas Dane. Kalaupun aku menjadi ibunya, aku akan benar-benar sayang pada Nio."
Denna sekarang berdiri dan menatap datar pada Zia. "Jangan menjadi gadis bermuka dua. Kamu bukan orang yang pantas menjadi ibu bagi Nio."
"Apa maksudmu?"
"Apa yang kamu bicarakan dengan Tante atau Bibi kamu di sebuah toko kue itu benar-benar hal yang menunjukan siapa kamu sebenarnya. Zia." Zia tampak berpikir sebentar dan dia baru ingat sesuatu.
__ADS_1
"Tante Denna!" seru Nio yang baru saja keluar dari dalam kelasnya.
"Halo, Nio. Sudah selesai sekolahnya?"
"Sudah! Kita pergi sekarang saja, Tante. Aku sudah lapar karena tadi aku sengaja tidak membawa bekal karena nanti mau di traktir Tante Denna."
"Ya ampun! Kasihan sekali kamu." Denna mengusap rambut bocah kecil itu.
"Nio, apa mau pergi dengan Bu guru ke taman bermain? Bukannya Nio pernah minta pergi ke sana?"
"Bukannya Bu guru Zia bilang mau mengajak Nio ke taman bermain kalau Daddy sudah pulang saja, tapi Daddy masih lama pulangnya. Jadi, aku sudah pergi sama kakek."
Denna melihat dengan senyum miringnya. "Sekarang, mungkin kamu sudah mengerti apa maksud dari perkataanku tadi, gadis bermuka dua," Denna berkata dengan pelan, tapi ditekankan pada tiga kata terakhir.
Denna mengajak Nio pergi dari sana. Dua orang itu bergandengan menuju ke arah mobil Denna yang ada diparkiran.
Kedua tangan Zia mengepal erat menahan amarah. Pandangannya pun tajam pada punggung Denna.
"Aku tidak akan membiarkanmu bahagai, Denna. Apa lagi jika kamu benar menikah dengan Mas Dane."
Denna mengemudikan mobilnya dengan hati-hati karena ada Nio yang ada di sampingnya. Nio tampak senang bisa berjalan-jalan lagi dengan Denna.
"Nio, Nio senang tidak saat berjalan-jalan dengan Bu guru Zia?"
"Senang, tapi segini." Bocah laki-laki itu menunjukan jari telunjuknya dan jempol yang berjarak sangat dekat.
"Apa itu?" Denna tampak heran.
"Sedikit, Tante. Kalau sama Tante Denna, banyak sekali." Tangannya membuka lebar.
Denna tersenyum. "Kenapa seperti itu? Apa Bu guru Zia tidak menyenangkan?"
"Menyenangkan, tapi yang selalu dibicarakan dan ditanyakan hanya Daddy. Bu guru juga tidak terlalu peduli saat bersamaku. Dia malah sibuk dengan ponselnya saja."
__ADS_1
Anak kecil memang lebih peka akan hal seperti itu dan Denna merasa bersyukur bisa mengetahui siapa Zia sebenarnya sebelum semuanya terlambat. Denna akan mengatakan siapa Zia pada Dane.