Stay Beside You

Stay Beside You
Pengakuan yang Menyakitkan


__ADS_3

Pria itu terlihat sampai susah bernapas karena cekikan tangan Dane yang sangat kuat.


"Kamu mau mengatakannya atau tidak? Jika mau aku akan lepaskan tanganku. Jika tidak kamu mati saat ini juga."


Pria itu berusaha menganggukkan kepalanya. Dane perlahan melepaskan tangannya.


Pria itu langsung terbatuk dan berusaha mengambil napas. Dane masih menatap nyalang pada orang yang ada di depannya.


"Tuan Dane, aku hanya menjadi pionnya saja, dia yang selama ini dibalik layar semua kejadian yang menimpamu. Bahkan kecelakaan istrimu itu. Dia juga yang menyebabkan."


"Apa maksudmu?" Dane kembali mencengkeram leher pria itu.


"Dia yang membuat istrimu kecelakaan dan sekarang dia mengincar dokter cantik itu. Aku tidak tau apa yang akan dia lakukan padanya, dia tau kamu mencintai dokter itu, dia tidak akan melepaskannya." Kedua mata Dane membulat.


"Tuan, awas!" teriak Bimo.


"Auw ...!" Darah segar dari lengan Dane menetes. Luka yang belum sembuh sepenuhnya kembali dilukai.


Tidak lama terdengar suara tembakan beberapa kali dan pria itu tumbang di depan Dane yang memegangi tangannya.


"Tuan, Anda baik-baik saja?"


"Aku baik. Kenapa kamu menembaknya? Dia masih belum memberiku informasi yang aku butuhkan Bimo."


"Tuan, dia sudah melukai Anda. Aku tau jika dia tidak akan mengatakan apapun. Pria ini hanya akan membuat takut Tuan Dane."


"Aku tidak takut dengan ancamannya, Bimo. Aku butuh informasi tentang dia bekerja dengan siapa?"


"Akan saya dapatkan informasi itu."


"Bimo, bakar semua gudang obat-obatan terlarang milik si brengsek itu. Jangan ada sisa, akan aku buat dia mati bersama semua yang dia miliki."


Dane berjalan pergi dari sana dengan marah. Dia pergi ke tempat praktek seseorang untuk mengobati luka di tangannya.


"Kenapa lagi?" Seorang pria sedang merawat luka pada lengan tangan Dane."


"Apa perlu aku jelaskan?"

__ADS_1


"Kenapa kamu suka sekali melukai dirimu, Dane. Tinggalkan saja semua ini karena akan membahayakan dirimu dan orang sekitarmu. Aku saja kadang was-was takut terkena imbasnya juga karena menjadi dokter pribadimu jika kamu mendapat luka seperti ini."


"Aku tidak mungkin berhenti saat ini karena ada urusan yang belum terselesaikan dan aku harus mendapatkan jawabannya."


"Sudah." Pria seumuran Dane itu beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju etalase besar dan mengambil sesuatu.


"Apa lukanya akan cepat mengering? Aku tidak mau keluargaku terutama Arsen melihat luka di tanganku ini."


"Akan cepat mengering seperti biasa, tapi besok malam kembalilah lagi ke sini karena aku akan mengganti perbannya dan memeriksanya lagi. Minum obat ini jika terasa sakit."


"Apa harus minum obat ini? Aku sampai bosan sendiri melihat banyak obat-obatan di kamarku."


"Mau bagaimana lagi."


Dane beranjak dari sana dan dia mengambil obat yang diberikan oleh pria itu.


"Dane, sampaikan salamku pada si cantik yang judes itu. Susah sekali mengajak dia makan malam."


"Aku sudah pernah menceritakan tentang Flow sama kamu, tapi jangan pantang menyerah."


Dane melihat pada ponselnya. Tanda centang dua itu masih abu-abu, hal itu menandakan jika orang yang Dane kirimi pesan belum membacanya. Dane bergegas pergi ke tempat di mana dia tiap malam selalu di sana.


