
Diaz terbangun karena tidak bisa tidur. "Denna, kamu belum tidur?"
"Diaz? Aku kira kamu sudah tidur." Denna memasukkan cincin pemberian Dane yang dari tadi dia pandangi. Denna naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelah sahabatnya.
"Aku tidak bisa tidur, Denna." Diaz kembali menangis dan memeluk Denna. Diaz kembali menangis dalam pelukan sahabatnya.
"Mau bercerita? Aku sedang tidak mengantuk."
"Denna, mas Rio menikah lagi," suara tangisan Diaz semakin keras, tapi dia berusaha menahannya agar tidak terdengar seluruh rumah.
"Apa?" Denna yang terkejut sampai menarik tubuh Diaz menjauh darinya. "Menikah lagi? Kapan hal itu terjadi dan dari mari mana kamu tau hal itu?"
"Dua hari yang aku tidak masuk kerja, setelah malam pesta ulang tahunmu. Mas Rio diajak oleh mamanya bertemu dengan anak dari sahabatnya, dan sekarang gadis itu ada di rumah, Denna."
"Oh Tuhan! Kenapa Mas Rio mau? Kamu juga mengizinkan dia menikah lagi? Kalau kamu tidak mengizinkan, hal itu bisa kamu tuntut."
"Mama mas Rio bilang, dia menikahkan Mas Rio karena ingin memiliki cucu, dan aku akan tetap menjadi istri serta menantu yang utama bagi mereka."
"Tidak ada hal seperti itu. Kalau dia hamil dan memberi mereka keturunan. Apa mereka akan tetap menganggap kamu menantu istimewanya? Lagi pula alasan mereka menikahkan Mas Rio dan gadis itu bukan alasan yang bisa diterima. Kalian saja baru tiga tahun menikah, kenapa sudah menganggap kamu tidak bisa hamil?"
"Aku tidak tau Denna. Sekarang aku benar-benar bingung, apa yang harus aku lakukan?"
Denna tampak terdiam sejenak. Jujur saja sekarang dia mulai tidak respek pada Mas Rio. Dahal dulu Denna senang dan salut dengan kebaikan hati Rio yang mau menikahi Diaz. Diaz yang selalu disakiti para pria dengan mendekatinya, tapi memiliki maksud lain, yaitu hanya ingin uangnya karena Diaz memiliki tubuh tambun, dan tak sedikit dari mereka menghinanya.
"Diaz, aku juga bingung harus berkata apa sama kamu, tapi kalau seperti ini lebih baik kamu minta berpisah saja. Jujur aku kesal sekali mendengarnya."
"Aku juga sebenarnya memikirkan tentang perpisahan, tapi hatiku tidak bisa, Denna. Aku sangat mencintai Mas Rio."
"Oh Tuhan!" Denna semakin erat memeluk sahabatnya itu. Dia juga bingung apa yang harus dia perbuat untuk membantu sahabatnya?"
Ponsel Denna berdering, dan Denna melihat nama pria yang dia rindukan, tapi tidak mau dia akui menghubunginya.
"Aduh! Bagaimana ini?" Denna tampak bingung karena Diaz baru saja bisa tidur dalam pelukan Denna. Denna dengan cepat menyahut dan mematikan panggilan Dane. Dia sebenarnya juga tidak enak sama Dane, nanti takutnya Denna dikira tidak mau menjawab panggilannya.
Denna perlahan-lahan meletakkan Diaz agar lebih nyaman berbaring di atas kasur. Denna beranjak perlahan turun dari tempat tidurnya dan menghubungi Dane.
"Halo, Denna."
"Dane, maaf tadi aku mematikan panggilan teleponmu."
__ADS_1
"Ada apa? Apa ada mamamu? Kamu takut kalau ketahuan sedang berbicara denganku?"
"Mamaku tidak akan marah kalau tau kamu yang menghubungiku."
"Lalu, kenapa? Apa kamu sedang bersama V?"
"V sudah pulang ke negaranya. Makannya itu aku merasa kesepian tidak ada dia."
Dane seketika wajahnya tampak terdiam murung. Denna senang melihat wajah Dane seperti itu. Dalam hatinya, dia menebak jika Dane pasti cemburu pada V.