"Sepertinya dia bisa tidur nyenyak malam ini." Dane melihat dari dalam mobilnya. Kamar Denna tampak gelap, dan itu menandakan si empunya kamar sudah tidur.


Beberapa jam kemudian, Dane kembali ke rumah, dan kebetulan keadaan rumah sudah sepi karena orang-orang di sana sudah tidur semua.


Dane membaringkan perlahan tubuhnya. Dia akhirnya meminum obat yang diberikan oleh temannya itu dan mulai memejamkan matanya.


***


Pukul empat pagi Denna terbangun karena merasa haus. Dia duduk bersandar pada tepi tempat tidurnya dan menghabiskan satu gelas air putih yang ada di sampingnya.


"Huft! Aku merasa nyenyak sekali hari ini." Denna meraih ponselnya dan melihat ada panggilan masuk sampai tiga kali dan satu pesan masuk dari ... Dane?


Denna dengan cepat membukanya. "Dane!" Wanita itu dengan cepat turun dari ranjangnya dan membuka pintu balkon kamarnya.


Kedua matanya mengedar pada arah di mana Dane selalu ada di sana tiap malam. "Bodoh! Ini jam berapa? Dia pasti sudah pergi.

__ADS_1


Denna yang mau menghubungi Dane, tapi dia batalkan karena melihat jam pada pergelangan tangannya.


"Dia pasti masih tidur dan semalam dia pasti ada di sana."


Denna membalas pesan Dane dan kemudian dia turun ke lantai bawah karena tau pasti mamanya sudah bangun.


"Pagi Nenek Buyut!" seru Denna senang sembari mendaratkan kecupannya pada wanita tua yang sangat sayang padanya itu.


Nenek buyut sedang duduk bersantai di dekat taman, sedangkan Nara di dapur membuatkan tea hijau untuk nenek Miranti.


"Pagi. Kamu sudah bangun? Apa ini tidak terlalu pagi kamu bangunnya?"


Denna menggeleng. "Aku semalam tidur nyenyak. Jadi, aku mau bangun sangat pagi karena aku mau mengajak mama joging."


"Ayo! Mama mau joging sama kamu karena sudah lama juga mama tidak joging. Ayah kamu kalau diajak bilangnya besok saja, tapi entah kapan besok saja itu akan terlaksana." Denna terkekeh mendengar keluh kesah mamanya.


Nara memberikan tea hijau untuk nenek Miranti dan dia duduk di sebelah wanita tua itu.


"Kenapa Mama tidak pergi sendiri saja atau ajak aku?"


"Mama mau pergi sendirian, tapi ayah kamu melarang karena takut mama diculik." Denna memutar bola matanya jengah. "Siapa juga yang mau menculik mama. Ayah kamu alasan saja, dia takut mama diajak kenalan om-om yang juga tinggal di dekat rumah ini." Nara menyeruput tea hijaunya.


"Jaden itu cemburuan, Nara."


"Iya, Nek, tapi apa dia tidak percaya padaku? Aku tidak mungkin juga akan mudah tertarik pada om-om itu. Mama mau mengajak kamu itu kadang mama kasihan. Kamu pulangnya kadang sudah sore dan harus bangun pagi pergi ke rumah sakit khusus anak-anak itu. Apa lagi jaraknya lumayan juga."


"Ya sudah, kalau begitu kita pergi sekarang saja, Ma."


"Ya sudah! Kita pergi sekarang saja. Nenek tidak mau ikut?"


Wanita tua itu menggeleng. "Nenek di rumah saja karena aku mau mengistirahatkan kakiku agar waktu pergi ke villa bisa jalan-jalan dengan kalian di sana." Wanita tua itupun menyeruput teh hijaunya yang hangat.


"Kalau begitu kami pergi dulu ya, Nek."


Nara masuk ke dalam kamarnya untuk meminta izin pada Jaden. Setelah itu mereka mulai berjalan menuju ke taman dekat rumah besar mereka.


Suasana di sana tidak terlalu ramai karena memang bukan hari libur, tapi mereka berdua tampak menikmati udara pagi yang masih sangat segar.

__ADS_1


__ADS_2