"Dane, kenapa diam saja? Apa lukamu masih sakit."
"Tidak, aku baik-baik saja. Denna, apa kamu dan V berpacaran?"
Denna bingung harus menjawab apa? Kalau dia jawab tidak, nanti muka Dane tidak akan terlihat lucu seperti ini. Kalau jawab iya, dia sudah berbohong pada Dane.
"Aku tidak berpacaran sama dia, atau sama siapapun, hanya saja V itu sangat perhatian dan dia bisa membuat aku tertawa."
"Oh," jawab Dane dengan wajah datarnya.
Denna kesal, kenapa Dane hanya menanggapi dengan Oh saja?
"Dia pernah mengatakan sayang sama aku, tapi aku tau jika rasa sayangnya itu hanya sebatas dia menganggap sebagai kakaknya seperti Dimas."
"Ya sudah, tidak perlu membahas dia."
"Bukannya kamu yang memulai membahas dia." Denna memutar bola matanya jengah.
Dari tempatnya. Denna melihat Diaz yang sepertinya sedang ngelindur dengan mata masih terpejam.
"Denna, ada apa? Apa kamu bersama seseorang di dalam kamarmu?"
"Dane sebentar ya, aku mau membetulkan selimut Diaz." Denna meletakkan ponselnya.
Dane menunggu dengan penasaran. Denna bilang mau membetulkan selimut Diaz?
"Maaf, ya, aku harus pergi sebentar tadi."
"Memangnya ada Diaz di kamarmu? Apa dia sedang menginap?"
__ADS_1
Denna mengangguk perlahan. "Dia sedang ada masalah dengan suami dan keluarga suaminya, Dane."
"Apa masalahnya berat sampai dia menginap di rumahmu?"
"Suaminya dinikahkan oleh mamanya dengan wanita lain dengan alasan karena sahabatku belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan."
"Apa? Hanya karena itu?"
"Iya, dan sekarang sahabatku bingung harus berbuat apa karena istri kedua mas Rio diajak pulang ke rumah."
"Kasihan sekali dia, Denna."
"Iya, Dane. Aku bilang sama dia lebih baik memilih pisah karena jujur saja, aku sangat membenci pria yang egois dan mementingkan keinginannya itu."
"Diaz pasti sulit melakukannya karena dia sangat mencintai suaminya," ucap Dane
"Kamu mengerti akan hal itu? Diaz memang mengatakan apa yang kamu katakan, Dane."
"Mencintai seseorang itu memang sulit, Denna, dan lebih sulit lagi menjaga dan melupakannya."
"Memang benar, dan sekarang aku jadi bingung harus berbuat apa untuk membantunya?"
"Biarkan dia tenang dulu dan kalau sudah, suruh dia ambil keputusan dan bicara tegas pada suami dan keluarganya."
"Kalau aku, sudah pasti aku tinggal pria seperti mas Rio dan aku tidak akan mau mengenal bahkan peduli dengan keluarganya." Denna tiba-tiba bicara dengan emosi.
"Hanya pria bodoh yang menyakiti seorang wanita."
"Dane, apa lukamu masih sakit?"
"Sedikit. Terima kasih atas perhatiannya. Rasanya lebih baik saat kamu menanyakan hal itu."
Denna melengos kesal. "Dane, ini sudah malam dan aku mau tidur dulu karena besok ada pertemuan para dokter juga. Kamu jaga kesehatan dan berhati-hatilah. Kamu ingat saja ada Nio yang sedang menunggumu di rumah."
"Apa kamu tidak sedang menunggu pulang, Denna?"
Pria itu menatap Denna dengan lekat, dan tatapannya membuat Denna juga seolah bingung ingin menghindar, walaupun Dane melihatnya dari video call.
"Tentu saja aku menunggumu. Kamu pulanglah karena aku akan memberikan cincin itu sama kamu dan mengatakan jika kita berteman saja."
__ADS_1
Dane malah tersenyum mendengar apa yang Denna katakan. "Tunggu aku pulang karena aku merindukan ingin bertemu denganmu secara langsung. Ya sudah! Kalau begitu kamu istirahatlah. Selamat malam, Denna."